The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.

Dokumen Bayi – Paspor – Step 3

Setelah kita mengurus Surat Pencatatan Kelahiran (lihat step 2), langkah selanjutnya adalah membuat paspor. Tujuannya simpel. Anak kita Warga Negara Indonesia, suatu hari perlu terbang ke Indonesia, terbang ke Indonesia perlu paspor di imigrasi. Sederhana. Bayi perlu paspor.

Jadi bikinnya bisa nanti kalau mau pulang? Jawabnya tidak.

Saat kamu masuk sebuah negara asing, kamu perlu travel document yang valid.

Bayi yang lahir di Singapura, tidak punya travel document. Saat mbrojol dari rahim ibunya tidak pegang paspor. Papa mama nya yang harus ngurusin.

Batas pembuatan travel document ini 42 hari setelah bayi lahir. Tapi jangan ditunda sampai hari terakhir, karena seperti halnya mengurus akte lahir yang cuma dibatasi 14 hari, masih ada step-step berikutnya. Sekarang kita bahas cara bikin paspor dulu.

Berikut dokumen yang dibutuhkan, sumber dari http://www.kemlu.go.id/singapore/Pages/AboutUs.aspx?IDP=51&l=id

Persyaratan Untuk WNI yang baru lahir di Singapura:

Untuk WNI yang baru lahir di Singapura (bayi) yang ingin dibuatkan paspor RI, maka orang tua yang bersangkutan harus datang langsung ke Bagian Imigrasi KBRI Singapura dengan membawa dokumen-dokumen sebagai berikut:

Formulir Permohonan (PERDIM:11 – formulir warna putih) yang telah diisi lengkap. Formulir dapat di-download di sini.
ID Card Singapura milik orang tua (salah satu) dan fotokopinya (Work permit, Employment Pass, S-Pass, Dependant Pass, Student Pass, Permanent Resident)
Surat Akte Kelahiran yang sudah disahkan dari Fungsi Konsuler KBRI Singapura
Surat Kelahiran dari Registrar Singapore
Paspor dan Akte Nikah Orang Tua
Hanya diberikan jika salah satu dari orang tua adalah WNI penduduk Singapura, jika tidak maka yang bersangkutan akan diberikan SPLP

1.Formulir Permohonan.
Ambilnya form kosongnya sudah waktu ngurus Surat Pencatatan Kelahiran hari sebelumnya, biar bisa diisi di rumah.

2.Surat Pencatatan Kelahiran
Dokumen yang diperoleh dari step 2 kemarin semestinya sudah selesai, jadi di hari yang sama, ambil suratnya dari lantai 2, lalu turun ke lantai 1 untuk fotokopi dan dipakai mengurus bikin paspor.

3. Birth Certificate
Akte lahir Singapore yang sudah diperoleh dari step 1 waktu bayi baru lahir.

4. Paspor Papa dan Mama

5. Akte Nikah

6. IC Papa dan Mama

Familiar? Benul. Karena memang persyaratannya sama dengan persyaratan Step 2. Cuma ditambah Surat Pencatatan Kelahiran (yang didapat dari Step 2) dan Formulir Permohonan.

Mudah bukan?

Setelah dokumen lengkap beserta fotokopiannya, ajukan ke loket pembuatan paspor di dua counter paling kiri. Sejenak kemudian nama bayi akan dipanggil untuk foto. Jadi ingat, bayinya harap dibawa.

Untungnya pihak KBRI tidak terlalu rewel. Foto bayi merem, noleh, mangap, tidak keliatan telinga, tidak terlalu dipermasalahkan. Kami sudah buktikan sendiri. Foto paspor bayi kami merem, noleh, mangap, tidak keliatan telinga, dan pihak KBRI oke oke wae.

Habis foto pergi ke loket dekat pintu keluar untuk bayar.

Biaya: S$ 38. dapat paspor 48 halaman.

Bukti pembayaran harap disimpan, untuk ditunjukkan waktu mau ambil paspor dengan paspor setelah paspor jadi dalam 3 hari kerja. Kami foto bayi di KBRI tanggal 24 dan slip bukti collection kami dialokasikan tanggal 26 sore antara pukul 15.00-17.00. Saat ambil paspor jadi bayi tidak perlu dibawa.

Untuk step 1 dan 2 cukup orang tua nya yang ngurus (kalau bisa Papa biar Mama ngurus bayi di rumah) tapi untuk step 3 ini ingat, BAYI HARUS DIBAWA.

Setelah foto paspor dan bayar, ingat. BAYI DIBAWA PULANG.

Posyandu

Waktu Suhu kecil, ada sebuah lagu yang sering diputar di televisi. Nampaknya semacam iklan layanan masyarakat dengan subliminal message percobaan cuci otak anak-anak senusantara. Begini lagunya.

