Step 5 (Optional) Permanent Residence

Pasti kalian sudah banyak mengetahui tentang seluk-beluk aplikasi PR. Baik dari website lain, dari perbincangan dengan teman-teman, maupun dengan pengalaman pribadi.

Artikel ini bukan untuk:

  • Orang dewasa yang ke Singapura bekerja lalu apply PR.
  • Tips-tips mendapatkan PR Singapore.
  • Cara mendapatkan status PR Singapore.

Artikel ini sebagai catatan perjalanan bahwa bayi kami dulu pernah apply PR sewaktu masih baru lahir. Yang hendak Suhu catat di artikel ini adalah beberapa tanggal yang mungkin perlu dirujuk di kemudian hari kalau mungkin perlu lagi. Baik itu untuk bayi orang lain, ataupun bayi sendiri yang berikutnya, jika kita dianugerahi bayi lagi. Ini adalah rentetan perjalanan yang akhirnya menuju ke status PR tersebut.

Sekali lagi. Ini catatan pribadi. Mohon maaf jika ini appear gibberish to some of you.

13 Maret 2015 – bayi lahir.

Notification of live birth keluar bersamaan dengan bayinya.

18 Maret 2015 – akte lahir Singapore jadi.

Batas waktunya 14 hari. Kalau telat, karena namanya belum nemu, orang tua nya sibuk entah karena belum pulih atau ada masalah kesehatan dan lain-lain, masih bisa diperpanjang sampai 42 hari. Istilahnya delayed registration. Suhu kurang tahu prosesnya, tapi sebisa mungkin jangan ditunda-tunda. Prosesnya lekas. Kurang dari 10 menit. Itu pun waktu Suhu daftar agak lama karena mencari karakter Mandarin nama bayi dan officer yang jaga shift itu kebetulan tidak bisa bahasa Mandarin. Sudah cepat tapi seharusnya bisa lebih cepat lagi. Bayi tidak perlu dibawa.

20 Maret 2015 – Apply Pencatatan kelahiran di Kedutaan Besar Republik Indonesia

Ini semata-mata untuk bikin paspor. Ini bukan akte lahir Indonesia. Cuma isi form dan fotokopi kelengkapan lalu kumpulkan. Bayi tidak perlu dibawa.

24 Maret 2015 – Apply Paspor

Biar strategis, dilakukan pada hari yang sama dengan ambil surat pencatatan kelahiran. Jadi setelah dapat dokumen pencatatan kelahiran, langsung fotokopi, dipakai buat apply paspor (salah satu syarat). Bayi harus dibawa. Mau foto paspor. Foto paspor jelek nggak apa-apa. Nangis nggak apa-apa. Mata tertutup nggak apa-apa. Staff KBRI pengertian susah bikin bayi usia segini fotojenik.

26 Maret 2015 – Paspor jadi

Ini bukan waktu yang tersingkat dan juga bukan waktu yang terlambat. Yang pasti di antara sela-sela kesibukan new parents dan kurang tidur, ini yang terbaik yang mampu kita lakukan saat itu. Bayi tidak perlu dibawa. Habis ambil paspor, cek ejaan nama bayi. Di halaman berikutnya, ada nama kedua orang tua. Cek ejaan nama kedua orang tua.

28 Maret 2015 – Apply LTVP Online

Isi form online. Upload foto bayi JPEG jepret pake kamera HP.

21 April 2015 – Apply PR ke ICA.

Saat apply ini, izin tinggal diperpanjang sampai 21 July 2015 in view of PR Application in progress. Bayi nggak harus dibawa. Kalau approve baru dibawa. Kalau sudah dibawa waktu apply, waktu approve nggak harus dibawa. Intinya sebelum approval diberikan, ICA mau lihat bayinya. Pertimbangan Suhu, sekarang bayi masih usia 1 bulan, susah dibawa-bawa. Nanti lah kalau sudah approve sudah lebih besar baru dibawa ke ICA. Itu pun belum tentu langsung approve, buat apa susah-susah dibawa sekarang.

