Antenatal

Setelah bertemu dengan Dokter Han di KK Hospital sebulan silam, Suhu dan Nyonya mendapatkan berbagai macam pengalaman dan informasi mengenai proses kehamilan ini. Mulai dari pengalaman Nyonya di-USG sampai informasi mengenai bahaya-bahaya dalam masa kehamilan.

Semua pengalaman dan informasi ini tercakup dalam satu kata. Antenatal.

antenatal
antɪˈneɪt(ə)l/
British
adjective
adjective: antenatal; adjective: ante-natal
before birth; during or relating to pregnancy.
“antenatal care”

noun

informal
noun: antenatal; plural noun: antenatals; noun: ante-natal; plural noun: ante-natals
a medical examination during pregnancy.

Proses-proses yang sebelumnya kita lalui berkaitan dengan tes darah, tes pipis, dan mendeteksi kandungan hormon dan zat kimia dalam tubuh yang menunjukkan positip hamil. Tapi proses USG ini adalah scan untuk melihat secara nyata bayi yang ada dalam kandungan. Waktu 1st appointment Nyonya sudah di-USG dan terlihat bayinya sebesar kacang. Hari ini kedua kali kami ke KK Hospital, di-USG lagi dan bayinya sebesar kacang yang lebih besar. Yang kalau bermain suka bully kacang-kacang yang lebih kecil.

Prosesnya simpel dan tidak sakit. Pertama-tama Nyonya disuruh rebahan. Terus baju disuruh angkat sedikit, celana disuruh turun sedikit. Lalu daerah di bawah udel (pusar) dikecrotin saos kayak botol mayonnaise. Pasien akan merasa gelisah (geli-geli basah). Terus daerah yang tadi sudah dikasi saos dipencet pake mesin kayak pistol barcode yang ada di kasir supermarket buat scan harga. Nanti di monitor akan muncul gambar kayak televisi jaman dulu. Hitam putih banyak semutnya. Antena nya perlu digoyang biar jelas gambarnya.

Suhu memperhatikan dokter Han menggerak-gerakkan scanner dan gambar di monitor berubah. Yang tadinya semutnya gerak ke kanan kiri jadi ke atas bawah. Sesekali layar monitor berubah menjadi terang, kadang gelap.

“Ini dia … ketemu bayinya!”

Suhu sangat gembira mendengar dokter telah menemukan letak bayinya. Tapi ternyata dokter nya bohong. Layarnya masih burek semutan. Suhu mencoba segala cara untuk mencoba mengimajinasikan ada gambar image bayi di layar kaca. Mulai dari khayalan seperti kalau lihat awan di langit dijadikan bentuk-bentuk tertentu, sampai mata dijuling-julingkan untuk lihat abstrak 3D.

AntenatalEh, kali ini ada satu titik yang kelip kelip. Ternyata itu yang dicari. Bayiku adalah lampu disko!

“Ini adalah detak jantung bayi kalian. Sehat. Detaknya kuat dan stabil.”

Dokter terus menerus memuji bayi kami. Sehat. Kuat. Bugar. Dan segala predikat atlit. Sementara Suhu masih bingung melihat monitor bayinya di mana. Di tengah kecamuk penghujung Agustus, Suhu yang pakai baju masih sering kebalik, mulai merasakan. Akan jadi ayah. Dari sebuah lampu kelap kelip.

Melihat ekspresi Suhu dan Nyonya, dokter dan suster di kantor uroginekolog mengambil asumsi yang tepat.

“Kalian first-time parents ya?”

“Ah nggak, kami punya dua lusin tamagochi.”

First time parents. Pertama kali jadi orang tua. Mungkin nampak dari usia kami yang masih belia, atau dari ketakjuban kami atas semua hal baru tentang dunia hamil perhamilan ini. Dokter Han menjelaskan tentang first trimester screening, dan suster merekomendasikan ikut kelas antenatal.

Iya. Kelas. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, lulus S1, ambil S2 lulus. Sekarang disuruh ambil kursus buat mbayi. Hwarakadah. Tapi mungkin setelah les mbayi nanti bisa dapat ilmu mata dewa buat lihat gambar bayi di monitor USG kualitas High Definition. Kami mendapat informasi bahwa KK Hospital menyelenggarakan kursus ini setiap beberapa periode. Satu paket sekitar 3 – 4 bulan seminggu sekali.

Beda les mbayi, lain pula first trimester screening. Screening ini semacam test untuk melihat kemungkinan bayi ini akan mengalami down syndrome. Hasilnya pun berupa prediksi dengan akurasi 90%. Ini test yang tidak wajib. Jiwa enjinir Suhu juga penasaran dan bertanya ke dokter apa tujuan test ini kalau sudah tidak wajib, tidak dijamin akurat pula. Dan mbayar.

Pada pasangan yang berusia relatif tua (35 tahun ke atas untuk bumil, usia bapaknya terserah pokok masih kuat menghamili), kemungkinan anak untuk menderita down syndrome meningkat secara statistikal. Kompatibilitas bapak dan ibu nya tentu juga faktor utama, dan mereka bisa mendeteksi hal ini sangat dini dalam proses kehamilan. Dengan mengecek kromosom sampel yang diambil dari bumil.

Tujuannya simpel. Untuk pasangan yang mengetahui bahwa anaknya akan menderita down syndrome, keputusan masih bisa diambil saat usia janin masih sangat muda. Hal ini akan mempermudah mengambil keputusan yang (tetap saja) sulit, untuk terminasi kehamilan.

Suhu dan Nyonya mengambil opsi untuk mengikuti test tersebut. Dan syukurlah bayi kami lulus dengan predikat kemungkinan kategori terendah sangat sangat sangat sangat kecil karena secara statistik mereka tidak boleh mengeluarkan result dijamin 100% bebas.

