Posyandu

Waktu Suhu kecil, ada sebuah lagu yang sering diputar di televisi. Nampaknya semacam iklan layanan masyarakat dengan subliminal message percobaan cuci otak anak-anak senusantara. Begini lagunya.

Aku anak sehat tubuhku kuat
karena ibuku rajin dan cermat
semasa aku bayi selalu diberi ASI
makanan bergizi dan imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare ibu slalu waspada
pertolongan Oralit slalu siap sedia

Ini lagu sudah mulai beberapa dasawarsa silam, dan masih terngiang di telinga Suhu. Proses cuci otak berhasil.

Setelah keluar dari rumah sakit kami memang punya pengalaman buruk dengan poliklinik, saat pertama kali ke sini Enjel sudah divonis jaundice. Tempat yang mestinya sangat friendly karena doktrinasi sejak dini, telah menjadi momok. Sayangnya kita harus tetap ke sini untuk kontrol level bilirubin Enjel guna memastikan tidak terlalu tinggi dan merusak saraf. Kalau nilainya mencapai ambang batas, God forbid, Enjel harus masuk ke Emergency di rumah sakit lagi.

Posyandu di sini ya poliklinik-poliklinik yang tersebar di seluruh daerah dan pelosok. Mereka kompeten dan memang dari rumah sakit bersalin menganjurkan kita ke poliklinik untuk melakukan kontrol reguler berkala bayi kita. Poliklinik juga memberikan jasa imunisasi dan dokter jaga yang meskipun bukan dokter anak, tapi niscaya cukup pengetahuannya untuk kasus-kasus umum pada bayi. Jika memang dirasa bermasalah, tentunya akan dirujuk ke dokter spesialis anak atau rumah sakit anak yang tak lain tak bukan adalah rumah sakit bersalin tempat Enjel lahir. Rumah sakit bersalin dan rumah sakit anak nya satu alamat, beda tower.

Singkatnya, jadilah kita sepasang bapak ibu muda pagi-pagi pergi ke Posyandu untuk mengecek tingkat bilirubin Enjel. Dari Dina, teman Suhu yang sekarang sudah pelanggan poliklinik berpengalaman (karena anaknya sudah imunisasi teratur), kita tahu bahwa ternyata tiap poliklinik prosedurnya beda. Tapi secara garis besar proses di poliklinik adalah sebagai berikut.

1. Antri untuk ambil nomer antrian.

Iya. Tidak salah tulis. Di negara yang serba antri dan tidak bisa main serobot, kita bahkan harus antri untuk ambil nomer antrian. Ini sudah Suhu fast forward prosedur di posyandu. Kalau mau dihitung dari berangkat kita juga sudah ngantri bus, kereta, atau taxi. Pas mau bayar baru sadar keabisan duit, terus mesti antri ATM. Belum lagi  sebelum berangkat mau pup mesti antri toilet di rumah sendiri. Ekstrim. Untuk mempersingkat kita langsung ke kondisi sudah di posyandu.

Jadi setelah masuk poliklinik ada semacam mesin dengan layar sentuh untuk kita pencet kunjungan kita kali ini ngapain. Mau check up. Mau ketemu dokter karena sakit. Mau kenalan sama suster. Pilihannya banyak. Jadi kita ngantri bukan cuma dengan sesama bayi. Ada orang dewasa antri mau periksa dokter, karyawan antri mau check up buat memperpanjang asuransi kesehatan, engkong-engkong antri karena dikira ada bagi sembako gratis, segala macam orang ada di antrian ini.

Panjang pendeknya antrian sangat bervariatif tergantung jam kita datang. Kalau kita datang pagi, relatif ramai karena banyak orang usia separuh baya yang berusaha datang pagi biar tidak perlu cuti. Mungkin cuma checkup atau nebus obat. Siangan sedikit agak sepi. Kalau sore pas mau tutup sudah rame lagi, karena orang-orang yang bolos dan tidur seharian belum punya surat dokter dan buru-buru kemari cari rujukan buat izin sakit.

2. Antri untuk dialokasikan.

Biasanya antrian untuk ambil nomer antri ini, Enjel nggak perlu ikut antri. Kadang Suhu yang antri, Nyonya bawa Enjel jalan-jalan. Atau sebaliknya. Yang berikutnya ini, setelah kita dapet slip nomer dari kertas licin-licin tinta agak buram-buram seperti print-print an faximili. Ada monitor-monitor LCD bertebaran yang menunjukkan nomer yang ada di slip nomer yang kita dapet dari antrian pertama tadi. Informasi di layar LCD sangat sederhana, nomer sekian counter sekian.

Tiap kali ada nomer muncul ada suara keras TUNG! untuk mencegah orang yang nunggu antrian tahu bahwa ada nomer berikutnya yang dipanggil. Sayangnya suara TUNG! tadi sangatlah TUNG! sering TUNG! karena memang proses pelayanan TUNG! di sini sangatlah TUNG! TUNG! efisien dan counternya ada cukup banyak untuk melayani publik.

Setelah nomer kami tampak di layar, Nyonya pergi ke loket menunjukkan slip nomer ke petugas counter. Jelaskan maksud dan tujuan kemari. Untuk tahap ini selalu Nyonya yang turun tangan karena Suhu beberapa hal. Petugas counter selalu memberi cerdas cermat. Minta nama bayi, tanggal lahir, nomer akte lahir, nomer kartu pelanggan, nama orang tua, nomer KTP orang tua, nomer kontak orang tua, orang yang bisa dihubungi saat orang tua tidak hadir, delapan mendatar hewan yang bisa hidup di air dan di darat. Eh ternyata petugas counternya lagi main Teka Teki Silang.

Yang nyebelin, kalau kita jawabnya telat sepersekian detik saja petugas counter nya ada aura sewot. Seolah mau ngomong “kerjaanku banyak, kenapa kamu gak hafalin nomer seri akte lahir anakmu?”. Sedangkan Suhu, punya keterbatasan otak untuk mengingat informasi semacam ini, apalagi saat perlu mengingat informasi ini dari bekgron ada gangguan suara-suara TUNG! TUNG! TUNG!

Dari tahap ini kita akan diberi sebuah rujukan untuk pergi ke ruangan yang perlu kita tuju. Untuk Enjel karena tujuannya cek baby jaundice, kita perlu ke Lab untuk ambil darah, lalu ke dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil Lab. Kita akan diberi dua nomer. Satu untuk tahu Lab yang mana. Satu lagi untuk tahu dokter yang mana.