24 April 2015 – Jatuh tempo izin tinggal 42 hari dari hari kelahiran Evangeline

Tidak berlaku lagi karena tanggal 21 April 2015 sudah diperpanjang.

30 April 2015 – LTVP in-principle approved

Mungkin sudah di-approve sebelum ini. Tapi karena tidak di-email, harus rajin-rajin cek status nya di website ICA.

16 Juni 2015 – ambil LTVP (appointment)

LTVP sendiri berbentuk seperti sebuah kartu. Bayi harus dibawa. Waktu kita mau ambil kartunya, officer bilang kenapa bayinya wajahnya nggak sama dengan yang ada di foto yang kita submit tanggal 28 Maret 2015. Setelah kita menjelaskan bahwa muka bayi masih berubah-rubah dalam beberapa minggu pertama, perdebatan diakhiri dengan kemenangan officer dan kita pergi ke tukang foto di lantai 4 untuk foto paspor. Susah. Bayi umur segini leher masih belum kuat, jadi digendong dan ditopang tangan papa nya. Hasil fotonya langsung jadi, langsung serahkan ke officer (nggak perlu antri lagi). Dalam waktu kurang dari satu jam kartu LTVP jadi.

21 July 2015 – Jatuh tempo izin tinggal setelah perpanjangan tanggal 21 April 2015

Tidak berlaku lagi karena sudah dapat LTVP.

9 Oktober 2015 – ambil PR (appointment)

Sudah jelas bahwa langkah-langkah di atas sangat ketat dalam jangka waktunya. Kalau kita tidak apply PR dan tidak dapat perpanjangan izin tinggal, tanggal 24 April 2015 bayi kita bakal illegal stay karena LTVP nya baru dapat tanggal 30 April 2015.

Kalau kita tidak apply LTVP, bayi kita bakal illegal stay karena perpanjangan izin tinggal nya cuma sampai 21 April 2015 dan PR baru approved 9 Oktober 2015.

Untuk menghindari illegal stay, kita perlu mengurus perpanjangan izin tinggal di ICA. Cara dan syaratnya Suhu kurang tahu, karena menurut catatan di atas, kita tidak pernah dihadapkan situasi sedemikian rupa. Status illegal stay sangat mungkin terjadi jika:

  1. kita terlalu lambat dalam mengurus dokumen-dokumen syarat dan prasyarat
  2. ICA memakan waktu lebih lama dari perkiraan kita dan izin tinggal kita jatuh tempo duluan.

Untuk pertanyaan to apply or not to apply for PR, semua dikembalikan ke pandangan pribadi masing-masing. Preferensi masing-masing. Begitulah kira-kira. Semoga membantu.

The Guardian Angels

Greetings, mortal!

The name is Evangeline. Let me introduce you to two of my guardians. Among those who are sworn to be my protectors, these two are the ones bestowed upon with the task of fulfilling my every needs. They go by the name of Papa and Mama.

Papa takes the form of an adult man. During the night he takes form of motionless meat. He has a wide-chested build. This obedient warden has the unprecedented strength to suspend my chariot mid air for a prolonged time, with me inside the chariot, whenever our journey is hindered by the obstruction of staircase. He is undeterred by the distraction panicking Mama makes and always makes me land on my feet on my every leap of faith. Every failure leaps. Every morning this tireless laborer disappear out of the dwelling before I rise and shine. Only to leave me to defend this house with Mama.

And Mama. She is the lady with the obsidian eyes. This Goddess always brings prosperity and warmth. She is the deity with untapped depth of skills. Maintaining the cauldron, spotless dwelling, fresh garments, and you name it, basically everything around the household aided with my constant supersonic scream to cheer her up. She also defeats me numerous of times, seizing the advantage of greater size while forcing me to go through the ordeal of changing diapers, sometime with her swiftness, some other time with her sheer endurance.

