Communication Skills of (almost) 2 year old Evangeline

Everyone (Papa, Mama, Angel) is ready for monthly family outing, and suddenly

“Let’s go!”
“Wait Papa!”
“Yes why?”
“Angel poo.”

My daughter is learning to tell us what’s happening to her.

When we reached the Kopitiam (local Food Courts chain in Singapore), the Mother goes to buy the food first while I supervise Angel playing around. Among all of the patrons in the makan place, and suddenly

“Papa!”
“Oh no please don’t.”
“ANGEL POO! LAGI!”

My daughter is learning to tell the whole world what’s happening to her. At impeccable moment.

About Exercise

People around me know that I don’t do sports. Friends, colleagues, family and relatives. They all know that I don’t have any affiliation to any physically exhausting activity. Not only those who know me well, but those who barely knows me will also have the vibe. I’m not in any shape considered to be physically fit.

I skip company activity related to sports (futsal, hiking, marathon run, etc) because I do not have any interest. After some time the offers died down too. Win-win. I’m still good with colleagues and friends. Because I still join other activities. Like lunch and dinners. I mean, of course others not necessarily related to food, but yeah there’re not many options.

So when people ask me “Do you exercise, at all?”, it got me thinking. “When was the last time I did exercise”. And the question branched out to “Why did I do it?” and “What for?”

So I list them down, the things I do in making choices towards a healthy life.

I eat healthy food even though:

  1. I don’t like the taste, or
  2. the appearance is appaling, or
  3. both 1 & 2

Because my mother told me she’s concerned and I live faraway from home so my mother can no longer force and shove those presposterous things to my mouth. So I have to do it by myself.

I hit the gym because my fiancee wanted me to look better for the prewedding photoshoot and I seconded her opinion. And I regretted my agreement after 5 minutes on the treadmill. Every single session. Yes. I still look fat during my prewedding photoshoot. Yes I didn’t look that fat in the prewedding photos. Yes. I know some Photoshop skills. After I get married, I still jog once in a while. Because of the Zombie Run apps. And they need Runner #5 to play a significant role.

And now. I carry my 12 kg daughter on daily basis. Because she can’t sleep on her own, she either need to be nursed to sleep by The Mother, or carried to sleep by me. I assume this is a form of exercise. That’s for night time, for day time especially weekends, I still carry her around too. Because she giggles when I carry her. I have sore muscles regularly but it’s OK.

So did I exercise, at all? Yes, I do. Because I love my mother, my wife, and my daughter.

I hope to have a long healthy life so they don’t suffer.

PS: Angel is now getting better and trying to sleep on her own. Shutting her eyes and staying still but still face difficulty to fall asleep. Sometime The Mother will pat her to soothe her and sleep. I still resort to carrying her until she’s fallen into deep sleep before put her on to the bed. I did try to pat her to sleep. But I stopped since The Mother told me that even my lowest setting of patting movement looks like I’m slapping my daughter to oblivion.

 

Somehow

Last night my wife asked our daughter.

“Where’s pipi?”

My daughter pointed to her cheek (pipi in our language).

“Papa’s pipi?”

My daughter pointed to my cheek. It continued to nose, teeth, hair, mouth, ears, hands, and toes. She would pointed to hers, then to mine. It might sounds ridiculously simple. But suddenly the problems in office during the day vanished during the night, as my daughter pressing her little fingers on my face.

I remembered several years ago when I was still single, I asked my colleague

“How did you manage full time job and three kids? Isn’t it stressful?”

He replied

“I don’t know. I just did. Somehow.”

When I think I begin to understand more as I ravel deeper into the parenthood conundrum, this morning my colleague asked me “It must be tiring taking care of your active daughter, especially during this office busy period. How did you do it?”

“I don’t know. I just did. Somehow.”

Daddy’s Log April 2015

Lima hari yang lalu Enjel genap berusia satu bulan. Pertumbuhan Enjel terlihat sangat perlahan. Entah apakah ini normal. Hanya satu yang berubah. Pipinya terlihat makin besar. Sesuai tradisi, kita mencukur rambut Enjel. Suhu jadi sadar, betapa berpengaruhnya rambut pada kesan pertama wajah. Apalagi setelah Enjel digunduli.

2015-05-23 18.37.53

Untuk perkembangan motorik, kepala masih tergolek lemas. Teriakan pernah terdengar lantang sewaktu baru lahir. Tapi dalam kurun waktu sebulan ini lebih sering terdengar seperti sesenggukan kucing kelaparan.

Nyonya menerapkan beberapa kegiatan selain tidur dan menyusui. Yaitu Tummy Time. Untuk melakukan atraksi ini, Suhu harus menggendong Enjel, kebanyakan waktu setelah minum susu dan mencoba untuk burping (memaksa bayi bersendawa). Lalu Suhu akan merebahkan diri di sofa atau ranjang, membuat Enjel tiarap di dada Suhu. Mungkin ini sebabnya Nyonya menyebut atraksi ini Tummy Time. Waktu tummy Enjel ketemu tummy Papa. Durasi kegiatan ini satu jam sehari.

