Daddy’s Log August 2016

Memiliki banyak kerabat menjadi tantangan tersendiri bagi seseorang. Terutama jika semua kerabat di tradisi cina memiliki panggilan yang berbeda. Tidak hanya uncle dan aunty seperti orang bule pada umumnya.

Evangeline memiliki seorang paman (adik daripada Nyonya) dan seorang bibi (kakak daripada Suhu). Panggilan untuk adik laki-laki ibu dalam dialek kami adalah “Auk”. Panggilan untuk kakak perempuan ayah dalam bahasa mandarin adalah “Kuku”.

Kadang kami membiasakan Evangeline untuk memanggil mereka lewat video call.

“Ini Auk Ming. Ayo panggil Auk.”

“Ini Kuku Yin. Ayo panggil Kuku.”

Semula Evangeline tidak banyak bereaksi. Tetapi perlahan sekarang Evangeline sudah bisa mengenali beberapa orang yang sering kita video call. Misalnya, Emak dan Engkong (papa mama Nyonya), Yeye dan Nainai (papa mama Suhu).

Kita juga mencoba berbagai kosakata.

“This is Owl. Owl.” *menunjukkan flashcard Burung Hantu

“Auk.”

“This is Dog. Dog barks. Woof woof. Guk guk.” *menunjukkan flashcard Anjing

“Ini siapa? Ayo bilang halo ke Kuku.”

“GUGUK!”

Secara umum Evangeline sudah bisa mulai beberapa kata. Bahasa planet sudah mulai menyerupai bahasa manusia. Beberapa notable words yang masih susah dibedakan oleh papa mama nya adalah.

Koh = Engkong (minta skype sama engkong) atau Corn (minta makan jagung)

Guguk = Anjing (lihat anjing) atau Kuku (lihat bibinya)

Auk = Owl (burung hantu) atau Auk (lihat pamannya)

Nana = Nainai (minta skype sama nainai) atau Celana (minta pakai celana)

Seputar tumbuh kembang

Evangeline sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada mainan Tower of Hanoi. Mainan ini terdiri dari satu tusukan dan banyak donat berbagai ukuran berwarna-warni. Evangeline masih kesulitan untuk mengurutkan donat-donat ini berdasarkan diameternya. Tapi Evangeline sudah bisa memahami kalau urutan yang dimasukkannya itu salah. Tapi masih belum bisa membetulkan. Kalau yang besar di atas yang kecil, dia akan berusaha mengeluarkan donat-donat yang sudah masuk. Mengulangi dari awal. Salah lagi. Ulangi lagi. Sampai bosan. Atau lapar.

IMG-20160716-WA0013

main donat Tower of Hanoi sampai lapar

Evangeline sudah mulai tidur teratur. Berusaha bangun pagi untuk persiapan bulan depan masuk sekolah. Kebiasaan tidur bersama mama perlahan-lahan mulai digeser, papa mencoba mengambil alih jam tidur sementara mama sembunyi di luar kamar. Beberapa malam peralihan banyak kegagalan dan lolongan yang menggemparkan se-RT. Setelah meyakinkan warga bahwa kami tidak mencuri dan menyimpan sirene ambulans di dalam rumah kami, biasanya Evangeline tidur karena kecapekan. Bayangkan. Menangis sampai capek, terus ketiduran. Betapa malangnya nasibmu, nak.

Bulan ini Evangeline belajar untuk bersabar. Mama mengajarkan untuk “wait” dan “be patient”. Papa mengajarkan untuk “lay down” dan “siu sik” (istirahat). Ketergantungan Evangeline terhadap support system (papa dan mama) nampak makin kuat. Saat kita bertiga di kamar, kalau mama beranjak pergi, Evangeline akan menyerukan dengan crescendo “Mama mama mama mama” padahal mama nya cuma pergi pipis sebentar. Kalau papa bergerak “Papa papa papa papa” padahal papanya cuma geser karena posisi berbaring kurang pas. Kalau beneran ditinggal keluar kamar misalnya, teriakan nya akan intensify.

“Mama. Mama! MAMA! mamhaaahaaaaahahahaaaa mhambhaaa ….”

terjemahan bebas: “mama kenapa mama pergi. apa salah ananda, mama? mama aku berjanji tak mengulanginya lagi mama! apa karena aku minum susu terlalu banyak? bukan salahku mama ini genetik dari papa. mamaaa.”

Meraung-raung. Mengais daun pintu yang tertutup. Mencoba semua permutasi dan kombinasi nada yang bisa dicapai dari suku kata Ma-ma dalam berbagai nada. Sampai mama kembali ke kamar.