Her wardrobe is unusual with a lot of different cloaks with weird places for openings, a passage for me to sneak into. Furrowing between the clothes incision, I find my source of  life. The fountain with the eternal flow of the magic potion. The opalescent, watery substance, that is murky white in colour. It smells like me, but tastes like sugar. Upon shoving this elixir to me, my vision often blurs into abyss. At times when my willpower to struggle outlive her supply of this fluid, she will read the incantation to send me to the nether world. Bottomless abyss. Total darkness. Twinkle twinkle little hoahm …

 

I do have other custodians whom I met every so often. They had the opportunity to meet me in person, but most of my interactions with them are in the form of astral projection from The Mesmerizer. They called The Mesmerizer a handphone. Hand phone. What a weird name. This does not look like a hand nor a phone.

They always screamed “Evangeline! Don’t play with the handphone!”. Do you think I want to be enthralled in the hypnotizing rays it emits? I tried very hard to look away. I just can’t. And when I manage to glance away and let go of the grip, Papa is always angry “Why do you throw the handphone? I will not let you play with the handphone anymore.”

Good! Keep it! Do you think I want this?

Often I prove my prowess as a scientist, inventing some pattern in the mystery of life. Like, for example, yesterday I noticed that the water in my bath tub, will change its shape when I put it inside another vessel. The water will take the form of the container. Like the bath tub, the pail, the bottle, my hand, my mouth. And before I could tell Mama about this, he already screamed “Evangeline! That’s not for drinking!”

How would you know that this is not for drinking, Mama? How would you. It does taste a bit horrible. And whenever I speak now a little bubble come out from my nose. But it does not mean it is not for drinking.

Everytime Papa and Mama tell me what not to do, I always try to tell them.

“Let it be. The fabric of fate weaves an endless interconnected pattern, in which we all are just threads. Let it be.”

But the words coming out from my mouth is only “pap-pap-pap-pa … ik-ik .. belek.blek. hihihihi.” They just won’t understand. I’m a prodigy whose mind trapped inside the body of languageless toddler.

I laid the matters before these two. Showed them that water can change shape. That The Mesmerizer can travel as a parabolic function if used as a projectile. That with enough willpower papers can be split into two.

But they won’t listen.

Daddy’s Log August 2016

Memiliki banyak kerabat menjadi tantangan tersendiri bagi seseorang. Terutama jika semua kerabat di tradisi cina memiliki panggilan yang berbeda. Tidak hanya uncle dan aunty seperti orang bule pada umumnya.

Evangeline memiliki seorang paman (adik daripada Nyonya) dan seorang bibi (kakak daripada Suhu). Panggilan untuk adik laki-laki ibu dalam dialek kami adalah “Auk”. Panggilan untuk kakak perempuan ayah dalam bahasa mandarin adalah “Kuku”.

Kadang kami membiasakan Evangeline untuk memanggil mereka lewat video call.

“Ini Auk Ming. Ayo panggil Auk.”

“Ini Kuku Yin. Ayo panggil Kuku.”

Semula Evangeline tidak banyak bereaksi. Tetapi perlahan sekarang Evangeline sudah bisa mengenali beberapa orang yang sering kita video call. Misalnya, Emak dan Engkong (papa mama Nyonya), Yeye dan Nainai (papa mama Suhu).

Kita juga mencoba berbagai kosakata.

“This is Owl. Owl.” *menunjukkan flashcard Burung Hantu

“Auk.”

“This is Dog. Dog barks. Woof woof. Guk guk.” *menunjukkan flashcard Anjing

“Ini siapa? Ayo bilang halo ke Kuku.”

“GUGUK!”

Secara umum Evangeline sudah bisa mulai beberapa kata. Bahasa planet sudah mulai menyerupai bahasa manusia. Beberapa notable words yang masih susah dibedakan oleh papa mama nya adalah.