Aku anak sehat tubuhku kuat
karena ibuku rajin dan cermat
semasa aku bayi selalu diberi ASI
makanan bergizi dan imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare ibu slalu waspada
pertolongan Oralit slalu siap sedia

Ini lagu sudah mulai beberapa dasawarsa silam, dan masih terngiang di telinga Suhu. Proses cuci otak berhasil.

Setelah keluar dari rumah sakit kami memang punya pengalaman buruk dengan poliklinik, saat pertama kali ke sini Enjel sudah divonis jaundice. Tempat yang mestinya sangat friendly karena doktrinasi sejak dini, telah menjadi momok. Sayangnya kita harus tetap ke sini untuk kontrol level bilirubin Enjel guna memastikan tidak terlalu tinggi dan merusak saraf. Kalau nilainya mencapai ambang batas, God forbid, Enjel harus masuk ke Emergency di rumah sakit lagi.

Posyandu di sini ya poliklinik-poliklinik yang tersebar di seluruh daerah dan pelosok. Mereka kompeten dan memang dari rumah sakit bersalin menganjurkan kita ke poliklinik untuk melakukan kontrol reguler berkala bayi kita. Poliklinik juga memberikan jasa imunisasi dan dokter jaga yang meskipun bukan dokter anak, tapi niscaya cukup pengetahuannya untuk kasus-kasus umum pada bayi. Jika memang dirasa bermasalah, tentunya akan dirujuk ke dokter spesialis anak atau rumah sakit anak yang tak lain tak bukan adalah rumah sakit bersalin tempat Enjel lahir. Rumah sakit bersalin dan rumah sakit anak nya satu alamat, beda tower.

Singkatnya, jadilah kita sepasang bapak ibu muda pagi-pagi pergi ke Posyandu untuk mengecek tingkat bilirubin Enjel. Dari Dina, teman Suhu yang sekarang sudah pelanggan poliklinik berpengalaman (karena anaknya sudah imunisasi teratur), kita tahu bahwa ternyata tiap poliklinik prosedurnya beda. Tapi secara garis besar proses di poliklinik adalah sebagai berikut.

1. Antri untuk ambil nomer antrian.

Iya. Tidak salah tulis. Di negara yang serba antri dan tidak bisa main serobot, kita bahkan harus antri untuk ambil nomer antrian. Ini sudah Suhu fast forward prosedur di posyandu. Kalau mau dihitung dari berangkat kita juga sudah ngantri bus, kereta, atau taxi. Pas mau bayar baru sadar keabisan duit, terus mesti antri ATM. Belum lagi  sebelum berangkat mau pup mesti antri toilet di rumah sendiri. Ekstrim. Untuk mempersingkat kita langsung ke kondisi sudah di posyandu.

Jadi setelah masuk poliklinik ada semacam mesin dengan layar sentuh untuk kita pencet kunjungan kita kali ini ngapain. Mau check up. Mau ketemu dokter karena sakit. Mau kenalan sama suster. Pilihannya banyak. Jadi kita ngantri bukan cuma dengan sesama bayi. Ada orang dewasa antri mau periksa dokter, karyawan antri mau check up buat memperpanjang asuransi kesehatan, engkong-engkong antri karena dikira ada bagi sembako gratis, segala macam orang ada di antrian ini.

Panjang pendeknya antrian sangat bervariatif tergantung jam kita datang. Kalau kita datang pagi, relatif ramai karena banyak orang usia separuh baya yang berusaha datang pagi biar tidak perlu cuti. Mungkin cuma checkup atau nebus obat. Siangan sedikit agak sepi. Kalau sore pas mau tutup sudah rame lagi, karena orang-orang yang bolos dan tidur seharian belum punya surat dokter dan buru-buru kemari cari rujukan buat izin sakit.

2. Antri untuk dialokasikan.

Biasanya antrian untuk ambil nomer antri ini, Enjel nggak perlu ikut antri. Kadang Suhu yang antri, Nyonya bawa Enjel jalan-jalan. Atau sebaliknya. Yang berikutnya ini, setelah kita dapet slip nomer dari kertas licin-licin tinta agak buram-buram seperti print-print an faximili. Ada monitor-monitor LCD bertebaran yang menunjukkan nomer yang ada di slip nomer yang kita dapet dari antrian pertama tadi. Informasi di layar LCD sangat sederhana, nomer sekian counter sekian.

Tiap kali ada nomer muncul ada suara keras TUNG! untuk mencegah orang yang nunggu antrian tahu bahwa ada nomer berikutnya yang dipanggil. Sayangnya suara TUNG! tadi sangatlah TUNG! sering TUNG! karena memang proses pelayanan TUNG! di sini sangatlah TUNG! TUNG! efisien dan counternya ada cukup banyak untuk melayani publik.

