First Trimester

Nyonya kembali bekerja setelah beberapa hari cuti sakit. Saat ditanya koleganya, Nyonya cuma mengatakan bahwa dia sakit. Tidak ada yang curiga. Yang prihatin banyak. Sakit koq berkepanjangan. Memang ada tradisi adat cina yang mengatakan tidak boleh bilang-bilang kalau lagi hamil. Paling tidak sampai tiga bulan pertama (first trimester) telah berlalu.

Suhu juga percaya hal demikian. Atas dasar logika tentunya. First trimester adalah masa-masa krusial di mana perkembangan bayi masih punya potensi banyak masalah. Mulai dari hamil anggur lah, telor nyangkut di tuba fallopi lah, dan lain sebagainya yang serem serem. Tidak ada pasangan yang mengharapkan ada anomali dalam proses kehamilah. Tapi jika ada, maka anomali tersebut biasanya muncul di awal proses kehamilan. Anomali yang bisa muncul di akhir proses kehamilan, biasanya adalah masalah bayi prematur. Jadi, logikanya kalau kehamilan beresiko gagal, hal tersebut akan ketahuan di first trimester.

Kalau kamu woro-woro terlalu awal ke seluruh dunia tentang kehamilanmu, heaven forbid bin amit amit, lalu terjadi apa-apa. Jika proses kehamilan terhenti karena faktor yang tidak diinginkan. Jika, No more pregnant no more baby. Bisa dibayangkan rasa kehilangan itu akan sangat devastating. Terlebih lagi jika sesekali orang masih bertanya “eh gimana, sudah berapa bulan?” atau mungkin beberapa tahun kemudian “baby nya udah bisa jalan?”. Tentu hal itu akan menambah rasa pedih yang sulit pulih nya.

Di sisi lain, kalau kita woro-woro di first trimester, apa gunanya? Ngasi kesempatan temen-temen kita nabung buat ngado pas bayi lahir? *hint*. Intinya, pengumuman atas positip hamil ini banyak negatifnya daripada positipnya. Maka mungkin adat tradisi cina itu berdasarkan asas logika ini. Tapi saat engkong engkong ini ditanya oleh generasi muda, engkong malas jelasin, lalu langsung sikat “Ah sudah lah nurut aja! Ini sudah tradisi turun-temurun!”

Kami mengikuti tradisi itu secara reasonable. Orang tua kami langsung kami beritahu. Percayalah, baik orang tua Suhu maupun orang tua Nyonya, lebih excited daripada kami. Nampaknya kegembiraan punya cucu melampaui kegembiraan punya anak.

“Pa, Ma, aku abis ini punya anak.”

“Ah cupu, Papa Mama udah punya tiga puluh tahun lalu.”

“Pa, Ma, kalian abis ini punya cucu.”

” …. HORREEEE!!!! “

Memutuskan untuk tidak menghemat sepeser uang pun, Suhu memilih yang terbaik untuk kesehatan si buah hati. Untuk masalah rumah sakit, Suhu memilih rumah sakit bersalin terbesar dengan fasilitas terlengkap. Untuk dokter rutin, dan yang nantinya akan menangani persalinan, Nyonya memilih kepala departemen uroginekologi Dokter Han.

Nyonya menelepon tempat praktek Dokter Han. Karena Dokter Han sangat populer, tidak dianjurkan walk-in langsung datang ke sana, harus dengan appointment. Nyonya membuat appointment lewat telepon, dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Slot paling awal 1 Agustus 2014. Ini masih tanggal 22 Juli 2014, bung! Satu minggu lebih?!?! Wah, Dokter Han sangat populer. Pasti banyak pasiennya. Jangan-jangan nanti pas mau melahirkan juga mesti antri sama dualusin ibu hamil.

“Iyak, ibuk nomer tiga! Push, bu! Push! Ibu nomer dua puluh tiga sudah kelihatan kepalanya! Ibu nomer delapan belas tahan ya, ini baru bukaan tujuh seperempat jangan dipush nanti suwek! Sabar bu! Ibu nomer tiga, PUSH BUK! PUSH! Sikile kecanthol Bu! Oh maaf Pak pulang dulu aja, minggu depan kembali lagi, lagi penuh nih. Istrinya suruh nyedot lagi bayinya. Sabar ya.”