3. Antri Lab.

Sedikit berbeda dengan proses serba komputerisasi di counter bawah tadi, lab darah di lantai 2 terlihat lebih tradisional. Paling tradisional dibanding lab-lab sebelahnya seperti lab radiologi, Xray, dan nama-nama yang Suhu kurang familiar. Lab darah juga punya layar monitor LCD. Isinya nomer kita yang tampil berurutan, dan lajur sebelahnya bilik mana untuk ambil darah. Tapi tidak ada bunyi TUNG! yang mengganggu.

“Pee Zero One Nine! PEE ZERO ONE NINE!”

Lebih parah. Susternya yang di counter bakal teriak nomer yang mesti masuk bilik tapi pasiennya belum datang. Suhu mengamati dan menyimpulkan, suster yang di counter ini job scope nya sangat unik. Dia bakal lihat empat bilik lab darah setiap saat. Kalau dia melihat ada yang kosong, misalnya bilik B tidak ada pasien, dia akan lihat layar monitor, dan cek nomer berapa yang mestinya masuk bilik B. Lalu dia teriak.

“PEE ZERO ONE NINE!”

Maka orang yang memegang tiket P019 akan lari tunggang langgang masuk ke bilik B. Orang lain yang tidak punya nomer serupa juga pasti akan dobel cek dan berharap nomernya tidak tiba-tiba berubah menjadi P019.

Sesekali Suhu melihat ada orang yang memegang slip nomer ke suster itu. Suster itu dengan suara lantang akan bilang “Kalau antri itu jangan jauh-jauh, saya tadi sudah panggil nomermu berkali-kali, nomermu sudah lewat.” entah karena volum suara dia sudah tidak bisa dikontrol atau memang dia exercise public shaming.

Kalau sudah sampai antrian ini, Suhu dan Nyonya mau pergi pipis saja takut. Takut kelewatan nomernya dan dimarahi. Waktu Enjel pup juga kita buru-buru mau ganti popoknya Enjel langsung meronta heboh seolah bilang “Sudah Pa sudah Ma nanti saja, kita nanti dimarahi suster galak kalau nomer kita kelewatan. Biarlah aku jijik-jijik dikit gak pa pa”

2015-03-21 10.04.27

Enjel ke posyandu, di bekgron ada guide urutan antrian

Setelah nomer kita dipanggil dan masuk bilik, Enjel bakal dicocok jarum di tumit telapak kakinya. Katanya karena bagian ini paling tidak sensitif, tidak sakit, dan tidak terasa. Kata suster yang mencocok kaki Enjel, bukan kata Enjel. Saat dicoblos, Enjel meraung HUWAAA!!! yang kira-kira artinya “Gak sensitif mbahmu!!!!” Darah menetes dari telapak kaki Enjel, ditampung tabung kecil. Air mata mengalir dari pipi Nyonya ditampung tisu.

Lalu kita semua digiring keluar, karena suster galak sudah mulai manggil-manggil nomer berikutnya untuk masuk bilik kita. Hasil lab akan keluar secara singkat kalau tidak real time, tergantung jenis test nya. Untuk cek bilirubin kali ini sekitar 15 menit. Setelah 15 menit berlalu, akan ada suster kecil dengan suara melengking keluar dari dalam lab dan meneriakkan nama pasien. Suster kecil dengan suara melengking ini punya keahlian khusus. Dia bisa membuat semua nama terdengar seperti nama cina. Dari aksennya, cara dia memisah suku kata, penekanan intonasi, orang India garang besar dia panggil Siao Mi Mi juga berdiri ngambil hasil lab.

4. Antri Dokter.

Karena punya keyakinan kita agak jiong sama dokter Milton di pengalaman pertama ke Posyandu, kita coba dokter lain. Bisa rikues dokter di antrian step 2, meskipun belum tentu rikues kita terpenuhi. Akhirnya kita dapet antrian dokter Wong. Waktu itu kita milihnya juga random, Suhu sih mikirnya kalau marga Wong kan pasti keturunan tabib terkenal. Wong Fei Hung. Pinginnya sih dokternya konsisten biar bisa mengikuti kronologi pertumbuhan Enjel sampai kanak-kanak nanti.

Antriannya persis seperti antrian dokter swasta di Indonesia. Kursi-kursi keras. Orang sakit jajar-jajar. Ada tivi di pojok ruangan, tapi yang ini gak nayangin sinetron, cuma putar-putar iklan layanan masyarakat, acara kesehatan, sama iklan obat-obatan. Lalu di depan pintu ada layar LCD yang cuma menunjukkan satu nomer. Nomer antrian kita.

Dari semua antrian ini yang Suhu paling nggak demen. Ya mungkin bisa dibilang overprotective parents, tapi kalau ada orang batuk-batuk ke arah bayiku dan mulutnya gak ditutupi, kadang Suhu pingin nendang, terus nginjek mukanya, goser goser di lantai kayak matiin puntung rokok di asbak pingin marah sendiri. Ruang antrinya relatif luas tapi memang share dua dokter satu ruang tunggu. Di poliklinik Tampines tempat kami pergi ini dokter jaga nya ada sekitar sebelas dua belas tapi yang praktek gantian mungkin sekitar delapan dokter yang selalu aktif.

Dokter Wong ternyata perempuan. Entah kenapa Suhu lebih senang dokter anak itu perempuan. Meskipun Suhu tahu Dokter Wong cuma dokter biasa, tapi untuk checkup kontrol Enjel Suhu anggap dokter nya dokter anak lah. Jauh dalam sanubari Suhu juga melakukan stereotyping bahwa dokter anak itu perempuan, dokter bedah itu laki-laki, dokter spesialis kulit dan kelamin itu waktu SMA sembunyi-sembunyi baca buku porno, dan dokter bius itu psikopat. Entah pendidikan macam apa yang dikenyam Suhu sampai membuat generalisasi peyorasi macam ini.

Dokter Wong akan melihat-lihat kondisi Enjel. Kulit. Mata. Stetoskop. Lalu membaca hasil Lab. Hasil lab nya hanya berupa angka. Sekitar ratusan. Lalu dokter Wong akan mengetik angka itu ke komputernya, membuka tabel rujukan. Lalu berkata pada kami. “Nilainya sudah menurun secara konsisten, tapi masih lebih tinggi dari ambang yang harus dipenuhi. Keep doing what you’re doing, kalian sudah melakukannya dengan benar, tapi tetap harus cek kemari dua hari lagi.”

