The Tome of Ethereal Knowledge

When we buy a new gadget, we were given a User Manual. Nobody really reads it. And when you can’t do some of its function, you refer to it. That’s provided you haven’t lost that book yet. Most of the time you have lost it before you even read it.

When Evangeline was born, we were given a health booklet from KK Hospital. It contains many useful information like schedule of immunisation (many many many abbreviations there BCG HepB DTaP IPV PCV MMR ASL PLS LOL ROFL WTFBBQ). It also contains the charts where we can foresee the growth of our baby in term of weight and height. And to compare the baby among its peers based on local statistics and get rough estimate at which percentile the baby is. Competition since early days, being Asian at its finest.

So every now and then we will refer to this sacred Tome of Ethereal Knowledge. Either for the immunisation schedule, or to check whether the weight and height of our daughter is considered “normal”. Her height is usually in 50th percentile and weight is generally in 95th percentile. She’s not fat. She’s chubby. She’s not shortie, she’s normal but she grows horizontally faster than she is vertically. Takes after her father.

But the one thing that I always find in the Tome is the developmental checklist. So they have this several checklists containing few statements in each list. Every list came with the age of the baby in the title. So let’s say for example in the checklist for 6 months old, they will have a statement like “Your child is able to roll over from stomach to back or
back to stomach”. If your baby can do it, you tick the box next to it. If your baby can’t do it, pfffftttt my baby can. I win you lose.

The book is given for free by Health Promotion Board to the parents of the kids born in Singapore. So everyone here has it. But for the benefit of readers who does not reside here, this is the link to the softcopy.

https://www.healthhub.sg/sites/assets/Assets/Programs/screening/pdf/health-booklet-2014.pdf

I would say the Singapore government does a fine job in providing this to the clueless first time parent. The questions that always linger like “Is this normal?” can be easily answered by reading it. On top of the checklist for you to keep track of your baby’s development, the Tome gave you an indication on how many months 90% of the babies can tick off that statement. Using the same example above, the Tome said 90% of the babies can tick off the rolling stomach-back-stomach at the age of 5 months old.

 

So in case your baby malfunctions, please refer to the manual. Or bring to the nearest pediatrician or clinics or hospital if you think it’s serious and urgent. They might be able to repair your baby. Strictly no return policy. No one to one replacement, too.

Step 5 (Optional) Permanent Residence

Pasti kalian sudah banyak mengetahui tentang seluk-beluk aplikasi PR. Baik dari website lain, dari perbincangan dengan teman-teman, maupun dengan pengalaman pribadi.

Artikel ini bukan untuk:

  • Orang dewasa yang ke Singapura bekerja lalu apply PR.
  • Tips-tips mendapatkan PR Singapore.
  • Cara mendapatkan status PR Singapore.

Artikel ini sebagai catatan perjalanan bahwa bayi kami dulu pernah apply PR sewaktu masih baru lahir. Yang hendak Suhu catat di artikel ini adalah beberapa tanggal yang mungkin perlu dirujuk di kemudian hari kalau mungkin perlu lagi. Baik itu untuk bayi orang lain, ataupun bayi sendiri yang berikutnya, jika kita dianugerahi bayi lagi. Ini adalah rentetan perjalanan yang akhirnya menuju ke status PR tersebut.

Sekali lagi. Ini catatan pribadi. Mohon maaf jika ini appear gibberish to some of you.

13 Maret 2015 – bayi lahir.

Notification of live birth keluar bersamaan dengan bayinya.

18 Maret 2015 – akte lahir Singapore jadi.

Batas waktunya 14 hari. Kalau telat, karena namanya belum nemu, orang tua nya sibuk entah karena belum pulih atau ada masalah kesehatan dan lain-lain, masih bisa diperpanjang sampai 42 hari. Istilahnya delayed registration. Suhu kurang tahu prosesnya, tapi sebisa mungkin jangan ditunda-tunda. Prosesnya lekas. Kurang dari 10 menit. Itu pun waktu Suhu daftar agak lama karena mencari karakter Mandarin nama bayi dan officer yang jaga shift itu kebetulan tidak bisa bahasa Mandarin. Sudah cepat tapi seharusnya bisa lebih cepat lagi. Bayi tidak perlu dibawa.