Suhu dan Nyonya adalah sepasang orang tua yang senantiasa bersyukur atas karunia buah hati kami. Lampu kedip di monitor USG.

First Appointment

Hari yang dinanti itu pun tiba. Tanggal 1 Agustus 2014, Suhu dan Nyonya pergi ke KK Hospital. Di sana ada dua tower utama Rumah Sakit, yaitu Children Tower dan Woman Tower. Selama masa kehamilan, kita akan berurusan dengan Woman Tower, maka kami berjalan menuju ke Woman Tower untuk mendaftarkan diri.

Appointment kami untuk bertemu dokter uroginekolog jam dua siang. Karena kami pasien first appointment yang pertama kali datang, kami harus datang lebih awal sekitar satu jam untuk ambil tes identitas pasien seperti golongan darah, berat badan, tekanan darah, tinggi badan, jenis kelamin (seharusnya wanita, tapi tetap ditanya, just in case), dan detil untuk billing atau pembayaran.

Karena kami belum pernah ke KK Hospital sebelumnya, kami harus datang lebih awal sekitar setengah jam untuk mencari lokasi tepatnya. Karena Suhu menikahi Nyonya, itu berarti kami harus datang lebih awal lagi karena Nyonya takut bin paranoid untuk datang terlambat, dan atas hal-hal force majeure seperti tidak dapat taxi, tiba-tiba hujan deras, banjir bandang, tidak dapat ojek sampan, dan lain sebagainya.

Karena sudah bikin janji dengan dokter, maka Nyonya langsung tinggal scan IC (versi lokalnya KTP sini) di mesin *beep* lalu dapet nomer panggil. Suhu celingukan memperhatikan ruang tunggu. Di setiap sudut ruangan ada monitor-monitor yang menunjukkan nomer mana yang dipanggil.

Selepas mata memandang isinya ibu-ibu hamil semua. Statistik angka kelahiran Singapura rendah terdengar seperti isapan jempol belaka. Tujuh dari sepuluh wanita di sini hamil. Bahkan suster yang menerima kami di resepsionis juga hamil! Atau gendut. I don’t know. Meskipun kami sudah ambil nomer panggil di mesin barcode, kami tetap harus tandatangan beberapa dokumen di resepsionis antara lain consent form yang isinya semacam memberi restu untuk tenaga profesional medis untuk melakukan hal-hal tidak senonoh dalam ruangan tertutup yang semestinya ilegal di mata hukum.

Dengan kekuatan super paranoid Nyonya, kami siap dua jam lebih awal dari semestinya. Suhu menggunakan waktunya untuk tidur, sesuatu yang akhir-akhir ini dirasa kurang karena tuntutan pekerjaan. Sesekali terbangun Suhu mengamati, di ruang tunggu ada beberapa jenis ibu hamil, di antaranya:

1. Ibu hamil standar. Biasanya ditemani suaminya, atau emak-emak yang disinyalir adalah ibunya atau mertuanya. Kalau yang suaminya romantis, tangan istrinya dipegangi. Kalau yang suaminya normal, ditinggal maenan game HaPe. Kalau yang suaminya sibuk, mertuanya yang nemenin. Penampilan agak kucel, tapi terlihat masih dandan sedikit sebelum berangkat ke Rumah Sakit bersalin.

2. Ibu hamil sosialita. Ditemani oleh teman wanita. Mungkin dari lingkungan kerja, atau dari perserikatan istri-istri orang kaya. Cekikikan terus di ruang tunggu, sesekali ceples-ceplesan tangan satu sama lain sambil mengatupkan jari telunjuk ke mulut Sssshhh padahal dirinya sendiri juga sama-sama ribut nggosip. Mosyo’oloh mau Sssshhh juga percuma, seruangan ini sudah tahu supirmu ada affair sama suster tetangga. Penampilan menarik, fashion terkini, tas merek, HaPe dua – satu Sansun buat instagram satu iPon buat Path soalnya nggak tahu gimana installnya di android.

3. Ibu hamil profesional. Bulat besar bagaikan matahari yang meredup, dikelilingi orbit tiga anak-anaknya yang masih terlalu kecil untuk ditinggal di rumah. Dari observasi singkat, nampak bahwa jarak umur anak-anaknya sekitar setahunan. mBrojol bikin lagi mbrojol bikin lagi dan lagi dan lagi. Penampilan natural kelelahan, sudah menyerah pada keadaan, dan berhenti mencoba untuk memperbaiki dan mulai menerima dengan pasrah.

4. Ibu hamil-hamilan. Tidak kelihatan kalau hamil. Perut kempes dandan masih menor sepatu cetok masih hak tujuh senti. Tapi baca buku-buku tentang pregnancy, parentcraft, dan sejenisnya. Kemungkinan besar mencoba untuk hamil, minta obat-obatan, atau konsultasi tips-tips hamil pada dokter.

Sudah pukul dua lewat kami belum juga dipanggil masuk. Suhu bertanya pada suster yang manggili pasien. Monitor menunjukkan dokter masih meladeni pasien dengan nomer panggil yang jauh di depan. Suhu mencoba mencocokkan dengan pasien-pasien sebelah. Rupanya dokter terlambat sekitar sejam lebih. Ini sudah jam dua lewat, tapi masih memeriksa pasien yang janjiannya jam satu.

Akhirnya giliran kami sampai. Dokter Han menjawab semua pertanyaan kami dengan singkat, padat, dan informatif. Terlihat tidak terlalu tua tapi sangat berpengalaman. Murah senyum tapi tidak cengengesan. Dokter Han menghitung kalender dan kami pun sontak kaget.

“Baby due date is 18 March ah.”

First AppointmentItu kan ulang tahun Nyonya.