Suhu sangat enggan membawa Enjel ke posyandu. Tentunya karena exposure berkepanjangan di tempat orang-orang sakit berobat. Tubuhnya masih sangat kecil dan ringkih. Antibodinya juga belum sempurna. Tapi harus pergi ke medan laga seperti ini. Apa boleh buat. Semakin turun nilai bilirubin , Enjel boleh semakin jarang kontrol. Dua hari itu karena nilainya masih tinggi. Kalau nilai nya hanya sedikit melebihi batas, bisa kontrol minggu depan. Kalau di bawah batas, sudah tidak perlu kontrol lagi.

5. Antri bayar.

Dengan berat hati kami pun melangkah kembali ke lantai 1. Dentuman TUNG! TUNG! sudah tidak seberapa terdengar tertutup kegelisahan kami. Kenapa Enjel masih jaundice. Yang menambah kepedihan kami adalah sekarang kami harus pergi kasir untuk bayar. Dan itu pun harus antri.

Untuk warga negara setempat dan permanent residence, kita bisa menggunakan Medisave kami untuk membayar beberapa jenis tagihan. Ada kategori-kategori di mana Medisave orang tua kandung bisa dipakai untuk membayar tagihan bayi.  Biasanya yang seperti imunisasi wajib. Informasi detail nya bisa dicek di posyandu terkait karena prosedurnya tiap cabang berbeda. Untuk poliklinik Tampines cukup perlu pertama kali register menyatakan ini bayi kami dan dicek Akte Lahir dan dokumen bersangkutan, lain kali hanya cukup sebut nama orang tua dan tagihan yang eligible langsung dipotong ke Medisave kami.

Jadi, seperti yang sudah Suhu post di entry ini. Penting untuk para suami untuk survey poliklinik terdekat. Terutama lokasi dan cara efektif untuk ke sana. Apakah dengan bus, jalan kaki, atau taxi? Berapa jaraknya perlu waktu berapa untuk ditempuh. Semua informasi sangat signifikan dan sebaiknya disiapkan sejak dini.

Final Checkup

Memasuki minggu ke 39, tanggal 9 Maret 2015 Nyonya diperiksa checkup rutin untuk terakhir kalinya. Dokter Han sudah mengestimasi tanggal lahir pada minggu ke 40 yaitu minggu depan.

Kondisi Nyonya sudah sangat campur aduk. Tentu saja gembira, karena keluarga kami akan menambah anggota eksklusif. Ada sedikit takut, apakah kita akan menjadi orang tua yang baik. Ada banyak waswas, apakah prosesnya akan penuh sakit dan siksa. Ada kebingungan, karena masih banyak hal yang belum jelas cara menyikapinya. Salah satu hal itu adalah kapan bayi ini lahir.

Menyikapi kapan bayi ini lahir?

Benul.

Berdasarkan estimasi Dokter Han, minggu depan tanggal 14 Maret saat checkup itu sudah jatuh tempo. Sepanjang pengetahuan Suhu, orang-orang biasanya bilang ada bayi prematur kecil karena lahir lebih awal dari jadwal orang sekampung panik karena belum siap tapi bayinya sudah keluar duluan. Jadi menurut Suhu bayi lahir lebih telat tentu lebih gemuk lebih sehat lebih hore.

Ternyata Suhu salah. Setelah melewati masa tertentu yaitu minggu ke 40 tadi, bayi di dalam perut ibu sudah menyempurnakan organ-organ pencernaan. Dengan sendirinya, bayi tersebut akan memfungsikan organ-organ tersebut meskipun masih di dalam perut ibu. Singkatnya, bayi akan pup pret di dalam perut ibu. Lalu renang-renang sama tainya sendiri.

Final CheckupUntuk mencegah hal tersebut, renang-renang di tainya sendiri, menghirup tainya sendiri, kelilipan pipis, dan sebagainya. Bayi harus diinduksi. Induksi ini istilah keren lahir paksa yang Suhu baru tahu juga. Dokter Han memberikan opsi untuk kita, Suhu dan Nyonya disuruh memilih hari untuk melahirkan kalau tanggal 14 masih belum lahir juga.

Untuk Suhu sebenarnya pilihan ini cukup melegakan. Mengingat, Suhu suaminya. Nggak ikut kontraksi nggak ikut sakit. Segala sesuatu yang lebih pasti, lebih nyaman. Apalagi Suhu dan Nyonya sudah kecele tiga kali ke Rumah Sakit Bersalin, tapi belum lahiran juga. Dengan final checkup ini total empat kali. Hampir semua fenomena tanda-tanda kelahiran kami alami. Mulai dari pendarahan, jatuh tempo, turun berat badan, sampai sekarang perencanaan induksi.

Tapi lain dengan Nyonya. Concern nya berbeda. Nyonya akan merasakan sendiri fenomena daging tiga kilo gerak-gerak keluar dari badannya yang reviewnya semakin dibaca di internet semakin bercampur baur antara wow it’s magical sampai ah pain ah pain ah pain ah PAIN. Intinya Nyonya ini takut proses melahirkan.

Ini kayak orang lari marathon 42 km. Pas keliatan garis finish, takut lari ke depan. Jalan pelan-pelan. Ini adalah ketakutan yang tidak mungkin Suhu mengerti. Jangan salah. Suhu mengerti tentang ketakutan akan sakit dan lain-lain. Yang Suhu nggak paham. Koq takutnya BARU SEKARANG???

Ternyata Nyonya takut proses induksi itu sendiri. Saking takutnya, Suhu disuruh cari-cari informasi di Google, lalu baru cerita ke Nyonya. Jadilah Suhu menjadi suami yang penuh informasi, bagaikan Jelita, jendela informasi wanita.

Jadi induksi itu seperti yang telah kita bahas di atas, ditujukan untuk mengeluarkan bayi ini dari induknya. Alasannya bermacam-macam. Kebanyakan karena alasan kesehatan. Mau dibilang selucu apa pun, bayi ini parasit. Simbiosisnya jelas-jelas parasitisme. Dia ambil makanan, nutrisi, terus tendang-tendang, semua dari induknya. Induknya dapat apa?

Rasa bangga? Rasa bahagia?

