Warga Negara Indonesia

Berbekal akte lahir Singapore yang didapat setelah mendaftarkan kelahiran Enjel di Admission KK, Suhu perlu membuat akte lahir versi Indonesia untuk Enjel. Jadi memang syarat yang harus ditempuh itu berliku-liku dan banyak tahapan. Tapi berkat informasi dari para pendahulu Suhu seperti Septian dan suami Dina, Suhu berhasil melalui fase ini dengan relatif tanpa halangan berarti.

Karena berbagai proses memerlukan requirement dokumen dari proses lain, maka petunjuk yang runut dari para papa-papa baru itu membantu papa yang lebih baru. Tugas mulia ini diemban oleh para suami karena alasan yang sederhana. Mengurus berkas dan dokumen resmi adalah hal yang macho bisa kami lakukan. Dalam hidup bahtera rumah tangga, hampir semuanya dikerjakan dengan pembagian tugas.

Terlebih jika hidup merantau di negara yang norma sosial kasta kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Pekerjaan rumah pun harus dibagi berdua antara suami istri. Seperti Suhu dan Nyonya misalnya. Nyonya membersihkan rumah, Suhu buang sampah. Suhu menjemur, Nyonya menyetrika. Nyonya memasak, Suhu makan cuci piring. Tetapi semua berubah sejak negara api menyerang ada anggota baru di keluarga kami.

Hadirnya Enjel telah menggeser porsi pembagian tugas. Kami kini berleha-leha sementara Enjel menyapu mengepel dan memasak. Bahkan sejak sebelum Enjel lahir. Saat masih di dalam kandungan, Nyonya sudah mulai mengeluh punggungnya sakit, kakinya bengkak, pipinya keseleo, pinggang pegal-pegal, panggul cenut-cenut. Sebagai seekor suami yang siaga Suhu mengambil alih beberapa tugas dengan prinsip dasar yang-bisa-suami-kerjakan Suhu kerjakan, sisanya Nyonya.

Suhu mulai dengan yang simpel simpel seperti memasak. Mencuci baju. Menjemur baju. Ngentas jemuran. Sementara Nyonya mengambil bagian pekerjaan yang Suhu tidak bisa melakukan. Mengandung.

Setelah hamil pun tidak jauh berbeda. Hal yang bisa dikerjakan Suhu dan Nyonya, dikerjakan Suhu. Hal yang hanya bisa dikerjakan Nyonya, dikerjakan Nyonya. Misalnya, menyusui. Meskipun beberapa pekerjaan rumah kembali diambil alih Nyonya saat Enjel tidur, misalnya masak dan bersih-bersih, tugas luar seperti mengurus dokumen bayi otomatis menjadi tugas Suhu. Karena kalau Enjel lapar saat Nyonya berada di luar, Suhu tidak bisa menyusui.

Suhu pergi ke Indonesian Embassy atawa Kedutaan Besar Republik Indonesia. Letaknya di Chatsworth Road. Letak KBRI termasuk nylempit dan relatif jauh dari tempat kami. Dari peradaban manusia kasta kami, maksud Suhu. Letaknya ada di tengah-tengah rumah-rumah mewah nempel tanah. Impian fakir seperti kami yang hanya hidup di kotak-kotak di angkasa. Rumah-rumah dengan kebun di halaman depan. Impian perantau endonesa.

Untuk mencapai tempat ini tanpa perlu bersusah payah, transportasi yang dianjurkan adalah Taxi. Keuntungannya bisa sampai tepat di depan pintu KBRI. Kerugiannya adalah biaya yang relatif mahal. Tapi kalau tidak naik taxi, letak KBRI sangat jauh dari MRT. Harus naik bus, itu pun dari bus stop terdekat masih harus berjalan kaki. Suhu ambil jalan tengah. Naik MRT sampai stasiun Redhill. Dari Redhill Station melambai taxi dan turun di tujuan tepat satu langkah di depan KBRI. Alasannya simpel, Nyonya dan Enjel ditinggal sendirian di rumah. Suhu juga was-was meninggalkan Nyonya mengurusi Enjel. Nyonya belum pulih total.

