Final Checkup

Memasuki minggu ke 39, tanggal 9 Maret 2015 Nyonya diperiksa checkup rutin untuk terakhir kalinya. Dokter Han sudah mengestimasi tanggal lahir pada minggu ke 40 yaitu minggu depan.

Kondisi Nyonya sudah sangat campur aduk. Tentu saja gembira, karena keluarga kami akan menambah anggota eksklusif. Ada sedikit takut, apakah kita akan menjadi orang tua yang baik. Ada banyak waswas, apakah prosesnya akan penuh sakit dan siksa. Ada kebingungan, karena masih banyak hal yang belum jelas cara menyikapinya. Salah satu hal itu adalah kapan bayi ini lahir.

Menyikapi kapan bayi ini lahir?

Benul.

Berdasarkan estimasi Dokter Han, minggu depan tanggal 14 Maret saat checkup itu sudah jatuh tempo. Sepanjang pengetahuan Suhu, orang-orang biasanya bilang ada bayi prematur kecil karena lahir lebih awal dari jadwal orang sekampung panik karena belum siap tapi bayinya sudah keluar duluan. Jadi menurut Suhu bayi lahir lebih telat tentu lebih gemuk lebih sehat lebih hore.

Ternyata Suhu salah. Setelah melewati masa tertentu yaitu minggu ke 40 tadi, bayi di dalam perut ibu sudah menyempurnakan organ-organ pencernaan. Dengan sendirinya, bayi tersebut akan memfungsikan organ-organ tersebut meskipun masih di dalam perut ibu. Singkatnya, bayi akan pup pret di dalam perut ibu. Lalu renang-renang sama tainya sendiri.

Final CheckupUntuk mencegah hal tersebut, renang-renang di tainya sendiri, menghirup tainya sendiri, kelilipan pipis, dan sebagainya. Bayi harus diinduksi. Induksi ini istilah keren lahir paksa yang Suhu baru tahu juga. Dokter Han memberikan opsi untuk kita, Suhu dan Nyonya disuruh memilih hari untuk melahirkan kalau tanggal 14 masih belum lahir juga.

Untuk Suhu sebenarnya pilihan ini cukup melegakan. Mengingat, Suhu suaminya. Nggak ikut kontraksi nggak ikut sakit. Segala sesuatu yang lebih pasti, lebih nyaman. Apalagi Suhu dan Nyonya sudah kecele tiga kali ke Rumah Sakit Bersalin, tapi belum lahiran juga. Dengan final checkup ini total empat kali. Hampir semua fenomena tanda-tanda kelahiran kami alami. Mulai dari pendarahan, jatuh tempo, turun berat badan, sampai sekarang perencanaan induksi.

Tapi lain dengan Nyonya. Concern nya berbeda. Nyonya akan merasakan sendiri fenomena daging tiga kilo gerak-gerak keluar dari badannya yang reviewnya semakin dibaca di internet semakin bercampur baur antara wow it’s magical sampai ah pain ah pain ah pain ah PAIN. Intinya Nyonya ini takut proses melahirkan.

Ini kayak orang lari marathon 42 km. Pas keliatan garis finish, takut lari ke depan. Jalan pelan-pelan. Ini adalah ketakutan yang tidak mungkin Suhu mengerti. Jangan salah. Suhu mengerti tentang ketakutan akan sakit dan lain-lain. Yang Suhu nggak paham. Koq takutnya BARU SEKARANG???

Ternyata Nyonya takut proses induksi itu sendiri. Saking takutnya, Suhu disuruh cari-cari informasi di Google, lalu baru cerita ke Nyonya. Jadilah Suhu menjadi suami yang penuh informasi, bagaikan Jelita, jendela informasi wanita.

Jadi induksi itu seperti yang telah kita bahas di atas, ditujukan untuk mengeluarkan bayi ini dari induknya. Alasannya bermacam-macam. Kebanyakan karena alasan kesehatan. Mau dibilang selucu apa pun, bayi ini parasit. Simbiosisnya jelas-jelas parasitisme. Dia ambil makanan, nutrisi, terus tendang-tendang, semua dari induknya. Induknya dapat apa?

Rasa bangga? Rasa bahagia?

Ya itu nanti kalau bayinya sudah lahir. Selama masih di dalam perut, induknya cuma kebagian ngasih makan lewat mulut ibu. Bapaknya? Gak kebagian apa-apa. Cuma kebagian ngurusin induknya, terus kalau induknya tiba tiba “eh nendang-nendang nih. Ini bagian sini. Tanganmu sini. Kerasa nggak? Kerasa nggak?” terus bapaknya datang pegang perut gembul, nggak ada rasa apa-apa ibunya cuma bilang “Yah udah diem dia, nanti aja kalau tendang lagi.” terus ditinggal bapaknya pergi ibunya sorak-sorak “eh ini dia tendang-tendang lagi” Bapaknya datang bayinya diam ulangi sampai matahari terbenam. Sampai waktu ibunya panggil bapaknya “bayinya nendang pah!” bapaknya cuma jalan santai pegang perut sambil “ah sudahlah …”

Kembali ke topik informatif sebelum jadi ajang curcol, makhluk parasit ini ada saatnya perlu dikeluarkan demi kesehatan induk semangnya, atau kadang demi kesehatannya sendiri. Ingat, makhluk ini masih bego dan kita nggak mau perjamuan pertamanya adalah makan tainya sendiri.

Cara-cara induksi ada berbagai macam. Mulai dari yang serem-serem sampai yang serem biasa. Setelah baca lebih lanjut, Suhu jadi ngerti kenapa Nyonya ngeri. Inti induksi atau lahir paksa ini semuanya sama, mensimulasikan dan menstimulasikan kontraksi agar tubuh ibu hamil tahu bahwa ini waktunya melahirkan. Cara stimulasinya itu yang bervariasi. Mulai dari diobok-obok, atau jalan keluarnya didongkrak dengan foley catheter, meletuskan balon hijau biar air ketuban pecah, dan yang paling beradab tentu dengan teknologi asupan hormon oxytocyn.

Karena Nyonya sudah amat sangat ketakutan sekali, Suhu hanya bisa memastikan semuanya akan baik-baik saja. Meskipun Suhu juga tidak tahu pasti. Suhu dan Nyonya pun mengambil jalur induksi tradisional, sesuai anjuran teman kerja Suhu yang istrinya pernah lahiran telat juga. Salah satu cara untuk merangsang tubuh ibu hamil agar bayinya keluar adalah naik turun tangga.

Karena perut Nyonya sudah sebesar semangka dan jalan aja susah, kami skip anjuran naik tangga. Kami hanya turun tangga dari rumah ke lantai bawah. Dari lantai bawah naik lift ke atas, lalu turun tangga. Biar semangka tidak jatuh menggelinding, suami berdiri di depan, istri di belakang pegang pundak suami dan pegangan tangga. Jadi kalau kamu lihat di HDB blok kamu ada suami istri mainan naik kereta api sepur-sepuran di tangga, jangan heran.

Berilah semangat. Mereka sedang melalui masa-masa yang sangat menegangkan.

Advertisements

One thought on “Final Checkup

  1. Pingback: Kraiwuf |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s