Ya itu nanti kalau bayinya sudah lahir. Selama masih di dalam perut, induknya cuma kebagian ngasih makan lewat mulut ibu. Bapaknya? Gak kebagian apa-apa. Cuma kebagian ngurusin induknya, terus kalau induknya tiba tiba “eh nendang-nendang nih. Ini bagian sini. Tanganmu sini. Kerasa nggak? Kerasa nggak?” terus bapaknya datang pegang perut gembul, nggak ada rasa apa-apa ibunya cuma bilang “Yah udah diem dia, nanti aja kalau tendang lagi.” terus ditinggal bapaknya pergi ibunya sorak-sorak “eh ini dia tendang-tendang lagi” Bapaknya datang bayinya diam ulangi sampai matahari terbenam. Sampai waktu ibunya panggil bapaknya “bayinya nendang pah!” bapaknya cuma jalan santai pegang perut sambil “ah sudahlah …”

Kembali ke topik informatif sebelum jadi ajang curcol, makhluk parasit ini ada saatnya perlu dikeluarkan demi kesehatan induk semangnya, atau kadang demi kesehatannya sendiri. Ingat, makhluk ini masih bego dan kita nggak mau perjamuan pertamanya adalah makan tainya sendiri.

Cara-cara induksi ada berbagai macam. Mulai dari yang serem-serem sampai yang serem biasa. Setelah baca lebih lanjut, Suhu jadi ngerti kenapa Nyonya ngeri. Inti induksi atau lahir paksa ini semuanya sama, mensimulasikan dan menstimulasikan kontraksi agar tubuh ibu hamil tahu bahwa ini waktunya melahirkan. Cara stimulasinya itu yang bervariasi. Mulai dari diobok-obok, atau jalan keluarnya didongkrak dengan foley catheter, meletuskan balon hijau biar air ketuban pecah, dan yang paling beradab tentu dengan teknologi asupan hormon oxytocyn.

Karena Nyonya sudah amat sangat ketakutan sekali, Suhu hanya bisa memastikan semuanya akan baik-baik saja. Meskipun Suhu juga tidak tahu pasti. Suhu dan Nyonya pun mengambil jalur induksi tradisional, sesuai anjuran teman kerja Suhu yang istrinya pernah lahiran telat juga. Salah satu cara untuk merangsang tubuh ibu hamil agar bayinya keluar adalah naik turun tangga.

Karena perut Nyonya sudah sebesar semangka dan jalan aja susah, kami skip anjuran naik tangga. Kami hanya turun tangga dari rumah ke lantai bawah. Dari lantai bawah naik lift ke atas, lalu turun tangga. Biar semangka tidak jatuh menggelinding, suami berdiri di depan, istri di belakang pegang pundak suami dan pegangan tangga. Jadi kalau kamu lihat di HDB blok kamu ada suami istri mainan naik kereta api sepur-sepuran di tangga, jangan heran.

Berilah semangat. Mereka sedang melalui masa-masa yang sangat menegangkan.

Weight Loss

Ibarat kepompong menjadi kupu-kupu, gadis-gadis belia yang sudah menikah kemudian hamil akan mekar membahana. Sudah menjadi idaman bagi para ibu-ibu yang baru melahirkan untuk kembali ke bentuk asal. Bukan rahasia bahwa sepanjang masa kehamilan ibu hamil bisa naik berat badan sepuluh kilo bahkan lebih.

Pernahkah terbersit di pikiran kalian, setelah bayi lahir ditimbang, rata-rata lahirnya sekitar tiga kilo. Lantas, sisanya ke mana? Perut yang memuai itu dari mana datangnya, dan kapan perginya?

Turun berat badan menjadi target ibu-ibu yang pergi sanggar senam, oles-oles salep, pakai korset, kasi bedak lalu goreng jadi risoles. Tapi untuk ibu-ibu yang masih hamil bin belum melahirkan, weight loss ini adalah sebuah mimpi buruk.

Tanggal 3 Maret 2015, Nyonya menggelitik Suhu yang sedang tidur. Di tengah-tengah antara siuman dan tak sadar Suhu menanggapi pembicaraan Nyonya.

“Aku koq krasa enteng ya?”
“Iya kamu nggak gemuk koq.”
“Aku gemuk ya?”
“Nggak kamu enteng koq.”
“Perutku krasa ringan.”
“Timbang lah. Dari sini masih sama gedhe kayak semangka.”

Setelah timbang, Nyonya dengan panik menarik Suhu turun dari kasur. Ternyata gak keliatan timbangannya, ketutupan perut.

Heran. Benar turun beratnya. Jangan-jangan timbangannya rusak. Suhu coba naik. Wah koq gemuk. Pasti timbangannya rusak. Mari kita cari second opinion. Di depan rumah Suhu ada Community Club tempat warga setempat berolahraga, berlatih dansa, dan aula umum. Di sana ada timbangan digital yang bisa ngukur BMI. Suhu dan Nyonya beranjak ke sana untuk memperoleh nilai berat badan yang lebih akurat.

Singkat cerita kami timbang berat badan di sana. Suhu tetap gemuk, tapi ini informasi yang kurang penting. Berat badan Nyonya turun. Aneh. Sebenarnya masa ini adalah masa perkembangan berat badan paling pesat. Minggu-minggu terakhir.

Jawaban dari pertanyaan di atas, kalau ibu hamil naik sepuluh kilo, anaknya lahir tiga kilo, sisanya adalah amniotic fluid. Cairan yang menjadi lingkungan hidup bayi selama dalam kandungan ibu. Di indonesia kerap disebut air ketuban, entah dari mana asalnya. Saat air ketuban ini pecah, ibu hamil akan merasakan sensasi ngompol, dan itu adalah saatnya bayi dilahirkan. Karena saat air ini bocor, lingkungan dalam perut ibu sudah tidak kondusif untuk memelihara bayi.

Mengingat cairan ini volumenya cukup banyak untuk melindungi bayi dalam kandungan, jika terjadi kebocoran, maka berat badan ibu hamil akan berkurang. Ini yang menjadi kecurigaan pertama Nyonya. Ada kasus nyata di mana air ketuban berkurang secara sedikit demi sedikit meskipun belum bukaan, sehingga bayi belum bisa lahir alami tapi air ketuban sudah berkurang.

Nyonya segera menghubungi rumah sakit untuk menjelaskan kondisinya dan kecurigaan kami berdasarkan gejala yang kami alami. Untungnya Nyonya sekarang sudah cuti hamil, sehingga bisa istirahat di rumah dan bisa kapan saja beranjak ke rumah sakit tanpa perlu prosedural birokrasi di kantor untuk pulang awal dengan alasan berobat.