Setelah nomer kami tampak di layar, Nyonya pergi ke loket menunjukkan slip nomer ke petugas counter. Jelaskan maksud dan tujuan kemari. Untuk tahap ini selalu Nyonya yang turun tangan karena Suhu beberapa hal. Petugas counter selalu memberi cerdas cermat. Minta nama bayi, tanggal lahir, nomer akte lahir, nomer kartu pelanggan, nama orang tua, nomer KTP orang tua, nomer kontak orang tua, orang yang bisa dihubungi saat orang tua tidak hadir, delapan mendatar hewan yang bisa hidup di air dan di darat. Eh ternyata petugas counternya lagi main Teka Teki Silang.

Yang nyebelin, kalau kita jawabnya telat sepersekian detik saja petugas counter nya ada aura sewot. Seolah mau ngomong “kerjaanku banyak, kenapa kamu gak hafalin nomer seri akte lahir anakmu?”. Sedangkan Suhu, punya keterbatasan otak untuk mengingat informasi semacam ini, apalagi saat perlu mengingat informasi ini dari bekgron ada gangguan suara-suara TUNG! TUNG! TUNG!

Dari tahap ini kita akan diberi sebuah rujukan untuk pergi ke ruangan yang perlu kita tuju. Untuk Enjel karena tujuannya cek baby jaundice, kita perlu ke Lab untuk ambil darah, lalu ke dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil Lab. Kita akan diberi dua nomer. Satu untuk tahu Lab yang mana. Satu lagi untuk tahu dokter yang mana.

3. Antri Lab.

Sedikit berbeda dengan proses serba komputerisasi di counter bawah tadi, lab darah di lantai 2 terlihat lebih tradisional. Paling tradisional dibanding lab-lab sebelahnya seperti lab radiologi, Xray, dan nama-nama yang Suhu kurang familiar. Lab darah juga punya layar monitor LCD. Isinya nomer kita yang tampil berurutan, dan lajur sebelahnya bilik mana untuk ambil darah. Tapi tidak ada bunyi TUNG! yang mengganggu.

“Pee Zero One Nine! PEE ZERO ONE NINE!”

Lebih parah. Susternya yang di counter bakal teriak nomer yang mesti masuk bilik tapi pasiennya belum datang. Suhu mengamati dan menyimpulkan, suster yang di counter ini job scope nya sangat unik. Dia bakal lihat empat bilik lab darah setiap saat. Kalau dia melihat ada yang kosong, misalnya bilik B tidak ada pasien, dia akan lihat layar monitor, dan cek nomer berapa yang mestinya masuk bilik B. Lalu dia teriak.

“PEE ZERO ONE NINE!”

Maka orang yang memegang tiket P019 akan lari tunggang langgang masuk ke bilik B. Orang lain yang tidak punya nomer serupa juga pasti akan dobel cek dan berharap nomernya tidak tiba-tiba berubah menjadi P019.

Sesekali Suhu melihat ada orang yang memegang slip nomer ke suster itu. Suster itu dengan suara lantang akan bilang “Kalau antri itu jangan jauh-jauh, saya tadi sudah panggil nomermu berkali-kali, nomermu sudah lewat.” entah karena volum suara dia sudah tidak bisa dikontrol atau memang dia exercise public shaming.

Kalau sudah sampai antrian ini, Suhu dan Nyonya mau pergi pipis saja takut. Takut kelewatan nomernya dan dimarahi. Waktu Enjel pup juga kita buru-buru mau ganti popoknya Enjel langsung meronta heboh seolah bilang “Sudah Pa sudah Ma nanti saja, kita nanti dimarahi suster galak kalau nomer kita kelewatan. Biarlah aku jijik-jijik dikit gak pa pa”

2015-03-21 10.04.27

Enjel ke posyandu, di bekgron ada guide urutan antrian

Setelah nomer kita dipanggil dan masuk bilik, Enjel bakal dicocok jarum di tumit telapak kakinya. Katanya karena bagian ini paling tidak sensitif, tidak sakit, dan tidak terasa. Kata suster yang mencocok kaki Enjel, bukan kata Enjel. Saat dicoblos, Enjel meraung HUWAAA!!! yang kira-kira artinya “Gak sensitif mbahmu!!!!” Darah menetes dari telapak kaki Enjel, ditampung tabung kecil. Air mata mengalir dari pipi Nyonya ditampung tisu.

Lalu kita semua digiring keluar, karena suster galak sudah mulai manggil-manggil nomer berikutnya untuk masuk bilik kita. Hasil lab akan keluar secara singkat kalau tidak real time, tergantung jenis test nya. Untuk cek bilirubin kali ini sekitar 15 menit. Setelah 15 menit berlalu, akan ada suster kecil dengan suara melengking keluar dari dalam lab dan meneriakkan nama pasien. Suster kecil dengan suara melengking ini punya keahlian khusus. Dia bisa membuat semua nama terdengar seperti nama cina. Dari aksennya, cara dia memisah suku kata, penekanan intonasi, orang India garang besar dia panggil Siao Mi Mi juga berdiri ngambil hasil lab.

