The Benefit Outweigh the Risk

Hidup sebagai Warga Negara Indonesia keturunan Cina memang tidak mudah. Eh maaf, sekarang sudah nggak boleh ngomong Cina, disuruh ngomong Tionghoa. Yaelah, terserah aku lah, aku kan Cina. Orang yang bukan Cina mau ngatain Cina itu menghina, harus bilang Tionghoa. Sama seperti sesama orang item bisa bilang “yo yo ma brotha my nigga …”, coba kalau bukan orang item panggil “nigga”, disebut rasis atau dikubur hidup-hidup..

Benul. Tidak mudah hidup jadi cina. Bukan. Suhu tidak akan uneg-uneg bagaimana rasanya jadi warga negara kelas dua, diskriminasi, dan di-bully di negeri sendiri. Susahnya jadi orang cina adalah, punya orang tua cina, sanak famili cina, dan karena istri juga WNI keturunan Cina, maka sepaket dari sisi mertua pun juga cina semua. Dan jadi keturunan cina, berarti mengikuti tradisi keturunan cina.

Suhu tidak tahu bagaimana adat istiadat kebudayaan lain, Jawa, misalnya. Tapi Suhu juga tidak tertarik untuk tahu menahu. Lha adat cina aja Suhu banyak yang nggak tahu, koq mau cari perkara lihat-lihat adat lain. Orang tua Suhu sebenarnya termasuk liberal masalah adat istiadat cina, bukan tipe yang buka altar di rumah, pakai jubah dan pedang kayu, mengusir vampir. Intinya kami normal.

Tapi pada saat-saat tertentu, terutama event besar, Cinanya keluar. Misalnya, waktu wedding Suhu dan Nyonya. Ada acara milih hari baik. Ini hal yang sampai sekarang Suhu masih ndak habis pikir. Karena jujur bagi Suhu, semua hari adalah hari yang baik. Lebih logis kalau milih tanggal cantik. Suhu dan Nyonya menikah tanggal 10 Nov 2012, jadi bisa dikategorikan tanggal cantik 10-11-12. Alasannya simpel, biar mudah diingat dan mengurangi resiko digampar Nyonya karena lupa.

Dalam menyikapi tradisi mitos legenda antah berantah ini, Suhu punya prinsip yang sangat simpel. Kita sebut prinsip ini The Benefit Outweigh the Risk. Jalan pikirannya sama persis seperti Medication during Pregnancy saat les mbayi, hanya dilakukan jika keuntungannya melebihi resikonya.

Mulai dari contoh di atas, memilih hari baik untuk pernikahan, pindah rumah, tunangan, merampok bank, buka toko, dan sebagainya.
Benefit: [kalau dilakukan], tidak ada yang keuntungan yang berarti.
Risk: [kalau tidak dilakukan], dicap durhaka, dikutuk jadi batu, dimusuhi sekampung cina.
Kesimpulan: memilih hari baik sesuai anjuran orang tua.

Prinsip The Benefit Outweigh the Risk ini kita bawa terus dalam menyikapi pantangan-pantangan selama kehamilan. Berikut beberapa dari sekian banyak pantangan yang Suhu dan Nyonya temui dan cara menyikapinya.

Pantang minum alkohol
Benefit: bisa high, mabuk-mabukan, melupakan masalah duniawi.
Risk: Nggak hamil aja bahaya, apalagi pas hamil.
Kesimpulan: jangan dikonsumsi, kalau situasi terpaksa, biarlah Suhu yang berkorban mengambil jatah Nyonya.

Pantang makan fastfood
Benefit: praktis, enak, mudah dibeli saat lapar.
Risk: Nggak hamil aja bahaya, apalagi pas hamil.
Kesimpulan: jangan dikonsumsi, kalau situasi terpaksa, biarlah Suhu yang berkorban mengambil jatah Nyonya.

Pantang minuman yang mengandung Kafein
Benefit: jadi tidak ngantuk dan bisa bekerja lebih lama.
Risk: bayi mengambil asupan nutrisi dari apapun yang dimakan ibu. Kalau ibunya melek karena kafein, bayinya juga melek. Masalah datang saat ibu sudah mau tidur tapi bayi masih pencak silat karena kebanyakan kafein.
Kesimpulan: Sebaiknya dijauhi, kalau doyan kafein resiko tanggung sendiri.

Pantang makan makanan mentah
Benefit: Ini mengacu ke makanan seperti sashimi, bukan beras dimakan tanpa ditanak. Mengacu ke steak yang medium rare, bukan beli ginjal babi mentah terus dikunyah.
Risk: Kuman dan Bakteri. Karena ini membahas proses kehamilan dan bukan Fear Factor, maka makanan-makanan yang masih bergerak jatuh di luar konteks pembahasan masalah.
Kesimpulan: Dijauhi. Toh masih banyak pilihan makanan lain.