Suster jaga dokter Han mengatakan bahwa turunnya berat badan pada minggu ke 38 bukanlah hal yang normal. Tapi sayang sekali pada hari ini, dokter Han tidak bisa menangani pasien untuk checkup. Jika mau checkup, akan diperiksa dokter lain yang available. Karena hari ini adalah tanggal cantik (3 Maret) banyak orderan operasi caesar. Tapi suster bisa memberi kami slot besok sore.

Weight LossMengingat riwayat kesehatan Nyonya sudah di tangan dokter Han selama ini, kami memutuskan untuk mengambil slot besok sore. Dengan pertimbangan, kalau memang ada tanda bahaya seperti darah dan kontraksi, kami akan langsung berangkat ke Delivery Suite.

Keesokan harinya, sore itu kami menjumpai dokter Han di klinik AMK, karena pada hari-hari tertentu dokter Han tidak praktek di The Private Suite. Jadi sebenarnya kalau diurut dari checkup pertama, kami sudah katham menjumpai dokter Han di tiga tempat prakteknya. Mulai dari first appointment kami di kelas ekonomi, checkup rutin kami di The Private Suite, sampai klinik AMK tempat dokter Han praktek di luar Rumah Sakit bersalin.

Dokter Han memeriksa dengan cermat, tapi tidak menemukan anomali pada bayi. Bayi sehat dengan degup jantung normal. Tapi, sekali lagi, Nyonya belum siap untuk melahirkan. Turunnya berat badan disimpulkan karena Nyonya khawatir, makan kurang dari biasanya, atau metabolisme berlebih. Entah apa sebabnya, yang jelas berat badannya turun, dan yang terpenting bagi kami semuanya sehat.

Tapi kapan bayi ini mau keluar, sekarang masih minggu ke 38 menuju ke minggu ke 39. Anytime now, baby. Anytime now.

Cuti Hamil

Pagi itu tanggal 28 Februari 2015 kami ke dokter Han untuk checkup rutin. Berbeda dengan checkup yang lampau, kali ini semuanya terasa lebih riil. Sangat nyata. Apalagi setelah Nyonya mengalami pendarahan kemarin lusa. Satu perjalanan ke Delivery Suite, melihat hamparan ibu hamil di ruang tunggu persalinan, membuat semua pengalaman pregnancy ini menjadi terasa penghujung akhirnya.

Dokter Han berkata, kami sudah masuk minggu ke 38 kehamilan. Secara medikal, bayi melampaui minggu ke 36 sudah bisa dikategorikan full term. Lahir normal tidak prematur. Bayi juga sudah berada di posisi engage, yaitu jungkir balik, kepala di bawah, siap meluncur keluar melalui saluran kelahiran. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Dengan size bayi yang sekarang, sudah susah untuk berputar menjadi sungsang. Pada checkup sebelumnya, posisi bayi tidak seberapa diperhatikan, toh sizenya masih termasuk kecil dan belum sesak, jadi masih bisa berenang-renang dan berputar dalam perut Nyonya. Sekarang si kecil sudah besar dan sehat. Dokter Han mengestimasi beratnya 2.8kg. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Berdasarkan statistik, bayi pertama cenderung lahir lebih awal sebulan. Kalau dihitung estimasi kelahiran adalah minggu ke 40, sebenarnya minggu ke 36 bisa dibilang adalah waktu paling tendensi untuk lahir. Semua hasil pemeriksaan mengacu bahwa Nyonya siap melahirkan.

Tapi checkup hari ini menunjukkan tidak ada apa-apa. Kontraksi belum mulai. Dilatation of cervix masih belum mulai. Bayinya masih sehat, detak jantung masih normal. Cuma belum mau keluar saja. Mungkin kerasan.

Suhu dan Nyonya berunding. Sekarang Nyonya masih bekerja, dan layaknya karyawati sebuah perusahaan, cuti adalah sesuatu yang harus direncanakan. Nyonya sudah menginformasikan pada pihak perusahaan bahwa akan mulai cuti tanggal 9 Maret. Tapi peristiwa pendarahan kemarin lusa, tanggal 26 Februari membuat kita berubah pikiran.

Cuti HamilKemarin juga Nyonya tidak masuk kerja, kita keluar dari Delivery Suite setelah observasi itu sudah tembus tengah malam. Dan kondisi Nyonya belum pulih benar dari lelah pendarahan, buru-buru ke Rumah Sakit, shock, dan hypervigilance dan senantiasa khawatir.

Akhirnya kami memutuskan, sudahlah, Nyonya lanjut cuti saja. Toh semua kesimpulan dokter Han mengacu bahwa si kecil bisa lahir kapan saja. Ambil cuti tanggal 9 atau mulai senin depan, selisihnya hanya satu minggu. Dan berdasarkan pengalaman, buru-buru dari kantor untuk melahirkan itu nggak asyik. Maka terhitung dari kamis kemarin lusa, sampai tanggal 7 Maret, Nyonya ambil cuti ekstra 7 hari dari rencana awal.

Untung bagi Nyonya, perusahaannya merupakan kampeni bertaraf internasional yang memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Cuti hamil dibayar penuh selama 4 bulan, meskipun kita bukan warga negara setempat. Sebagai perbandingan, perusahaan lain biasanya memberikan cuti hamil 4 bulan hanya untuk warga negara, dan 2 bulan untuk foreigner. Selebihnya, akan diperlakukan sebagai cuti tak berbayar. Suhu tidak punya cuti hamil, meskipun perut Suhu sudah ukuran hamil 4 bulan sejak beberapa tahun silam.

Di hari-hari cuti ini bukannya rileks dan ngaso, Nyonya malah tambah repot. Bukan repot ngurus bayi yang mau lahir. Tapi repot ngurusin orang-orang yang mau mbantuin lahiran bayi. Ini menyangkut paut urusan dalam negeri, mulai dari mertua Suhu, ipar Suhu, papa mama Suhu, dan cece Suhu.

Benul. Tiket pesawat dan akomodasi.

Semua orang tanya hal yang sama. Mesti beli tiket tanggal berapa? Kapan lahiran? Berapa lama tiketnya kalau mau beli tiket pp?

