Two of Everything

Cece Suhu sekarang berdomisili di Taiwan. Cece dalam konteks ini adalah kakak perempuan dalam keluarga Cina, bukan bocah Sunda.

Tidak lama setelah Papa dan Mama Suhu datang ke Singapore untuk menemui cucu pertama, Cece datang dari Taiwan. Tujuannya mulia, reuni keluarga. Menemui Papa dan Mama Suhu, sekaligus menemui ponakan. Ponakan perdana. Dibela-belain datang, meskipun cuti tahunan sudah habis dipakai keliling dunia.

Karena Cece sudah sangat berpengalaman hidup di luar negeri, maka Suhu tidak menjemput di airport. Alasan lainnya tentu karena Suhu malas di rumah sangat sibuk. Berbekal alamat yang sudah diberikan, Cece menemukan rumah Suhu.

Menekan tombol naik di lift lobby rumah susun ini, Cece menanti lift turun dari lantai atas. Bangunan di sini mirip dengan di Taipei. Rumah susun kotak-kotak kasta jelata. Sambil tidak sabar menunggu ketemu ponakan, Cece memencet-mencet tombol panah naik di sebelah pintu lift. Dan juga kebelet pipis.

Di depannya ada seorang bapak berpakaian polo shirt dan celana tiga perempat. Tersenyum sopan. Cece membalas tersenyum. Basa-basi dan etika menunggu lift di kota besar. Senyum. Secukupnya. Sewajarnya. Kalau perlu bercakap-cakap, sesedikit mungkin. Kalau bisa cuma “Halo”. Kalau perlu ngobrol, bahas hal-hal netral seperti cuaca, “Eh mendung ya.” Gitu.

Pintu lift terbuka.

“Mari-mari silahkan!”
“Oh iya. Mari-mari. Terima kasih.”

Masih wajar.

Bapak itu menekan lantai yang dituju. Tombol angka lantai itu menyala merona merah menunjukkan lift akan berhenti di lantai itu. Salah satu etika di lift adalah orang yang paling dekat dengan panel lift akan memencetkan tombol lantai untuk orang lain.

“Lantai berapa?”

Cece tidak menjawab. Cece melihat ke panel. Indikator lantai yang dituju sudah menyala merah dipencet bapak itu tadi. Bapak ini menuju lantai yang sama. Memang dalam satu lantai ada beberapa unit rumah. Bisa jadi bapak ini tetangga Suhu, pikir Cece. Atau mungkin mau berkunjung lihat Enjel, bisa jadi ini teman Suhu. Atau jangan-jangan pria ini menguntit aku, ah tidak mungkin, dia dulu yang pencet tombolnya. Bisa juga dia pencet acak, lalu dia akan mengikuti aku dari belakang saat aku turun. Hening terkesiap.

“Halo? Lantai berapa?”
“Halo. Sama.”

Cece menjawab jujur secara refleks. Makin panik jangan-jangan ini adalah orang jahat. Hidup di Indonesia selama belasan tahun telah merusak kompas moral kita. Semua orang tidak dikenal kita cap berbahaya. Bisa jadi bapak ini maling yang sedang survei lapangan sebelum menggarong nanti malam. Di sisi lain, bapak di dalam lift ini memandang Cece dari atas sampai bawah. Ini bapak ada apa lihat-lihat. Sambil merapal mantra, Cece mengingat-ingat jurus beladiri yang pernah dipelajarinya di internet. Kalau dia maju, pukul jakunnya, dengkul ulu hatinya, ambil dompetnya.

“Ke rumah unit nomer berapa?”

Tanya pria itu sederhana. Pikiran Cece mulai berkecamuk. Ah ini pasti tetangga Suhu. Dia tanya karena wajahku tidak familiar di sini. Dia hanya tetangga yang baik. Cece berusaha menenangkan diri dengan pikiran positif.

“Pojok, Pak.”

Jawab cece sekenanya.

“Lho, pojok kan rumah saya?”

Mampus. Sekarang pria itu curiga Cece yang maling. Cece tidak hilang akal.

“Pojok satunya berarti, Pak.”
“Ooohh … mengunjungi Mister Kwan?”

Hembus nafas lega nyaris terdengar dari Cece. Orang itu menyebut marga kami. Berarti dia kenal. Berarti bukan orang jahat. Syukurlah. Puji Tuhan. Ya Tuhan. Ini lift kapan sampainya?

“Kamu … apanya Mister Kwan?”
“Putrinya.”
“Hah?!?”

Mata pria itu terbelalak, melangkah mundur sedikit tersentak kaget. Kayaknya baru dengar dari tetangga sebelah, Mister Kwan baru punya anak perempuan minggu lalu. Sekarang sudah sebesar ini? Memang kemajuan zaman adalah misteri ilahi.

Sesampainya di rumah baru Cece sadar, bahwa di sini Mister Kwan adalah Suhu. Bukan Papa Suhu.

Two of Everything

Hari ini setelah Cece datang, Enjel pertama kali bertemu dengan Kuku Yin. Kuku adalah sebutan untuk kakak perempuan dari ayah. Yin adalah nama Cece untuk membedakan dari Kuku-Kuku yang lain.

Di foto tersebut di atas, we have two of everything. Dua Mr Kwan, Dua Mrs Kwan, and Dua Ms Kwan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s