“Mama! MAMAH! Mama!”

terjemahan bebas: “mama telah kembali! juruslamat telah tiba! gelar permadani! sambut mama! papa! ngapain baringan di sana! pergi! sambut mama!”

Ohmygod. You should have seen her face. Dengan hanya suku kata ma-ma, Evangeline bisa mengekspresikan apa yang hendak dia ungkapkan.

Bulan Agustus bukan bulan yang ramah untuk kehidupan Suhu di kantor. Banyak masalah mulai dari klien yang tidak masuk akal, pasar yang sepi dan lesu, sampai arah karir secara umum. Tapi meskipun banyak gejolak di keruhnya pusaran aliran hidup yang fana ini, semua menjadi jernih saat Suhu membuka pintu depan *cekrek* mendorong daun pintu itu *kriyeeet* dan mendengar ada teriakan dari dalam dan sosok ini berlari kecil sambil berseru “Papa!”

Collage 2016-08-29 09_33_22

 

Daddy’s Log May 2015

Oke. Mungkin belum lama waktu berselang sejak Log April 2015. Tapi kali ini ada yang layak dirayakan.

Yang pertama. Facial feature. Enjel mulai sering mengernyitkan dahi. Ada beberapa kemungkinan. Mungkin Enjel ada keturunan suka mengernyitkan dahi seperti Papa. Atau mungkin Enjel sering berpikir keras, bagaimana cara memberitahu dua noob parents ini bahwa dia kebelet pipis. Atau mungkin diam-diam dia mendengarkan Suhu dan Nyonya yang tengah bercengkerama tentang bagaimana kelanjutan cicilan rumah. Atau memang semua bayi suka mengernyitkan dahi. Entahlah. Kami cuma punya satu. Dan yang satu ini suka mengernyitkan dahi. Seperti papanya.

2015-05-04 Daddys Log May

Semoga tidak tidur mikirin cicilan rumah seperti Papa ya nak. Ekspresi wajah tersebut di atas sering kita sebut muka empet. Kalau muka empet ini disambung dengan tersenyum. Kita harus waspada, curiga, siaga, dan cekatan. Ten out of ten, kita pasti perlu ganti popok. Kalau normal ya popok basah, kalau jackpot ya basah plus confetti.

Lucunya, meski dari depan tampak seperti Papa. Side profile Enjel sangatlah mirip dengan Mama. Dilihat dari samping Enjel persis sekali dengan foto Mamanya waktu kecil.

Tapi bukan masalah muka empet yang pantas dirayakan. Jadi beberapa hari ini, sekitar dua hari lalu sebenarnya, saat Mama melewati Enjel yang sedang tidur, bola mata Enjel berusaha mengikuti alur hilir mudik Mama. Sampai hitamnya terhenti sudut mata, Enjel berusaha menoleh. Enjel akhirnya bisa menoleh meskipun sangat perlahan. Tapi hari ini, ada sesuatu yang sangat menakjubkan. Saat tummy time. Tiba-tiba.

Eng ing eng.

20150504_082646.jpg

ENJEL MENGANGKAT KEPALANYA SENDIRI!!!

Enjel mengangkat kepalanya sendiri. Meskipun masih sering terjatuh. Untungnya dada Papa cukup empuk. Papa sendiri sering tertawa-tawa melihat kepala Enjel tiba-tiba nyembul dari bawah dagu papa. Sementara Enjel, masih expressionless dan dalam waktu kurang dari setengah menit, kepalanya bakal jatuh kehabisan tenaga. Mewek sebentar. Lalu kepalanya naik lagi. Ulangi. Begitu terus sampai ketiduran.

Daddy’s Log April 2015

Lima hari yang lalu Enjel genap berusia satu bulan. Pertumbuhan Enjel terlihat sangat perlahan. Entah apakah ini normal. Hanya satu yang berubah. Pipinya terlihat makin besar. Sesuai tradisi, kita mencukur rambut Enjel. Suhu jadi sadar, betapa berpengaruhnya rambut pada kesan pertama wajah. Apalagi setelah Enjel digunduli.

2015-05-23 18.37.53

Untuk perkembangan motorik, kepala masih tergolek lemas. Teriakan pernah terdengar lantang sewaktu baru lahir. Tapi dalam kurun waktu sebulan ini lebih sering terdengar seperti sesenggukan kucing kelaparan.