First TrimesterSesuatu yang Suhu pelajari dari proses kehamilan ini, pencipta istilah morning sickness ini kira-kira laki-laki. Alesannya simpel. Morning sickness ini disinyalir pas suaminya berangkat kerja, lihat istrinya yang hamil mual-mual muntah-muntah. Ooo kalau pagi nggak enak badan, kita kasi nama simptom ini morning sickness. Padahal, morning sickness ini nggak harus morning. Morning sickness terjadi di saat morning afternoon evening night dawn and twilight.

Sembari menunggu hari appointment dokter yang pertama, Nyonya mulai menambah koleksi. Benul. Koleksi. Koleksi keluhan untuk disampaikan dokter. Sangat banyak mulai dari yang normal seperti mual. Sampai yang aneh seperti hasrat ingin ngunyah bantal.

Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, eek lunak lunak. Punggung sakit, boyok kecentit, hidup morat marit. Hidung buntu susah bernafas, perut kembung penuh dengan gas, mudah marah cepat beringas. Tidak bisa makan makanan berminyak, tidak bisa makan makanan berlemak, tidak bisa makan makanan enak.

Suhu tanya-tanya ke teman-teman yang sudah hamil, sedang hamil, yang istrinya hamil, yang dihamili dan menghamili, intinya semua orang yang lebih berpengalaman. Ternyata yang dialami Nyonya ini sesuatu yang umum dialami bumil (ibu hamil) lain. Variannya antara lain, tidak bisa makan nasi, cuma bisa minum soft drink berkarbonasi, semua cenderung ke tidak enak badan dan makanan yang selektif.

Segala simptom yang dialami Nyonya Suhu catat di sebuah buku. Untuk dipersiapkan dibawa ke Uroginekolog Dokter Han nanti waktu First Appointment.

Advertisements

Gerhana Bulan

Setelah Sabtu pagi dapat kabar gembira yang lebih menggemparkan dunia daripada ekstrak manggis, Suhu agak bingung bagaimana harus menyikapi berita ini. Langkah pertama adalah ke laptop dan search di internet. Pregnant. Do what. How to do.

Artikel di internet mengatakan bahwa test pack yang dipipisi tidak 100% akurat benar. Untuk memperyakin bahwa Nyonya benar-benar hamil, ada test lain yang perlu ditempuh dan perlu anjuran dokter. Nampaknya melibatkan jenis test lain, sampai perlu melibatkan dokter. Kalau melibatkan engineer, cara meningkatkan confidence interval dari akurasi hasil test pack tadi pagi, kita akan melakukan percobaan serupa dengan mempipisi 1000 test pack, dan mencari standard deviation dari hasil sampel tersebut.

Setelah ide tersebut Suhu sampaikan ke Nyonya, Nyonya tertegun sejenak. Antara kagum dan menyesal, Nyonya ambil kemudi sementara dan mengembalikan bahtera rumah tangga ini ke jalur yang lebih masuk akal. Suhu dan Nyonya bergegas menuju ke dokter terdekat. Bahkan nggak sempat mandi dan keramas, kami langsung budhaljuseyo. Gosok gigi sih pasti. Pakai odol nya lupa. Anyway, untuk menggambarkan ketergesa-gesaan kami, dengan busana compang-camping pun kami berangkat ke dokter pagi itu juga.

Dokter bilang, untuk akurasi yang pasti apakah positif hamil, perlu ambil darah. Saat mendengar ucapan dokter, Suhu agak kecewa. Lho, jadi ini belum pasti hamil ya?

Kami nurut apa kata dokter, Nyonya ambil darah untuk diperiksa. Dokter bilang hasilnya bisa diambil hari Senin. Lho, jadi ini hasilnya nggak langsung ya?

Padahal test pack yang murah meriah itu dikencingi langsung bisa tahu positif hamil. Dokternya ini sudah mahal, perlu ambil darah ditusuk sakit, masih harus nunggu hari Senin?

Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Suhu dan Nyonya selain menunggu. Tak ada? Untuk pasangan suami istri yang sudah mencoba selama setahun lebih tanpa hasil, apalah artinya menunggu satu dua hari lagi? SALAH! Suhu dan Nyonya sama-sama penasaran dan menuju farmasi terdekat untuk ….

Membeli test pack lagi. Kali ini yang lebih mahal. Prinsipnya sama ternyata. Dipipisi, lalu test pack nya bakal kasi tau kita apakah positip hamil. Kali ini kita beli yang lebih bagus. Karena kita nggak tahu apa kriteria test pack bagus, kita beli yang mahal. Dengan harapan dan kepercayaan bahwa lebih mahal sama dengan lebih bagus sama dengan lebih akurat lebih hore.

Gerhana BulanSepulang dari dokter dan farmasi, Suhu dan Nyonya baca-baca aturan pakai dan internet. Disimpulkan, pipis paling akurat adalah pipis pertama di pagi hari. Dalam mendayagunakan narasumber internet, Suhu dan Nyonya memegang prinsip “ndak ada salahnya percaya” terutama untuk hal-hal yang tidak krusial. Kali ini, kami juga memegang prinsip demikian, dan menunggu sampai keesokan harinya.

Keesokan harinya, Minggu pagi 20 Juli 2014, kami pipisi test pack yang mahal. Nyonya yang pipis, Suhu cuma menyemangati. Hasilnya positip. Frekuensi harapan kami meningkat. Confidence interval sampel kami sangat tinggi. 2 out of 2 test pack yang kami coba dengan brand berbeda mengeluarkan hasil yang sama. Positip hamil.

Hari Senin pun tiba. Kami jadi pasien pertama yang ada di tempat dokter. Bahkan hasil lab masih belum datang. Kami tunggu kami tunggu kami tunggu. Akhirnya kurir dari lab dengan setumpuk lab result pun datang ke tempat dokter kami. Dokter mencari lab report kami dan menjelaskan.

Menurut hasil ambil darah dan test hCG (human chorionic gonadotropin), dokter mengatakan bahwa Nyonya positif hamil antara 6-8 minggu. Enam sampai delapan minggu! Bayangkan! Sebulan lebih! Nyaris dua bulan lebih. Lalu dokter menyarankan untuk segera mencari dokter kandungan alias ginekolog.

Kami sangat riang gembira keluar dari tempat dokter. Sambil membayangkan lucunya anak kami nanti, paras Nyonya tiba-tiba terlihat mengkerut. Anggota raut mukanya semua ngumpul di tengah. Alis hidung mulut semua terkumpul, berpikir keras.

“Kalau 6 minggu … hhmmm … 8 minggu …”

“Kenapa Nya? Kenapa?”

“Aku bulan lalu masih datang bulan.”

Jeder! Suhu kurang paham korelasi antara datang bulan dan positip hamil. Lemah di pelajaran Biologi membuat Suhu menyesal tidak memperhatikan di bangku sekolah. Yang Suhu tahu, kalau induk ayam hamil, telornya jadi anak ayam. Kalau induk ayam datang bulan, telornya jadi telor dadar telor mata sapi. Karena keterbatasan otak, Suhu kembali ke internet. Pregnant. Menstruation. Hamil. Datang bulan.

Apakah mungkin wanita yang sudah hamil masih mengalami menstruasi dan datang bulan? Secara scientific nampaknya tidak mungkin, tetapi secara historikal selalu ada anomali-anomali mengenai kehamilan. Bahkan ada yang mengalami kehamilan tanpa proses pembuahan. Tapi yang ini melibatkan campur tangan malaikat dan roh kudus.

Kalau yang hamil tapi masih datang bulan, ini anomali? Atau bulannya datang tapi kita nggak kelihatan? Gerhana, gitu?