4. Antri Dokter.

Karena punya keyakinan kita agak jiong sama dokter Milton di pengalaman pertama ke Posyandu, kita coba dokter lain. Bisa rikues dokter di antrian step 2, meskipun belum tentu rikues kita terpenuhi. Akhirnya kita dapet antrian dokter Wong. Waktu itu kita milihnya juga random, Suhu sih mikirnya kalau marga Wong kan pasti keturunan tabib terkenal. Wong Fei Hung. Pinginnya sih dokternya konsisten biar bisa mengikuti kronologi pertumbuhan Enjel sampai kanak-kanak nanti.

Antriannya persis seperti antrian dokter swasta di Indonesia. Kursi-kursi keras. Orang sakit jajar-jajar. Ada tivi di pojok ruangan, tapi yang ini gak nayangin sinetron, cuma putar-putar iklan layanan masyarakat, acara kesehatan, sama iklan obat-obatan. Lalu di depan pintu ada layar LCD yang cuma menunjukkan satu nomer. Nomer antrian kita.

Dari semua antrian ini yang Suhu paling nggak demen. Ya mungkin bisa dibilang overprotective parents, tapi kalau ada orang batuk-batuk ke arah bayiku dan mulutnya gak ditutupi, kadang Suhu pingin nendang, terus nginjek mukanya, goser goser di lantai kayak matiin puntung rokok di asbak pingin marah sendiri. Ruang antrinya relatif luas tapi memang share dua dokter satu ruang tunggu. Di poliklinik Tampines tempat kami pergi ini dokter jaga nya ada sekitar sebelas dua belas tapi yang praktek gantian mungkin sekitar delapan dokter yang selalu aktif.

Dokter Wong ternyata perempuan. Entah kenapa Suhu lebih senang dokter anak itu perempuan. Meskipun Suhu tahu Dokter Wong cuma dokter biasa, tapi untuk checkup kontrol Enjel Suhu anggap dokter nya dokter anak lah. Jauh dalam sanubari Suhu juga melakukan stereotyping bahwa dokter anak itu perempuan, dokter bedah itu laki-laki, dokter spesialis kulit dan kelamin itu waktu SMA sembunyi-sembunyi baca buku porno, dan dokter bius itu psikopat. Entah pendidikan macam apa yang dikenyam Suhu sampai membuat generalisasi peyorasi macam ini.

Dokter Wong akan melihat-lihat kondisi Enjel. Kulit. Mata. Stetoskop. Lalu membaca hasil Lab. Hasil lab nya hanya berupa angka. Sekitar ratusan. Lalu dokter Wong akan mengetik angka itu ke komputernya, membuka tabel rujukan. Lalu berkata pada kami. “Nilainya sudah menurun secara konsisten, tapi masih lebih tinggi dari ambang yang harus dipenuhi. Keep doing what you’re doing, kalian sudah melakukannya dengan benar, tapi tetap harus cek kemari dua hari lagi.”

Suhu sangat enggan membawa Enjel ke posyandu. Tentunya karena exposure berkepanjangan di tempat orang-orang sakit berobat. Tubuhnya masih sangat kecil dan ringkih. Antibodinya juga belum sempurna. Tapi harus pergi ke medan laga seperti ini. Apa boleh buat. Semakin turun nilai bilirubin , Enjel boleh semakin jarang kontrol. Dua hari itu karena nilainya masih tinggi. Kalau nilai nya hanya sedikit melebihi batas, bisa kontrol minggu depan. Kalau di bawah batas, sudah tidak perlu kontrol lagi.

5. Antri bayar.

Dengan berat hati kami pun melangkah kembali ke lantai 1. Dentuman TUNG! TUNG! sudah tidak seberapa terdengar tertutup kegelisahan kami. Kenapa Enjel masih jaundice. Yang menambah kepedihan kami adalah sekarang kami harus pergi kasir untuk bayar. Dan itu pun harus antri.

Untuk warga negara setempat dan permanent residence, kita bisa menggunakan Medisave kami untuk membayar beberapa jenis tagihan. Ada kategori-kategori di mana Medisave orang tua kandung bisa dipakai untuk membayar tagihan bayi.  Biasanya yang seperti imunisasi wajib. Informasi detail nya bisa dicek di posyandu terkait karena prosedurnya tiap cabang berbeda. Untuk poliklinik Tampines cukup perlu pertama kali register menyatakan ini bayi kami dan dicek Akte Lahir dan dokumen bersangkutan, lain kali hanya cukup sebut nama orang tua dan tagihan yang eligible langsung dipotong ke Medisave kami.

Jadi, seperti yang sudah Suhu post di entry ini. Penting untuk para suami untuk survey poliklinik terdekat. Terutama lokasi dan cara efektif untuk ke sana. Apakah dengan bus, jalan kaki, atau taxi? Berapa jaraknya perlu waktu berapa untuk ditempuh. Semua informasi sangat signifikan dan sebaiknya disiapkan sejak dini.