Untuk memfasilitasi tempat tinggal yang terbatas, dan mengoptimalkan bala bantuan dari endonesa, Suhu dan Nyonya mengatur jadwal kedatangan orang tua secara estafet. Yakni, dua minggu setelah kelahiran untuk orang tua Nyonya, disambung dua minggu setelah kelahiran oleh orang tua Suhu. Pertimbangannya simpel, saat dirundung kelahiran anak pertama, Nyonya akan tergolek lemah tak berdaya. Bala bantuan yang paling ideal adalah mama Nyonya sendiri. Karena kalau yang diperbantukan adalah mama Suhu yang notabene adalah mertua Nyonya, pasti ada rasa sungkan untuk minta bantuan.

Dalam kepelikan kehamilan yang tak menentu ujungnya. Semuanya serba tanda tanya. Dan anggota keluarga memojokkan Suhu dan Nyonya seolah kami menyembunyikan tanggal kelahirannya. Mulai dari orangtua Suhu yang salah beli tiket, untungnya salah airlines, bukan salah tanggal dan tempat tujuan. Sampai tuduhan tak beralasan mertua Suhu yang mensugestikan adanya teori konspirasi bayi sudah lahir tapi keberadaannya di dunia dirahasiakan.

Yaelah mah, buat apa kita gak bilang-bilang kalau bayinya sudah lahir ….

Tapi, sebenarnya, kamu benar. Bayi kami telah lahir, dan kami merahasiakan kenyataan ini. Sesungguhnya, anak kami sekarang sudah SMP.

Setelah melalui perhelatan akbar, Nyonya memberikat dekrit kepada mama Nyonya. Setelah ada kepastian bayi akan lahir, yakni kontraksi reguler atau bukaan, Nyonya akan memberikan lampu hijau untuk mama Nyonya agar supaya mulai beli tiket pesawat. Setelah mendapatkan tiket, mama Nyonya akan menginformasikan detil pulang pergi tiket. Suhu akan mengambil alih agar papa mama Suhu bisa membeli tiket tahap dua untuk mengisi kekosongan saat mama Nyonya pulang.

Pada saat ini yang ada di pikiran Suhu dan Nyonya hanya sudahlah ayo cepat lahir kita sudah ke sini Kamis Sabtu bawa perut sebesar bola bowling, kamu ngapain lama-lama di dalam? Dan si kecil masih suka tendang-tendang perut mama dari dalam.

The Private Suite

Dari pengalaman dua kali menjumpai dokter Han di KK Hospital, Suhu dan Nyonya mengamati beberapa hal. Bukan hal seperti jenis-jenis ibu hamil. Melainkan kondisi pasien di sini, yang sama-sama antri.

Pengangguran. Satu hal yang paling membingungkan Suhu dan Nyonya adalah orang-orang ini koq nggak kerja ya? Kalo perusahaan setahun jatah cuti empat belas hari, berarti semuanya dipakai untuk ke dokter? Koq bisa antri berjam-jam cuma buat ketemu dokter kurang dari sepuluh menit. Masih mending kalau sepuluh menit itu dijelasin panjang lebar sama dokter. Yang ada malah dokternya sibuk. Sibuk apa?

Bimbingan dokter muda. Dua kali ketemu dokter Han, selalu ada dokter lain duduk, dokter Han berdiri lalu lalang. Dokter yang duduk ini usianya relatif lebih muda, selalu mengkonfirmasi apa yang hendak dikatakan ke pasien ke dokter Han terlebih dahulu. Suhu dan Nyonya yakin ini dokter-dokter magang atau dokter baru yang diparkir di bawah naungan dokter Han. Jadi Dokter Han ini sibuk membimbing dokter-dokter muda.

Berawal dari pekerjaan Suhu yang kurang memungkinkan untuk cuti sering-sering, dan Nyonya yang menegaskan bahwa suami perlu terlibat secara total dalam proses kehamilan. Nyonya menanyakan ke suster jaga, apakah ada alternatif untuk datang setelah jam kerja Suhu atau mungkin weekend.

“Oh ada bu, tapi nggak di sini. Kalian harus ke The Private Suite. Dokter Han juga praktek di The Private Suite.”

Jadi selain membimbing dokter muda di sini, dokter Han juga menggelar lapak di The Private Suite. Bagaimana bisa? Ilmu menggandakan diri ala Naruto juga diajarkan di Fakultas Kedokteran?

Ternyata jadwal praktek dokter Han di The Private Suite adalah petang sampai malam hari untuk senin sampai jumat. Dan seharian untuk weekend. Intinya Suhu dan Nyonya memutuskan untuk mencoba daftar di The Private Suite untuk appointment check up rutin berikutnya. Alasannya sederhana, karena Suhu dan Nyonya sama-sama karyawan fakir cuti.

“Tapi di The Private Suite lebih mahal ya, Bu.”

goldarB

Nyonya mendadak berpikir keras, memikirkan apakah selisih harga antara antrian kelas ekonomi dan The Private Suite ini sumbut (apakah bahasa endonesa dari ‘worth’?). Belum kelar Nyonya berpikir, Suhu langsung mengiyakan saja. Setengahnya karena impulsif khas Golongan Darah B, setengahnya lagi Suhu sudah beritikad untuk tidak menghemat sepeser pun, demi memberikan yang terbaik untuk buah hati.

Singkat cerita di penghujung akhir September 2014 itu Suhu dan Nyonya check up rutin di The Private Suite. Lokasinya masih di dalam premis KK Hospital. Tapi bukan di Woman Tower. Bukan juga di Children Tower. Letaknya di tengah-tengah dua tower utama Rumah Sakit ini. Bertetanggaan dengan persil komersil seperti Mothercare, Kopitiam, McDonald, dan sejenisnya.

Impresi Suhu pertama saat masuk resepsionis The Private Suite, bagaikan hotel. Ada kolam renang, taman bunga-bungaan, dan landasan helikopter. Mulai dari counter, ceiling cove light, karpet, dan furniture berupa sofa untuk ruang tunggu, sama sekali tidak mengesankan ini rumah sakit. Seperti lounge hotel. Televisi layar LCD yang digantung di tembok menyiarkan loop video acara-acara kesehatan, dengan nomer urut panggil pasien di sisi kiri layar.

Benar-benar beda kelas. Mungkin ini perasaan orang yang ndak pernah terbang kelas bisnis, terus tiba-tiba upgrade setelah seumur hidup naek pesawat ekonomi. Entahlah. Suhu ndak pernah naek kelas bisnis. Selalu naek ekonomi, spesialis ekonomi lemah.