20 Maret 2015 – Apply Pencatatan kelahiran di Kedutaan Besar Republik Indonesia

Ini semata-mata untuk bikin paspor. Ini bukan akte lahir Indonesia. Cuma isi form dan fotokopi kelengkapan lalu kumpulkan. Bayi tidak perlu dibawa.

24 Maret 2015 – Apply Paspor

Biar strategis, dilakukan pada hari yang sama dengan ambil surat pencatatan kelahiran. Jadi setelah dapat dokumen pencatatan kelahiran, langsung fotokopi, dipakai buat apply paspor (salah satu syarat). Bayi harus dibawa. Mau foto paspor. Foto paspor jelek nggak apa-apa. Nangis nggak apa-apa. Mata tertutup nggak apa-apa. Staff KBRI pengertian susah bikin bayi usia segini fotojenik.

26 Maret 2015 – Paspor jadi

Ini bukan waktu yang tersingkat dan juga bukan waktu yang terlambat. Yang pasti di antara sela-sela kesibukan new parents dan kurang tidur, ini yang terbaik yang mampu kita lakukan saat itu. Bayi tidak perlu dibawa. Habis ambil paspor, cek ejaan nama bayi. Di halaman berikutnya, ada nama kedua orang tua. Cek ejaan nama kedua orang tua.

28 Maret 2015 – Apply LTVP Online

Isi form online. Upload foto bayi JPEG jepret pake kamera HP.

21 April 2015 – Apply PR ke ICA.

Saat apply ini, izin tinggal diperpanjang sampai 21 July 2015 in view of PR Application in progress. Bayi nggak harus dibawa. Kalau approve baru dibawa. Kalau sudah dibawa waktu apply, waktu approve nggak harus dibawa. Intinya sebelum approval diberikan, ICA mau lihat bayinya. Pertimbangan Suhu, sekarang bayi masih usia 1 bulan, susah dibawa-bawa. Nanti lah kalau sudah approve sudah lebih besar baru dibawa ke ICA. Itu pun belum tentu langsung approve, buat apa susah-susah dibawa sekarang.

24 April 2015 – Jatuh tempo izin tinggal 42 hari dari hari kelahiran Evangeline

Tidak berlaku lagi karena tanggal 21 April 2015 sudah diperpanjang.

30 April 2015 – LTVP in-principle approved

Mungkin sudah di-approve sebelum ini. Tapi karena tidak di-email, harus rajin-rajin cek status nya di website ICA.

16 Juni 2015 – ambil LTVP (appointment)

LTVP sendiri berbentuk seperti sebuah kartu. Bayi harus dibawa. Waktu kita mau ambil kartunya, officer bilang kenapa bayinya wajahnya nggak sama dengan yang ada di foto yang kita submit tanggal 28 Maret 2015. Setelah kita menjelaskan bahwa muka bayi masih berubah-rubah dalam beberapa minggu pertama, perdebatan diakhiri dengan kemenangan officer dan kita pergi ke tukang foto di lantai 4 untuk foto paspor. Susah. Bayi umur segini leher masih belum kuat, jadi digendong dan ditopang tangan papa nya. Hasil fotonya langsung jadi, langsung serahkan ke officer (nggak perlu antri lagi). Dalam waktu kurang dari satu jam kartu LTVP jadi.

21 July 2015 – Jatuh tempo izin tinggal setelah perpanjangan tanggal 21 April 2015

Tidak berlaku lagi karena sudah dapat LTVP.

9 Oktober 2015 – ambil PR (appointment)

Sudah jelas bahwa langkah-langkah di atas sangat ketat dalam jangka waktunya. Kalau kita tidak apply PR dan tidak dapat perpanjangan izin tinggal, tanggal 24 April 2015 bayi kita bakal illegal stay karena LTVP nya baru dapat tanggal 30 April 2015.

Kalau kita tidak apply LTVP, bayi kita bakal illegal stay karena perpanjangan izin tinggal nya cuma sampai 21 April 2015 dan PR baru approved 9 Oktober 2015.

