Malu Bertanya Sesat di Jalan

Hidup merantau punya fitur yang unik daripada hidup di tanah air. Meskipun pulau ini tidak terlalu jauh untuk disebut melanglang buana, Suhu tetap saja masuk kategori perantau. Salah satu jalan hidup yang ditempuh perantau adalah ketergantungan terhadap teman.

Betul. Teman.

Hidup di rumah sendiri cenderung membuat kebanyakan dari kita secara di bawah sadar menggantungkan diri pada keluarga. Orang tua. Sanak famili. Tentu lain halnya jika kita berada nun jauh di sana, jauh dari mereka. Tentu ada beberapa kasus yang anomali di mana keberadaan saudara di luar negeri membantu memudahkan hidup perantauan.

Tapi tetap saja. Di luar negeri, teman bisa menjadi lebih dependable dari saudara. Ini nyata, bukan cuma kutipan ayat Amsal 27:10, atau peribahasa Cina 远亲不如近邻.

Dalam menempuh proses kehamilan ini, Suhu banyak menemui kesulitan karena ini pengalaman pertama. Kebingungan, ketidaktahuan, dan rasa takut untuk berbuat salah karena tidak tahu, adalah akar dari segala kebingungan ini. Mengingat peribahasa malu bertanya sesat di jalan, Suhu bertanya pada berbagai narasumber.

Narasumber Suhu dan Nyonya yang paling utama tentu pada orang-orang yang berpengalaman yakni sudah pernah melahirkan. Mama Suhu. Mama Nyonya alias Mertua. Perlu diingat bahwa di usia Suhu dan Nyonya yang sudah tidak belia, paling tidak Mama Suhu dan Mertua Suhu mengalami proses ini sekitar tiga puluh tahun silam. Meskipun kita tidak ambil faktor bahwa orang tua semakin tua semakin gampang lupa bin pikun. Kalau kamu ditanya, kejadian tiga puluh tahun lalu, lebih banyak lupa nya daripada inget nya.

Tidak hanya itu, hal yang diingat oleh Mama Suhu dan Mertua Suhu hampir sama. Proses kelahiran jaman purbakala. Tiga puluh tahun ini sudah ada perkembangan di bidang kedokteran yang mereka tidak mengikuti karena mereka tidak berkepentingan. Maka jalan keluar satu-satunya adalah bertanya pada orang lain yang informasi nya relatif lebih terkini.

Suhu bertanya pada saudara seperguruannya. Namanya Septian. Pria yang cerdik cendekia namun tak lupa bertaqwa. Dari Septian Suhu tanya banyak tentang bagaimana menjadi calon ayah, karena dia juga baru jadi FTP [First Time Parent] sejak Juli 2014. Septian berbagi informasi bagaimana rasanya jadi suami siaga, dari sudut pandang suami lihat istrinya susah makan selama first trimester, dan lain-lain. Tapi yang paling penting dari Septian adalah, informasi tugas kebapakan. Tugas itu tak lain adalah tugas yang diemban oleh para suami saat istri mengandung dan pasca melahirkan.

Untuk ngeden dan mbrojol, suami-suami cuma bisa kasih semangat. Suami juga ndak bisa neteki. Otomatis jika ada tugas lain yang bisa dilakukan, mandat ini diberikan pada para papa baru. Dan ternyata tugas ini ndak sedikit, meskipun ndak sulit. Mulai dari daftar akte lahir, bikin paspor anak, ngurus keabsahan WNI, izin tinggal di luar negeri. Dan tak lupa, sesi diskusi finansial.

Hampir semua informasi penting mengenai hal ini dicover oleh Septian secara menyeluruh tapi kurang mendetil. Alasannya simpel. Septian senantiasa kurang tidur dari proses menjaga bayi kecil buah hatinya sendiri, dan saking repotnya di minggu-minggu pertama, banyak proses itu yang sudah dilupakan detilnya karena tidak dicatat. Maka Suhu beranjak bertanya ke teman lain yang bayinya lebih fresh lagi.

Dia bernama Dina. Dina ini adik kelas Suhu di Ninja Turtles University. Jangan ditanya kenapa Suhu bisa berteman baik dengan Dina, kenalnya bagaimana aja Suhu masih merasa ajaib. Singkat cerita, Dina telah melahirkan seekor kucing kecil di akhir tahun 2014. Setelah Dina mendengar kabar bahwa Nyonya telah mengandung dan Suhu butuh informasi seputar tugas suami siaga, Dina menyabdakan pada suaminya untuk memberi semua informasi suami siaga.

Dan percayalah, suami Dina mengirimkan sebuah email yang sangat awesome. Iya. Email. Isinya list tugas-tugas suami mulai dari bayi mbrojol [owek!], cara bayi dapat Permanent Resident di sini, sampai survey poliklinik agar sudah paham lokasi saat nanti dibutuhkan. Emailnya sangat jelas, merunut dari dokumen-dokumen yang diperlukan untuk aplikasi, website terkait, sampai operating hours kantor-kantor yang bersangkutan mulai dari kantor imigrasi, kedutaan besar, sampai link untuk e-appointment. Luar biasa.

Nah, kalau para suami alias papa papa baru ini ngomong sama calon papa kan enak. Mereka kan sudah menjalani dan memberi wejangan bagi yang akan mengalami. Tapi ya kadang kala, atas niatan baik agar temannya mendapatkan yang terbaik, mama-mama baru ini juga semangat share informasi.

Seperti pernah Dina memberi wejangan pada Suhu agar supaya banyak minum air kelapa. Suhu sih suka air kelapa, kan seger seger manis gitu ya. Setelah ditindak lanjut ternyata maksudnya Nyonya yang disuruh minum air kelapa, biar air ketubannya bersih katanya. Memang kenapa ya kalau air ketubannya bersih? Biar bayinya di dalem bisa keramas gitu ya? Dan lahir bebas ketombe.

Menurut Dina, kalau ibu hamil banyak minum air kelapa, nanti air ketubannya bersih. Rambut bayinya lahir bisa gembel bin lebat. Entah apa logikanya. Mungkin kalau kelapanya airnya diminum, sabutnya dimakan, rambut bayinya selebat sapu ijuk.

Tapi ada beberapa informasi yang sebaiknya dishare antar mama-mama saja dan ndak usah melibatkan para suami.

Malu Bertanya Sesat Di JalanToh kita juga gak bisa netekin.

Advertisements

One thought on “Malu Bertanya Sesat di Jalan

  1. Pingback: Posyandu |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s