The Delivery Suite

Kamis sore itu Suhu ditelepon oleh Nyonya. Dua kali. Tapi sambungan itu tidak terangkat. Tangan Suhu sedang kotor dan keterbatasan henpon touch screen masa kini tidak mengizinkan jari-jari bernoda mengangkat telepon. Suhu menelepon balik tapi tidak ada nada dering.

Sekian pesan singkat masuk melalui beberapa media. SMS. Whatsapp. Dan Google Hangout. Inti isinya sama. Nyonya dari kantor langsung menuju Rumah Sakit Bersalin. Ketemu di sana. Pikiran Suhu berkecamuk. Pesan-pesan singkat di layar smartphone seperti berputar-putar. Darah. Rumah sakit. Langsung. Berangkat sendiri-sendiri. Ketemu di Delivery Suite.

Delivery Suite.

This is it.

Menurut Les mBayi bagian belajar melahirkan, salah satu trigger pergi ke Rumah Sakit adalah darah. Apapun yang terjadi, kontraksi atau pun tidak, air ketuban pecah atau pun tidak, selama ada darah, budhaljuseyo langsung ke Rumah Sakit. Alasannya simpel. Tidak ada yang tahu ini darah berasal dari mana. Yang kita ingin tahu adalah, darah ini adalah darah ndak penting dari lingkungan ibu, dan bukan darah bayinya. Tidak ada alasan valid bagaimana bayi dalam kandungan bisa berdarah, kecuali bayinya kembar tiga dan memulai karir MMA fighter dalam janin ibunya. Iya, dua pegulat satunya wasit.

Dengan akal sehat yang agak panik, Suhu berhasil sampai ke Rumah Sakit bersalin sekitar lima belas menit setelah Nyonya sampai. Nyonya memegang nomer antrian. Suhu memegang koper berisi perlengkapan yang sudah disiapkan sebelumnya. Berisi pakaian Suhu, Nyonya, dan baju bayi. Juga beberapa perlengkapan esensial untuk proses kelahiran, seperti mp3 player untuk distraction, sesuai anjuran les mBayi. Dan lain-lain seperti charger HP, snack, jaket, selimut, tenda, gitar, tikar, dan barbeque pit.

Sudah bilang ke susternya yang di resepsionis. Tapi suster di resepsionis masih sibuk mengurus kertas-kertas dokumen registrasi. Di ruangan ini ada empat wanita hamil lain. Kebanyakan pucat dan menunggu nasib. Suhu dan Nyonya berkeringat dingin, khawatir dengan munculnya darah yang tidak semestinya ada. Paling tidak Nyonya masih bisa datang sendiri, daftar masuk sendiri, sementara Suhu datang terpisah dengan kopernya.

Ibu-ibu hamil lain ada yang pakai kursi roda. Ada yang masuk sudah terbaring di ranjang, mungkin dari ambulans. Tapi di sela-sela kesibukan ibu-ibu perut besar yang masuk, sesekali ada juga lewat kereta kecil dengan daging tiga kilo berbunyi oek oek ditemani ibu-ibu perut kempes. Senyum meriasi wajah lelah mereka. Suami-suami kewalahan membawa barang-barang mengikuti dari belakang. Fenomena the Delivery Suite.

Meski suasananya sangat genting, di mana semua orang merasa ini adalah perihal yang sangat signifikan dalam hidup mereka. Suster-suster di sini sangat tenang. Terlampau tenang. Mereka mencatat dengan perlahan tapi pasti gejala dan keluhan pasien, sebelum nantinya dioper ke dokter jaga. Tidak ada rasa panik sedikit pun. Mungkin karena mereka SETIAP HARI ketemu ibu hamil yang mau melahirkan.

Buat Nyonya dan ibu hamil lain di ruangan ini, mungkin ini kali pertama atau maksimal kali ke sekian mereka melahirkan. Dan tiap proses ini pasti sangat sangat sangat penting bagi tiap ibu. Tapi untuk suster-suster ini, this is just a job. Ya mungkin buat suster, Suhu hari ini jadi ayah atau nggak, signifikannya sama kayak Suhu memutuskan hari ini ngecor atau nggak. It is just a job.

Ya elah sus, tetep aja. Cepetan woi. Ini istri saya sudah bersimbah darah dari kantor sus.

Kami menunggu dan menunggu. Nyonya bilang lapar. Suhu berlari secepat kilat menuju ke warung terdekat membeli makan malam untuk Nyonya. Apa saja yang nggak antri. Dan gampang makannya. Biar kalau sewaktu-waktu dipanggil untuk melahirkan, nggak sedang belepotan mbongkar kaki kepiting, nggigit sayap burung dara, atau masih manggang sate.

The Delivery Suite

Sekitar empat puluh lima menit sejak Nyonya datang, akhirnya dipanggil juga. Nyonya dimasukkan ke ruangan observasi. Suhu disuruh tunggu di resepsionis the delivery suite. Benul. Disuruh. Menunggu. Lagi.

Kali ini sendirian. Sejam di resepsionis. Sementara Nyonya sudah digeladak masuk ruang observasi. Entah seperti apa ruang observasi itu, hanya Nyonya yang tahu. Mungkin banyak ibu-ibu hamil dimasukkan arena gladiator, lalu dokter-dokter jaga melihat dari balkon. “Nah itu yang perutnya paling besar, saya pilih yang itu” kayak orang-orang beli ikan hidup di pasar.

Total sekitar dua jam sejak kedatangan Suhu, akhirnya Nyonya keluar.

False alarm. Tidak ada apa-apa. Semua sehat. Detak jantung bayi normal. Kontraksi belum mulai. Dilatation of cervix masih belum mulai.

Cek rutin kami dengan dokter Han akan jatuh pada hari Sabtu yang notabene adalah besok lusa. Dokter jaga hari itu memutuskan tidak memanggil dokter Han karena masih tidak ada tanda-tanda akan melahirkan, dan menganjurkan untuk check up rutin pada hari Sabtu, dan memberi tahu dokter Han perihal munculnya darah hari ini untuk dicatat dan dijelaskan lebih lanjut. Untuk sekarang, kami diizinkan pulang.

Advertisements

4 thoughts on “The Delivery Suite

  1. Pingback: Cuti Hamil |
  2. Pingback: Weight Loss |
  3. Pingback: Final Checkup |
  4. Pingback: Kraiwuf |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s