Cuti Hamil

Pagi itu tanggal 28 Februari 2015 kami ke dokter Han untuk checkup rutin. Berbeda dengan checkup yang lampau, kali ini semuanya terasa lebih riil. Sangat nyata. Apalagi setelah Nyonya mengalami pendarahan kemarin lusa. Satu perjalanan ke Delivery Suite, melihat hamparan ibu hamil di ruang tunggu persalinan, membuat semua pengalaman pregnancy ini menjadi terasa penghujung akhirnya.

Dokter Han berkata, kami sudah masuk minggu ke 38 kehamilan. Secara medikal, bayi melampaui minggu ke 36 sudah bisa dikategorikan full term. Lahir normal tidak prematur. Bayi juga sudah berada di posisi engage, yaitu jungkir balik, kepala di bawah, siap meluncur keluar melalui saluran kelahiran. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Dengan size bayi yang sekarang, sudah susah untuk berputar menjadi sungsang. Pada checkup sebelumnya, posisi bayi tidak seberapa diperhatikan, toh sizenya masih termasuk kecil dan belum sesak, jadi masih bisa berenang-renang dan berputar dalam perut Nyonya. Sekarang si kecil sudah besar dan sehat. Dokter Han mengestimasi beratnya 2.8kg. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Berdasarkan statistik, bayi pertama cenderung lahir lebih awal sebulan. Kalau dihitung estimasi kelahiran adalah minggu ke 40, sebenarnya minggu ke 36 bisa dibilang adalah waktu paling tendensi untuk lahir. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Tapi checkup hari ini menunjukkan tidak ada apa-apa. Kontraksi belum mulai. Dilatation of cervix masih belum mulai. Bayinya masih sehat, detak jantung masih normal. Cuma belum mau keluar saja. Mungkin kerasan.

Suhu dan Nyonya berunding. Sekarang Nyonya masih bekerja, dan layaknya karyawati sebuah perusahaan, cuti adalah sesuatu yang harus direncanakan. Nyonya sudah menginformasikan pada pihak perusahaan bahwa akan mulai cuti tanggal 9 Maret. Tapi peristiwa pendarahan kemarin lusa, tanggal 26 Februari membuat kita berubah pikiran.

Cuti HamilKemarin juga Nyonya tidak masuk kerja, kita keluar dari Delivery Suite setelah observasi itu sudah tembus tengah malam. Dan kondisi Nyonya belum pulih benar dari lelah pendarahan, buru-buru ke Rumah Sakit, shock, dan hypervigilance dan senantiasa khawatir.

Akhirnya kami memutuskan, sudahlah, Nyonya lanjut cuti saja. Toh semua kesimpulan dokter Han mengacu bahwa si kecil bisa lahir kapan saja. Ambil cuti tanggal 9 atau mulai senin depan, selisihnya hanya satu minggu. Dan berdasarkan pengalaman, buru-buru dari kantor untuk melahirkan itu nggak asyik. Maka terhitung dari kamis kemarin lusa, sampai tanggal 7 Maret, Nyonya ambil cuti ekstra 7 hari dari rencana awal.

Untung bagi Nyonya, perusahaannya merupakan kampeni bertaraf internasional yang memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Cuti hamil dibayar penuh selama 4 bulan, meskipun kita bukan warga negara setempat. Sebagai perbandingan, perusahaan lain biasanya memberikan cuti hamil 4 bulan hanya untuk warga negara, dan 2 bulan untuk foreigner. Selebihnya, akan diperlakukan sebagai cuti tak berbayar. Suhu tidak punya cuti hamil, meskipun perut Suhu sudah ukuran hamil 4 bulan sejak beberapa tahun silam.

Di hari-hari cuti ini bukannya rileks dan ngaso, Nyonya malah tambah repot. Bukan repot ngurus bayi yang mau lahir. Tapi repot ngurusin orang-orang yang mau mbantuin lahiran bayi. Ini menyangkut paut urusan dalam negeri, mulai dari mertua Suhu, ipar Suhu, papa mama Suhu, dan cece Suhu.

Benul. Tiket pesawat dan akomodasi.

Semua orang tanya hal yang sama. Mesti beli tiket tanggal berapa? Kapan lahiran? Berapa lama tiketnya kalau mau beli tiket pp?