Untuk menghindari illegal stay, kita perlu mengurus perpanjangan izin tinggal di ICA. Cara dan syaratnya Suhu kurang tahu, karena menurut catatan di atas, kita tidak pernah dihadapkan situasi sedemikian rupa. Status illegal stay sangat mungkin terjadi jika:

  1. kita terlalu lambat dalam mengurus dokumen-dokumen syarat dan prasyarat
  2. ICA memakan waktu lebih lama dari perkiraan kita dan izin tinggal kita jatuh tempo duluan.

Untuk pertanyaan to apply or not to apply for PR, semua dikembalikan ke pandangan pribadi masing-masing. Preferensi masing-masing. Begitulah kira-kira. Semoga membantu.

Step 4 (Optional) LTVP

Setelah bayi kita punya akte lahir, dicatatkan di Kedutaan Besar, punya paspor Indonesia, berarti bayi kita sudah Warga Negara Indonesia seutuhnya. Masalah bagaimana KBRI menyalurkan informasi tentang keberadaan bayi kita ke negara, itu sudah bukan wewenang kita. Meskipun Suhu sudah ada persiapan bahwa kemungkinan besar nama bayi kita tidak akan tercantum di cacah jiwa Indonesia Raya, dan nantinya kita harus mengurus memasukkan nama anak dalam Kartu Keluarga (yang sampai sekarang Suhu masih belum fasih dan faham akan fungsinya).

Intinya, urusan kita dengan Indonesia sementara ini dianggap beres. Sampai kita pulang ke ibu pertiwi, kita harus berurusan dengan birokrasi dalam negeri. Yang tiap kota tiap propinsi tiap daerah aturannya berbeda.

Sekarang kita akan mengurus tentang Singapore. Kita perlu izin tinggal yang valid untuk bayi kita. Agar supaya tidak jadi imigran gelap. Sudah kecil, ribut, gak bisa apa-apa, imigran gelap pula. Maka ada beberapa option. Kalau kedua orang tua Permanent Residence (PR), otomatis ada tendensi untuk apply PR buat bayinya. Meskipun ini terserah orang tua nya. Ada kasus di mana papa mama nya PR tapi anak nya tidak apply PR, sah sah saja. Yang mau Suhu tekankan adalah dua orang tua PR, anaknya tidak otomatis PR.

Maka alternatif nya adalah LTVP. Long Term Visit Pass. Untuk bisa dapat Long Term Visit Pass, salah satu Papa atau Mama nya harus sudah PR. Dua-dua nya PR juga boleh apply LTVP untuk bayinya.

Untuk apply Long Term Visit Pass, untungnya lumayan convenient. Bisa apply online. Apply nya di sini http://www.ica.gov.sg/services_centre_overview.aspx?pageid=376

Tujuan kita apply LTVP ini sebenarnya sederhana. Apply LTVP approval nya terbukti cukup cepat. Mungkin karena LTVP juga cuman berlaku tahunan, jadi tiap tahun harus apply LTVP lagi. Dengan alasan ini mereka tidak terlalu ketat pemeriksaannya. Pemegang LTVP hak-hak nya juga tidak sebanyak PR, jadi persyaratannya pasti lebih longgar.

Sedangkan Apply PR bertolak belakang. Karena privilege PR di sini cukup tinggi, nyaris seperti Citizen, persyaratannya sangat rumit. Sayangnya kriteria untuk PR tidak seberapa transparan, ada beberapa kasus aplikasi gagal meskipun  kelihatannya memadai, ada juga yang sukses meskipun jelas-jelas anomali. Selain hasil aplikasi PR yang penuh misteri, timeline nya pun tidak bisa ditebak, bisa berbulan-bulan.

Dengan alasan mencegah skenario belum-dapat-PR-padahal-izin-tinggal-sudah-habis, maka kita apply LTVP. Nanti kalau sudah dapat PR, tahun depan LTVP nya sudah tidak perlu apply lagi, karena tinggal di Singapore nya menggunakan PR. Kalau PR nya ditolak, ya seterusnya menggunakan LTVP sembari appeal dan re-apply PR, kalau masih ngeyel.

Setelah apply online kita akan dapat in-principle approval dalam jangka waktu 4-6 minggu. Lalu kita bayar online pakai Credit Card atau NETS S$ 60 issuance fee dan S$ 30 visa fee. Dan kemudian akan diberi appointment date untuk ambil kartu.

