The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.

Status

On the Job Training

“Sus, saya mau coba sendiri.”
“Betul, Pak. Bapak harus coba sendiri biar nanti bisa.”
“Tapi suster bantu lihat ya.”
“Iya, saya pandu, Pak.”

“Ihik …”

“Sus, koq eeknya item ya?”
“Iya pak, ini yang terakumulasi di dalam perut dia selama sembilan bulan. Namanya meconium. Besok sudah hilang koq, besok warnanya kuning pak. Nggak lengket kayak gini.”
“Ooo … terus yang di mulut ini apa, Sus?”

“Bleehh….”

“Muntah itu, Pak. Saya lap ya … biar nggak masuk lagi.”
“Koq warnanya soklat, Sus. Kan dia cuman minum susu mamanya?”
“Iya, ini waktu keluar, mulutnya kemasukan kotoran, Pak. Habis disusui ibunya, keluar semua. Ini gunanya ASI, Pak. Bisa mengusir hal-hal gak baik di dalam tubuh bayi dan menurunkan antibodi dari mama ke anaknya.”

“Heee….”

“Sus … sus … sus …. eh …”
“Eehh … nak … bapakmu koq kamu pipisi ….”
“Lagi asik cebok koq pipis kamu nak? Dingin ya dicebokin tisu basah?”

20150315 mipisi papa

“Saya ambil alih saja ya Pak, pipisnya dah merambah ke sprei.”
“Waktu dan tempat saya persilakan.”
“Jadi begini pak hapusnya dari atas ke bawah, biar kotorannya nggak masuk saluran kencing.”

“Itu putih-putih kenapa, sus?”
“Kalau bayinya perempuan memang begitu, pak. Ini normal koq. Nggak usah dibersihin.”
“Oooo jadi itu dibiarin aja.”
“Biarin aja, kalau kotor kuning baru dihapus. Bapak mau lanjut make’in popok nya? Ini sudah bersih”
“Boleh sus.”

Croooottt…..

“Heee….”

20150315 neleki papa

 

Can’t Take My Eyes Off You

Suhu dan Nyonya sudah mendiskusikan ini berulang kali.

Setelah bayi lahir, salah satu dari antara kami harus senantiasa bersama bayi selama ada di Rumah Sakit. Dikarenakan Nyonya harus rebah di ranjang pasca persalinan, tugas ini diemban oleh Suhu.

Tidak boleh lepas dari pandangan mata. Satu detik pun.

Alasannya simpel. Jangan sampai tertukar.

Jangan ketawa dulu. Mulai dari orang yang membicarakan kemustahilan kasus tertukar. Suhu tahu bahwa healthcare negara ini sangat luar biasa, law by law, disiplin, dan sistematis. Suhu tahu bahwa untuk fakta bayi tertukar, harus ada bayi lain yang siap tertukar. Suhu tahu bahwa meskipun Suhu tidak paranoid bayinya bisa tertukar, masih harus disertai keteledoran orang tua lain agar bayi bisa tertukar.

Tapi Suhu juga tahu bahwa KK Hospital adalah Rumah Sakit Bersalin terbesar di sini. Suhu juga tahu bahwa terkadang manusia bisa alpa akan tugasnya. Suhu memahami orang tua lain bisa lelah dan lengah. Dan yang terpenting, Suhu tahu bahwa ini pernah terjadi.

Maka dari itu, sejak proses kelahiran Friday the 13th, Suhu tidak pernah lepas dari putrinya. Bayi itu lahir penuh lendir dan darah digendong oleh dokter Han. Ditunjukkan kepada Nyonya.

“Boy or Girl?”

Nyonya masih dalam pengaruh obat bius, tidak bisa menjawab pertanyaan dokter Han. Nyonya hanya tersenyum putrinya telah lahir dengan selamat. Nyonya berteriak sekuat tenaga saat last push yang mengantarkan bayi ini menyambut dunia baru. Tapi sekuat-kuatnya Nyonya berteriak kesakitan, teriaknya tertutup lantang jerit si bayi.

“OWEKK!!!!”

Penuh dengan staff kedokteran di ruang persalinan, Suhu tidak bisa menuju ke meja timbang bayi. Suhu hanya melihat dari kejauhan dan memastikan bayi itu tidak lepas dari line-of-sight.

Untungnya KK Hospital sangat mendukung rooming in. Seperti quote mereka:

“Rooming-in” helps parents to bond with their newborn babies and learn baby’s habits, likes and dislikes. More importantly, it provides a good opportunity for parents to learn how to care for the baby, so that they can tap on the vast experience of the hospital’s nurses while still in their care at the hospital.

pada website maternity KK Hospital berikut.

