Awal Mula Cerita

Semua kisah selalu berawal dari sesuatu. Dan awal cerita ini bermula dari sepinggan Budae jjigae (부대찌개).

Malam itu Suhu pulang dari tempat kerjanya lebih awal. Berpamitan pada rekan kerjanya di lapangan konstruksi Jurassic Park, hujan gerimis mengiringi lari kecil di jalan setapak menuju bus stop di lingkungan perguruan tinggi setempat. Bus 96 datang. Dan pergi. Tanpa basa-basi. Memang biasanya penuh jam segini. Anak-anak kampus turun gunung. Bus 96 berikutnya datang. Masih berjejalan tapi paling tidak kali ini masih bisa masuk.

Dari Clementi Interchange, Suhu bergegas ke Clementi MRT menuju ke arah Tanjong Pagar MRT, stasiun terdekat kantor Nyonya. Berbeda 180 derajat dari Suhu, Nyonya (istri Suhu) adalah orang yang tepat waktu. Malam ini kita mau dinner bareng. Sebuah luxury yang akhir-akhir ini sudah jarang didapat. Betapa tidak, pekerjaan suami istri yang menuntut jam kerja panjang di lapangan dan di kantor. Tuntutan hidup berkeluarga di negara yang serba mahal.

Seperti layaknya tujuh dari wanita Indonesia, Nyonya lagi demen dengan apapun yang berbau Korea. Mulai dari drama Korea, lagu Korea, artis Korea, makanan Korea. Bodi suami mirip PSY juga didemenin. Eh jangan salah. Waktu pacaran pas jaman kuliah bodi Suhu mirip 2PM, SuJu, dan Rain. Iya, jaman baheula. Jaman-jaman keemasan sebelum negara api menyerang.

Menu dinner kali ini, makanan Korea. Dekat kantor Nyonya, kita jalan kaki ke restoran Korea.

Kriyeeetttt …. Pintu restoran ini perlu diminyaki WD40.

“annyeonghaseyo…. welcome”

Pelayan tempat-tempat makan bertemakan negara tertentu memang sering melontarkan ucapan-ucapan selamat datang dalam bahasa mereka. Pertama kali Suhu mengalami ini adalah waktu waiter restoran jepang Ajisen Ramen berteriak “IRASSHAIMASE” tiap kali ada customer masuk warung. Sontak kaget nyaris kubalas “inggih mas e”. Dekorasi restoran juga dibuat semirip mungkin dengan suasana tempat makan di negara asalnya. Untuk Ajisen Ramen ya Jepang. Untuk restoran ini (lupa namanya) ya dekorasi Korea.

Nyonya sudah siap untuk memesan makanan dalam bahasa Korea. Memang kebanyakan staff restaurant Korea di sini adalah orang Korea asli. Berbekal penguasaan bahasa Korea dari kursus dan pekerjaan sehari-hari menangani pembukuan regional cabang Korea, Nyonya casciscus hana-dul-set.

Sementara Suhu berbekal pengalaman bertahun-tahun berkomunikasi dengan kuli bangunan dari India, Bangladesh, Thailand, Myanmar, tidak membuat nyalinya ciut. Kamu bisa bahasa Korea, aku bisa … bahasa Tarzan. Buka menu, lihat foto-foto makanan mana yang ada gambar jempol nya, nah ini berarti enak. Langsung ditudingjuseyo pake telunjuk. Telunjuk kanan ya biar sopan.

“Aku pesan haemul pajeon (해물파전). Kamu tadi pesan apa?”

“Oh aku tadi pesan ini nih. Bunda joget.”

“Heh? Itu bacanya Budae jjigae. Itu porsi bertiga lho…”

Hening sejenak. Mereka berdua bertatapan mata penuh arti.

“Mana cukup? Ayo pesan lagi, kan kamu biasanya makan porsi lima orang.”

Tapi pada akhirnya kami hanya memesan haemul pajeon dan budae jjigae. Karena makanan Korea di sini [dan di restoran Korea pada umumnya] dihidangkan bersama banchan (반찬), beraneka ragam makanan sampingan. Buat yang mau jadi pembantu rumah tangga di Korea, piring yang harus dicuci sangat banyak. Kecil-kecil dan sangat banyak. Waspadalah waspadalah.

Awal Mula CeritaDengan susah payah kami berdua menghabiskan menu yang semestinya untuk tiga orang. Sistem pencernaan kami sudah tidak semuda yang dulu lagi. Usia telah menyusul nafsu makan kami. Bahkan niat untuk ber-Soju (소주) ria kami urungkan. Bukan karena eh karena merusak pikiran, tapi karena sudah kembung minum kuah budae jjigae tadi.

Malam itu kami pulang dengan perut kenyang dan hati senang. Ini adalah rahasia Suhu yang dijadikan prinsip hidup sehari-hari. Perut kenyang, hati senang. Yang masih menjadi misteri adalah rahasia Koes Plus, hati senang walaupun tak punya uang.

Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Malam itu Suhu terusik tidurnya. Istrinya gelisah. Keluar masuk toilet. Masuk keluar toilet. Nampaknya keracunan makanan. Food poisoning memang resiko orang yang suka makan di luar. Higienis jajanan di luar memang layak dipertanyakan.

Suhu juga merasa tidak nyaman. Tapi sepertinya ini bukan keracunan. Ini.

Kekenyangan.

Advertisements

2 thoughts on “Awal Mula Cerita

  1. Pingback: Hamil Itu Mudah |
  2. Pingback: Hamil Itu Mudah |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s