LTVP

Untuk Suhu, Suhu apply tanggal 28 Maret 2015. Cek sendiri di website ICA untuk status aplikasi nya. Tanggal 30 April 2015 waktu Suhu cek ternyata sudah ada in-principle approval. Langsung Suhu bayar. Dapat tanggal untuk collect LTVP card nya tanggal 16 Juni 2015. Padahal masa tinggal bayi cuma sampai 22 Juli 2015. Kebayang kan maksudnya kalau Suhu bilang nggak boleh nunda-nunda karena masih banyak steps di belakang. Itu perlu diingat bayi lahir 13 Maret 2015, apply nya tanggal 28 Maret waktu bayi masih usia 2 minggu sudah apply LTVP. Dan untuk apply LTVP itu perlu nomer paspor. Jadi yang step 1, 2, dan 3 itu sebaiknya memang dilakukan segera.

Untuk tanggal pengambilan kartu LTVP, bayi perlu dibawa. Immigration officer perlu lihat bayinya. Waktu kita di ICA, saat lihat bayinya, Immigration officer bilang wajahnya beda dengan yang di foto. Ya. Jelas beda. Waktu apply masih 28 Maret 2015 (usia dua minggu) semua masih kisut, foto nya jelas beda dengan sekarang 16 Juni 2015 (sudah 3 bulan) goyang-goyang nangis ketawa tanpa alasan.

Suhu sudah lihat definisi recent photo di ICA adalah foto 3 bulan terakhir. Jadi technically semua foto bayi ini valid, karena bayinya baru juga 3 bulan. Tapi karena officer nya ngotot dan kita nggak mau memperpanjang masalah, kita take photo di ICA. Langsung jadi dan waktu submit photo nya officer nya bilang langsung aja setelah dapat fotonya kasih ke counter dia. Nggak usah ambil nomer antri lagi.

Setelah semua kelengkapan diperiksa dan apa yang kita isi waktu online application diverifikasi kebenarannya (dokumen-dokumen asli harap dibawa untuk ditunjukkan immigration officer), dalam 15-20 menit kartu LTVP jadi. Ini konfirm memang cepat, karena kita ada lihat waktu mulai dari kita kasih foto nya fresh dari baru take photo sampai kartu di tangan kita cuma setengah jam.

Nah dengan adanya LTVP lebih lega karena bayi kita sudah pasti legal tinggal di sini. Sembari kita menunggu approval PR. Dan yang terpenting, bayi kita bisa travel overseas dan kembali ke Singapore tanpa masalah dengan LTVP sebagai izin masuk dan tinggalnya. Informasi ini penting untuk orang-orang yang mau buru-buru pulang biar anaknya ketemu kakek neneknya di tanah air.

Dokumen Bayi – Paspor – Step 3

Setelah kita mengurus Surat Pencatatan Kelahiran (lihat step 2), langkah selanjutnya adalah membuat paspor. Tujuannya simpel. Anak kita Warga Negara Indonesia, suatu hari perlu terbang ke Indonesia, terbang ke Indonesia perlu paspor di imigrasi. Sederhana. Bayi perlu paspor.

Jadi bikinnya bisa nanti kalau mau pulang? Jawabnya tidak.

Saat kamu masuk sebuah negara asing, kamu perlu travel document yang valid.

Bayi yang lahir di Singapura, tidak punya travel document. Saat mbrojol dari rahim ibunya tidak pegang paspor. Papa mama nya yang harus ngurusin.

Batas pembuatan travel document ini 42 hari setelah bayi lahir. Tapi jangan ditunda sampai hari terakhir, karena seperti halnya mengurus akte lahir yang cuma dibatasi 14 hari, masih ada step-step berikutnya. Sekarang kita bahas cara bikin paspor dulu.