Nyonya menerapkan beberapa kegiatan selain tidur dan menyusui. Yaitu Tummy Time. Untuk melakukan atraksi ini, Suhu harus menggendong Enjel, kebanyakan waktu setelah minum susu dan mencoba untuk burping (memaksa bayi bersendawa). Lalu Suhu akan merebahkan diri di sofa atau ranjang, membuat Enjel tiarap di dada Suhu. Mungkin ini sebabnya Nyonya menyebut atraksi ini Tummy Time. Waktu tummy Enjel ketemu tummy Papa. Durasi kegiatan ini satu jam sehari.

20150418_175421.jpg

Baik tidur tiarap di perut papa, maupun tidur terlentang di ranjang, Enjel tergolek tidak berdaya. Bisa dibilang makhluk ini sekarang tidak bisa apa-apa. Sama sekali. Minum susu masih luber ke mana-mana. Tidur tiarap mengangkat leher saja tidak bisa. Disuruh pergi ke pasar eh malah tidur. Bernafas aja masih tersedak.

Perkembangan yang paling signifikan adalah Enjel sudah dinyatakan lewat masa-masa jaundice nya. Jadi itu adalah sesuatu kabar yang hore bagi kita. Tidak perlu bolak-balik ke posyandu lagi.

Ukuran tubuh tidak jauh berbeda. Kepala Enjel masih lebih kecil dari telapak tangan Papa. Iya, sekarang Suhu sudah naik pangkat, jadi Papa panggilannya.

Tingkat kecerdasan sepertinya belum bisa diukur. Waktu tangan Suhu didekatkan ke mata Enjel secara mendadak, Enjel merespon dengan berkedip … setelah sekian ratus milidetik. Disinyalir bayi ini sudah mengenali bahaya, tapi sistem syarafnya masih belum sempurna. Mungkin masih belum Ethernet. Ping nya masih nge-lag.

Yang menarik. Sebenarnya bukan perkembangan bayinya. Tapi perkembangan lingkungan sekitar. Suhu mengamati perubahan yang mendasar pada kehidupan secara umum. Hidup menjadi bayisentris. Jam kerja, mandi, dan tidur sekarang disesuaikan dengan jadwal bayi. Suhu dan Nyonya jadi tahu bahwa manusia bisa hidup tanpa perlu tidur dengan kondisi ideal.

Suhu yang susah tidur dengan lampu nyala dan Nyonya yang tidak bisa tidur dengan lampu mati. Keduanya menemukan pencerahan. Bahwa saat kita benar-benar perlu tidur kita bisa tidur di bawah naungan lampu disko sekali pun.

Suhu kini upgrade menjadi Papa. Bakat terpendam Suhu pun mulai tergali. Misal. Mengganti popok sambil tidur. Menidurkan bayi sambil tidur. Membuat susu formula sambil tidur. Hampir semua hal-hal rutin bisa Suhu lakukan tanpa ingatan apa pun di keesokan harinya.

Nyonya telah upgrade menjadi Mama dan memperoleh Skill-skill baru. Menyusui, itu pasti. Tapi yang paling memukau adalah Communication Skills.

“HWAAAAA….waa…”
“Ini kenapa ya? Udah minum susu. Udah ganti popok. Lagi tiduran gini tiba-tiba nangis.”
“Oh itu dia kepanasan pipinya yang kiri, minta noleh kanan.”

Setengah skeptik setengah pesimis, Suhu menurut saja. Toh sudah kehabisan akal. Kepala Enjel dipegang perlahan, lalu dibantu menoleh. Bayi Enjel tersenyum. Lalu tidur. What kind of sorcery is this?

“Memang gitu, kalau tidur terus satu sisi kan yang nempel ranjang panas. Dia belum bisa noleh.”

Ya. Suhu juga mengerti. Tapi derivasi sekompleks itu hanya dari Huwaawa memerlukan campur tangan Tuhan. Nyonya sudah bisa membedakan tangisan lapar, pipis, ngantuk, dan kepanasan.

Dalam waktu kepepet, kurang tidur, lapar, mudah marah. Suhu selalu mengingat bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Waktunya bukan sekarang.

 

Two of Everything

Cece Suhu sekarang berdomisili di Taiwan. Cece dalam konteks ini adalah kakak perempuan dalam keluarga Cina, bukan bocah Sunda.

Tidak lama setelah Papa dan Mama Suhu datang ke Singapore untuk menemui cucu pertama, Cece datang dari Taiwan. Tujuannya mulia, reuni keluarga. Menemui Papa dan Mama Suhu, sekaligus menemui ponakan. Ponakan perdana. Dibela-belain datang, meskipun cuti tahunan sudah habis dipakai keliling dunia.

Karena Cece sudah sangat berpengalaman hidup di luar negeri, maka Suhu tidak menjemput di airport. Alasan lainnya tentu karena Suhu malas di rumah sangat sibuk. Berbekal alamat yang sudah diberikan, Cece menemukan rumah Suhu.