Untuk memfasilitasi tempat tinggal yang terbatas, dan mengoptimalkan bala bantuan dari endonesa, Suhu dan Nyonya mengatur jadwal kedatangan orang tua secara estafet. Yakni, dua minggu setelah kelahiran untuk orang tua Nyonya, disambung dua minggu setelah kelahiran oleh orang tua Suhu. Pertimbangannya simpel, saat dirundung kelahiran anak pertama, Nyonya akan tergolek lemah tak berdaya. Bala bantuan yang paling ideal adalah mama Nyonya sendiri. Karena kalau yang diperbantukan adalah mama Suhu yang notabene adalah mertua Nyonya, pasti ada rasa sungkan untuk minta bantuan.

Dalam kepelikan kehamilan yang tak menentu ujungnya. Semuanya serba tanda tanya. Dan anggota keluarga memojokkan Suhu dan Nyonya seolah kami menyembunyikan tanggal kelahirannya. Mulai dari orangtua Suhu yang salah beli tiket, untungnya salah airlines, bukan salah tanggal dan tempat tujuan. Sampai tuduhan tak beralasan mertua Suhu yang mensugestikan adanya teori konspirasi bayi sudah lahir tapi keberadaannya di dunia dirahasiakan.

Yaelah mah, buat apa kita gak bilang-bilang kalau bayinya sudah lahir ….

Tapi, sebenarnya, kamu benar. Bayi kami telah lahir, dan kami merahasiakan kenyataan ini. Sesungguhnya, anak kami sekarang sudah SMP.

Setelah melalui perhelatan akbar, Nyonya memberikat dekrit kepada mama Nyonya. Setelah ada kepastian bayi akan lahir, yakni kontraksi reguler atau bukaan, Nyonya akan memberikan lampu hijau untuk mama Nyonya agar supaya mulai beli tiket pesawat. Setelah mendapatkan tiket, mama Nyonya akan menginformasikan detil pulang pergi tiket. Suhu akan mengambil alih agar papa mama Suhu bisa membeli tiket tahap dua untuk mengisi kekosongan saat mama Nyonya pulang.

Pada saat ini yang ada di pikiran Suhu dan Nyonya hanya sudahlah ayo cepat lahir kita sudah ke sini Kamis Sabtu bawa perut sebesar bola bowling, kamu ngapain lama-lama di dalam? Dan si kecil masih suka tendang-tendang perut mama dari dalam.

The Delivery Suite

Kamis sore itu Suhu ditelepon oleh Nyonya. Dua kali. Tapi sambungan itu tidak terangkat. Tangan Suhu sedang kotor dan keterbatasan henpon touch screen masa kini tidak mengizinkan jari-jari bernoda mengangkat telepon. Suhu menelepon balik tapi tidak ada nada dering.

Sekian pesan singkat masuk melalui beberapa media. SMS. Whatsapp. Dan Google Hangout. Inti isinya sama. Nyonya dari kantor langsung menuju Rumah Sakit Bersalin. Ketemu di sana. Pikiran Suhu berkecamuk. Pesan-pesan singkat di layar smartphone seperti berputar-putar. Darah. Rumah sakit. Langsung. Berangkat sendiri-sendiri. Ketemu di Delivery Suite.

Delivery Suite.

This is it.

Menurut Les mBayi bagian belajar melahirkan, salah satu trigger pergi ke Rumah Sakit adalah darah. Apapun yang terjadi, kontraksi atau pun tidak, air ketuban pecah atau pun tidak, selama ada darah, budhaljuseyo langsung ke Rumah Sakit. Alasannya simpel. Tidak ada yang tahu ini darah berasal dari mana. Yang kita ingin tahu adalah, darah ini adalah darah ndak penting dari lingkungan ibu, dan bukan darah bayinya. Tidak ada alasan valid bagaimana bayi dalam kandungan bisa berdarah, kecuali bayinya kembar tiga dan memulai karir MMA fighter dalam janin ibunya. Iya, dua pegulat satunya wasit.

Dengan akal sehat yang agak panik, Suhu berhasil sampai ke Rumah Sakit bersalin sekitar lima belas menit setelah Nyonya sampai. Nyonya memegang nomer antrian. Suhu memegang koper berisi perlengkapan yang sudah disiapkan sebelumnya. Berisi pakaian Suhu, Nyonya, dan baju bayi. Juga beberapa perlengkapan esensial untuk proses kelahiran, seperti mp3 player untuk distraction, sesuai anjuran les mBayi. Dan lain-lain seperti charger HP, snack, jaket, selimut, tenda, gitar, tikar, dan barbeque pit.