Berikut dokumen yang dibutuhkan, sumber dari http://www.kemlu.go.id/singapore/Pages/AboutUs.aspx?IDP=51&l=id

Persyaratan Untuk WNI yang baru lahir di Singapura:

Untuk WNI yang baru lahir di Singapura (bayi) yang ingin dibuatkan paspor RI, maka orang tua yang bersangkutan harus datang langsung ke Bagian Imigrasi KBRI Singapura dengan membawa dokumen-dokumen sebagai berikut:

Formulir Permohonan (PERDIM:11 – formulir warna putih) yang telah diisi lengkap. Formulir dapat di-download di sini.
ID Card Singapura milik orang tua (salah satu) dan fotokopinya (Work permit, Employment Pass, S-Pass, Dependant Pass, Student Pass, Permanent Resident)
Surat Akte Kelahiran yang sudah disahkan dari Fungsi Konsuler KBRI Singapura
Surat Kelahiran dari Registrar Singapore
Paspor dan Akte Nikah Orang Tua
Hanya diberikan jika salah satu dari orang tua adalah WNI penduduk Singapura, jika tidak maka yang bersangkutan akan diberikan SPLP

1.Formulir Permohonan.
Ambilnya form kosongnya sudah waktu ngurus Surat Pencatatan Kelahiran hari sebelumnya, biar bisa diisi di rumah.

2.Surat Pencatatan Kelahiran
Dokumen yang diperoleh dari step 2 kemarin semestinya sudah selesai, jadi di hari yang sama, ambil suratnya dari lantai 2, lalu turun ke lantai 1 untuk fotokopi dan dipakai mengurus bikin paspor.

3. Birth Certificate
Akte lahir Singapore yang sudah diperoleh dari step 1 waktu bayi baru lahir.

4. Paspor Papa dan Mama

5. Akte Nikah

6. IC Papa dan Mama

Familiar? Benul. Karena memang persyaratannya sama dengan persyaratan Step 2. Cuma ditambah Surat Pencatatan Kelahiran (yang didapat dari Step 2) dan Formulir Permohonan.

Mudah bukan?

Setelah dokumen lengkap beserta fotokopiannya, ajukan ke loket pembuatan paspor di dua counter paling kiri. Sejenak kemudian nama bayi akan dipanggil untuk foto. Jadi ingat, bayinya harap dibawa.

Untungnya pihak KBRI tidak terlalu rewel. Foto bayi merem, noleh, mangap, tidak keliatan telinga, tidak terlalu dipermasalahkan. Kami sudah buktikan sendiri. Foto paspor bayi kami merem, noleh, mangap, tidak keliatan telinga, dan pihak KBRI oke oke wae.

Habis foto pergi ke loket dekat pintu keluar untuk bayar.

Biaya: S$ 38. dapat paspor 48 halaman.

Bukti pembayaran harap disimpan, untuk ditunjukkan waktu mau ambil paspor dengan paspor setelah paspor jadi dalam 3 hari kerja. Kami foto bayi di KBRI tanggal 24 dan slip bukti collection kami dialokasikan tanggal 26 sore antara pukul 15.00-17.00. Saat ambil paspor jadi bayi tidak perlu dibawa.

Untuk step 1 dan 2 cukup orang tua nya yang ngurus (kalau bisa Papa biar Mama ngurus bayi di rumah) tapi untuk step 3 ini ingat, BAYI HARUS DIBAWA.

Setelah foto paspor dan bayar, ingat. BAYI DIBAWA PULANG.

Dokumen Bayi – Surat Pencatatan Kelahiran – Step 2

Berikut adalah dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus Surat Pencatatan Kelahiran di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapore. Info dari pengalaman Suhu pergi ke KBRI tanggal 20 Maret 2015. Informasi dapat berubah sewaktu-waktu dan Suhu tidak menjamin informasi ini bakal up-to-date. Untuk lebih jelas, cek di website KBRI Singapore http://www.kemlu.go.id/singapore/Pages/default.aspx

2015-03-20 10.32.22

Haha .. Monther. Untung bukan Monster.

Sesuai foto di atas yang, dokumen yang dibutuhkan adalah:

1. Singapore Birth Certificate
Cara dapatnya dari Step 1.

2. Paspor Papa dan Mama.

3. IC Papa dan Mama.

4. Certificate of Marriage
Suhu punya ROM Certificate yang dikeluarkan Singapura, pencatatan perkawinan yang dikeluarkan KBRI Singapura, dan Akte Kawin yang dikeluarkan catatan sipil Malang. KBRI memilih pencatatan perkawinan yang dikeluarkan KBRI Singapura.

Biaya: Gratis. Bahkan ditulis besar-besar di depan loket Counter 4.

