Son or Daughter

Jenis kelamin bayi.

Topik ini bisa menjadi ajang ramalan, perdebatan, baku-hantam bin pertikaian, bahkan perjudian. Dalam tradisi kuno cerita-cerita legenda, sering tersirat preferensi bahwa keturunan seseorang sebaiknya adalah laki-laki. Ini adalah hal yang wajar mengingat takhta kerajaan yang tercatat oleh sejarah, biasanya diturunkan secara patriarki. Sistem otoritas dominasi lelaki lebih umum daripada matriarki. Buktinya jelas, kamu search patriarki di wikipedia, keluar. Matriarki, silakan nulis artikelnya sendiri.

Bagaimana dengan Suhu. Sebenarnya Suhu lumayan bebas dengan pilihan jenis kelamin bayi, terutama karena Suhu ingin dikaruniai lebih dari satu anak. Jadi untuk anak pertama, laki-laki atau perempuan, sama saja.

Tapi setelah sekian kurun waktu mencoba dan tidak dikaruniai, Suhu seakan diingatkan oleh sang pencipta. Woi, kamu itu siapa berani-berani nya milih? Mbo’pikir ini beli sayur di pasar, minta yang ini yang itu. Suhu jadi berpikir lagi dan merasa egois, pingin punya anak lebih dari satu, jenis kelamin kalau bisa saling melengkapi antara anak pertama dan kedua, kalau kakaknya laki ya adiknya perempuan. Kakaknya perempuan adiknya laki-laki.

Sejak Nyonya hamil, Suhu mengurangi permohonan seperti jenis kelamin bayinya apa. Suhu menjadi lebih jelas tentang prioritas doa dan permohonan. Laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat. Hidupnya senantiasa dilindungi dan dimudahkan. Dan hoki nya gak abis-abis.

Son or DaughterNyonya juga tidak jauh berbeda. Bagi Nyonya, kalau punya anak laki, pasti tampan baik hati cendekia dermawan seperti suaminya. Sedangkan kalau punya anak perempuan, bisa diajak nemenin shopping dan disuruh bawain barang belanjaan. Nyonya juga mengutamakan bayinya sehat di kandungan dan proses persalinan lancar.

Lain Suhu dan Nyonya, lain pula anggota keluarga. Dari jajaran ipar sampai mertua, handai taulan yang Suhu baru pertama kali dengar namanya. Saudara buka sayembara tebak-tebak tidak berhadiah, ipar buka bandar mari mari sudut biru lawan sudut merah.

Bapak ibunya cuek bebek, yang lain malah heboh.

Benul. Buah hati kami adalah pemersatu keluarga. Garis keturunan kami adalah cucu pertama dari papa mama Suhu, dan cucu pertama dari papa mama Nyonya. Ditumpuk dengan fakta bahwa mama Suhu adalah anak tertua di keluarganya, ini adalah cicit pertama mendiang emak Suhu dari garis matrilineal. Dari sisi lain, Nyonya adalah satu-satunya cucu perempuan emak Nyonya dari garis matrilineal.

Kenapa yang dibahas garis matrilineal? Karena bapak-bapak kurang seberapa histeris dalam hal berita silsilah terkini. Meskipun dalam hati sudah jingkrak-jingkrak pasti. Intinya, si kecil ini jadi sorotan. Hadiah-hadiah berduyun-duyun datang dari seluruh penjuru dunia. Semuanya mengharap jawaban satu pertanyaan.

Son or Daughter?

Based on scientifical facts, you can predict the sex of your baby up to 50 percent accuracy by guessing.

Cara tradisional mulai lihat bentuk perut (lonjong atau bulat atau limas segiempat), rona wajah ibu hamil, pola makan dan pola howek, semua di-ilmiah-ilmiah-kan. Segala informasi diproses agar bandar memastikan fair play.

Untung bagi kita sekarang, teknologi masa kini mengizinkan kita untuk tahu jenis kelamin bayi lebih awal. Memasuki bulan kelima masa kehamilan, organ kelamin bayi sudah tumbuh. Saat melakukan check up rutin di rumah sakit di tengah triwulan kedua, dokter meminta operator scan USG untuk melakukan scan penuh untuk melihat pertumbuhan semua organ bayi. Termasuk kelamin.

Si kecil nampak sedang meringkuk seperti posisi mau melambungkan umpan bola voli. Sesekali kakinya bergerak-gerak dan tangannya meninju-ninju perut Nyonya. Momen saat melihat layar monitor USG ini membuat Suhu merasa segalanya semakin nyata. Suhu akan jadi ayah. Memang realita menghantam suami lebih terlambat daripada istri, apalagi karena kita tidak mengalami perubahan secara biologis secara langsung dalam proses kehamilan.

“Ini kepalanya, lihat ini tulang hidung nya. Ini tangan, dan ini kaki.”

“Semuanya normal?”

“Nanti dokter yang menjelaskan, Pak. Kami cuma operator USG scanner. Tapi dari size nya semua wajar. Sudah tahu laki atau perempuan?”

“Belum.”

“Ini lihat bagian sini, saya scan selangkangan bayinya. Selamat, Pak, Bu. Anak kalian yang pertama perempuan.”

Nyonya tersenyum mendengarnya. Suhu pun mengangguk penuh makna. Senyum dan anggukan yang artinya kita berdua sama-sama bingung lihat monitornya cuma layar burek hitam putih semutan macam tivi lama yang antena nya baru ketiup hujan angin. Sudahlah kita percaya apa kata dia, ini kan kerjaan dia tiap hari.

Suhu mengambil hape nya dan mengirimkan pesan singkat ke papa mama Suhu.

I’m going to have a daughter.

Suhu,
very proud daddy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s