Hamil Itu Mudah

Sejak menikah di penghujung akhir tahun 2012, dalam benak Suhu tidak pernah terbersit sekali pun untuk menunda proses peningkatan populasi keluarga kami (baca: beranakpinak). Kami tidak minum Pil KB, tidak pakai alat kontrasepsi, dan tidak menghindari hari-hari yang bisa membuat pembuahan berhasil. Karena kami tahu, usia kami yang tidak lagi dini, berakibat anak-anak kami kelak akan punya orang tua yang …. tua. Apalagi menurut ilmu sains Panda menjadi langka karena susah berkembangbiak. Tidak ada tunda menunda, tidak ada abal-abal family planning dengan schedule tahun sekian mau beranak sekian. Tidak ada.

Meski demikian, bukan berarti kami memprioritaskan proses bikin anak di atas segala hal. Karir Suhu sedang menanjak, direkrut menjadi staff professional di sebuah proyek skala nasional. Nyonya memang sudah mengorbankan jenjang karir di dunia persilatan sejak menikahi Suhu. Pekerjaannya yang sekarang lebih cocok untuk istri yang di kemudian hari akan menjadi ibu rumah tangga. Tapi tetap saja jenjang karirnya masih panjang untuk didaki. Jadi, hidup kami bukan serta merta hanya bikin anak, makan, ngupil, dan tidur. Bukan. Kami masih hidup seperti manusia biasa pada umumnya.

Singkatnya, kami tidak nunda, tapi juga tidak ngoyo bin mekso.

Sekitar mendekati setahun menikah masih belum juga dikaruniai buah hati, perasaan Suhu bercampur baur. Ada sedikit rasa sedih. Wajar, karena sudah berusaha tapi tidak dapat dapat. Sedikit rasa kecewa, banyak teman posting di Facebook bayinya lucu-lucu. Kadang juga marah, ada yang bayinya jelek diposting juga. Gak habis pikir, ada yang bayinya jatuh, gak dibantu malah divideo. Campur aduk. Gado gado perasaan. Tapi ada satu perasaan yang sangat dominan.

Sebel.

Rasa sebel sering terpicu secara otomatis saat ada orang lain yang bertanya.

Orang lain yang bertanya itu bisa dari anggota keluarga, bisa dari teman, bisa dari orang yang nggak seberapa kenal. Menariknya, semakin jauh hubungan kamu dengan lawan bicara, semakin intens topik percakapannya. Yang menyebalkan apa?

Asumsi.

Suhu merasa orang jadi menyebalkan saat mulai berasumsi.

“Duh kamu ini jangan nunda-nunda punya anaknya. Aku tahu kamu ngejar karir, tapi nanti punya anak itu rewarding banget. Kan lutchyu baby baby itchyu…. Gaji seberapapun juga nggak bisa dibandingin ama happiness lu punya baby. Lagian …”

Oke. Sebentar. Yang bilang sini nunda-nunda ini siapa? Yang ngejar karir siapa? Anyway sebelum orang bersangkutan Suhu gampar pakai laptop, biasanya Suhu mencoba mengalihkan topik. Baru ngobrol lima menit dia sudah berasumsi Suhu pria yang mengejar karir mengorbankan kebahagiaan hidup berkeluarga demi uang gajian duniawi yang fana.

Suhu masih tidak habis pikir jalan pikiran orang-orang yang bilang “Sudahlah, yang tanya itu berarti care sama kamu”. Hubungan pernikahan itu sesuatu hal yang sakral. Keputusan dalam pernikahan antara suami dan istri itu tidak perlu dipertanggungjawabkan ke pihak luar. Jadi sebelum terlontar pertanyaan “You don’t have children yet? Why?”. Pikirkanlah pertanyaan “What if they don’t want any? What if they can’t have any?”

Hamil Itu MudahKalau pasangan itu tidak ingin punya anak, apakah mereka salah? Apa orang jadi berhak untuk mengkuliahi mereka agar cepat-cepat punya anak? Beranak-pinak besar konsekuensinya, dan bagi Suhu concern paling besar adalah finansial. Semua harus ada itung-itungannya. Dan untunglah karir Suhu yang menanjak membuat rasa mapan untuk beranak itu stabil. Tapi tidak semua seberuntung itu. Aku tahu orang yang sengaja menunda, karena alasan finansial. Which is fine.