Koh = Engkong (minta skype sama engkong) atau Corn (minta makan jagung)

Guguk = Anjing (lihat anjing) atau Kuku (lihat bibinya)

Auk = Owl (burung hantu) atau Auk (lihat pamannya)

Nana = Nainai (minta skype sama nainai) atau Celana (minta pakai celana)

Seputar tumbuh kembang

Evangeline sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada mainan Tower of Hanoi. Mainan ini terdiri dari satu tusukan dan banyak donat berbagai ukuran berwarna-warni. Evangeline masih kesulitan untuk mengurutkan donat-donat ini berdasarkan diameternya. Tapi Evangeline sudah bisa memahami kalau urutan yang dimasukkannya itu salah. Tapi masih belum bisa membetulkan. Kalau yang besar di atas yang kecil, dia akan berusaha mengeluarkan donat-donat yang sudah masuk. Mengulangi dari awal. Salah lagi. Ulangi lagi. Sampai bosan. Atau lapar.

IMG-20160716-WA0013

main donat Tower of Hanoi sampai lapar

Evangeline sudah mulai tidur teratur. Berusaha bangun pagi untuk persiapan bulan depan masuk sekolah. Kebiasaan tidur bersama mama perlahan-lahan mulai digeser, papa mencoba mengambil alih jam tidur sementara mama sembunyi di luar kamar. Beberapa malam peralihan banyak kegagalan dan lolongan yang menggemparkan se-RT. Setelah meyakinkan warga bahwa kami tidak mencuri dan menyimpan sirene ambulans di dalam rumah kami, biasanya Evangeline tidur karena kecapekan. Bayangkan. Menangis sampai capek, terus ketiduran. Betapa malangnya nasibmu, nak.

Bulan ini Evangeline belajar untuk bersabar. Mama mengajarkan untuk “wait” dan “be patient”. Papa mengajarkan untuk “lay down” dan “siu sik” (istirahat). Ketergantungan Evangeline terhadap support system (papa dan mama) nampak makin kuat. Saat kita bertiga di kamar, kalau mama beranjak pergi, Evangeline akan menyerukan dengan crescendo “Mama mama mama mama” padahal mama nya cuma pergi pipis sebentar. Kalau papa bergerak “Papa papa papa papa” padahal papanya cuma geser karena posisi berbaring kurang pas. Kalau beneran ditinggal keluar kamar misalnya, teriakan nya akan intensify.

“Mama. Mama! MAMA! mamhaaahaaaaahahahaaaa mhambhaaa ….”

terjemahan bebas: “mama kenapa mama pergi. apa salah ananda, mama? mama aku berjanji tak mengulanginya lagi mama! apa karena aku minum susu terlalu banyak? bukan salahku mama ini genetik dari papa. mamaaa.”

Meraung-raung. Mengais daun pintu yang tertutup. Mencoba semua permutasi dan kombinasi nada yang bisa dicapai dari suku kata Ma-ma dalam berbagai nada. Sampai mama kembali ke kamar.

“Mama! MAMAH! Mama!”

terjemahan bebas: “mama telah kembali! juruslamat telah tiba! gelar permadani! sambut mama! papa! ngapain baringan di sana! pergi! sambut mama!”

Ohmygod. You should have seen her face. Dengan hanya suku kata ma-ma, Evangeline bisa mengekspresikan apa yang hendak dia ungkapkan.

Bulan Agustus bukan bulan yang ramah untuk kehidupan Suhu di kantor. Banyak masalah mulai dari klien yang tidak masuk akal, pasar yang sepi dan lesu, sampai arah karir secara umum. Tapi meskipun banyak gejolak di keruhnya pusaran aliran hidup yang fana ini, semua menjadi jernih saat Suhu membuka pintu depan *cekrek* mendorong daun pintu itu *kriyeeet* dan mendengar ada teriakan dari dalam dan sosok ini berlari kecil sambil berseru “Papa!”

Collage 2016-08-29 09_33_22

 

Video

Meet Axel

Tanggal 16 Agustus 2016, telah lahir Axel, putra pertama dari Alfonso.