Jadi bayi tidak pernah terpisah dari kami. Setelah lahir, dibersihkan, ditimbang, suster jaga memberikan bayi ini kepada Suhu. Agar dia lebih leluasa mengurus Nyonya yang kondisinya sangat kritis di ambang antara sadar dan tidak.

Dokter anak menjelaskan pada Suhu tentang APGAR score pada bayi. Sembari mendengarkan penjelasan, Suhu dengan hati-hati memutar-mutar bayi ini. Selain mencari posisi yang nyaman untuk kedua belah pihak, Suhu mencari sesuatu. User’s Guide dan Manual. Tanda lahir. Ciri-ciri.

Sangat sulit untuk berkonsentrasi. Bayangkan saja. Penjelasan dokter dengan bahasa yang tidak sepenuhnya Suhu kuasai, jerit tangis bayi yang baru lahir, keluh kesah Nyonya karena masih kesakitan, suara degup-degup dari monitoring yang ditempelkan ke badan Nyonya, berbagai bunyi beep dari mesin bagaikan sensor audio untuk acara televisi bernuansa Bimbingan Orang Tua.

Setelah kondisi Nyonya lebih stabil, Suster jaga memberikan penjelasan sebuah kotak sakti. Dalam kotak ini ada tiga gadget. Satu berupa gelang besar. Satu berupa gelang kecil. Satu berupa kotak. Suster memperagakan cara memakai gadget ini sambil mengambil bayi dari tangan Suhu. Gelang kecil disematkan di kaki bayi, sambil menginstruksikan Nyonya untuk memakai gelang besar di tangannya.

Suster jaga memberikan bayi ke raih pelukan Nyonya. Bagaikan keajaiban, langit terbelah dan merpati beterbangan lalu terdengar suara Suhu “engkaulah anakku yang kukasihi” ….  Bagaikan keajaiban, terdengar lagu. Jadi antara gelang kecil dan gelang besar itu kalau bertemu dalam radius tertentu, akan terdengar sebuah lagu anak-anak.

Bukan sulap bukan sihir, suster menempelkan gadget terakhir disebuah kotak seperti aquarium beroda. Lalu Suster mengambil bayi dari Nyonya dan diletakkan di dalam aquarium beroda beralaskan matras. Lagu itu terdengar lagi. Di aquarium itu sudah tertulis identitas Nyonya. Suster menjelaskan bahwa ini adalah cara untuk mengetahui bayi mana pasangan mamanya yang mana.

Lalu suster menjelaskan tentang berbagai test yang akan dijalani bayi pada masa-masa pertama kelahirannya. APGAR score sudah diperoleh langsung saat lahiran, berikutnya bayi kita akan menjalani hearing test. Lalu kami diberi sebuah tabel jadwal vaksinasi, di antara vaksinasi beruntun sampai bayi berusia dua tahun, ada dua vaksinasi wajib yang harus dilakukan semasa bayi ini belum keluar dari Rumah Sakit yakni imunisasi BCG dan Hepatitis B tahap 1. Selain itu bayi akan dicek jaundice test, kalau semua OK, bayi boleh keluar rumah sakit dengan gembira.

20150313 BCG

20150313 HepBD1

Sejak masuk ke delivery ward kamis malam, hingga hari Sabtu pagi, Suhu hanya tidur beberapa jam. Dan karena tidur beberapa jam itu pun terbangun-bangun, istirahat efektif hanya beberapa menit. Pada saat-saat ini, Suhu merasakan bahwa segala sesuatu yang dulu telah ditempuh Suhu, mempersiapkan dirinya for this moment. Begadang beruntun untuk menyelesaikan efwaipi alias skripsi di tahun terakhir studi Ninja Turtles University, kuliah malam paruh waktu sembari ngecor di lapangan. Rasa kantuk sudah bukan musuh, ialah sahabat di kala ku sendiri.

Lack of SleepDengan downtime sangat rendah, Nyonya terkapar pasca lahiran, bayi yang teriaknya lantang berkumandang, tidur menjadi hal yang mustahil untuk Suhu. Tapi di balik semua lelah yang merayap di sudut mata ini, Suhu mengambil hikmahnya dan bersyukur. Dengan tidak tidur, Suhu jadi tahu bagaimana seorang manusia datang di dunia. Suhu jadi tahu tentang test-test yang akan dijalani bayi. Suhu jadi tahu penderitaan seorang ibu yang melahirkan anaknya, bukan hanya sembilan mengandung, tapi juga lelah dan perih pasca lahiran.

Suhu witnesses everything because, after all, Suhu can’t take his eyes off you.

Status

Cegukan

“Gimana ini? Gimana?”
“Gak tau. Aku juga gak tau! Oh aku tau. Pencet red button!”
“Oh iya. Mana? Mana? Pencet! Pencet!”

