The Reinforcement Has Arrived

Hari ini adalah hari ketiga Suhu jadi papa. Jadi papa bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak yang harus dipelajari dalam waktu singkat. Hari ini kami sudah harus keluar dari rumah sakit. Berarti tidak ada lagi bantuan dari suster-suster neonatal.

Sejak hari pertama Suhu tahu bahwa kenyataan pahit ini akan datang. Suhu dan Nyonya yang sekarang dirawat di Rumah Sakit, akan tiba saatnya posisi ini terbalik, menjadi perawat si kecil di rumah sendiri. Oleh karena itu, sebanyak mungkin ilmu kami serap dari suster-suster di Rumah Sakit.

Tentang feeding, Nyonya belajar cara breastfeeding. Mulai cara memegang bayi, memastikan mulut bayi bisa mendapatkan susu tanpa hidungnya tersumbat dada ibunya sendiri. Suhu belajar cara cup feeding, memberi minum susu dengan gelas pada bayi baru lahir.

Tujuannya mudah dan jelas. Bayi minum susu. Tantangannya yang banyak. Antara lain. Bayi tidak tersedak. Bayi masih bernafas. Bayi minum lewat mulut, dan tidak ada yang masuk hidung. Air susu tidak muncrat ke mana-mana. Kepala bayi dan badan bayi masih tersambung leher bayi.

Serius.

Menjadi papa yang menggendong bayi pada jam pertama kelahiran, satu hal yang disadari Suhu adalah. Leher bayi ini useless. Tangan kiri pegang kepala tangan kanan pegang badan bayi, atau sebaliknya. Dua benda ini, kepala dan badan, seolah disambung oleh leher, padahal TIDAK! Kepala dan badannya bisa bergerak independen. Leher cuma kayak selang. Semua tulangnya masih lunak. Lebih lunak dari ayam tulang lunak malioboro. Mungkin selunak duri bandeng presto.

Daging mentah tiga kilo ini pun lahir tanpa stiker Fragile Handle with care This side up. Tumpukan kurang dari 8 karton. Tidak jarang karena kecanggungan Suhu menggendong, kepala bayi terputar ke arah yang tidak sewajarnya. Untungnya suster-suster semua terlatih menghadapi papa baru yang tidak berpengalaman. Mereka sabar mengajari. Mendampingi. Mengayomi. Ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso.

Suhu dan Nyonya jadi tahu bahwa feeding bayi itu tiap dua jam sekali. Dua jam itu dihitung dari start to start. Jadi kalau bayi mulai disusui jam 1. Nyusu selama satu jam, sampai jam 2. Sesi nyusu berikutnya bukan jam 4, melainkan jam 3. Start to start. Nggak boleh lebih dari tiga jam biar bayi tidak dehidrasi. Bayi baru lahir nggak boleh minum air putih. Papa Mama harus kejar setoran, bayi sehari harus pipis enam kali pup tiga kali.

Benar-benar menguras tenaga dan pikiran, melatih kesabaran, dan memperluas wawasan.

Suhu dan Nyonya sudah mempersiapkan pertahanan akan kemelud ini. Bantuan telah didatangkan dari negeri seberang. Mertua Suhu akan mendarat di tanah ini hari ini. Segera setelah Suhu selesai menunaikan tugasnya bersih-bersih bekas pipis dan eek bayi hari ini, beres-beres koper untuk pulang nanti, Suhu menuju ke airport untuk menjemput mertua.

Perlu diingat bahwa Mertua Suhu tak lain tak bukan adalah ibu kandung dari Nyonya, tak heran jika setelah dikabari putrinya telah melahirkan cucu baginya, Mertua Suhu langsung melejit ke airport dengan overweight luggagenya. Segala macam dibawa, mulai dari baju bayi warisan turun-temurun, ramuan mujarab resep rahasia keluarga, dedaunan kering [daun katuk untuk lancar ASI, bukan daun ganja], sampai upaya menyelundupkan obat-obatan tidak terlarang dan satwa langka burung dara tiga warna. Perjalanan berjam-jam ditempuhnya dari Karanglo ke Lanudal Juanda, meskipun hari itu weekend. Bisa dibayangkan arus jalan darat yang menuju ke Surabaya.

Nyonya memantau pergerakan Suhu dan Mertua Suhu. Saat pesawat mendarat, posisi Suhu sudah di airport setelah melesat dari Rumah Sakit KK dengan awan kintoun. Membawa koper barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi. Baju kotor, baju bayi kebesaran, remah-remah perjuangan proses persalinan. Di sela-sela para penumpang yang menunggu kopernya keluar di ban berjalan, Suhu berhasil mengenali Mertua dari kejauhan.

The Reinforcement Has Arrived

Dengan terengah-engah membawa koper dan cabin bag yang kasat mata overweight, Mertua keluar dan menghampiri Suhu.

“Gong Xi ya jadi papa!”
“Iya … gong xi jadi emak …”
“Ayo kita berangkat sekarang ke Rumah Sakit.”

Hal ini sudah dinubuatkan oleh Nyonya.

“Sabar, mah. Kita pulang dulu. Taruh barang-barang. Baru pergi ke rumkit.”
“Loh ndak usah. Mamah bisa koq.”

Nyonya sudah mempersiapkan Suhu atas jawabannya skenario ini.

“Suhu juga mesti naruh barang ini di rumah sebelum berangkat ke rumah sakit.”
“Oh ya nggak apa-apa. Mamah tunggu di taxi.”
“Suhu mau mandi dulu di rumah baru berangkat lagi.”
“O ya sudah kamu taktinggal, Mamah ke rumah sakit sendirian aja.”

Setelah perhelatan termasyhur abad ini, Suhu berhasil menggiring Mama Nyonya [sekarang sudah dinobatkan menjadi Emak Karanglo] pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Suhu mengosongkan isi koper, dan bergegas mandi bebek. Asal basah dan tidak ngantuk. Dalam kurun waktu sekian detik Suhu mandi itu, Emak Karanglo sudah bongkar barang bawaan dari Karanglo, menata baju bayi yang mau dibawa ke rumkit, menata kulkas untuk menyimpan makanan beku, membersihkan dapur, mengecat rumah dan membetulkan pagar. Pada saat itu Suhu mulai curiga apakah mertuanya pernah kuliah di Hogwarts.

Dengan koper kosong dan mertua lincah, Suhu mencapai rumkit dan menemui Nyonya dan si kecil. Tak terungkapkan dengan kata-kata raut muka Nyonya melihat mama nya. Raut muka Emak Karanglo melihat cucu nya. Dalam keheningan itu, Suhu membatin.

The reinforcement has arrived.

Tapi keheningan itu tak berlangsung lama. Bisa dibayangkan kalau bayi kecil ini dari lahir suka ribut, suka ngomong itu faktor genetik. Istri Suhu, Nyonya, ndak usah dibilang. Nah ini, mama nya Nyonya. Kalau tiga orang ini dikumpulkan teleconference, pulsa habis batre abis ikan hiu punah omongannya belum habis setengah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s