2015-03-20 10.31.43

Waktu Proses: 1 (satu) hari kerja.
Karena Suhu hanya sempat apply hari Jumat, maka collection harus tunggu sampai hari Senin. Terlihat lama karena melewati weekend. Tapi kalau kalian apply selain hari Jumat, seharusnya waktu proses 1 hari tidaklah menjadi masalah. KBRI Singapura sangat efisien dan layak diacungi jempol.

Jam kerja: Apply 9.30 pagi – 12 siang. Hari Senin sampai Jumat.

Tempat: KBRI Singapura Lantai 2. Counter 4 khusus diperuntukkan mengurus dokumen-dokumen bayi Indonesia di Singapura. Setelah naik tangga di sisi kanan.

Biar efektif tapi tetap murah, lebih baik naik MRT ke Redhill, dari Redhill MRT keluar di sisi kiri ada Taxi stand. Naik taxi dari MRT Redhill ke KBRI sekitar 7 dollar tanpa surcharge peak hour. Toh kita cuma bisa apply jam 9.30 pagi, sudah lewat jam surcharge taxi.

Tips dari Dina:
Setelah mengurus Surat Pencatatan Kelahiran, sebelum pulang turunlah ke Lantai 1 tempat pengajuan bikin paspor. Minta form untuk bikin paspor. Lalu pulang dan formnya bisa diisi di rumah. Nanti formnya bakal diajukan saat kita balik KBRI untuk mengambil Surat Pencatatan Kelahiran yang sudah jadi. Dokumen untuk bikin surat pencatatan kelahiran adalah subset dari dokumen untuk bikin paspor. Jadi langsung saja fotokopi dua set. Nanti waktu aplikasi paspor tinggal menambahkan fotokopian dokumen yang lain.

Warga Negara Indonesia

Berbekal akte lahir Singapore yang didapat setelah mendaftarkan kelahiran Enjel di Admission KK, Suhu perlu membuat akte lahir versi Indonesia untuk Enjel. Jadi memang syarat yang harus ditempuh itu berliku-liku dan banyak tahapan. Tapi berkat informasi dari para pendahulu Suhu seperti Septian dan suami Dina, Suhu berhasil melalui fase ini dengan relatif tanpa halangan berarti.

Karena berbagai proses memerlukan requirement dokumen dari proses lain, maka petunjuk yang runut dari para papa-papa baru itu membantu papa yang lebih baru. Tugas mulia ini diemban oleh para suami karena alasan yang sederhana. Mengurus berkas dan dokumen resmi adalah hal yang macho bisa kami lakukan. Dalam hidup bahtera rumah tangga, hampir semuanya dikerjakan dengan pembagian tugas.

Terlebih jika hidup merantau di negara yang norma sosial kasta kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Pekerjaan rumah pun harus dibagi berdua antara suami istri. Seperti Suhu dan Nyonya misalnya. Nyonya membersihkan rumah, Suhu buang sampah. Suhu menjemur, Nyonya menyetrika. Nyonya memasak, Suhu makan cuci piring. Tetapi semua berubah sejak negara api menyerang ada anggota baru di keluarga kami.

Hadirnya Enjel telah menggeser porsi pembagian tugas. Kami kini berleha-leha sementara Enjel menyapu mengepel dan memasak. Bahkan sejak sebelum Enjel lahir. Saat masih di dalam kandungan, Nyonya sudah mulai mengeluh punggungnya sakit, kakinya bengkak, pipinya keseleo, pinggang pegal-pegal, panggul cenut-cenut. Sebagai seekor suami yang siaga Suhu mengambil alih beberapa tugas dengan prinsip dasar yang-bisa-suami-kerjakan Suhu kerjakan, sisanya Nyonya.

Suhu mulai dengan yang simpel simpel seperti memasak. Mencuci baju. Menjemur baju. Ngentas jemuran. Sementara Nyonya mengambil bagian pekerjaan yang Suhu tidak bisa melakukan. Mengandung.

Setelah hamil pun tidak jauh berbeda. Hal yang bisa dikerjakan Suhu dan Nyonya, dikerjakan Suhu. Hal yang hanya bisa dikerjakan Nyonya, dikerjakan Nyonya. Misalnya, menyusui. Meskipun beberapa pekerjaan rumah kembali diambil alih Nyonya saat Enjel tidur, misalnya masak dan bersih-bersih, tugas luar seperti mengurus dokumen bayi otomatis menjadi tugas Suhu. Karena kalau Enjel lapar saat Nyonya berada di luar, Suhu tidak bisa menyusui.