Menekan tombol naik di lift lobby rumah susun ini, Cece menanti lift turun dari lantai atas. Bangunan di sini mirip dengan di Taipei. Rumah susun kotak-kotak kasta jelata. Sambil tidak sabar menunggu ketemu ponakan, Cece memencet-mencet tombol panah naik di sebelah pintu lift. Dan juga kebelet pipis.

Di depannya ada seorang bapak berpakaian polo shirt dan celana tiga perempat. Tersenyum sopan. Cece membalas tersenyum. Basa-basi dan etika menunggu lift di kota besar. Senyum. Secukupnya. Sewajarnya. Kalau perlu bercakap-cakap, sesedikit mungkin. Kalau bisa cuma “Halo”. Kalau perlu ngobrol, bahas hal-hal netral seperti cuaca, “Eh mendung ya.” Gitu.

Pintu lift terbuka.

“Mari-mari silahkan!”
“Oh iya. Mari-mari. Terima kasih.”

Masih wajar.

Bapak itu menekan lantai yang dituju. Tombol angka lantai itu menyala merona merah menunjukkan lift akan berhenti di lantai itu. Salah satu etika di lift adalah orang yang paling dekat dengan panel lift akan memencetkan tombol lantai untuk orang lain.

“Lantai berapa?”

Cece tidak menjawab. Cece melihat ke panel. Indikator lantai yang dituju sudah menyala merah dipencet bapak itu tadi. Bapak ini menuju lantai yang sama. Memang dalam satu lantai ada beberapa unit rumah. Bisa jadi bapak ini tetangga Suhu, pikir Cece. Atau mungkin mau berkunjung lihat Enjel, bisa jadi ini teman Suhu. Atau jangan-jangan pria ini menguntit aku, ah tidak mungkin, dia dulu yang pencet tombolnya. Bisa juga dia pencet acak, lalu dia akan mengikuti aku dari belakang saat aku turun. Hening terkesiap.

“Halo? Lantai berapa?”
“Halo. Sama.”

Cece menjawab jujur secara refleks. Makin panik jangan-jangan ini adalah orang jahat. Hidup di Indonesia selama belasan tahun telah merusak kompas moral kita. Semua orang tidak dikenal kita cap berbahaya. Bisa jadi bapak ini maling yang sedang survei lapangan sebelum menggarong nanti malam. Di sisi lain, bapak di dalam lift ini memandang Cece dari atas sampai bawah. Ini bapak ada apa lihat-lihat. Sambil merapal mantra, Cece mengingat-ingat jurus beladiri yang pernah dipelajarinya di internet. Kalau dia maju, pukul jakunnya, dengkul ulu hatinya, ambil dompetnya.

“Ke rumah unit nomer berapa?”

Tanya pria itu sederhana. Pikiran Cece mulai berkecamuk. Ah ini pasti tetangga Suhu. Dia tanya karena wajahku tidak familiar di sini. Dia hanya tetangga yang baik. Cece berusaha menenangkan diri dengan pikiran positif.

“Pojok, Pak.”

Jawab cece sekenanya.

“Lho, pojok kan rumah saya?”

Mampus. Sekarang pria itu curiga Cece yang maling. Cece tidak hilang akal.

“Pojok satunya berarti, Pak.”
“Ooohh … mengunjungi Mister Kwan?”

Hembus nafas lega nyaris terdengar dari Cece. Orang itu menyebut marga kami. Berarti dia kenal. Berarti bukan orang jahat. Syukurlah. Puji Tuhan. Ya Tuhan. Ini lift kapan sampainya?

“Kamu … apanya Mister Kwan?”
“Putrinya.”
“Hah?!?”

Mata pria itu terbelalak, melangkah mundur sedikit tersentak kaget. Kayaknya baru dengar dari tetangga sebelah, Mister Kwan baru punya anak perempuan minggu lalu. Sekarang sudah sebesar ini? Memang kemajuan zaman adalah misteri ilahi.

Sesampainya di rumah baru Cece sadar, bahwa di sini Mister Kwan adalah Suhu. Bukan Papa Suhu.

Two of Everything

Hari ini setelah Cece datang, Enjel pertama kali bertemu dengan Kuku Yin. Kuku adalah sebutan untuk kakak perempuan dari ayah. Yin adalah nama Cece untuk membedakan dari Kuku-Kuku yang lain.

Di foto tersebut di atas, we have two of everything. Dua Mr Kwan, Dua Mrs Kwan, and Dua Ms Kwan.

The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.