Yang lebih parah itu bagaimana kalau pasangan itu sangat ingin punya anak, tapi belum dikaruniai. Suhu mengalami fase ini. Dan kadang jawaban “Kita nggak nunda koq, berusaha tapi belum dikaruniai.” itu nggak cukup untuk mengakhiri pembicaraan. Ada saja saran-saran minum obat ini itu, racikan jamu tradisional dicampur air mata badak bercula tiga dan tumbukan sayap kelelawar dari goa hantu.

Setelah lama mencoba dan berulang kali memakai test pack yang hasilnya negatif, kami merasa test pack ini malah menurunkan semangat juang. Alhasil kami berhenti. Berhenti menggunakan test pack. Bukan berhenti berusaha. Toh tanda-tanda kehamilan sangat jelas, pikir kami. Tidak perlu test pack.

Kita sering menertawakan drama yang ada di telenovela dan serian televisi Indonesia. Sudah diperlihatkan ke penonton aktrisnya acting muntah, di make-up pucat pucat yang bibirnya biasanya pudar. Tapi protagonis tidak terpikir kalau baru dihamili oleh pemeran antagonis. Dipikirnya sakit perut biasa. Yaelah, udah jelas lah itu hamil. Siapa juga yang nggak tahu?

Persis sama seperti seminggu sebelum Nyonya memakai test pack yang hasilnya positif. Mual-mual, pusing-pusing, badan nyeri semua. Dan apakah yang Suhu dan Nyonya tahu kalau positif hamil? Nggak. Yang disalahin malah budae jjigae.

Memangnya, hamil itu mudah?

Test Pack

Nyonya, istri Suhu, bekerja di sebuah perusahaan lokal bertaraf internasional. Gedung perkantorannya terletak di pusat distrik bisnis. CBD, begitu orang sini menyebutnya. Kependekan dari Central Business District.

Pekerjaan impian Nyonya adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Paling tidak, demikian menurut Suhu. Pekerjaan Nyonya sekarang di CBD, Suhu sendiri kurang jelas. Dalam bayangan Suhu, pekerjaan istrinya sekarang ini mungkin seperti pekerjaan Chandler di serial TV Friends circa tahun 90an. Atau seperti Barney Stinson dalam serial How I Met Your Mother circa tahun 2000an.

Kalau ditanya dalam percakapan imajiner.

“Kerjaan kamu apa sih?”

“Please.” *lalu nyelimur ala Barney Stinson*

Setiap pagi masuk kantor, berbekal kartu staff yang dikalungkan di leher. *beep* pintu masuk terbuka, masuk lift, kartu staff ditempelkan ke card reader di lift, tekan lantai yang dituju. Tidak pernah tahu apa yang terletak di lantai lain, tidak perlu tahu, dan tidak pernah diberi tahu. Mungkin saja di Basement 13 ada penjara hi-tech untuk alien-alien yang tertangkap. Yang dia tahu, lift terbuka *ting*, ini kantor tempat kerja, ini cubicle, ini komputer, saatnya bekerja, dan akhir bulan digaji.

Demografi tempat kerja Nyonya terdiri dari wanita-wanita yang sudah berkeluarga, dan didominasi oleh ibu-ibu muda dengan anak-anak balita. Nyonya punya beberapa kolega yang cukup dekat. Salah satunya bernama Valentina. Kedekatan Valentina ini dikarenakan beberapa faktor, selain karena pekerjaan mereka yang mengharuskan mereka berkolaborasi, mereka berdua punya minat pada hal-hal yang sama. Antara lain.

Korea. Dua orang ini, Nyonya dan Valentina, sama-sama suka Korea. Apa pun yang berbau Korea, semuanya disantap. Mulai dari Kpop kayak 2PM, SuJu, CNBLUE; Kdrama kayak My love from the stars, Reply 1997, IRIS; sampai variety show yang kayak Runningman, Roommate, dan Superman is back. Apa pun yang Korea ditonton. Kim Jong Un ngemil kimchi sambil joget gangnam style pun ditonton.

