Lahiran: Expectation vs Reality

Dibekali pelajaran dari les mbayi, Suhu dan Nyonya memanfaatkan karunia insani sebagai kaum cendekia terpelajar. Buku pelajaran dan catatan dibaca ulang, checklist disiapkan agar supaya tidak ada yang ketinggalan. Tapi terkadang kehendak ilahi berkata lain, seolah yang kuasa hendak mengingatkan.

Hei, kamu! Iya kamu! Ini bukan ujian nasional!

Ini adalah proses memunculkan sebuah nyawa baru di dunia. Ini jelas bukan ujian nasional. Ini praktikum!

Expectation
Hafal semua prosedur bernafas untuk ibu hamil mengejan, Suhu akan membantu Nyonya sepanjang proses kelahiran normal. “Bertahanlah! Sedikit lagi! Ayo! Kamu bisa!” Tak semenit pun akan kutinggalkan istriku. Kita akan melalui semua ini bersama-sama. Suhu akan kontrol pain management eksternal melalui breathing and environmental condition, sementara Nyonya akan kontrol pain management internal tubuhnya sendiri.

Reality
Setelah memastikan Nyonya akan melahirkan dan digeladak masuk ward, Suhu pulang. Karena tidak bawa koper berisi barang-barang yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Expectation
Suhu dan Nyonya akan mempertimbangkan secara bijak hal-hal mengenai kelahiran, antara lain, asistensi persalinan seperti induction of labour baik itu berupa hormon atau bantuan selama melahirkan (forcep atau vacuum kop). Penghilang rasa sakit alias pain relief yang bermacam-macam ada efek samping terhadap ibu hamil dan bayinya. Misalnya, inhale – laughing gas NO2 (gas ketawa) bisa bikin high kalau dihirup biar lupa rasa sakitnya sementara, pain relief 10% sekitar. Ada juga suntikan dengan injeksi pethidine di paha dengan resiko tertentu karena sirkulasinya mungkin mempengaruhi bayi di dalam, harus melalui anjuran dokter, pain relief 50% sekitar. Dan yang paling populer tentu saja epidural yang bisa menghilangkan rasa sakit nyaris 80%. Tetapi resikonya adalah sistem saraf pada ibu hamil karena epidural harus dilakukan secara akurat dan biasanya ibu hamil mencak-mencak saat kesakitan.

Lahiran Expectation vs RealityReality
AAAAHHHH!!!! PAIN AH PAIN AH!!!! GIVE ME EPIDURAL!!!!

Expectation
Dokter Han akan menuntun kita di setiap langkah proses kehamilan dan kelahiran hingga bayi kami hadir di dunia ini membawa senyum di raut paras kita semua.

Reality
Karena masuk tengah malam, Nyonya dicek oleh dokter jaga shift malam. Seperti layaknya shift kerja di pabrik, shift dokter jaga juga berganti setelah jam tertentu. Keesokan paginya dokter jaga shift berikutnya masuk dan membaca chart monitoring Nyonya di sebelah ranjang. Lalu dokter jaga berikutnya. Dari proses masuk sampai keluar, lima ginekolog telah merambah uncharted territory.

Expectation
Nyonya akan berjuang sekuat tenaga untuk mengejan dan push hingga bayi lahir ditemani Suhu suaminya tercinta dan dokter Han beserta seorang bidan yang sudah berpengalaman membantu proses kelahiran minimal 100 bayi per tahun.

Reality
Saat bayi ini lahir, total 13 orang dewasa berada dalam ruangan. Nyonya, Suhu, Dokter Han dan dua suster asisten dokter Han, dokter jaga shift yang sekarang, dokter jaga shift yang tadi, ginekolog lain selain Dokter Han, dokter anak, suster asisten dokter anak, suster Marisol yang ditugaskan menjaga Nyonya, suster Rosita yang mengurus obat-obatan Nyonya mulai dari dosis bius sampai painkiller pasca kelahiran, suster front desk yang masuk sejenak mencatat jam kelahiran lalu keluar lagi.

Expectation
Nyonya akan berusaha sekuat tenaga, dan bayi lahir normal dengan mengejan sekuat tenaga tanpa perlu bantuan yang berarti dari obat-obatan dan unsur kimia.

Reality
Ibarat zaman mama kita melahirkan kita tidak ada epidural-epidural an, generasi mama-mama zaman dulu mungkin melihat proses kelahiran kami sambil membatin “cih cengeng … gitu doang minta painkiller.” Mungkin sapi-sapi tua juga melihat sapi-sapi jaman sekarang melahirkan anak sapi “cih cengeng … gitu doang dibantu ditarik dokter hewan …. zaman mama dulu sapi melahirkan nggak pake dibantu.” Benul. Proses lahiran Nyonya barusan dibantu dokter hewan painkiller dan obat-obatan modern, sesuatu yang sangat memudahkan proses lahiran non-Caesarian.

Expectation
Secara natural bayi akan merangkak bin melata mencari mamanya untuk menyusui demi kelangsungan hidupnya seperti bayi kuda di National Geography langsung berlari-lari di savana.

Reality
Bayi baru keluar dari kandungan ibunya itu. Kotor. Darah. Lendir. Ribut. Bingung. Panik. Bikin panik. Bikin bingung. Bayinya bingung. Papa nya bingung ini mau diapain. Bayi nya panik ini papa nya koq bingung. Papa nya panik ini koq mama nya merem, mungkin gara-gara kebanyakan painkiller. Suster sibuk mengurusi Nyonya yang kehilangan banyak darah. Bayi diserahkan pada Suhu, seorang papa baru. “Sus, ini megangnya benar kayak gini”“Ahhh Pak!!! Kepalanya dipegangi, lehernya masih lembek!” “Oooweeekkk hek hek hek …!!!” Di sela-sela isak tangis, bercak darah, gumpal lendir, dan sengat alkohol, Suhu memberanikan diri menelisik puing-puing sisa medan laga, mencari di antara remah-remah plasenta. Ini User Guide nya mana ya? Koq gak ketemu tombol off nya.

Expectation
Suhu dan Nyonya akan bahagia menerima kehadiran anggota baru keluarga kami.

Reality
Suhu dan Nyonya bahagia menerima kehadiran anggota baru keluarga kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s