The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s