Tidak boleh keluar malam-malam sendiri
Benefit: Apa alasan kita keluar malam-malam sendiri? Skenario ini hanya diperlukan saat kita perlu menghilangkan barang bukti tindak kriminal.
Risk: Masuk angin. Dipalak preman. Tersesat. Ketinggalan kereta terakhir. Ketiduran di bis lalu kebablasan.
Kesimpulan: Hindari keluar malam-malam sendirian.

Bawa peniti ke mana-mana
Benefit: Bisa menolak roh halus? Ini ilmu dari mana?!? Untuk ibu hamil yang bajunya sesak, mungkin suatu hari kancingnya meledak saat bernafas. Peniti bisa menjadi penyelamat.
Risk: Kecocok alias tercucuk.
Kesimpulan: Bawa aja kalau gak merepotkan. Selipkan di tas atau dompet.

Tidak boleh memaku, memindah furniture,
Benefit: Kalau dikaryakan, bisa dapat uang. Misal, jadi tukang kayu.
Risk: Ini apa-apaan sih? Nyonya pas gak hamil aja mau pindah furniture suruh suami. Sekarang pas hamil malah dikasih pantangan pindah-pindah furniture, maku-maku tembok, suaminya ke mana? Pergi perang?

Tidak boleh ke rumah duka dan kuburan
Benefit: Ikut berkabung. Menunjukkan solidaritas dalam belasungkawa dan duka cita.
Risk: Ditanyain dan diomelin tante-tante “adhu ini kenapa sudah hamil segini masih ke rumah duka! Gak boleh! Pantang! Nanti bayinya lahir jadi tante-tante cerewet loh!”
Kesimpulan: Jangan pergi kalau bukan keluarga dekat. Apalagi diam-diam pergi ke kuburan tanpa tujuan yang jelas. Jangan.

Tidak boleh mandi di atas jam 9 malam.
Benefit: Higienis dan bersih sebelum tidur.
Risk: Masuk angin. Antrian kamar mandi sama Suhu yang baru pulang kerja.
Kesimpulan: Lebih baik mandi sebelum jam sembilan. Kalau malam mau mandi ya pakai air hangat.

Tidak boleh lihat kecelakaan, seram-seram, hantu-hantu, setan-setan.
Benefit: Tambah lama pantangannya tambah absurd. Buat apa ibu hamil nyari setan?
Risk: Kesurupan?
Kesimpulan: Jangan ikut acara Dunia Lain, nonton Dendam Nyi Pelet, dan sebagainya.

Tidak boleh membunuh makhluk hidup.
Benefit: Terkadang ada beberapa makhluk hidup di sekitar kita yang minta dibunuh.
Risk: Masuk penjara.
Kesimpulan: Jangan membunuh. Kalau perlu, jangan keluar malam sendiri [lihat pantangan di atas], kamu perlu alibi.

Tidak boleh dipijat, tidak boleh ditepuk.
Benefit: Dipijit enak.
Risk: Kalau perut dipijit nanti bayinya keluar.
Kesimpulan: Jangan dipijit di perut dengan tekanan berlebihan. Nanti meletus dan hatimu sangat kacau.

Tidak boleh benci orang, ngrasani orang.
Benefit: Ngrasani orang adalah bukti kita adalah makhluk sosial.
Risk: Dirasani balek.
Kesimpulan: Lanjutkan rasan-rasan toh tanpa rasan-rasan pun kita tetep dirasani.

Tidak boleh pakai hape karena radiasi
Benefit: Kita perlu berkomunikasi dengan orang lain.
Risk: Radiasi.
Kesimpulan: Kalau memang radiasi henpon akan mencelakai kita semua, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sekalipun kita berhenti memakai henpon, orang-orang di sekitar kita tetap memakainya. Yang bisa kita lakukan adalah memakai henpon secara manusiawi dan membentuk ketahanan tubuh bayi terhadap radiasi henpon sejak usia dini dalam kandungan.

Hidup jadi Cina itu gampang-gampang susah. Susah-susah gampang. Suhu percaya di keluarga lain ada tradisi lain yang mungkin nggak kalah absurd. Semua pantangan turun-temurun itu mestinya ada alasannya. Dan alasannya mungkin sudah nggak relevan dengan situasi kita sekarang. Tapi karena terlanjur diturunkan beberapa abad tanpa ada feedback, maka pakem nya adalah nurut aja, daripada kuwalat.

Menurut Suhu, ikutilah apa yang menurutmu benar. Lagipula, orangtua mana yang tak ingin yang terbaik untuk anaknya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s