Sudah bilang ke susternya yang di resepsionis. Tapi suster di resepsionis masih sibuk mengurus kertas-kertas dokumen registrasi. Di ruangan ini ada empat wanita hamil lain. Kebanyakan pucat dan menunggu nasib. Suhu dan Nyonya berkeringat dingin, khawatir dengan munculnya darah yang tidak semestinya ada. Paling tidak Nyonya masih bisa datang sendiri, daftar masuk sendiri, sementara Suhu datang terpisah dengan kopernya.

Ibu-ibu hamil lain ada yang pakai kursi roda. Ada yang masuk sudah terbaring di ranjang, mungkin dari ambulans. Tapi di sela-sela kesibukan ibu-ibu perut besar yang masuk, sesekali ada juga lewat kereta kecil dengan daging tiga kilo berbunyi oek oek ditemani ibu-ibu perut kempes. Senyum meriasi wajah lelah mereka. Suami-suami kewalahan membawa barang-barang mengikuti dari belakang. Fenomena the Delivery Suite.

Meski suasananya sangat genting, di mana semua orang merasa ini adalah perihal yang sangat signifikan dalam hidup mereka. Suster-suster di sini sangat tenang. Terlampau tenang. Mereka mencatat dengan perlahan tapi pasti gejala dan keluhan pasien, sebelum nantinya dioper ke dokter jaga. Tidak ada rasa panik sedikit pun. Mungkin karena mereka SETIAP HARI ketemu ibu hamil yang mau melahirkan.

Buat Nyonya dan ibu hamil lain di ruangan ini, mungkin ini kali pertama atau maksimal kali ke sekian mereka melahirkan. Dan tiap proses ini pasti sangat sangat sangat penting bagi tiap ibu. Tapi untuk suster-suster ini, this is just a job. Ya mungkin buat suster, Suhu hari ini jadi ayah atau nggak, signifikannya sama kayak Suhu memutuskan hari ini ngecor atau nggak. It is just a job.

Ya elah sus, tetep aja. Cepetan woi. Ini istri saya sudah bersimbah darah dari kantor sus.

Kami menunggu dan menunggu. Nyonya bilang lapar. Suhu berlari secepat kilat menuju ke warung terdekat membeli makan malam untuk Nyonya. Apa saja yang nggak antri. Dan gampang makannya. Biar kalau sewaktu-waktu dipanggil untuk melahirkan, nggak sedang belepotan mbongkar kaki kepiting, nggigit sayap burung dara, atau masih manggang sate.

The Delivery Suite

Sekitar empat puluh lima menit sejak Nyonya datang, akhirnya dipanggil juga. Nyonya dimasukkan ke ruangan observasi. Suhu disuruh tunggu di resepsionis the delivery suite. Benul. Disuruh. Menunggu. Lagi.

Kali ini sendirian. Sejam di resepsionis. Sementara Nyonya sudah digeladak masuk ruang observasi. Entah seperti apa ruang observasi itu, hanya Nyonya yang tahu. Mungkin banyak ibu-ibu hamil dimasukkan arena gladiator, lalu dokter-dokter jaga melihat dari balkon. “Nah itu yang perutnya paling besar, saya pilih yang itu” kayak orang-orang beli ikan hidup di pasar.

Total sekitar dua jam sejak kedatangan Suhu, akhirnya Nyonya keluar.

False alarm. Tidak ada apa-apa. Semua sehat. Detak jantung bayi normal. Kontraksi belum mulai. Dilatation of cervix masih belum mulai.

Cek rutin kami dengan dokter Han akan jatuh pada hari Sabtu yang notabene adalah besok lusa. Dokter jaga hari itu memutuskan tidak memanggil dokter Han karena masih tidak ada tanda-tanda akan melahirkan, dan menganjurkan untuk check up rutin pada hari Sabtu, dan memberi tahu dokter Han perihal munculnya darah hari ini untuk dicatat dan dijelaskan lebih lanjut. Untuk sekarang, kami diizinkan pulang.

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah arti sebuah nama, dengan panggilan apa pun mawar disebut, harumnya tetap semerbak.

Begitu kira-kira terjemahan cuplikan pujangga William Shakespeare dalam karyanya yang terkenal, Romeo dan Juliet. Suhu tidak terlalu setuju. Meskipun mawar itu tetap harum, kalau kita namakan Bunga Ketiak Kuda. Tetep bikin ilfil sebelum menghirup ranumnya. Percaya atau tidak, nama masih menjadi bagian sangat penting dari kehidupan kita. Karena dari nama, first impression itu bermula.

