Video

Yellow

Petikan lagu Coldplay di atas terngiang di telinga Suhu sepanjang perjalanan taxi dari Posyandu ke Rumah Sakit. Baru empat hari yang lalu Suhu dan Nyonya berdua pergi ke Rumah Sakit untuk proses persalinan. Sekarang proses ini kembali terulang. Bedanya sekarang kami bertiga. Dengan si kecil.

Setelah discharged dari Rumah Sakit kemarin, Suhu dan Nyonya diberi surat pengantar oleh pihak Neonatal KK. Isinya untuk melanjutkan jaundice test yang sudah dilaksanakan sesaat setelah bayi lahir. Lokasi test nya terserah, bisa di Rumah Sakit KK sini, atau kalau mau gampang ya di polyclinic/ posyandu terdekat.

Suhu memilih posyandu dengan alasan geografis dekat. Hanya sepelemparan batu dari hunian. Ketimbang jauh-jauh pergi ke Rumah Sakit. Toh prosedurnya sama, ambil darah bayi dengan dicocok di tumit, lalu diperiksa di lab. Tumit dipilih karena bagian ini yang paling kebal syarafnya dibanding tempat lain. Itu pun Nyonya masih pedih melihat bayinya dicoblos mbak-mbak posyandu.

Ini bukan kali pertama si kecil diambil darahnya. Si kecil sudah pernah diambil darahnya untuk jaundice test sebelum kita discharged. Tentunya nilainya memuaskan, sehingga kita boleh pulang. Betapa bangganya ketika Suhu, Nyonya, dan Emak Karanglo membawa si kecil pulang waktu itu, melalui etalase berisi bayi-bayi di bawah naungan sinar ungu. Bayi-bayi jaundice. Fototerapi.

Tak disangka tak dinyana, kini Suhu dan Nyonya harus memulangkan si kecil ke Rumah Sakit. Untuk diletakkan di etalase yang sama. Disinari sinar ungu. Fototerapi.

Saat kami antri di posyandu sebenarnya semua masih baik-baik saja. Sampai hasil jaundice test dari lab keluar, kami membawa slip hasilnya ke ruang dokter untuk menerima penjelasan. Dokter di posyandu disediakan ke pasien secara acak. Bukan masalah, toh kami juga tidak punya dokter langganan di sini. Dokter Milton membuka slip result kami, sembari menulis sambil bergumam kurang jelas, dia basa-basi bertanya tentang kondisi bayi. Setelah semua selesai, Dokter Milton berkata.

“Sekarang berangkat ke Rumah Sakit ya. Jangan ditunda.”

Jeder! Betapa terperangahnya Suhu dan Nyonya mendengar hal itu. Tanpa penjelasan yang cukup, dan tanpa informasi yang memadai. Suhu hanya melihat ke Nyonya berharap pendengarannya yang salah. Tapi kertas yang disodorkan pada kami ternyata surat pengantar dari posyandu agar kami masuk Rumah Sakit hari itu juga.

Tingkat bilirubin nya terlalu tinggi.

Nyonya terlihat gugup. Suhu pun panik. Tidak membekali diri dengan stroller, yang kami bawa hanya popok disposable, susu formula, dan beberapa kain. Tas yang dibawa Nyonya cukup berat, Suhu tak sempat mensortirnya sebelum ke Posyandu. Toh dekat, toh cepat, pikir Suhu. Stroller pun tak dibawa. Siapa yang menyangka Suhu harus menggendong si kecil non-stop mulai dari antri nomer panggil, antri lab, tunggu hasil lab, antri dokter, antri kasir, dan sekarang langsung berangkat ke Rumah Sakit.

Itu semua bukanlah mimpi yang terburuk. Kondisi Suhu dan Nyonya masih belum seratus persen pulih dari uji raga marathon kurang tidur. Dentuman Whatsapp dari orang-orang yang ngasih selamat. Orang-orang ini nih yang kata papa mama kalau gak dijawab gak sopan. Makin dijawab makin kepo tanyanya. mau digampar koq masih bau sodara.

Yang paling epic adalah respon dokter posyandu yang poker face. Setelah melalui semua cobaan ini, Suhu menyadari, yang terburuk dari semua ini adalah kurangnya informasi. Suhu kurang baca. Jadi betapa paniknya waktu dokter memerintahkan kami pergi saat itu juga, dalam bayangan kami, Rumah Sakit itu suatu tempat yang serius, mengerikan, mencekam. Yang masuk Rumah Sakit itu pasti sakit parah, kronis, akut.

Baru setelah si kecil masuk Rumah Sakit, tangan Suhu leluasa untuk merambah Google, Suhu jadi tahu. Jaundice itu ternyata normal. Secara statistik bayi-bayi ras Cina, beresiko terkena jaundice. Ini adalah sebuah proses yang cukup umum. Saking umumnya sampai dokter merasa semua orang tahu, padahal FTP [First Time Parent] kayak kita kan masih bego bin panikan.

Informasinya bisa didapat di berbagai website, tapi intinya dalam proses pasca kelahiran, bayi masih membentuk organ-organ dalamnya. Dalam kasus ini, liver belum terbentuk sempurna. Di sisi lain, hemoglobin bayi yang dipakai bayi sebagai sarana asupan, sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi. Bayinya sudah mendapat asupan melalui susu, sistem pencernaan. Hemoglobin bayi ini dibuang dari metabolisme melalui proses yang menghasilkan bilirubin. Bilirubin ini harus diproses oleh liver dan kemudian dibuang lewat pipis dan pup. Kalau tidak sempat, dalam artian liver memprosesnya terlalu lambat, kalah cepat, maka bilirubin ekstra ini akan diakumulasi di sirkulasi darah, ikut keliling dunia dan membuat kulit penderita menjadi kuning.

So then I took my turn
Oh what a thing to have done
And it was all yellow

Your skin
Oh yeah your skin and bones
Turn into something beautiful
You know you know I love you so
You know I love you so

Yellow

You were all yellow.

Advertisements

One thought on “Yellow

  1. Pingback: Posyandu |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s