No Woman No Cry

Segera setelah dilarikan ke Rumah Sakit, kami mendapatkan penjelasan yang cukup mengenai Jaundice dari dokter jaga. Mempertimbangkan bahwa bayi kami masih sangat muda [hari ini Senin berusia 3 hari, lahir Jumat lalu], dokter di Rumah Sakit juga mempertimbangkan pro dan kontra jika bayi ini masuk Rumah Sakit, takut terkontaminasi penyakit lain.

Akhirnya kami menemukan jalan tengah setelah kami memohon sedapat mungkin bayi kami jangan divonis rawat inap untuk masalah ini. Nampaknya menginap di Rumah Sakit tidak bisa ditawar. Bayi kami masuk Neonatal Care Unit divisi anak-anak prematur. Kalau kalian pernah lihat bayi yang lahir sebelum waktunya, biasanya dijaga di Rumah Sakit sampai kondisinya stabil. Bayi kami dimasukkan ke sana. Relevansinya, bayi ini masih relatif “bersih” jadi tidak sampai menulari bayi-bayi lain. Umur bayi kami juga masih terlalu muda untuk masuk divisi anak-anak yang penyakitnya relatif bervariasi dan bayi sekecil ini belum punya antibodi yang mumpuni untuk virus-virus yang berkeliaran di Rumah Sakit.

Malam itu pukul tujuh. Tubuh Suhu sudah pegal-pegal. Seharian menggendong bayi. Nyonya sudah di ambang antara sadar dan tidak. Admin di Neonatal Care Unit telah mengurus rawat inap bayi kami. Setelah menunggu dokter untuk menemui kami dan mendiagnosa bayi kami, Suhu dan Nyonya pulang. Meninggalkan si kecil di Rumah Sakit.

Proses fototerapi untuk mengatasi jaundice memakan waktu 24 jam. Kami hanya bisa pulang ke rumah dan beristirahat sambil menunggu. Kemarin malam semuanya terasa berbeda. Kami sudah hidup beribu malam tanpa bayi itu. Bayi ini hadir di hidup kami belum sampai seminggu. Tapi terpisah malam ini dari anak kami, rasanya ada yang aneh. Mungkin ini rasanya jadi orang tua.

No Woman No CryKemarin jam sepuluh malam Nyonya masih sempat menelepon ke Rumah Sakit untuk mengecek kondisi bayi kami. Kata Suster di telepon, bayi tidur nyenyak. Entah kami harus senang atau sedih, bayi kami merasa lebih baik di tangan profesional. Suhu dan Nyonya memanfaatkan keseempatan berharga ini sebaik-baiknya untuk beristirahat. Perlu diingat, sejak Kamis lalu, tidak seorang pun di rumah ini punya cukup tidur.

Matahari terbit dan terdengar kericuhan di luar kamar. Sekilas Suhu mengira ini adalah Selasa pagi di kampung Gondanglegi. Tapi ternyata bukan suara ayam berkokok dan berkotek. Sayup-sayup terdengar perbincangan akbar antara Nyonya dan mertua. Kalian pernah mendengarkan siaran sepakbola di radio?

“Dioper lagi. Menembus jantung pertahanan lawan. Ditendang tidak jadi sodara sodara! Ahai! Merupakan sebuah permainan cantik yang dan GOOOOLLLL!!!”

Benul. Kadang tidak koheren, sedang membicarakan topik satunya, tiba-tiba topik lain menyeruak masuk dan GOOOOLLL!!! adalah ciri khas bincang-bincang keluarga Nyonya. Volume nya sudah menyaingi suporter Arema, intensitasnya melampaui krosak-krosak radio kehilangan siaran. Ini baru Nyonya dan mama nya. Beberapa tahun lagi saat bayi kami bisa bicara dan ikutan nimbrung, mungkin Pak RT datang bawa polisi.

“Di mana tawurannya? Di mana?”
“Oh nggak Pak, anak saya lagi cerita sama neneknya besok sekolah ada lomba deklamasi.”