Daddy’s Log March 2015

Sekarang Enjel sudah berusia sepuluh hari. Beberapa pengamatan Suhu pada spesimen baru ini buah hati kami, Enjel, adalah sebagai berikut.

Primal Instinct
Saat sampai di rumah kami, hal pertama yang Enjel lakukan adalah. Eek. Ini jelas-jelas cara hewan di hutan menandai teritorial kekuasaan. Tidak sampai lima menit masuk rumah, kami taruh Enjel di ranjang. Brruuttt. Wajah Enjel tetap rata tak berdosa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi semua makhluk hidup di sekitarnya tahu bahwa sampai radius bau ini tercium, sudah menjadi daerah kekuasaan Enjel. Yang bisa mencium bau ini adalah bawahannya, wajib memberi Enjel makan, memandikan, dan ini kenapa kalian ganti popoknya? Hweeeaaa!!!! Enjel masih belum mengerti banyak hal di dunia ini. Antara lain konsep bahwa popok harus diganti yang bersih. Enjel masih merasa bahwa sensasi hangat di daerah pantat itu nikmat.

Daddys Log March 2015

In progress
Sebagai bayi, Enjel masih belum develop sistem saraf manusia secara mendetil. Sistem sarafnya masih in progress, terlihat dari gerakan-gerakan tangan dan kaki yang masih kacau, tidak sinkron, dan tidak terkontrol. Seringkali Enjel menggerakkan tangan dengan swing motion yang terlalu kencang, dan memukul kepalanya sendiri. Satu lagi yang masih di luar kendali Enjel adalah rasa sakit. Jelas-jelas nggebug kepala sendiri sampai bunyi Plaakk!!! Wajah Enjel tetap rata tak berdosa.

Pancaindra
Dari sekian indra Enjel untuk memantau dunia, nampaknya yang paling kuat adalah indra penciuman. Terutama mencium bau susu. Dengan mata tertutup, Enjel bisa merespon dengan gerakan gembira tak terkontrol jika Nyonya mendekat. Jelas ini adalah keahlian atau bakat terpendam. Sementara indra lainnya lumayan telat. Pendengaran sudah ada indikasi, misalnya saat pintu tak sengaja terbanting karena angin, dua kaki dan dua tangannya mengejang tak terkontrol tanda terkejut. Indra penglihatan aadalah indra yang Suhu paling mudah melihat perkembangannya. Enjel masih sering tatapan mata kosong melihat ke langit-langit ruangan. Di usia sepuluh hari, hitam bola mata sudah bisa mulai mengikuti gerakan jari Suhu ke kiri dan ke kanan. Saat Suhu mencoba memajumundurkan jari untuk melihat seberapa jauh dekat Enjel bisa melihat, hitam bola mata Enjel terlihat bereaksi perlahan membesar mengecil seperti kamera berusaha fokus.

Kontrol
Enjel masih banyak belum bisa mengendalikan otot-otot seluruh tubuhnya. Misalnya saat diberi jari Suhu di telapak tangannya, Enjel belum bisa menggenggam. Dengan bantuan Suhu membuka jari-jemari kecilnya, Suhu meletakkan jari Suhu dalam genggaman tangan Enjel. Setelah menggenggam, Enjel kesulitan untuk membuka genggamannya sendiri. Genggaman tangannya masih lemah dan relatif mudah untuk dibuka jari-jemarinya tanpa perlawanan berarti.

Refleks
Suhu membaca tentang Moro Reflex sebelum Enjel lahir. Seperti kejang tapi sangat sebentar. Yang paling parah kalau refleks ini keluar saat Enjel sedang tidur. Kadang Enjel terbangun dan jadi susah tidur lagi. Refleks lain yang Suhu amati adalah, saat tangan Suhu mendekati wajah Enjel dengan kecepatan yang cukup dahsyat, Enjel TIDAK BERKEDIP! Di usia sepuluh hari, Suhu mencoba lagi mendekatkan telapak tangan seolah menampar, tapi direm di saat-saat terakhir. Akhirnya Enjel bisa berkedip, tapi dengan delay sekitar satu detik.

Support
Yang berkembang bukan hanya Enjel. Tapi juga support system di sekitarnya. Yaitu orang tua nya. Suhu dan Nyonya selaku papa mama Enjel, mulai perlahan mengerti beberapa indikasi tangisan Enjel. Pada hari-hari awal, kegelisahan sering memuncak dalam setiap insan dalam keluarga ini. Suhu sendiri selalu gelisah kalau Enjel nangis tanpa sebab yang jelas. Dan Enjel jelas-jelas gelisah kenapa-orang-ini-bego-nggak-ngerti-mauku-apa.

“Iya njel kamu kenapa nangis terus? Kamu pipis? Ngompol? Gak bisa kentut? Lapar? Sumuk? Kadhemen? Gatel gatel? Sini papa garuk. Mana gatel? Pantat gatel? Sini papa …”
*Bruuuttt*

“Nyaaa…. Enjel eek.”