Tidak. Hari ini kita tidak akan membicarakan tentang branding. Karena Suhu bukan branding consultant. Dan yang terpenting, sekarang fokus Suhu adalah nama bayi yang akan lahir beberapa minggu lagi. Dalam perhelatan mencari nama antara Suhu dan Nyonya, ada beberapa aturan main yang kita setujui. Berikut di bawah ini adalah pertimbangan kami saat mencari nama buah hati.

Tanpa huruf R. Dari abjad yang ada, huruf yang paling susah dilafalkan oleh lidah manusia adalah R. Buktinya ada istilah untuk orang yang tidak bisa melafalkan huruf tersebut. Pelat alias cadel, juga disebut cedal. Bayangkan, saking populer nya orang yang tidak bisa lancar melafalkan huruf ini, mereka punya istilah sendiri.

Suhu selalu berpendapat bahwa rasa percaya diri seseorang, itu terkait dengan perkembangan mental nya sejak dini. Kalau dari kecil terlatih tegas dan mampu melakukan hal-hal yang diharapkan, rasa percaya diri nya akan terpupuk dan berlanjut. Mulai dari berkenalan misalnya.

Contoh 1.
Siapa namamu?
JOKO!
Duh pinternya anak ini.
Joko tumbuh menjadi tukang kayu, gubernur, lalu presiden anak yang tangkas dan pemberani.

Contoh 2.
Siapa namamu?
Tejo.
Oh Tejo, bagus ya namamu.
Tejo tumbuh dari anak yang ngampung dekil lugu tapi Surti suka, menjadi Tejo yang gaul yang funky yang doyan ngucapin ember.

Contoh 3.
Siapa namamu?
Maw … Mal … Mawgowo … Malowo … huwaaa… aku benci papa mama … aku benci namaku! Aku pingin namaku Gogon aja!
Margono tumbuh menjadi jejaka tampan tetapi semua teman-temannya memanggilnya Gogon. Demikian pula temannya Sudarmadji yang akrab disapa Doyok.

Untuk menghindari hal tersebut di atas, Suhu dan Nyonya setuju agar nama anak kami tidak mengandung huruf R keras. Huruf R keras itu seperti Renata, Sari, Kartika. Sementara huruf R lunak masih masuk pertimbangan kami [seperti Jennifer, Sherly].

Asli Indonesia. Di tempat kerja, kami sering spot dan sering di-spot orang Indonesia. “Eh maaf, Indo ya?”. Nama Suhu dan nama Nyonya itu NINGRAT! Biarpun kulit kuning perut bulat mata sipit, nama akte kami masih erat dengan adat jawa. Bahkan kalau ditambah angka romawi di belakang, Suhu bisa dikira Sultan. Karena di lingkungan kerja formal kami pakai nama akte, dan sebagian besar orang juga demikian, sangat mudah spot nama Indonesia. Misalnya, di penghujung email ada tertanda Best Regards Sherly Wijaya. Ini 99.99% pasti cewek, Indo, chinese, marga Huang. Lucunya, nggak semua orang bisa spot keunikan nama ini, apalagi orang yang bukan Indonesia.

Ini adalah anomali yang nampaknya wajar. Orang myanmar bisa tahu, berdasarkan nama orangnya, dengan setengah nujum dan pengetahuan tata nama myanmar. Bisa tahu rumpun suku, lahir sekitar bulan berapa, awal bulan atau akhir bulan. Ini sama saja kayak orang Indo bisa tahu orang Bali anak keberapa berdasarkan namanya. Mungkin di negara antah berantah lain orang bisa nebak tinggi badan dari nama keluarganya. Yang pasti Suhu ingin anaknya punya codename yang bisa ditelisik oleh sesama orang Indonesia.

Misalnya, Endang Soekamti. Nama yang elegan, asli Indonesia. Tapi Nyonya punya pertimbangan lain.

Nama global. Sebagai orang tua yang merantau, jauh dari tanah air dan istilah kerennya go inter, Suhu dan Nyonya sudah pernah merasakan sendiri kesulitan orang-orang di sekitar kita melafalkan nama Indonesia kita yang level keningratannya sangat tinggi. Perlu diingat, nama Suhu mengandung Edjaan Lama Jang Beloem Disempoernaken. Benul, nama Suhu di akte masih pakai OE, bukan U. Nama asli. Bukan Soehoe. Sedangkan nama Nyonya, wah, masih pakai DJ. Padahal gak suka clubbing tapi namanya ada DJ nya. Nama asli Nyonya ndak kalah kuno sama Njonja Meneer berdiri sejak 1919.