Suhu pergi ke Indonesian Embassy atawa Kedutaan Besar Republik Indonesia. Letaknya di Chatsworth Road. Letak KBRI termasuk nylempit dan relatif jauh dari tempat kami. Dari peradaban manusia kasta kami, maksud Suhu. Letaknya ada di tengah-tengah rumah-rumah mewah nempel tanah. Impian fakir seperti kami yang hanya hidup di kotak-kotak di angkasa. Rumah-rumah dengan kebun di halaman depan. Impian perantau endonesa.

Untuk mencapai tempat ini tanpa perlu bersusah payah, transportasi yang dianjurkan adalah Taxi. Keuntungannya bisa sampai tepat di depan pintu KBRI. Kerugiannya adalah biaya yang relatif mahal. Tapi kalau tidak naik taxi, letak KBRI sangat jauh dari MRT. Harus naik bus, itu pun dari bus stop terdekat masih harus berjalan kaki. Suhu ambil jalan tengah. Naik MRT sampai stasiun Redhill. Dari Redhill Station melambai taxi dan turun di tujuan tepat satu langkah di depan KBRI. Alasannya simpel, Nyonya dan Enjel ditinggal sendirian di rumah. Suhu juga was-was meninggalkan Nyonya mengurusi Enjel. Nyonya belum pulih total.

Berbekal petunjuk dari suami Dina, Suhu langsung ke lantai 2. Antri sebentar lalu mendaftar dan memberikan berkas-berkas yang diminta di counter 4. Petugas di loket memberikan serpihan kertas berisi informasi dokumen yang diperlukan untuk aplikasi ini. Untungnya Suhu sudah mengantisipasi dan menyiapkan semuanya dari rumah sehingga proses tidak bertele-tele. Serpihan kertasnya seperti ini, ayo dibaca apa kalian nemu typo nya di mana?

2015-03-20 10.32.22Semuanya berlangsung secara lancar terutama karena Suhu sudah tahu urutan apa yang perlu diurus dan dokumen apa yang perlu disiapkan sebelum berangkat. Perlu diingat bahwa untuk aplikasi Surat Pencatatan Kelahiran di KBRI, Submission atau Pengajuan hanya ada slot pagi saja. Slot paruh hari siang diperuntukkan orang-orang yang mengambil.

2015-03-20 10.31.43Sekitar setengah jam kemudian loket memanggil nama Enjel dan Suhu beranjak dari tempat duduknya. Petugas loket counter 4 memberikan selembar Surat Pencatatan Kelahiran di kertas A4 biasa, tanpa dibubuhi tandatangan resmi. Semacam Draft. Suhu diminta untuk mengecek semua data yang tertera di dokumen tersebut. Setelah Suhu baca dua-tiga kali, Suhu menyatakan semuanya benar.

Petugas meminta Suhu membubuhkan tanda tangan di sudut kiri bawah tanda sudah konfirmasi kebenaran data-data tersebut. Selanjutnya, dokumen itu akan diprint di kertas yang lebih tebal, ditandatangan petinggi KBRI, dilaminating, dan diberikan ke Suhu. Proses ini memakan waktu satu hari dan waktu pengambilan tercepat adalah siang hari kerja berikutnya. Karena collection atau pengambilan adalah slot siang setiap harinya.

“Sudah Bapak. Ini berkas bapak yang asli semua saya kembalikan harap dicek ulang. Surat Pencatatan Kelahirannya bisa diambil hari kerja berikutnya. Datangnya siang ya setelah jam setengah tiga kami buka.”
“Oke. Besok tidak buka ya, Dik? Jadi Senin siang?”
“Betul, Bapak. Senin siang bisa diambil.”
“Wah, saya Senin siang sibuk, Dik. Bayi saya ada jadwal checkup jaundice di posyandu. BIsa disimpan di sini sampai Selasa, gitu?”
“Tidak masalah, Bapak. Bapak bisa ambil suratnya kapan saja setelah hari Senin. Kami akan simpan surat-surat yang tidak diambil.”
“Baiklah, Dik. Saya ambil Selasa saja. Ini harus saya yang ambil atau boleh diwakilkan?”
“Boleh siapa saja, Pak. Asalkan membawa surat tanda terima yang tadi kami berikan. Jangan hilang ya, Pak.”

