Hamil Itu Mudah

Sejak menikah di penghujung akhir tahun 2012, dalam benak Suhu tidak pernah terbersit sekali pun untuk menunda proses peningkatan populasi keluarga kami (baca: beranakpinak). Kami tidak minum Pil KB, tidak pakai alat kontrasepsi, dan tidak menghindari hari-hari yang bisa membuat pembuahan berhasil. Karena kami tahu, usia kami yang tidak lagi dini, berakibat anak-anak kami kelak akan punya orang tua yang …. tua. Apalagi menurut ilmu sains Panda menjadi langka karena susah berkembangbiak. Tidak ada tunda menunda, tidak ada abal-abal family planning dengan schedule tahun sekian mau beranak sekian. Tidak ada.

Meski demikian, bukan berarti kami memprioritaskan proses bikin anak di atas segala hal. Karir Suhu sedang menanjak, direkrut menjadi staff professional di sebuah proyek skala nasional. Nyonya memang sudah mengorbankan jenjang karir di dunia persilatan sejak menikahi Suhu. Pekerjaannya yang sekarang lebih cocok untuk istri yang di kemudian hari akan menjadi ibu rumah tangga. Tapi tetap saja jenjang karirnya masih panjang untuk didaki. Jadi, hidup kami bukan serta merta hanya bikin anak, makan, ngupil, dan tidur. Bukan. Kami masih hidup seperti manusia biasa pada umumnya.

Singkatnya, kami tidak nunda, tapi juga tidak ngoyo bin mekso.

Sekitar mendekati setahun menikah masih belum juga dikaruniai buah hati, perasaan Suhu bercampur baur. Ada sedikit rasa sedih. Wajar, karena sudah berusaha tapi tidak dapat dapat. Sedikit rasa kecewa, banyak teman posting di Facebook bayinya lucu-lucu. Kadang juga marah, ada yang bayinya jelek diposting juga. Gak habis pikir, ada yang bayinya jatuh, gak dibantu malah divideo. Campur aduk. Gado gado perasaan. Tapi ada satu perasaan yang sangat dominan.

Sebel.

Rasa sebel sering terpicu secara otomatis saat ada orang lain yang bertanya.

Orang lain yang bertanya itu bisa dari anggota keluarga, bisa dari teman, bisa dari orang yang nggak seberapa kenal. Menariknya, semakin jauh hubungan kamu dengan lawan bicara, semakin intens topik percakapannya. Yang menyebalkan apa?

Asumsi.

Suhu merasa orang jadi menyebalkan saat mulai berasumsi.

“Duh kamu ini jangan nunda-nunda punya anaknya. Aku tahu kamu ngejar karir, tapi nanti punya anak itu rewarding banget. Kan lutchyu baby baby itchyu…. Gaji seberapapun juga nggak bisa dibandingin ama happiness lu punya baby. Lagian …”

Oke. Sebentar. Yang bilang sini nunda-nunda ini siapa? Yang ngejar karir siapa? Anyway sebelum orang bersangkutan Suhu gampar pakai laptop, biasanya Suhu mencoba mengalihkan topik. Baru ngobrol lima menit dia sudah berasumsi Suhu pria yang mengejar karir mengorbankan kebahagiaan hidup berkeluarga demi uang gajian duniawi yang fana.

Suhu masih tidak habis pikir jalan pikiran orang-orang yang bilang “Sudahlah, yang tanya itu berarti care sama kamu”. Hubungan pernikahan itu sesuatu hal yang sakral. Keputusan dalam pernikahan antara suami dan istri itu tidak perlu dipertanggungjawabkan ke pihak luar. Jadi sebelum terlontar pertanyaan “You don’t have children yet? Why?”. Pikirkanlah pertanyaan “What if they don’t want any? What if they can’t have any?”

Hamil Itu MudahKalau pasangan itu tidak ingin punya anak, apakah mereka salah? Apa orang jadi berhak untuk mengkuliahi mereka agar cepat-cepat punya anak? Beranak-pinak besar konsekuensinya, dan bagi Suhu concern paling besar adalah finansial. Semua harus ada itung-itungannya. Dan untunglah karir Suhu yang menanjak membuat rasa mapan untuk beranak itu stabil. Tapi tidak semua seberuntung itu. Aku tahu orang yang sengaja menunda, karena alasan finansial. Which is fine.

Yang lebih parah itu bagaimana kalau pasangan itu sangat ingin punya anak, tapi belum dikaruniai. Suhu mengalami fase ini. Dan kadang jawaban “Kita nggak nunda koq, berusaha tapi belum dikaruniai.” itu nggak cukup untuk mengakhiri pembicaraan. Ada saja saran-saran minum obat ini itu, racikan jamu tradisional dicampur air mata badak bercula tiga dan tumbukan sayap kelelawar dari goa hantu.

Setelah lama mencoba dan berulang kali memakai test pack yang hasilnya negatif, kami merasa test pack ini malah menurunkan semangat juang. Alhasil kami berhenti. Berhenti menggunakan test pack. Bukan berhenti berusaha. Toh tanda-tanda kehamilan sangat jelas, pikir kami. Tidak perlu test pack.

Kita sering menertawakan drama yang ada di telenovela dan serian televisi Indonesia. Sudah diperlihatkan ke penonton aktrisnya acting muntah, di make-up pucat pucat yang bibirnya biasanya pudar. Tapi protagonis tidak terpikir kalau baru dihamili oleh pemeran antagonis. Dipikirnya sakit perut biasa. Yaelah, udah jelas lah itu hamil. Siapa juga yang nggak tahu?

Persis sama seperti seminggu sebelum Nyonya memakai test pack yang hasilnya positif. Mual-mual, pusing-pusing, badan nyeri semua. Dan apakah yang Suhu dan Nyonya tahu kalau positif hamil? Nggak. Yang disalahin malah budae jjigae.

Memangnya, hamil itu mudah?

Advertisements

One thought on “Hamil Itu Mudah

  1. Pingback: Son or Daughter |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s