Suhu dan Nyonya sama-sama ingin nama yang dilafalkan oleh orang negara mana pun masih bagus. Contoh nama yang bisa dilafalkan oleh orang negara lain tanpa jadi lucu. Nama Indonesia sebenarnya sedikit banyak sulit dipahami orang setempat, terutama yang pakai edjaan lama. Nama Cipto misalnya. Masih ada saja orang sini yang nyebutnya Ciptu. Wajar saja, karena selama edukasi mereka, Cip masih dibaca cip (seperti Chip). Tapi To dibaca tu (seperti today, tomorrow).

Mungkin, Endank Sukamty? Okeh?

Sejujurnya, nama Indonesia kami bukan karena kami nasionalis. Tapi karena leluhur kami dipersulit saat mengurus surat-surat pada jaman Orde Baru dulu. Sudah bukan rahasia bahwa orang Cina di Indonesia dipaksa merubah namanya menjadi nama Indonesia. Tapi entah kompakan atau secara insting, mereka menyelipkan marga Cina nya ke dalam nama Indonesia dan ini sudah menjadi nama keluarga turun temurun.

Untuk urusan nama Cina, kami serahkan pada orang tua Suhu selaku tetua keluarga. Kami diberi tiga nama laki-laki, dan tiga nama perempuan. Dari tiga pilihan itu, kami memilih berdasarkan artinya, kedekatan makna dengan nama latin, tingkat kesulitan karakter cina karena papanya perlu isi formulir, dan kemudahan pelafalan nama cina. Meski baik Suhu maupun Nyonya adalah OCBC [Orang Cina Bukan Cina] produk generasi Orba, kami tetap ingin anak kami tahu budaya leluhur.

Apalah Arti Sebuah Nama

Bahkan sejak dalam kandungan kami ajak nonton adu barongsai. Selamat tahun baru cina semuanya! Gong Xi Fa Cai! Dengan melalui momen ini, bayi kami dipastikan shio kambing. Si kambing kecil bersemangat denger dung jeng dung jeng dan mulai barongsai di dalam perut mama.

Malu Bertanya Sesat di Jalan

Hidup merantau punya fitur yang unik daripada hidup di tanah air. Meskipun pulau ini tidak terlalu jauh untuk disebut melanglang buana, Suhu tetap saja masuk kategori perantau. Salah satu jalan hidup yang ditempuh perantau adalah ketergantungan terhadap teman.

Betul. Teman.

Hidup di rumah sendiri cenderung membuat kebanyakan dari kita secara di bawah sadar menggantungkan diri pada keluarga. Orang tua. Sanak famili. Tentu lain halnya jika kita berada nun jauh di sana, jauh dari mereka. Tentu ada beberapa kasus yang anomali di mana keberadaan saudara di luar negeri membantu memudahkan hidup perantauan.

Tapi tetap saja. Di luar negeri, teman bisa menjadi lebih dependable dari saudara. Ini nyata, bukan cuma kutipan ayat Amsal 27:10, atau peribahasa Cina 远亲不如近邻.

Dalam menempuh proses kehamilan ini, Suhu banyak menemui kesulitan karena ini pengalaman pertama. Kebingungan, ketidaktahuan, dan rasa takut untuk berbuat salah karena tidak tahu, adalah akar dari segala kebingungan ini. Mengingat peribahasa malu bertanya sesat di jalan, Suhu bertanya pada berbagai narasumber.

Narasumber Suhu dan Nyonya yang paling utama tentu pada orang-orang yang berpengalaman yakni sudah pernah melahirkan. Mama Suhu. Mama Nyonya alias Mertua. Perlu diingat bahwa di usia Suhu dan Nyonya yang sudah tidak belia, paling tidak Mama Suhu dan Mertua Suhu mengalami proses ini sekitar tiga puluh tahun silam. Meskipun kita tidak ambil faktor bahwa orang tua semakin tua semakin gampang lupa bin pikun. Kalau kamu ditanya, kejadian tiga puluh tahun lalu, lebih banyak lupa nya daripada inget nya.