Makanan. Terlepas dari makanan korea tentunya, itu sudah jelas. Valentina ini orangnya suka masak yang baking baking. [Aku udah nyari jungkir balik, basa endonesa Baking ini apa sih?]. Intinya yang bikin kue kue itu lah. Kalau bahasa akademik nya masak-masakan yang pakai prinsip perpindahan panas secara konveksi. Bukan konduksi, bukan radiasi, tapi konveksi. Yang sudah lupa tiga jenis perpindahan panas, silahkan buka catatan IPA eSDe kelas lima.

Barang-barang murah. Ini adalah hobi dan skill yang dimiliki oleh ibu-ibu. Cewek-cewek yang biasanya pas pacaran maennya ke mall, cafe, dll. Setelah menikah, mereka berubah menjadi ibu-ibu. Jaman pacaran dulu mereka lihat toko baju ada tulisan SALE besar-besar, langsung kalap. Ibu-ibu sama juga, lihat diskon panci, TEBAS! Lihat diskon tisu gulung, HABISI!

Banyak cara mendapatkan barang murah. Antara lain. Beli barang dalam jumlah besar, quantity discount. Beli online, cut middleman fee. Yang paling heboh adalah beli barang dalam jumlah besar secara online. Apalagi kalau bisa sampai dijual lagi, lebih heboh.

Kesamaan terakhir mereka, Nyonya dan Valentina sama-sama belum dikaruniai anak dan sedang berusaha mencoba. Saling bertukar tips dan informasi, dan yang paling seru adalah beli Test Pack dalam jumlah besar. Jadi kalau kalian melihat ada ibu-ibu manggul sekarung Test Pack di CBD, mungkin itu istri saya.

Kenapa?

Test pack. Iya Test Pack. Nggak ngerti Test Pack?

o Ndeso.

Test Pack itu adalah alat untuk memprediksi apakah ibu itu positif hamil. Cara pakainya dikencingi. Kencing ibunya, bukan bapaknya. Nanti habis dikencingi bisa keluar tandanya *eng ing eng* … hamil atau ndak. Nyonya sempat mandang rendah, dikira Suhu nggak tahu apa itu test pack. Untung dulu pernah baca novel Test Pack karya Ninit Yunita, jadi agak sedikit cerdas.

Karena sudah setahun lebih berusaha dan hasilnya nihil, Suhu juga sudah memasuki zona putus asa dan pasrah. Test pack yang dulunya rutin dipakai, sekarang sudah terbengkalai. Entah karena insting induk panda atau kebetulan mau habisin stok test pack dalam jumlah besar, Nyonya mencoba memakainya hari itu.

Positif.

Test Pack

-19 Juli 2014-

Awal Mula Cerita

Semua kisah selalu berawal dari sesuatu. Dan awal cerita ini bermula dari sepinggan Budae jjigae (부대찌개).

Malam itu Suhu pulang dari tempat kerjanya lebih awal. Berpamitan pada rekan kerjanya di lapangan konstruksi Jurassic Park, hujan gerimis mengiringi lari kecil di jalan setapak menuju bus stop di lingkungan perguruan tinggi setempat. Bus 96 datang. Dan pergi. Tanpa basa-basi. Memang biasanya penuh jam segini. Anak-anak kampus turun gunung. Bus 96 berikutnya datang. Masih berjejalan tapi paling tidak kali ini masih bisa masuk.

Dari Clementi Interchange, Suhu bergegas ke Clementi MRT menuju ke arah Tanjong Pagar MRT, stasiun terdekat kantor Nyonya. Berbeda 180 derajat dari Suhu, Nyonya (istri Suhu) adalah orang yang tepat waktu. Malam ini kita mau dinner bareng. Sebuah luxury yang akhir-akhir ini sudah jarang didapat. Betapa tidak, pekerjaan suami istri yang menuntut jam kerja panjang di lapangan dan di kantor. Tuntutan hidup berkeluarga di negara yang serba mahal.

