The Private Suite

Dari pengalaman dua kali menjumpai dokter Han di KK Hospital, Suhu dan Nyonya mengamati beberapa hal. Bukan hal seperti jenis-jenis ibu hamil. Melainkan kondisi pasien di sini, yang sama-sama antri.

Pengangguran. Satu hal yang paling membingungkan Suhu dan Nyonya adalah orang-orang ini koq nggak kerja ya? Kalo perusahaan setahun jatah cuti empat belas hari, berarti semuanya dipakai untuk ke dokter? Koq bisa antri berjam-jam cuma buat ketemu dokter kurang dari sepuluh menit. Masih mending kalau sepuluh menit itu dijelasin panjang lebar sama dokter. Yang ada malah dokternya sibuk. Sibuk apa?

Bimbingan dokter muda. Dua kali ketemu dokter Han, selalu ada dokter lain duduk, dokter Han berdiri lalu lalang. Dokter yang duduk ini usianya relatif lebih muda, selalu mengkonfirmasi apa yang hendak dikatakan ke pasien ke dokter Han terlebih dahulu. Suhu dan Nyonya yakin ini dokter-dokter magang atau dokter baru yang diparkir di bawah naungan dokter Han. Jadi Dokter Han ini sibuk membimbing dokter-dokter muda.

Berawal dari pekerjaan Suhu yang kurang memungkinkan untuk cuti sering-sering, dan Nyonya yang menegaskan bahwa suami perlu terlibat secara total dalam proses kehamilan. Nyonya menanyakan ke suster jaga, apakah ada alternatif untuk datang setelah jam kerja Suhu atau mungkin weekend.

“Oh ada bu, tapi nggak di sini. Kalian harus ke The Private Suite. Dokter Han juga praktek di The Private Suite.”

Jadi selain membimbing dokter muda di sini, dokter Han juga menggelar lapak di The Private Suite. Bagaimana bisa? Ilmu menggandakan diri ala Naruto juga diajarkan di Fakultas Kedokteran?

Ternyata jadwal praktek dokter Han di The Private Suite adalah petang sampai malam hari untuk senin sampai jumat. Dan seharian untuk weekend. Intinya Suhu dan Nyonya memutuskan untuk mencoba daftar di The Private Suite untuk appointment check up rutin berikutnya. Alasannya sederhana, karena Suhu dan Nyonya sama-sama karyawan fakir cuti.

“Tapi di The Private Suite lebih mahal ya, Bu.”

goldarB

Nyonya mendadak berpikir keras, memikirkan apakah selisih harga antara antrian kelas ekonomi dan The Private Suite ini sumbut (apakah bahasa endonesa dari ‘worth’?). Belum kelar Nyonya berpikir, Suhu langsung mengiyakan saja. Setengahnya karena impulsif khas Golongan Darah B, setengahnya lagi Suhu sudah beritikad untuk tidak menghemat sepeser pun, demi memberikan yang terbaik untuk buah hati.

Singkat cerita di penghujung akhir September 2014 itu Suhu dan Nyonya check up rutin di The Private Suite. Lokasinya masih di dalam premis KK Hospital. Tapi bukan di Woman Tower. Bukan juga di Children Tower. Letaknya di tengah-tengah dua tower utama Rumah Sakit ini. Bertetanggaan dengan persil komersil seperti Mothercare, Kopitiam, McDonald, dan sejenisnya.

Impresi Suhu pertama saat masuk resepsionis The Private Suite, bagaikan hotel. Ada kolam renang, taman bunga-bungaan, dan landasan helikopter. Mulai dari counter, ceiling cove light, karpet, dan furniture berupa sofa untuk ruang tunggu, sama sekali tidak mengesankan ini rumah sakit. Seperti lounge hotel. Televisi layar LCD yang digantung di tembok menyiarkan loop video acara-acara kesehatan, dengan nomer urut panggil pasien di sisi kiri layar.

Benar-benar beda kelas. Mungkin ini perasaan orang yang ndak pernah terbang kelas bisnis, terus tiba-tiba upgrade setelah seumur hidup naek pesawat ekonomi. Entahlah. Suhu ndak pernah naek kelas bisnis. Selalu naek ekonomi, spesialis ekonomi lemah.

Entah melipur lara hati sendiri karena bayarnya lebih mahal atau memang The Private Suite lebih yahud, Suhu merasa suster-suster nya lebih cekatan, murah senyum, dan berpengetahuan. Yang di kelas ekonomi susternya grusa-grusu, cengengesan, dan cerewet. Tapi setelah diteliti lagi ternyata orangnya sama. Memang sinonim dengan konotasi sangat dipengaruhi impresi.

Ruang tunggunya berupa sofa yang berlebih, jauh lebih nyaman dibandingkan kursi-kursi keras yang sering penuh sampai kita susah cari tempat duduk seperti appointment sebelumnya. Bukannya Nyonya manja pingin duduk sofa, tapi Suhu yang mau duduk coba kamu bayangkan bawa ransel isi sepuluh kilo dicangklong di depan. Kira-kira gitu perasaan ibu hamil. Masa mau disuruh nunggu dokter sambil berdiri?

Dan puncak acara buat suami-suami yang menemati istrinya ke The Private Suite ini adalah …. ada vending machine gratis. Mesin yang ngeluarin minuman hangat mulai dari Hot Chocolate sampai Espresso dan kopi-kopi jenis lainnya (Milo, Latte, Espresso, Mocchacino, Michelangelo, Kirarabasso, dan lain-lain). Maka kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya selisih harga antara kelas ekonomi dan The Private Suite ini sangat justified dari segi operasional. Hanya ada satu cara untuk memastikan kita tidak rugi selisih.

The Private SuiteMinum kopi yang banyak mumpung di sini.

Advertisements

One thought on “The Private Suite

  1. Pingback: Weight Loss |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s