20150418_175421.jpg

Baik tidur tiarap di perut papa, maupun tidur terlentang di ranjang, Enjel tergolek tidak berdaya. Bisa dibilang makhluk ini sekarang tidak bisa apa-apa. Sama sekali. Minum susu masih luber ke mana-mana. Tidur tiarap mengangkat leher saja tidak bisa. Disuruh pergi ke pasar eh malah tidur. Bernafas aja masih tersedak.

Perkembangan yang paling signifikan adalah Enjel sudah dinyatakan lewat masa-masa jaundice nya. Jadi itu adalah sesuatu kabar yang hore bagi kita. Tidak perlu bolak-balik ke posyandu lagi.

Ukuran tubuh tidak jauh berbeda. Kepala Enjel masih lebih kecil dari telapak tangan Papa. Iya, sekarang Suhu sudah naik pangkat, jadi Papa panggilannya.

Tingkat kecerdasan sepertinya belum bisa diukur. Waktu tangan Suhu didekatkan ke mata Enjel secara mendadak, Enjel merespon dengan berkedip … setelah sekian ratus milidetik. Disinyalir bayi ini sudah mengenali bahaya, tapi sistem syarafnya masih belum sempurna. Mungkin masih belum Ethernet. Ping nya masih nge-lag.

Yang menarik. Sebenarnya bukan perkembangan bayinya. Tapi perkembangan lingkungan sekitar. Suhu mengamati perubahan yang mendasar pada kehidupan secara umum. Hidup menjadi bayisentris. Jam kerja, mandi, dan tidur sekarang disesuaikan dengan jadwal bayi. Suhu dan Nyonya jadi tahu bahwa manusia bisa hidup tanpa perlu tidur dengan kondisi ideal.

Suhu yang susah tidur dengan lampu nyala dan Nyonya yang tidak bisa tidur dengan lampu mati. Keduanya menemukan pencerahan. Bahwa saat kita benar-benar perlu tidur kita bisa tidur di bawah naungan lampu disko sekali pun.

Suhu kini upgrade menjadi Papa. Bakat terpendam Suhu pun mulai tergali. Misal. Mengganti popok sambil tidur. Menidurkan bayi sambil tidur. Membuat susu formula sambil tidur. Hampir semua hal-hal rutin bisa Suhu lakukan tanpa ingatan apa pun di keesokan harinya.

Nyonya telah upgrade menjadi Mama dan memperoleh Skill-skill baru. Menyusui, itu pasti. Tapi yang paling memukau adalah Communication Skills.

“HWAAAAA….waa…”
“Ini kenapa ya? Udah minum susu. Udah ganti popok. Lagi tiduran gini tiba-tiba nangis.”
“Oh itu dia kepanasan pipinya yang kiri, minta noleh kanan.”

Setengah skeptik setengah pesimis, Suhu menurut saja. Toh sudah kehabisan akal. Kepala Enjel dipegang perlahan, lalu dibantu menoleh. Bayi Enjel tersenyum. Lalu tidur. What kind of sorcery is this?

“Memang gitu, kalau tidur terus satu sisi kan yang nempel ranjang panas. Dia belum bisa noleh.”

Ya. Suhu juga mengerti. Tapi derivasi sekompleks itu hanya dari Huwaawa memerlukan campur tangan Tuhan. Nyonya sudah bisa membedakan tangisan lapar, pipis, ngantuk, dan kepanasan.

Dalam waktu kepepet, kurang tidur, lapar, mudah marah. Suhu selalu mengingat bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Waktunya bukan sekarang.

 

The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.

Daddy’s Log March 2015

Sekarang Enjel sudah berusia sepuluh hari. Beberapa pengamatan Suhu pada spesimen baru ini buah hati kami, Enjel, adalah sebagai berikut.

Primal Instinct
Saat sampai di rumah kami, hal pertama yang Enjel lakukan adalah. Eek. Ini jelas-jelas cara hewan di hutan menandai teritorial kekuasaan. Tidak sampai lima menit masuk rumah, kami taruh Enjel di ranjang. Brruuttt. Wajah Enjel tetap rata tak berdosa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi semua makhluk hidup di sekitarnya tahu bahwa sampai radius bau ini tercium, sudah menjadi daerah kekuasaan Enjel. Yang bisa mencium bau ini adalah bawahannya, wajib memberi Enjel makan, memandikan, dan ini kenapa kalian ganti popoknya? Hweeeaaa!!!! Enjel masih belum mengerti banyak hal di dunia ini. Antara lain konsep bahwa popok harus diganti yang bersih. Enjel masih merasa bahwa sensasi hangat di daerah pantat itu nikmat.

Daddys Log March 2015

In progress
Sebagai bayi, Enjel masih belum develop sistem saraf manusia secara mendetil. Sistem sarafnya masih in progress, terlihat dari gerakan-gerakan tangan dan kaki yang masih kacau, tidak sinkron, dan tidak terkontrol. Seringkali Enjel menggerakkan tangan dengan swing motion yang terlalu kencang, dan memukul kepalanya sendiri. Satu lagi yang masih di luar kendali Enjel adalah rasa sakit. Jelas-jelas nggebug kepala sendiri sampai bunyi Plaakk!!! Wajah Enjel tetap rata tak berdosa.