Seperti layaknya tujuh dari wanita Indonesia, Nyonya lagi demen dengan apapun yang berbau Korea. Mulai dari drama Korea, lagu Korea, artis Korea, makanan Korea. Bodi suami mirip PSY juga didemenin. Eh jangan salah. Waktu pacaran pas jaman kuliah bodi Suhu mirip 2PM, SuJu, dan Rain. Iya, jaman baheula. Jaman-jaman keemasan sebelum negara api menyerang.

Menu dinner kali ini, makanan Korea. Dekat kantor Nyonya, kita jalan kaki ke restoran Korea.

Kriyeeetttt …. Pintu restoran ini perlu diminyaki WD40.

“annyeonghaseyo…. welcome”

Pelayan tempat-tempat makan bertemakan negara tertentu memang sering melontarkan ucapan-ucapan selamat datang dalam bahasa mereka. Pertama kali Suhu mengalami ini adalah waktu waiter restoran jepang Ajisen Ramen berteriak “IRASSHAIMASE” tiap kali ada customer masuk warung. Sontak kaget nyaris kubalas “inggih mas e”. Dekorasi restoran juga dibuat semirip mungkin dengan suasana tempat makan di negara asalnya. Untuk Ajisen Ramen ya Jepang. Untuk restoran ini (lupa namanya) ya dekorasi Korea.

Nyonya sudah siap untuk memesan makanan dalam bahasa Korea. Memang kebanyakan staff restaurant Korea di sini adalah orang Korea asli. Berbekal penguasaan bahasa Korea dari kursus dan pekerjaan sehari-hari menangani pembukuan regional cabang Korea, Nyonya casciscus hana-dul-set.

Sementara Suhu berbekal pengalaman bertahun-tahun berkomunikasi dengan kuli bangunan dari India, Bangladesh, Thailand, Myanmar, tidak membuat nyalinya ciut. Kamu bisa bahasa Korea, aku bisa … bahasa Tarzan. Buka menu, lihat foto-foto makanan mana yang ada gambar jempol nya, nah ini berarti enak. Langsung ditudingjuseyo pake telunjuk. Telunjuk kanan ya biar sopan.

“Aku pesan haemul pajeon (해물파전). Kamu tadi pesan apa?”

“Oh aku tadi pesan ini nih. Bunda joget.”

“Heh? Itu bacanya Budae jjigae. Itu porsi bertiga lho…”

Hening sejenak. Mereka berdua bertatapan mata penuh arti.

“Mana cukup? Ayo pesan lagi, kan kamu biasanya makan porsi lima orang.”

Tapi pada akhirnya kami hanya memesan haemul pajeon dan budae jjigae. Karena makanan Korea di sini [dan di restoran Korea pada umumnya] dihidangkan bersama banchan (반찬), beraneka ragam makanan sampingan. Buat yang mau jadi pembantu rumah tangga di Korea, piring yang harus dicuci sangat banyak. Kecil-kecil dan sangat banyak. Waspadalah waspadalah.

Awal Mula CeritaDengan susah payah kami berdua menghabiskan menu yang semestinya untuk tiga orang. Sistem pencernaan kami sudah tidak semuda yang dulu lagi. Usia telah menyusul nafsu makan kami. Bahkan niat untuk ber-Soju (소주) ria kami urungkan. Bukan karena eh karena merusak pikiran, tapi karena sudah kembung minum kuah budae jjigae tadi.

Malam itu kami pulang dengan perut kenyang dan hati senang. Ini adalah rahasia Suhu yang dijadikan prinsip hidup sehari-hari. Perut kenyang, hati senang. Yang masih menjadi misteri adalah rahasia Koes Plus, hati senang walaupun tak punya uang.

Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Malam itu Suhu terusik tidurnya. Istrinya gelisah. Keluar masuk toilet. Masuk keluar toilet. Nampaknya keracunan makanan. Food poisoning memang resiko orang yang suka makan di luar. Higienis jajanan di luar memang layak dipertanyakan.

Suhu juga merasa tidak nyaman. Tapi sepertinya ini bukan keracunan. Ini.

Kekenyangan.