Teeet …. teeet …

“Ada apa, bu, pak?”
“Sus, anak saya … anak saya …”

“Hik ….”

“Kenapa bu anaknya?”
“Anak saya cegukan sus abis minum susu … apa karena tadi saya ngasihnya terlalu banyak ya, atau terlalu cepat, atau tadi gak sempat di-burp … ini gimana sus?”

“Hik ….”

“Bapak ibu kalau cegukan biasanya diapain?”
“Eh … dibiarin nanti hilang-hilang sendiri.”
“Ya bayi juga sama, bu.”
“Jadi nggak apa-apa ini?”

“Hik ….”

“Nggak apa-apa, bu. Ini normal. Ada keperluan lain? Kalau nggak ada saya tinggal dulu ya.”

“Hik ….”

“Kalau setahuku cegukan biasanya dikageti sembuh.”
“Hik …”
“cii … luk … BHUAHAHAHAHA…..”
“OWEWEWEWEEEKKK!!!!”

20150314 cegukan

“Hik ….”

Information Overload

> Pama HP
pigi k rumkit, Ny sakit perut.

< Pama HP
BAIKLAH…HATI-HATI DI JALAN…

> Ming HP
Ming, urusan tiket e mama wes beres?

< Ming HP
Lho sido e berangkat kapan?

> Ming HP
Sek ndak tau, ini mau ke rumah sakit perutku sakit. Ntik lek wes pasti takkabari lagi.

< Ming HP
Oke.

——————–

> Ming HP
Aku wes admitted. Ternyata wes bukaan 3. Pantesan sakit e ndak karu2an.

< Ming HP
Oh sip. Aku tak ngurus tiket e mama lek gitu.

> Ming HP
Iya. Aku tak telpon ngabari mama. Sepi nde sini dewekan.

< Ming HP
Lho koq sepi, Suhu ndek mana? Ndak ikut?

> Ming HP
Suhu pulang. Dipikir e tadi mek checkup biasa, gak mbawak barang apa2.

< Ming HP
Oalah. Ini Suhu pulang ngambil barang terus balik lagi gitu?

> Ming HP
Iya. Bolak balik ke RS kapan hari dikira lahiran, pas beneran lahiran ndak mbawak barang. Hahaha…

——————–

> Pama HP
kayak e sungguan.

< Pama HP
BAIKLAH… SAMPAIKAN DUKUNGAN KAMI…

> Pama HP
ntik taksampekno. skrg dlm prjlnn plg k rmh. balik ambil brg2 tadi dtinggal krn ndak ngira lahiran hari ini.

< Pama HP
BAIKLAH… HATI-HATI DI JALAN…

—————-

> Nyonya HP
eh ini cumak nyamber koper tok to ya? ada perlu apa lagi?

< Nyonya HP
Ambilno MP3 player ku lagi dicharge ndek sebelah komputer. Kamu bawa o biskuit buat cemilan lek mau.

> Nyonya HP
d dapur sek ada nasi mbek tadi aku masak telor dadar. kmu mau?

< Nyonya HP
Ndak wes kamu cepetan balek sini ae. Aku takut dewean. Mau epidural kata e dokter jaga e.

> Nyonya HP
ok. ini aku ambil koper, biskuit, n registrasi e rumkit tok ya.

< Nyonya HP
MP3!

> Nyonya HP
n mp3.

——————–

> Pama HP
wes mbalek rumkit. marigini mulai bius epidural. bakal mati rasa perut ke bawah.

> Ming HP
Ming, ini wes mau mulai jadi bilango mama lek mau nyari aku message ke HP e Suhu ya.

——————–

> Ming2 HP Indo
wes mari epidural. cecemu saiki wes isa ngguyu2. tadi kayake kesakitan. mari bius jleb lgsg isa ketawa.

< Ming2 HP Indo
Bilangno ceceku tiket e wes beli buat mama. Itinerary e wes tak-email.

> Ming2 HP Indo
yo ntik taksampekno. cecemu sek berusaha tidur.

< Ming2 HP Indo
Lho sek isa tidur? Bukan e mau lahiran?

> Ming2 HP Indo
sek suwe proses e berjam-jam. ini terakhir cek sek bukaan 4. paling2 lahir e ya besok.

< Ming HP Indo
O gitu. Ya wes takdoano lancar. Kamu ya nginep rumah sakit Hu?

> Ming2 HP Indo
nginep e iya. tidur e si ndak. ini tiap sakjam sekali ada suster e masuk2 kamar. bawa es batu ditempel2no kaki cecemu. ditanya2i krasa dingin apa ndak.

< Ming2 HP Indo
Heh? Buat apa?

