Daddy’s Log June 2015

Memasuki usia tiga bulan, Evangeline semakin kuat dan sehat. Suhu dan Nyonya bersyukur setelah periode jaundice, kita tidak pernah dihadapkan ke masalah yang berarti. Berat badannya 4.4kg terletak di 25th percentile dari populasi bayi di Singapura.

Playdate

Evangeline baru dikunjungi Gio. Gio ini putra pertama dari Septian. Septian ini dulu teman Suhu di Ninja Turtles University. Sebagai orang tua yang baik, tentu Suhu ingin memberikan exposure yang baik untuk anaknya. Dengan harapan nanti pinternya menular.

Septian ini salah satu cendekia muda yang terdampar di sini juga. Kalau nama lengkapnya di-Google, yang keluar publikasi-publikasi ilmiah yang mencerminkan kecerdasan intelektualnya. Dan artikel-artikel koran yang menceritakan bagaimana dia menjadi korban sampingan modus penipuan di Bangkok.

Melihat bagaimana Septian dan istrinya memanuver Gio, memberi makan selama kondangan Bejo dan Olip (selamat menempuh hidup baru, mate!), Suhu melihat bahwa ke depannya hidup tidak akan sesusah sekarang. Gio sudah berusia sekitar setahun.

Melihat Gio sudah bisa nurut omongan orangtuanya, dibilangin nggak boleh nggak membantah, Suhu berangan-angan. Setahun lagi. Melihat Septian dan istrinya mengganti popok Gio dalam posisi berdiri. Sementara Evangeline sambil tidur popok dibuka masih lunglai tidak paham apa yang terjadi. This too shall pass.

Tidak ada gunanya membanding-bandingkan. Setiap orangtua pasti punya pandangan dan kesulitan yang berbeda dalam menangani anaknya. Tapi melihat Septian dan Gio, Suhu menjadi tersadar, bahwa tidak selamanya kita harus menebak-nebak apa mau bayi. Suatu hari bayi kita akan tumbuh besar dan masalah yang akan kita hadapi akan berubah pula.

Gio melakukan gerakan kombinasi merangkak dan melata di lantai. Evangeline di gendongan Nyonya mencoba untuk mencakar matanya sendiri. Tanpa berkedip. This too shall pass.

Babywearing

Kami mulai mencoba konsep babywearing. Carrier yang kami beli di Expo jauh-jauh hari, akhirnya mulai menggeser penggunaan stroller. Masih dicoba dalam rumah saja. Evangeline sepertinya mulai paham konsepnya digendong papa dan mama. Tapi kami tidak berani coba lama-lama. Evangeline masih belum bisa duduk. Takut tulang punggungnya belum kuat. Padahal pasangan teladan Dina dan Koka sudah melakukan atraksi akrobat babywearing dengan Kirana sejak usia dini. Tapi bedanya dulu kedua orang tua Kirana mau masuk SMA ada test push-up. Kedua orang tua Evangeline lulus SMA push-up aja masih sulit.

Komunikasi

Evangeline sudah mulai mencoba berkomunikasi. Karena pekerjaan Suhu yang fleksibel, Suhu banyak waktu menjaga bayi di rumah. Evangeline mengamati Suhu dan Nyonya bercakap-cakap dan agaknya paham bahwa dalam berbicara, satu pihak bersuara dan pihak lain diam. Evangeline akan menunggu kita selesai bicara, baru dia akan menjawab. Dengan bahasanya sendiri.

Sejauh ini bunyi-bunyian yang sudah dikeluarkan masih terbatas.

“Enjel mau susu?”

“Hwele”

“Enjel mandi ya”

“Hee. Hieh.”

Seputar tumbuh kembang bayi

Sekarang Evangeline suka cakar-cakar muka waktu tidur. Pagi-pagi sudah berdarah. Papa mama nya yang bingung. Kuku sudah dipotong, sudah dikikir, tetap saja bangun tidur jadi Kenshin Himura. Di sisi lain, entah ini kemampuan bayi atau memang Evangeline mempunyai faktor regenerasi genetik Wolverine, lukanya cepat sembuh, tertutup, dan kulitnya mulus lagi.

Setiap Evangeline mengangkat tangan, karena pose default tangannya masih setengah mengepal, sering kita balas dengan tinju-tinju kecil. Ini adalah sesi pertama kita melatih fist bump. Setelah beberapa kali melakukan ini, sekarang kalau kita sodori kepalan tangan, Evangeline bisa membalas fist bump. Bayi kita sudah bisa berinteraksi. This is fun.

Evangeline sudah mulai menunjukkan beberapa ekspresi. Ekspresi yang paling sering dimunculkan adalah puas atau kenyang atau kekenyangan atau senang. Biasanya muncul setelah [kebanyakan] minum susu. Lalu ekspresi kecewa atau marah atau sedih atau ohgodwhy. Muncul secara random dan kami masih sering bertanya-tanya. Terkadang alasannya sangat tidak masuk akal. Misal: skenario Papa mau mandi, celana Papa diduduki Evangeline. Papa angkat Evangeline, ambil celana, letakkan Evangeline. Evangeline marah. Teriak. Papa angkat Evangeline, kembalikan celana pada tempatnya. Kembalikan Evangeline di atas celana. Evangeline diam. Alasan bayi ini marah hanya nujum ilahi yang tahu.

Nyonya sudah mengenal ekspresi baru. Kita sebut ekspresi guilty atau jijik atau ohtidak. Muncul saat Evangeline pipis atau pup. Intensitas ekspresi ini berbanding lurus dengan bentuk dan konsistensi hasil akhir proses entropi tersebut. Nyonya bisa tahu apakah produk yang dihasilkan lunak atau keras hanya dengan melihat ekspresi Evangeline. Skill yang luar biasa … tidak berguna.

Evangeline sudah upgrade bathtub. Bak mandi pertamanya sebenarnya bukanlah bak mandi bayi. Melainkan bak yang biasanya kita buat rendam kaki abis olahraga lebih kecil. Bukan karena kita tidak punya bak mandi bayi, tapi saat baru lahir, Evangeline terlihat begitu kecil dibandingkan bak mandi nya. Mengisi airnya pun lama, jadi kita pakai bak yang lebih kecil. Tapi sekarang Evangeline sudah tiga bulan dan sudah saatnya pakai bak mandi bayi. Struktur tubuh sudah relatif padat dan begitu dicelup ke air diam menjadi patung. Mungkin takut tenggelam. Kalau dilepas di air tangan langsung pegangan pinggiran bak. Padahal airnya cuman semata kaki.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s