Dalam perantauan Suhu di negeri ini, Alfonso adalah salah satu figur Majide Brothers yang paling dekat dengan Suhu, secara geografis. Rumahnya sama-sama di Simei.

Saat pesan singkat kelahiran Axel dikumandangkan melalui dentuman notification Whatsapp, langit terbuka dan burung merpati turun membelah awan group Whatsapp Majide Brothers menanyakan kapan waktu yang paling tepat untuk bertemu dengan Axel.

Andreas beserta istri dan anaknya, Suhu beserta istri dan anaknya, dan Welly (dibutuhkan segera wanita yang mau menjadi istri dan anak yang mau jadi anaknya) datang ke rumah sakit tanggal 17 Agustus 1945 itulah hari kemerdekaan kita hari merdeka nusa dan bangsa 2016.

Alfonso terlihat cukup lelah, sedikit kurang tidur, istrinya terlihat masih memulihkan diri, kurang tidur juga, anaknya terlihat belum bisa apa-apa cuma bisa tidur, menyerap jam tidur kedua orang tuanya.

Welcome to parenthood, Alfonso and Wewoen.

Somehow

Last night my wife asked our daughter.

“Where’s pipi?”

My daughter pointed to her cheek (pipi in our language).

“Papa’s pipi?”

My daughter pointed to my cheek. It continued to nose, teeth, hair, mouth, ears, hands, and toes. She would pointed to hers, then to mine. It might sounds ridiculously simple. But suddenly the problems in office during the day vanished during the night, as my daughter pressing her little fingers on my face.

I remembered several years ago when I was still single, I asked my colleague

“How did you manage full time job and three kids? Isn’t it stressful?”

He replied

“I don’t know. I just did. Somehow.”

When I think I begin to understand more as I ravel deeper into the parenthood conundrum, this morning my colleague asked me “It must be tiring taking care of your active daughter, especially during this office busy period. How did you do it?”

“I don’t know. I just did. Somehow.”

Image

Supper @ Swee Choon

Salah satu Majide brother, Alfonso, mengajak Suhu sekeluarga untuk supper. Setelah menimbang latar belakang dan batasan masalah. Suhu dan Nyonya memutuskan untuk ikut. Biasanya kita supper sekitar midnight. Tapi sejak ada bayi, supper kami digeser lebih awal sekitar jam 8 lebih. Yes. Life after baby will never be the same.

IMG_6153

Evangeline juga mau ikut pesan

Kami pergi ke Swee Choon. Lokasinya ada di Jalan Besar. Iya. Nama jalannya Jalan Besar. Swee Choon adalah tempat di mana Majide brothers pernah supper bersama. Maka tidak salah bagi Suhu untuk mengenalkan Evangeline ke tempat-tempat ini sejak usia dini.

Swee Choon Tim Sum Restaurant 瑞春点心餐厅
183/ 185/ 187/ 189/ 191 Jalan Besar Singapore 208882
Opening Hours: 6pm – 6am (Wed – Mon), Closed Tues

Karena bukan pertama kali ke sana, kami lumayan berpengalaman untuk tahu apa yang dipesan. Beberapa yang Suhu recommend.

  • Mee Suah Kueh
  • Salted Egg Custard Bun
  • Nasi Goreng
  • Mi kuah polos

Suhu yakin ada beberapa menu lain yang orang lain suka meskipun Suhu kurang suka. Seperti misalnya:

  • Pumpkin custard (Nyonya suka)
  • Red bean pancake (Alfonso dan Wewoen suka nampaknya)
  • Ceker ayam (Welly suka)

Tempatnya cukup higienis, buka malam sampai pagi. Cocok buat yang mau main ke Singapore atau sekedar transit singkat. Sekitar 20-25 menit dari Changi Airport kalau naik taxi, 1 jam kalau naik public transport (MRT + Bus).

IMG_6162

“Suksuk Apong, ini kita kemari mau makan atau poto poto?”

Selamat makan!