Dari tingkat keseriusannya, nampaknya Nyonya dan Emak Karanglo sedang mencari solusi perdamaian dunia. Suhu menangkap inti pembicaraannya adalah kapan Ming datang. Ming adalah adik daripada Nyonya. Dia akan datang hari ini, tepatnya pukul berapa itu yang jadi perhelatan pagi ini. Benul. Topik yang luar biasa tidak penting. Tapi Nyonya dan Emak Karanglo harus mufakat menit keberapa pesawat ini landing atas dasar alasan yang kurang seberapa masuk akal sehat.

Bermalas-malasan, Suhu mandi dan gosok gigi. Hari ini hari tanpa bayi. Dalam perjalanan pulang kemarin malam, Nyonya sudah mencatat barang-barang yang perlu dibeli. Kami kira kami sudah penuh persiapan. Ternyata, saat bayi kami pulang, rumah kami berantakan!

Bukan. Bukan kemalingan. Tapi memang biasanya berantakan.

Meskipun Suhu dan Nyonya sudah punya baby cot warisan dari kolega Nyonya, bak mandi, disinfektan, meskipun sudah beli botol susu sepaket dengan pompa ASI, meskipun sudah beli baby wipes dan Emak Karanglo membawa suplai segunung baju bayi warisan leluhur tujuh turunan yang cukup untuk bayi ini tiap hari ganti baju tidak perlu cuci baju selama tujuh belas tahun. Dengan master planner senjelimet Nyonya, ternyata persiapan kami masih kurang.

battle stationbahkan kami punya battle station di kamar untuk menangani bayi ini

Ternyata ibu menyusui tidak semudah yang dibayangkan. Dulu Suhu kira hanya hap lalu ditangkap. Kenyataan tak seindah National Geographic di mana anak sapi langsung ngenyot tetek induknya. Antara Nyonya yang belum pulih sempurna, bayi yang sakit kuning, mertua yang heboh karena baru jadi Emak, proses menyusui bukanlah hal yang simpel. Jadi kami perlu.

Susu formula.

Ah gampang. Beli satu kaleng beres.

Lalu perlu air panas. Saat bayi menangis kelaparan sudah tidak ada waktu untuk masak air. Ah gampang. Beli termos.

Kalau keluar-keluar perlu bawa tapi tidak boleh terlalu berat. Beli termos lain yang kecilan size botol minum. Beli milk powder dispenser untuk porsi sekali seduh biar tidak usah bawa kaleng susu formula.

Suhu mah gitu orangnya. Suka nggampangkan masalah. Gitu aja koq repot. Sampai ke supermarket sendirian. Biasanya pergi sama Nyonya dan Suhu cuma jadi tukang angkat belanjaan. Sekarang Suhu pergi sendiri karena Nyonya perlu istirahat di rumah. Untungnya Nyonya punya suami cerdas cendekia yang bisa diandalkan dan nalar pikirannya jalan.

Oke. Susu formula. Ini mestinya di rak yang isinya kaleng-kaleng deket popok. Hmmm… ketemu. Eh ini banyak banget ya mereknya. Hmmm … bedanya apa ya. Beli yang sudah pernah denger aja mereknya. Hmmm … semua gak pernah denger. Waktu di rumah sakit mereka minum susu apa ya. S26. Aha! Ini dia S26. Lho ini koq S26 juga? Ini apa ya. Koq ada Gold. Eh ada nomer nya. Tahap 1, 2, atau 3. Ah baru lahir pasti nomer satu lah ya. Oh ini koq ada Omega 3. Bayi mestinya Alpha dulu kali ya? Hmmm ini mengandung DHA. Wah ini mengandung 24 vitamin ini harganya sama … ada tambahan mengandung prebiotic nih … prebiotic apaan ya? semacam antibiotik? … bahaya kali ya buat anak kecil. Pake ini aja deh, kayak yang di rumah sakit. Kaleng besar apa kaleng kecil ya. Yang besar hmmm 900 gram. Yang kecil … wah jatuhnya lebih mahal. Eh tapi ntar kalo beli yang besar terus bayinya gak doyan atau salah beli kan malah mbuang yah… hmm beli yang kecil dulu deh.

Akhirnya sampai ke rumah. Di rumah sudah ada Ming, adik Nyonya. Rupanya landing lebih awal daripada jadwal.

“Gimana perjalanan tadi? Lancar?”
“Lancar Hu. Baru pulang toh?”
“Oh iya belanja dikit. Ini beli susu formula sama … oh shit termos nya lupa.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s