Lain Suhu lain Nyonya. Dengan mendengarkan tangisan Enjel, Nyonya bisa mengetahui apa mau Enjel. Nyonya merasa video youtube tentang arti tangisan bayi ini lumayan akurat. Nyonya sudah bisa membedakan antara tangis sederhana seperti tangis lapar atau tangis ngantuk. Sampai kombinasi lapar sambil eek. Juga yang level advanced seperti tangis berkepanjangan. Nangis karena pipis, pas popok dibuka nangis karena kedinginan, setelah ganti popok nangis kelaparan.

Jadi pada hakekatnya, yang berevolusi bukan hanya Enjel yang belajar menjadi manusia. Tapi juga Suhu dan Nyonya yang belajar menjadi Papa dan Mama.

Dokumen Bayi – Surat Pencatatan Kelahiran – Step 2

Berikut adalah dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus Surat Pencatatan Kelahiran di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapore. Info dari pengalaman Suhu pergi ke KBRI tanggal 20 Maret 2015. Informasi dapat berubah sewaktu-waktu dan Suhu tidak menjamin informasi ini bakal up-to-date. Untuk lebih jelas, cek di website KBRI Singapore http://www.kemlu.go.id/singapore/Pages/default.aspx

2015-03-20 10.32.22

Haha .. Monther. Untung bukan Monster.

Sesuai foto di atas yang, dokumen yang dibutuhkan adalah:

1. Singapore Birth Certificate
Cara dapatnya dari Step 1.

2. Paspor Papa dan Mama.

3. IC Papa dan Mama.

4. Certificate of Marriage
Suhu punya ROM Certificate yang dikeluarkan Singapura, pencatatan perkawinan yang dikeluarkan KBRI Singapura, dan Akte Kawin yang dikeluarkan catatan sipil Malang. KBRI memilih pencatatan perkawinan yang dikeluarkan KBRI Singapura.

Biaya: Gratis. Bahkan ditulis besar-besar di depan loket Counter 4.

2015-03-20 10.31.43

Waktu Proses: 1 (satu) hari kerja.
Karena Suhu hanya sempat apply hari Jumat, maka collection harus tunggu sampai hari Senin. Terlihat lama karena melewati weekend. Tapi kalau kalian apply selain hari Jumat, seharusnya waktu proses 1 hari tidaklah menjadi masalah. KBRI Singapura sangat efisien dan layak diacungi jempol.

Jam kerja: Apply 9.30 pagi – 12 siang. Hari Senin sampai Jumat.

Tempat: KBRI Singapura Lantai 2. Counter 4 khusus diperuntukkan mengurus dokumen-dokumen bayi Indonesia di Singapura. Setelah naik tangga di sisi kanan.

Biar efektif tapi tetap murah, lebih baik naik MRT ke Redhill, dari Redhill MRT keluar di sisi kiri ada Taxi stand. Naik taxi dari MRT Redhill ke KBRI sekitar 7 dollar tanpa surcharge peak hour. Toh kita cuma bisa apply jam 9.30 pagi, sudah lewat jam surcharge taxi.

Tips dari Dina:
Setelah mengurus Surat Pencatatan Kelahiran, sebelum pulang turunlah ke Lantai 1 tempat pengajuan bikin paspor. Minta form untuk bikin paspor. Lalu pulang dan formnya bisa diisi di rumah. Nanti formnya bakal diajukan saat kita balik KBRI untuk mengambil Surat Pencatatan Kelahiran yang sudah jadi. Dokumen untuk bikin surat pencatatan kelahiran adalah subset dari dokumen untuk bikin paspor. Jadi langsung saja fotokopi dua set. Nanti waktu aplikasi paspor tinggal menambahkan fotokopian dokumen yang lain.

Warga Negara Indonesia

Berbekal akte lahir Singapore yang didapat setelah mendaftarkan kelahiran Enjel di Admission KK, Suhu perlu membuat akte lahir versi Indonesia untuk Enjel. Jadi memang syarat yang harus ditempuh itu berliku-liku dan banyak tahapan. Tapi berkat informasi dari para pendahulu Suhu seperti Septian dan suami Dina, Suhu berhasil melalui fase ini dengan relatif tanpa halangan berarti.

Karena berbagai proses memerlukan requirement dokumen dari proses lain, maka petunjuk yang runut dari para papa-papa baru itu membantu papa yang lebih baru. Tugas mulia ini diemban oleh para suami karena alasan yang sederhana. Mengurus berkas dan dokumen resmi adalah hal yang macho bisa kami lakukan. Dalam hidup bahtera rumah tangga, hampir semuanya dikerjakan dengan pembagian tugas.

Terlebih jika hidup merantau di negara yang norma sosial kasta kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Pekerjaan rumah pun harus dibagi berdua antara suami istri. Seperti Suhu dan Nyonya misalnya. Nyonya membersihkan rumah, Suhu buang sampah. Suhu menjemur, Nyonya menyetrika. Nyonya memasak, Suhu makan cuci piring. Tetapi semua berubah sejak negara api menyerang ada anggota baru di keluarga kami.