Entah melipur lara hati sendiri karena bayarnya lebih mahal atau memang The Private Suite lebih yahud, Suhu merasa suster-suster nya lebih cekatan, murah senyum, dan berpengetahuan. Yang di kelas ekonomi susternya grusa-grusu, cengengesan, dan cerewet. Tapi setelah diteliti lagi ternyata orangnya sama. Memang sinonim dengan konotasi sangat dipengaruhi impresi.

Ruang tunggunya berupa sofa yang berlebih, jauh lebih nyaman dibandingkan kursi-kursi keras yang sering penuh sampai kita susah cari tempat duduk seperti appointment sebelumnya. Bukannya Nyonya manja pingin duduk sofa, tapi Suhu yang mau duduk coba kamu bayangkan bawa ransel isi sepuluh kilo dicangklong di depan. Kira-kira gitu perasaan ibu hamil. Masa mau disuruh nunggu dokter sambil berdiri?

Dan puncak acara buat suami-suami yang menemati istrinya ke The Private Suite ini adalah …. ada vending machine gratis. Mesin yang ngeluarin minuman hangat mulai dari Hot Chocolate sampai Espresso dan kopi-kopi jenis lainnya (Milo, Latte, Espresso, Mocchacino, Michelangelo, Kirarabasso, dan lain-lain). Maka kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya selisih harga antara kelas ekonomi dan The Private Suite ini sangat justified dari segi operasional. Hanya ada satu cara untuk memastikan kita tidak rugi selisih.

The Private SuiteMinum kopi yang banyak mumpung di sini.

Antenatal

Setelah bertemu dengan Dokter Han di KK Hospital sebulan silam, Suhu dan Nyonya mendapatkan berbagai macam pengalaman dan informasi mengenai proses kehamilan ini. Mulai dari pengalaman Nyonya di-USG sampai informasi mengenai bahaya-bahaya dalam masa kehamilan.

Semua pengalaman dan informasi ini tercakup dalam satu kata. Antenatal.

antenatal
antɪˈneɪt(ə)l/
British
adjective
adjective: antenatal; adjective: ante-natal
before birth; during or relating to pregnancy.
“antenatal care”

noun

informal
noun: antenatal; plural noun: antenatals; noun: ante-natal; plural noun: ante-natals
a medical examination during pregnancy.

Proses-proses yang sebelumnya kita lalui berkaitan dengan tes darah, tes pipis, dan mendeteksi kandungan hormon dan zat kimia dalam tubuh yang menunjukkan positip hamil. Tapi proses USG ini adalah scan untuk melihat secara nyata bayi yang ada dalam kandungan. Waktu 1st appointment Nyonya sudah di-USG dan terlihat bayinya sebesar kacang. Hari ini kedua kali kami ke KK Hospital, di-USG lagi dan bayinya sebesar kacang yang lebih besar. Yang kalau bermain suka bully kacang-kacang yang lebih kecil.

Prosesnya simpel dan tidak sakit. Pertama-tama Nyonya disuruh rebahan. Terus baju disuruh angkat sedikit, celana disuruh turun sedikit. Lalu daerah di bawah udel (pusar) dikecrotin saos kayak botol mayonnaise. Pasien akan merasa gelisah (geli-geli basah). Terus daerah yang tadi sudah dikasi saos dipencet pake mesin kayak pistol barcode yang ada di kasir supermarket buat scan harga. Nanti di monitor akan muncul gambar kayak televisi jaman dulu. Hitam putih banyak semutnya. Antena nya perlu digoyang biar jelas gambarnya.

Suhu memperhatikan dokter Han menggerak-gerakkan scanner dan gambar di monitor berubah. Yang tadinya semutnya gerak ke kanan kiri jadi ke atas bawah. Sesekali layar monitor berubah menjadi terang, kadang gelap.

“Ini dia … ketemu bayinya!”

Suhu sangat gembira mendengar dokter telah menemukan letak bayinya. Tapi ternyata dokter nya bohong. Layarnya masih burek semutan. Suhu mencoba segala cara untuk mencoba mengimajinasikan ada gambar image bayi di layar kaca. Mulai dari khayalan seperti kalau lihat awan di langit dijadikan bentuk-bentuk tertentu, sampai mata dijuling-julingkan untuk lihat abstrak 3D.

AntenatalEh, kali ini ada satu titik yang kelip kelip. Ternyata itu yang dicari. Bayiku adalah lampu disko!

“Ini adalah detak jantung bayi kalian. Sehat. Detaknya kuat dan stabil.”

Dokter terus menerus memuji bayi kami. Sehat. Kuat. Bugar. Dan segala predikat atlit. Sementara Suhu masih bingung melihat monitor bayinya di mana. Di tengah kecamuk penghujung Agustus, Suhu yang pakai baju masih sering kebalik, mulai merasakan. Akan jadi ayah. Dari sebuah lampu kelap kelip.

Melihat ekspresi Suhu dan Nyonya, dokter dan suster di kantor uroginekolog mengambil asumsi yang tepat.

“Kalian first-time parents ya?”

“Ah nggak, kami punya dua lusin tamagochi.”

First time parents. Pertama kali jadi orang tua. Mungkin nampak dari usia kami yang masih belia, atau dari ketakjuban kami atas semua hal baru tentang dunia hamil perhamilan ini. Dokter Han menjelaskan tentang first trimester screening, dan suster merekomendasikan ikut kelas antenatal.

Iya. Kelas. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, lulus S1, ambil S2 lulus. Sekarang disuruh ambil kursus buat mbayi. Hwarakadah. Tapi mungkin setelah les mbayi nanti bisa dapat ilmu mata dewa buat lihat gambar bayi di monitor USG kualitas High Definition. Kami mendapat informasi bahwa KK Hospital menyelenggarakan kursus ini setiap beberapa periode. Satu paket sekitar 3 – 4 bulan seminggu sekali.

Beda les mbayi, lain pula first trimester screening. Screening ini semacam test untuk melihat kemungkinan bayi ini akan mengalami down syndrome. Hasilnya pun berupa prediksi dengan akurasi 90%. Ini test yang tidak wajib. Jiwa enjinir Suhu juga penasaran dan bertanya ke dokter apa tujuan test ini kalau sudah tidak wajib, tidak dijamin akurat pula. Dan mbayar.

Pada pasangan yang berusia relatif tua (35 tahun ke atas untuk bumil, usia bapaknya terserah pokok masih kuat menghamili), kemungkinan anak untuk menderita down syndrome meningkat secara statistikal. Kompatibilitas bapak dan ibu nya tentu juga faktor utama, dan mereka bisa mendeteksi hal ini sangat dini dalam proses kehamilan. Dengan mengecek kromosom sampel yang diambil dari bumil.