Tidak hanya itu, hal yang diingat oleh Mama Suhu dan Mertua Suhu hampir sama. Proses kelahiran jaman purbakala. Tiga puluh tahun ini sudah ada perkembangan di bidang kedokteran yang mereka tidak mengikuti karena mereka tidak berkepentingan. Maka jalan keluar satu-satunya adalah bertanya pada orang lain yang informasi nya relatif lebih terkini.

Suhu bertanya pada saudara seperguruannya. Namanya Septian. Pria yang cerdik cendekia namun tak lupa bertaqwa. Dari Septian Suhu tanya banyak tentang bagaimana menjadi calon ayah, karena dia juga baru jadi FTP [First Time Parent] sejak Juli 2014. Septian berbagi informasi bagaimana rasanya jadi suami siaga, dari sudut pandang suami lihat istrinya susah makan selama first trimester, dan lain-lain. Tapi yang paling penting dari Septian adalah, informasi tugas kebapakan. Tugas itu tak lain adalah tugas yang diemban oleh para suami saat istri mengandung dan pasca melahirkan.

Untuk ngeden dan mbrojol, suami-suami cuma bisa kasih semangat. Suami juga ndak bisa neteki. Otomatis jika ada tugas lain yang bisa dilakukan, mandat ini diberikan pada para papa baru. Dan ternyata tugas ini ndak sedikit, meskipun ndak sulit. Mulai dari daftar akte lahir, bikin paspor anak, ngurus keabsahan WNI, izin tinggal di luar negeri. Dan tak lupa, sesi diskusi finansial.

Hampir semua informasi penting mengenai hal ini dicover oleh Septian secara menyeluruh tapi kurang mendetil. Alasannya simpel. Septian senantiasa kurang tidur dari proses menjaga bayi kecil buah hatinya sendiri, dan saking repotnya di minggu-minggu pertama, banyak proses itu yang sudah dilupakan detilnya karena tidak dicatat. Maka Suhu beranjak bertanya ke teman lain yang bayinya lebih fresh lagi.

Dia bernama Dina. Dina ini adik kelas Suhu di Ninja Turtles University. Jangan ditanya kenapa Suhu bisa berteman baik dengan Dina, kenalnya bagaimana aja Suhu masih merasa ajaib. Singkat cerita, Dina telah melahirkan seekor kucing kecil di akhir tahun 2014. Setelah Dina mendengar kabar bahwa Nyonya telah mengandung dan Suhu butuh informasi seputar tugas suami siaga, Dina menyabdakan pada suaminya untuk memberi semua informasi suami siaga.

Dan percayalah, suami Dina mengirimkan sebuah email yang sangat awesome. Iya. Email. Isinya list tugas-tugas suami mulai dari bayi mbrojol [owek!], cara bayi dapat Permanent Resident di sini, sampai survey poliklinik agar sudah paham lokasi saat nanti dibutuhkan. Emailnya sangat jelas, merunut dari dokumen-dokumen yang diperlukan untuk aplikasi, website terkait, sampai operating hours kantor-kantor yang bersangkutan mulai dari kantor imigrasi, kedutaan besar, sampai link untuk e-appointment. Luar biasa.

Nah, kalau para suami alias papa papa baru ini ngomong sama calon papa kan enak. Mereka kan sudah menjalani dan memberi wejangan bagi yang akan mengalami. Tapi ya kadang kala, atas niatan baik agar temannya mendapatkan yang terbaik, mama-mama baru ini juga semangat share informasi.

Seperti pernah Dina memberi wejangan pada Suhu agar supaya banyak minum air kelapa. Suhu sih suka air kelapa, kan seger seger manis gitu ya. Setelah ditindak lanjut ternyata maksudnya Nyonya yang disuruh minum air kelapa, biar air ketubannya bersih katanya. Memang kenapa ya kalau air ketubannya bersih? Biar bayinya di dalem bisa keramas gitu ya? Dan lahir bebas ketombe.

Menurut Dina, kalau ibu hamil banyak minum air kelapa, nanti air ketubannya bersih. Rambut bayinya lahir bisa gembel bin lebat. Entah apa logikanya. Mungkin kalau kelapanya airnya diminum, sabutnya dimakan, rambut bayinya selebat sapu ijuk.

Tapi ada beberapa informasi yang sebaiknya dishare antar mama-mama saja dan ndak usah melibatkan para suami.

Malu Bertanya Sesat Di JalanToh kita juga gak bisa netekin.