Hadirnya Enjel telah menggeser porsi pembagian tugas. Kami kini berleha-leha sementara Enjel menyapu mengepel dan memasak. Bahkan sejak sebelum Enjel lahir. Saat masih di dalam kandungan, Nyonya sudah mulai mengeluh punggungnya sakit, kakinya bengkak, pipinya keseleo, pinggang pegal-pegal, panggul cenut-cenut. Sebagai seekor suami yang siaga Suhu mengambil alih beberapa tugas dengan prinsip dasar yang-bisa-suami-kerjakan Suhu kerjakan, sisanya Nyonya.

Suhu mulai dengan yang simpel simpel seperti memasak. Mencuci baju. Menjemur baju. Ngentas jemuran. Sementara Nyonya mengambil bagian pekerjaan yang Suhu tidak bisa melakukan. Mengandung.

Setelah hamil pun tidak jauh berbeda. Hal yang bisa dikerjakan Suhu dan Nyonya, dikerjakan Suhu. Hal yang hanya bisa dikerjakan Nyonya, dikerjakan Nyonya. Misalnya, menyusui. Meskipun beberapa pekerjaan rumah kembali diambil alih Nyonya saat Enjel tidur, misalnya masak dan bersih-bersih, tugas luar seperti mengurus dokumen bayi otomatis menjadi tugas Suhu. Karena kalau Enjel lapar saat Nyonya berada di luar, Suhu tidak bisa menyusui.

Suhu pergi ke Indonesian Embassy atawa Kedutaan Besar Republik Indonesia. Letaknya di Chatsworth Road. Letak KBRI termasuk nylempit dan relatif jauh dari tempat kami. Dari peradaban manusia kasta kami, maksud Suhu. Letaknya ada di tengah-tengah rumah-rumah mewah nempel tanah. Impian fakir seperti kami yang hanya hidup di kotak-kotak di angkasa. Rumah-rumah dengan kebun di halaman depan. Impian perantau endonesa.

Untuk mencapai tempat ini tanpa perlu bersusah payah, transportasi yang dianjurkan adalah Taxi. Keuntungannya bisa sampai tepat di depan pintu KBRI. Kerugiannya adalah biaya yang relatif mahal. Tapi kalau tidak naik taxi, letak KBRI sangat jauh dari MRT. Harus naik bus, itu pun dari bus stop terdekat masih harus berjalan kaki. Suhu ambil jalan tengah. Naik MRT sampai stasiun Redhill. Dari Redhill Station melambai taxi dan turun di tujuan tepat satu langkah di depan KBRI. Alasannya simpel, Nyonya dan Enjel ditinggal sendirian di rumah. Suhu juga was-was meninggalkan Nyonya mengurusi Enjel. Nyonya belum pulih total.

Berbekal petunjuk dari suami Dina, Suhu langsung ke lantai 2. Antri sebentar lalu mendaftar dan memberikan berkas-berkas yang diminta di counter 4. Petugas di loket memberikan serpihan kertas berisi informasi dokumen yang diperlukan untuk aplikasi ini. Untungnya Suhu sudah mengantisipasi dan menyiapkan semuanya dari rumah sehingga proses tidak bertele-tele. Serpihan kertasnya seperti ini, ayo dibaca apa kalian nemu typo nya di mana?

2015-03-20 10.32.22Semuanya berlangsung secara lancar terutama karena Suhu sudah tahu urutan apa yang perlu diurus dan dokumen apa yang perlu disiapkan sebelum berangkat. Perlu diingat bahwa untuk aplikasi Surat Pencatatan Kelahiran di KBRI, Submission atau Pengajuan hanya ada slot pagi saja. Slot paruh hari siang diperuntukkan orang-orang yang mengambil.

2015-03-20 10.31.43Sekitar setengah jam kemudian loket memanggil nama Enjel dan Suhu beranjak dari tempat duduknya. Petugas loket counter 4 memberikan selembar Surat Pencatatan Kelahiran di kertas A4 biasa, tanpa dibubuhi tandatangan resmi. Semacam Draft. Suhu diminta untuk mengecek semua data yang tertera di dokumen tersebut. Setelah Suhu baca dua-tiga kali, Suhu menyatakan semuanya benar.

Petugas meminta Suhu membubuhkan tanda tangan di sudut kiri bawah tanda sudah konfirmasi kebenaran data-data tersebut. Selanjutnya, dokumen itu akan diprint di kertas yang lebih tebal, ditandatangan petinggi KBRI, dilaminating, dan diberikan ke Suhu. Proses ini memakan waktu satu hari dan waktu pengambilan tercepat adalah siang hari kerja berikutnya. Karena collection atau pengambilan adalah slot siang setiap harinya.