Tujuannya simpel. Untuk pasangan yang mengetahui bahwa anaknya akan menderita down syndrome, keputusan masih bisa diambil saat usia janin masih sangat muda. Hal ini akan mempermudah mengambil keputusan yang (tetap saja) sulit, untuk terminasi kehamilan.

Suhu dan Nyonya mengambil opsi untuk mengikuti test tersebut. Dan syukurlah bayi kami lulus dengan predikat kemungkinan kategori terendah sangat sangat sangat sangat kecil karena secara statistik mereka tidak boleh mengeluarkan result dijamin 100% bebas.

Suhu dan Nyonya adalah sepasang orang tua yang senantiasa bersyukur atas karunia buah hati kami. Lampu kedip di monitor USG.

First Appointment

Hari yang dinanti itu pun tiba. Tanggal 1 Agustus 2014, Suhu dan Nyonya pergi ke KK Hospital. Di sana ada dua tower utama Rumah Sakit, yaitu Children Tower dan Woman Tower. Selama masa kehamilan, kita akan berurusan dengan Woman Tower, maka kami berjalan menuju ke Woman Tower untuk mendaftarkan diri.

Appointment kami untuk bertemu dokter uroginekolog jam dua siang. Karena kami pasien first appointment yang pertama kali datang, kami harus datang lebih awal sekitar satu jam untuk ambil tes identitas pasien seperti golongan darah, berat badan, tekanan darah, tinggi badan, jenis kelamin (seharusnya wanita, tapi tetap ditanya, just in case), dan detil untuk billing atau pembayaran.

Karena kami belum pernah ke KK Hospital sebelumnya, kami harus datang lebih awal sekitar setengah jam untuk mencari lokasi tepatnya. Karena Suhu menikahi Nyonya, itu berarti kami harus datang lebih awal lagi karena Nyonya takut bin paranoid untuk datang terlambat, dan atas hal-hal force majeure seperti tidak dapat taxi, tiba-tiba hujan deras, banjir bandang, tidak dapat ojek sampan, dan lain sebagainya.

Karena sudah bikin janji dengan dokter, maka Nyonya langsung tinggal scan IC (versi lokalnya KTP sini) di mesin *beep* lalu dapet nomer panggil. Suhu celingukan memperhatikan ruang tunggu. Di setiap sudut ruangan ada monitor-monitor yang menunjukkan nomer mana yang dipanggil.

Selepas mata memandang isinya ibu-ibu hamil semua. Statistik angka kelahiran Singapura rendah terdengar seperti isapan jempol belaka. Tujuh dari sepuluh wanita di sini hamil. Bahkan suster yang menerima kami di resepsionis juga hamil! Atau gendut. I don’t know. Meskipun kami sudah ambil nomer panggil di mesin barcode, kami tetap harus tandatangan beberapa dokumen di resepsionis antara lain consent form yang isinya semacam memberi restu untuk tenaga profesional medis untuk melakukan hal-hal tidak senonoh dalam ruangan tertutup yang semestinya ilegal di mata hukum.

Dengan kekuatan super paranoid Nyonya, kami siap dua jam lebih awal dari semestinya. Suhu menggunakan waktunya untuk tidur, sesuatu yang akhir-akhir ini dirasa kurang karena tuntutan pekerjaan. Sesekali terbangun Suhu mengamati, di ruang tunggu ada beberapa jenis ibu hamil, di antaranya:

1. Ibu hamil standar. Biasanya ditemani suaminya, atau emak-emak yang disinyalir adalah ibunya atau mertuanya. Kalau yang suaminya romantis, tangan istrinya dipegangi. Kalau yang suaminya normal, ditinggal maenan game HaPe. Kalau yang suaminya sibuk, mertuanya yang nemenin. Penampilan agak kucel, tapi terlihat masih dandan sedikit sebelum berangkat ke Rumah Sakit bersalin.

2. Ibu hamil sosialita. Ditemani oleh teman wanita. Mungkin dari lingkungan kerja, atau dari perserikatan istri-istri orang kaya. Cekikikan terus di ruang tunggu, sesekali ceples-ceplesan tangan satu sama lain sambil mengatupkan jari telunjuk ke mulut Sssshhh padahal dirinya sendiri juga sama-sama ribut nggosip. Mosyo’oloh mau Sssshhh juga percuma, seruangan ini sudah tahu supirmu ada affair sama suster tetangga. Penampilan menarik, fashion terkini, tas merek, HaPe dua – satu Sansun buat instagram satu iPon buat Path soalnya nggak tahu gimana installnya di android.

3. Ibu hamil profesional. Bulat besar bagaikan matahari yang meredup, dikelilingi orbit tiga anak-anaknya yang masih terlalu kecil untuk ditinggal di rumah. Dari observasi singkat, nampak bahwa jarak umur anak-anaknya sekitar setahunan. mBrojol bikin lagi mbrojol bikin lagi dan lagi dan lagi. Penampilan natural kelelahan, sudah menyerah pada keadaan, dan berhenti mencoba untuk memperbaiki dan mulai menerima dengan pasrah.

4. Ibu hamil-hamilan. Tidak kelihatan kalau hamil. Perut kempes dandan masih menor sepatu cetok masih hak tujuh senti. Tapi baca buku-buku tentang pregnancy, parentcraft, dan sejenisnya. Kemungkinan besar mencoba untuk hamil, minta obat-obatan, atau konsultasi tips-tips hamil pada dokter.

Sudah pukul dua lewat kami belum juga dipanggil masuk. Suhu bertanya pada suster yang manggili pasien. Monitor menunjukkan dokter masih meladeni pasien dengan nomer panggil yang jauh di depan. Suhu mencoba mencocokkan dengan pasien-pasien sebelah. Rupanya dokter terlambat sekitar sejam lebih. Ini sudah jam dua lewat, tapi masih memeriksa pasien yang janjiannya jam satu.

Akhirnya giliran kami sampai. Dokter Han menjawab semua pertanyaan kami dengan singkat, padat, dan informatif. Terlihat tidak terlalu tua tapi sangat berpengalaman. Murah senyum tapi tidak cengengesan. Dokter Han menghitung kalender dan kami pun sontak kaget.

“Baby due date is 18 March ah.”

First AppointmentItu kan ulang tahun Nyonya.