Suhu mencatat tanggal hari Selasa di kalender hape untuk mengambil dokumen ini. Semuanya dicatat di reminder hape. Biar tidak lupa. Kalau bisa sih diambil Senin biar cepat selesai. Tapi kalau Senin Suhu perlu ke posyandu untuk jaundice checkup Enjel, siapa ya yang bisa diutus untuk mengambil. Lalu Suhu mencari kontak nomer hape untuk telepon sopir kantor. Cek apa sopir kantor sibuk hari Senin depan. Apa bisa disuruh mengambilkan. Hmm… Koq tidak ketemu ya kontak sopir kantor di phonebook hape?

Oh iya. Kan hapenya baru ganti. Bentar, bentar. Cek di hape kantor. Mana ya hape kantor.

Eh iya. Kan udah gak kerja di sana. Kan udah quit waktu mau lahiran Enjel. Bentar, bentar. Cari sopir kantor yang sekarang.

Uh iya. Kan udah gak punya sopir di kantor yang sekarang.

Di situ kadang saya sedih.

Warga Negara Indonesia

Dokumen Bayi – Birth Certificate – Step 1

Berikut adalah dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus Birth Certificate di Singapore. Info dari website nya ICA. http://www.ica.gov.sg/page.aspx?pageid=160&secid=159

Documents Required:

For ALL
Notification of Live Birth issued by the hospital*
Identity Cards of both parents
Original marriage certificate of parents

*Parents of children not born in hospitals can obtain the Notification of Live Birth from the doctors/midwife/ ambulance staff who delivered the baby.

Additional Documents Required for Foreigners
Passports of parents
Entry Permits of parents
Disembarkation/Embarkation card of parents (atau EP/PR card kalau domisili sini)

Dari pengalaman teman baik Suhu, Dina, yang belum lama ini melahirkan seekor kucing kecil di NUH, bayar admin fee totalnya 40$. Tapi karena suami Dina ini kan memang super sekali, mereka ngurus langsung ke ICA. Buat yang mau menempuh jalur ini, biayanya $18. Sebenarnya di rumah sakit juga biayanya $18, tapi ditambahi admin fee. Suhu sendiri mendaftarkan di KK Hospital dan perlu membayar $18 (untuk imigrasi) dan $21.40 untuk admin KK (20$ ditambah 7% pajak).

Sebenarnya lebih convenient untuk melakukan transaksi ini di rumah sakit pas bayi waktu saja lahir.. Jadi untuk yang ancang-ancang mau melahirkan, mungkin dokumen-dokumen tersebut di atas bisa dibawa saat mau lahiran. Biar gampang. Tapi kalau pasangannya bukan dua-duanya PR, dan nikah nya di luar Singapore, harus ke ICA karena rumah sakit tidak bisa memproses.

Pencatatan kelahiran ini dibatasi 14 hari dari Notification of Live Birth. Kalau karena satu dan lain hal terlambat mendaftarkan ini, ada periode untuk delayed registration sampai 42 hari. Ini mungkin buat bunda yang masih galau anaknya dikasih nama Nabila atau Bebi Cesara. Tapi untuk kepentingan kita, sebaiknya proses ini dilakukan secepat mungkin tanpa ditunda, karena ini baru step 1 dan masih ada banyak step di belakang yang batas waktunya cukup sempit kalau akte lahir ini keluarnya telat. Para suami harus bersikap tegas dan melaksanakan hak veto untuk memberi nama anaknya Nunung kalau istrinya masih berlarut-larut memikirkan nama yang tak pasti.

Hal ini dikarenakan semua deadline berbasis dari tanggal lahir bayi. Meskipun akte ini boleh molor sampai 42 hari, kita masih harus mengurus paspor dan ijin tinggal yang semuanya harus beres sebelum bayi kita kehabisan ijin tinggal turis. Iya, mbrojol di negara ini bayi kamu jadi turis. Kalau sampai ijin tinggal turisnya habis, bayi kamu jadi … imigran gelap.