> Ming2 HP Indo
rasa e buat ngecek bius e berfungsi apa ndak. tiap jam keluar masuk kamar aku kebribenan ndak iso tidur. kmu tidur o sek wes, wes malem to ini ndek sana.

< Ming2 HP Indo
Yo ini wes mau e tidur. Good nite

> Ming2 HP Indo
gnite.

——————–

< Pama HP
SORI BARU BALES… KARENA PAPA MAMA SUDAH TIDUR KEMARIN… BAGAIMANA PERKEMBANGANNYA?

> Pama HP
lancar. wes dibius. skrg wes isa ngguyu2 gak kesakitan kyk kmrn. kmrn mari nganter Ny k rumkit aku balik diluk ambil brg2 terus mberesi admin e rs. wes byr jg gesek credit card. Ny skrg lg tidur. trakhir cek wes bukaan 4 bbrp jam lalu.

< [unknown number]
Halo

< Pama HP
KENAPA PAKAI CREDIT CARD?? UANGNYA TIDAK CUKUP?? JANGAN SERING PAKAI CREDIT CARD TIDAK BAIK… LAHIRANNYA SEMUA LANCAR??

> Pama HP
lancar. ntik aku kbr i lg. aku sek usaha tidur. semalem gak tidur.

< Pama HP
BAIKLAH… TIDUR YANG CUKUP… HARI MASIH PANJANG… KABARI PAPA MAMA KALAU ADA PERKEMBANGAN

——————–

< [unknown number]
Halo

——————–

< [unknwon number]
Halo ini Suhu ya?

> [unknown number]
iya ini sapa ya?

< Mama HP
Nik Mama ngontak Suhu koq kayak e salah orang ya? Apa Suhu ndak tau nomer e Mama ya?

< [unknown number]
Katane Ming disuruh message ke nomer ini lek nomer satu e gak dibales soal e wes ndak pegang hape.

[unknown number] saved as Mertua HP

> Mertua HP
oh halo ma. ini baru dblgi lek mama bakal nyari d nomer ini.

< Mama HP
Sudah nik. Suhu sudah mbales Mama.

< Mertua HP
O ndak ada apa2. Cuma mau mbilangi, kalo bisa jangan pakai epidural. Karena epidural itu banyak efek negatifnya. Dulu mama lahirno anak dua juga ndak pake epidural.

> Mertua HP
iya … tapi dah terlanjur diepidural. kayak e enakan abis dibius. ini baru dicek suda bukaan 7. mama siap2 packing berangkat sinijuga ya.

< Mertua HP
Iya ini sudah siap berangkat.

——————–

> Pama HP
ini dokter e baru dateng. bentar lagi.

> Mertua HP
ini dokter e baru dateng. bentar lagi.

< Pama HP
HAH?? DARI KEMARIN TIDAK ADA DOKTERNYA?? KENAPA TERLAMBAT??

> Pama HP
bukan, bukan gak ada dr. kmrn kan kita masuk e tengah malem, cuma ada dokter jaga shift malem. ada lengkap koq, mulai dari anestesis, suster, dokter dll. yg bru dtg itu dr han, gineklog langganan e kita. ben lbih enak, kan dr han yg cek Ny dari awal.

< Mertua HP
Sudah bukaan berapa?

> Mertua HP
ndak tau belum dicek. tapi grafik e mesin yg nyatet kontraksi dah reguler dan semenit2 rutin.

< Pama HP
BAIKLAH… JAGA BAIK-BAIK ISTRIMU… SEMOGA SUKSES…

——————–

< Mertua HP
Sudah lahir?

< Pama HP
BAGAIMANA?? LAHIR??

——————–

< Mertua HP
Halo?

< [unknown number]
Halo?

——————–

20150313 Born

> Mertua HP
lahir.

> Pama HP
lahir.

< Pama HP
SELAMAT… IBU ANAK SEHAT SEMUA??

> Pama HP
sehat. perempuan.

< Mertua HP
beratnya berapa? panjangnya berapa? kirim foto

——————–

You have 9 Missed Calls from Mertua HP
You have 1 Missed Call from [unknown number]

——————–

< [unknown number]
Pesanku kok nggak dibalas.

> [unknown number]
ini sapa?

> Mertua HP
ndak tau lupa tadi timbang ukur aku ndak ikut.

< Mertua HP
Mamanya sehat?

——————–

You have 5 Missed Calls from Mertua HP

——————–

> Mertua HP
sori baru bales. ketiduran. sehat. semua sehat.

——————–

Pama HP saved as Ngkongmak HP
Mertua HP saved as Emak HP
[unknown number] saved as Ngkong HP
Ming2 HP Indo saved as Auk Ming HP