“Sudah Bapak. Ini berkas bapak yang asli semua saya kembalikan harap dicek ulang. Surat Pencatatan Kelahirannya bisa diambil hari kerja berikutnya. Datangnya siang ya setelah jam setengah tiga kami buka.”
“Oke. Besok tidak buka ya, Dik? Jadi Senin siang?”
“Betul, Bapak. Senin siang bisa diambil.”
“Wah, saya Senin siang sibuk, Dik. Bayi saya ada jadwal checkup jaundice di posyandu. BIsa disimpan di sini sampai Selasa, gitu?”
“Tidak masalah, Bapak. Bapak bisa ambil suratnya kapan saja setelah hari Senin. Kami akan simpan surat-surat yang tidak diambil.”
“Baiklah, Dik. Saya ambil Selasa saja. Ini harus saya yang ambil atau boleh diwakilkan?”
“Boleh siapa saja, Pak. Asalkan membawa surat tanda terima yang tadi kami berikan. Jangan hilang ya, Pak.”

Suhu mencatat tanggal hari Selasa di kalender hape untuk mengambil dokumen ini. Semuanya dicatat di reminder hape. Biar tidak lupa. Kalau bisa sih diambil Senin biar cepat selesai. Tapi kalau Senin Suhu perlu ke posyandu untuk jaundice checkup Enjel, siapa ya yang bisa diutus untuk mengambil. Lalu Suhu mencari kontak nomer hape untuk telepon sopir kantor. Cek apa sopir kantor sibuk hari Senin depan. Apa bisa disuruh mengambilkan. Hmm… Koq tidak ketemu ya kontak sopir kantor di phonebook hape?

Oh iya. Kan hapenya baru ganti. Bentar, bentar. Cek di hape kantor. Mana ya hape kantor.

Eh iya. Kan udah gak kerja di sana. Kan udah quit waktu mau lahiran Enjel. Bentar, bentar. Cari sopir kantor yang sekarang.

Uh iya. Kan udah gak punya sopir di kantor yang sekarang.

Di situ kadang saya sedih.

Warga Negara Indonesia

Dokumen Bayi – Birth Certificate – Step 1

Berikut adalah dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus Birth Certificate di Singapore. Info dari website nya ICA. http://www.ica.gov.sg/page.aspx?pageid=160&secid=159

Documents Required:

For ALL
Notification of Live Birth issued by the hospital*
Identity Cards of both parents
Original marriage certificate of parents

*Parents of children not born in hospitals can obtain the Notification of Live Birth from the doctors/midwife/ ambulance staff who delivered the baby.

Additional Documents Required for Foreigners
Passports of parents
Entry Permits of parents
Disembarkation/Embarkation card of parents (atau EP/PR card kalau domisili sini)

Dari pengalaman teman baik Suhu, Dina, yang belum lama ini melahirkan seekor kucing kecil di NUH, bayar admin fee totalnya 40$. Tapi karena suami Dina ini kan memang super sekali, mereka ngurus langsung ke ICA. Buat yang mau menempuh jalur ini, biayanya $18. Sebenarnya di rumah sakit juga biayanya $18, tapi ditambahi admin fee. Suhu sendiri mendaftarkan di KK Hospital dan perlu membayar $18 (untuk imigrasi) dan $21.40 untuk admin KK (20$ ditambah 7% pajak).

Sebenarnya lebih convenient untuk melakukan transaksi ini di rumah sakit pas bayi waktu saja lahir.. Jadi untuk yang ancang-ancang mau melahirkan, mungkin dokumen-dokumen tersebut di atas bisa dibawa saat mau lahiran. Biar gampang. Tapi kalau pasangannya bukan dua-duanya PR, dan nikah nya di luar Singapore, harus ke ICA karena rumah sakit tidak bisa memproses.

Pencatatan kelahiran ini dibatasi 14 hari dari Notification of Live Birth. Kalau karena satu dan lain hal terlambat mendaftarkan ini, ada periode untuk delayed registration sampai 42 hari. Ini mungkin buat bunda yang masih galau anaknya dikasih nama Nabila atau Bebi Cesara. Tapi untuk kepentingan kita, sebaiknya proses ini dilakukan secepat mungkin tanpa ditunda, karena ini baru step 1 dan masih ada banyak step di belakang yang batas waktunya cukup sempit kalau akte lahir ini keluarnya telat. Para suami harus bersikap tegas dan melaksanakan hak veto untuk memberi nama anaknya Nunung kalau istrinya masih berlarut-larut memikirkan nama yang tak pasti.

Hal ini dikarenakan semua deadline berbasis dari tanggal lahir bayi. Meskipun akte ini boleh molor sampai 42 hari, kita masih harus mengurus paspor dan ijin tinggal yang semuanya harus beres sebelum bayi kita kehabisan ijin tinggal turis. Iya, mbrojol di negara ini bayi kamu jadi turis. Kalau sampai ijin tinggal turisnya habis, bayi kamu jadi … imigran gelap.