Cuti Hamil

Pagi itu tanggal 28 Februari 2015 kami ke dokter Han untuk checkup rutin. Berbeda dengan checkup yang lampau, kali ini semuanya terasa lebih riil. Sangat nyata. Apalagi setelah Nyonya mengalami pendarahan kemarin lusa. Satu perjalanan ke Delivery Suite, melihat hamparan ibu hamil di ruang tunggu persalinan, membuat semua pengalaman pregnancy ini menjadi terasa penghujung akhirnya.

Dokter Han berkata, kami sudah masuk minggu ke 38 kehamilan. Secara medikal, bayi melampaui minggu ke 36 sudah bisa dikategorikan full term. Lahir normal tidak prematur. Bayi juga sudah berada di posisi engage, yaitu jungkir balik, kepala di bawah, siap meluncur keluar melalui saluran kelahiran. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Dengan size bayi yang sekarang, sudah susah untuk berputar menjadi sungsang. Pada checkup sebelumnya, posisi bayi tidak seberapa diperhatikan, toh sizenya masih termasuk kecil dan belum sesak, jadi masih bisa berenang-renang dan berputar dalam perut Nyonya. Sekarang si kecil sudah besar dan sehat. Dokter Han mengestimasi beratnya 2.8kg. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Berdasarkan statistik, bayi pertama cenderung lahir lebih awal sebulan. Kalau dihitung estimasi kelahiran adalah minggu ke 40, sebenarnya minggu ke 36 bisa dibilang adalah waktu paling tendensi untuk lahir. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Tapi checkup hari ini menunjukkan tidak ada apa-apa. Kontraksi belum mulai. Dilatation of cervix masih belum mulai. Bayinya masih sehat, detak jantung masih normal. Cuma belum mau keluar saja. Mungkin kerasan.

Suhu dan Nyonya berunding. Sekarang Nyonya masih bekerja, dan layaknya karyawati sebuah perusahaan, cuti adalah sesuatu yang harus direncanakan. Nyonya sudah menginformasikan pada pihak perusahaan bahwa akan mulai cuti tanggal 9 Maret. Tapi peristiwa pendarahan kemarin lusa, tanggal 26 Februari membuat kita berubah pikiran.

Cuti HamilKemarin juga Nyonya tidak masuk kerja, kita keluar dari Delivery Suite setelah observasi itu sudah tembus tengah malam. Dan kondisi Nyonya belum pulih benar dari lelah pendarahan, buru-buru ke Rumah Sakit, shock, dan hypervigilance dan senantiasa khawatir.

Akhirnya kami memutuskan, sudahlah, Nyonya lanjut cuti saja. Toh semua kesimpulan dokter Han mengacu bahwa si kecil bisa lahir kapan saja. Ambil cuti tanggal 9 atau mulai senin depan, selisihnya hanya satu minggu. Dan berdasarkan pengalaman, buru-buru dari kantor untuk melahirkan itu nggak asyik. Maka terhitung dari kamis kemarin lusa, sampai tanggal 7 Maret, Nyonya ambil cuti ekstra 7 hari dari rencana awal.

Untung bagi Nyonya, perusahaannya merupakan kampeni bertaraf internasional yang memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Cuti hamil dibayar penuh selama 4 bulan, meskipun kita bukan warga negara setempat. Sebagai perbandingan, perusahaan lain biasanya memberikan cuti hamil 4 bulan hanya untuk warga negara, dan 2 bulan untuk foreigner. Selebihnya, akan diperlakukan sebagai cuti tak berbayar. Suhu tidak punya cuti hamil, meskipun perut Suhu sudah ukuran hamil 4 bulan sejak beberapa tahun silam.

Di hari-hari cuti ini bukannya rileks dan ngaso, Nyonya malah tambah repot. Bukan repot ngurus bayi yang mau lahir. Tapi repot ngurusin orang-orang yang mau mbantuin lahiran bayi. Ini menyangkut paut urusan dalam negeri, mulai dari mertua Suhu, ipar Suhu, papa mama Suhu, dan cece Suhu.

Benul. Tiket pesawat dan akomodasi.

Semua orang tanya hal yang sama. Mesti beli tiket tanggal berapa? Kapan lahiran? Berapa lama tiketnya kalau mau beli tiket pp?

Untuk memfasilitasi tempat tinggal yang terbatas, dan mengoptimalkan bala bantuan dari endonesa, Suhu dan Nyonya mengatur jadwal kedatangan orang tua secara estafet. Yakni, dua minggu setelah kelahiran untuk orang tua Nyonya, disambung dua minggu setelah kelahiran oleh orang tua Suhu. Pertimbangannya simpel, saat dirundung kelahiran anak pertama, Nyonya akan tergolek lemah tak berdaya. Bala bantuan yang paling ideal adalah mama Nyonya sendiri. Karena kalau yang diperbantukan adalah mama Suhu yang notabene adalah mertua Nyonya, pasti ada rasa sungkan untuk minta bantuan.

Dalam kepelikan kehamilan yang tak menentu ujungnya. Semuanya serba tanda tanya. Dan anggota keluarga memojokkan Suhu dan Nyonya seolah kami menyembunyikan tanggal kelahirannya. Mulai dari orangtua Suhu yang salah beli tiket, untungnya salah airlines, bukan salah tanggal dan tempat tujuan. Sampai tuduhan tak beralasan mertua Suhu yang mensugestikan adanya teori konspirasi bayi sudah lahir tapi keberadaannya di dunia dirahasiakan.

Yaelah mah, buat apa kita gak bilang-bilang kalau bayinya sudah lahir ….

Tapi, sebenarnya, kamu benar. Bayi kami telah lahir, dan kami merahasiakan kenyataan ini. Sesungguhnya, anak kami sekarang sudah SMP.

Setelah melalui perhelatan akbar, Nyonya memberikat dekrit kepada mama Nyonya. Setelah ada kepastian bayi akan lahir, yakni kontraksi reguler atau bukaan, Nyonya akan memberikan lampu hijau untuk mama Nyonya agar supaya mulai beli tiket pesawat. Setelah mendapatkan tiket, mama Nyonya akan menginformasikan detil pulang pergi tiket. Suhu akan mengambil alih agar papa mama Suhu bisa membeli tiket tahap dua untuk mengisi kekosongan saat mama Nyonya pulang.

Pada saat ini yang ada di pikiran Suhu dan Nyonya hanya sudahlah ayo cepat lahir kita sudah ke sini Kamis Sabtu bawa perut sebesar bola bowling, kamu ngapain lama-lama di dalam? Dan si kecil masih suka tendang-tendang perut mama dari dalam.

Advertisements

2 thoughts on “Cuti Hamil

  1. Pingback: Final Checkup |
  2. Pingback: Kraiwuf |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s