Berbekal petunjuk dari suami Dina, Suhu langsung ke lantai 2. Antri sebentar lalu mendaftar dan memberikan berkas-berkas yang diminta di counter 4. Petugas di loket memberikan serpihan kertas berisi informasi dokumen yang diperlukan untuk aplikasi ini. Untungnya Suhu sudah mengantisipasi dan menyiapkan semuanya dari rumah sehingga proses tidak bertele-tele. Serpihan kertasnya seperti ini, ayo dibaca apa kalian nemu typo nya di mana?

2015-03-20 10.32.22Semuanya berlangsung secara lancar terutama karena Suhu sudah tahu urutan apa yang perlu diurus dan dokumen apa yang perlu disiapkan sebelum berangkat. Perlu diingat bahwa untuk aplikasi Surat Pencatatan Kelahiran di KBRI, Submission atau Pengajuan hanya ada slot pagi saja. Slot paruh hari siang diperuntukkan orang-orang yang mengambil.

2015-03-20 10.31.43Sekitar setengah jam kemudian loket memanggil nama Enjel dan Suhu beranjak dari tempat duduknya. Petugas loket counter 4 memberikan selembar Surat Pencatatan Kelahiran di kertas A4 biasa, tanpa dibubuhi tandatangan resmi. Semacam Draft. Suhu diminta untuk mengecek semua data yang tertera di dokumen tersebut. Setelah Suhu baca dua-tiga kali, Suhu menyatakan semuanya benar.

Petugas meminta Suhu membubuhkan tanda tangan di sudut kiri bawah tanda sudah konfirmasi kebenaran data-data tersebut. Selanjutnya, dokumen itu akan diprint di kertas yang lebih tebal, ditandatangan petinggi KBRI, dilaminating, dan diberikan ke Suhu. Proses ini memakan waktu satu hari dan waktu pengambilan tercepat adalah siang hari kerja berikutnya. Karena collection atau pengambilan adalah slot siang setiap harinya.

“Sudah Bapak. Ini berkas bapak yang asli semua saya kembalikan harap dicek ulang. Surat Pencatatan Kelahirannya bisa diambil hari kerja berikutnya. Datangnya siang ya setelah jam setengah tiga kami buka.”
“Oke. Besok tidak buka ya, Dik? Jadi Senin siang?”
“Betul, Bapak. Senin siang bisa diambil.”
“Wah, saya Senin siang sibuk, Dik. Bayi saya ada jadwal checkup jaundice di posyandu. BIsa disimpan di sini sampai Selasa, gitu?”
“Tidak masalah, Bapak. Bapak bisa ambil suratnya kapan saja setelah hari Senin. Kami akan simpan surat-surat yang tidak diambil.”
“Baiklah, Dik. Saya ambil Selasa saja. Ini harus saya yang ambil atau boleh diwakilkan?”
“Boleh siapa saja, Pak. Asalkan membawa surat tanda terima yang tadi kami berikan. Jangan hilang ya, Pak.”

Suhu mencatat tanggal hari Selasa di kalender hape untuk mengambil dokumen ini. Semuanya dicatat di reminder hape. Biar tidak lupa. Kalau bisa sih diambil Senin biar cepat selesai. Tapi kalau Senin Suhu perlu ke posyandu untuk jaundice checkup Enjel, siapa ya yang bisa diutus untuk mengambil. Lalu Suhu mencari kontak nomer hape untuk telepon sopir kantor. Cek apa sopir kantor sibuk hari Senin depan. Apa bisa disuruh mengambilkan. Hmm… Koq tidak ketemu ya kontak sopir kantor di phonebook hape?

Oh iya. Kan hapenya baru ganti. Bentar, bentar. Cek di hape kantor. Mana ya hape kantor.

Eh iya. Kan udah gak kerja di sana. Kan udah quit waktu mau lahiran Enjel. Bentar, bentar. Cari sopir kantor yang sekarang.

Uh iya. Kan udah gak punya sopir di kantor yang sekarang.

Di situ kadang saya sedih.

Warga Negara Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s