Pancaindra
Dari sekian indra Enjel untuk memantau dunia, nampaknya yang paling kuat adalah indra penciuman. Terutama mencium bau susu. Dengan mata tertutup, Enjel bisa merespon dengan gerakan gembira tak terkontrol jika Nyonya mendekat. Jelas ini adalah keahlian atau bakat terpendam. Sementara indra lainnya lumayan telat. Pendengaran sudah ada indikasi, misalnya saat pintu tak sengaja terbanting karena angin, dua kaki dan dua tangannya mengejang tak terkontrol tanda terkejut. Indra penglihatan aadalah indra yang Suhu paling mudah melihat perkembangannya. Enjel masih sering tatapan mata kosong melihat ke langit-langit ruangan. Di usia sepuluh hari, hitam bola mata sudah bisa mulai mengikuti gerakan jari Suhu ke kiri dan ke kanan. Saat Suhu mencoba memajumundurkan jari untuk melihat seberapa jauh dekat Enjel bisa melihat, hitam bola mata Enjel terlihat bereaksi perlahan membesar mengecil seperti kamera berusaha fokus.

Kontrol
Enjel masih banyak belum bisa mengendalikan otot-otot seluruh tubuhnya. Misalnya saat diberi jari Suhu di telapak tangannya, Enjel belum bisa menggenggam. Dengan bantuan Suhu membuka jari-jemari kecilnya, Suhu meletakkan jari Suhu dalam genggaman tangan Enjel. Setelah menggenggam, Enjel kesulitan untuk membuka genggamannya sendiri. Genggaman tangannya masih lemah dan relatif mudah untuk dibuka jari-jemarinya tanpa perlawanan berarti.

Refleks
Suhu membaca tentang Moro Reflex sebelum Enjel lahir. Seperti kejang tapi sangat sebentar. Yang paling parah kalau refleks ini keluar saat Enjel sedang tidur. Kadang Enjel terbangun dan jadi susah tidur lagi. Refleks lain yang Suhu amati adalah, saat tangan Suhu mendekati wajah Enjel dengan kecepatan yang cukup dahsyat, Enjel TIDAK BERKEDIP! Di usia sepuluh hari, Suhu mencoba lagi mendekatkan telapak tangan seolah menampar, tapi direm di saat-saat terakhir. Akhirnya Enjel bisa berkedip, tapi dengan delay sekitar satu detik.

Support
Yang berkembang bukan hanya Enjel. Tapi juga support system di sekitarnya. Yaitu orang tua nya. Suhu dan Nyonya selaku papa mama Enjel, mulai perlahan mengerti beberapa indikasi tangisan Enjel. Pada hari-hari awal, kegelisahan sering memuncak dalam setiap insan dalam keluarga ini. Suhu sendiri selalu gelisah kalau Enjel nangis tanpa sebab yang jelas. Dan Enjel jelas-jelas gelisah kenapa-orang-ini-bego-nggak-ngerti-mauku-apa.

“Iya njel kamu kenapa nangis terus? Kamu pipis? Ngompol? Gak bisa kentut? Lapar? Sumuk? Kadhemen? Gatel gatel? Sini papa garuk. Mana gatel? Pantat gatel? Sini papa …”
*Bruuuttt*

“Nyaaa…. Enjel eek.”

Lain Suhu lain Nyonya. Dengan mendengarkan tangisan Enjel, Nyonya bisa mengetahui apa mau Enjel. Nyonya merasa video youtube tentang arti tangisan bayi ini lumayan akurat. Nyonya sudah bisa membedakan antara tangis sederhana seperti tangis lapar atau tangis ngantuk. Sampai kombinasi lapar sambil eek. Juga yang level advanced seperti tangis berkepanjangan. Nangis karena pipis, pas popok dibuka nangis karena kedinginan, setelah ganti popok nangis kelaparan.

Jadi pada hakekatnya, yang berevolusi bukan hanya Enjel yang belajar menjadi manusia. Tapi juga Suhu dan Nyonya yang belajar menjadi Papa dan Mama.

Status

On the Job Training

“Sus, saya mau coba sendiri.”
“Betul, Pak. Bapak harus coba sendiri biar nanti bisa.”
“Tapi suster bantu lihat ya.”
“Iya, saya pandu, Pak.”

“Ihik …”

“Sus, koq eeknya item ya?”
“Iya pak, ini yang terakumulasi di dalam perut dia selama sembilan bulan. Namanya meconium. Besok sudah hilang koq, besok warnanya kuning pak. Nggak lengket kayak gini.”
“Ooo … terus yang di mulut ini apa, Sus?”

“Bleehh….”

“Muntah itu, Pak. Saya lap ya … biar nggak masuk lagi.”
“Koq warnanya soklat, Sus. Kan dia cuman minum susu mamanya?”
“Iya, ini waktu keluar, mulutnya kemasukan kotoran, Pak. Habis disusui ibunya, keluar semua. Ini gunanya ASI, Pak. Bisa mengusir hal-hal gak baik di dalam tubuh bayi dan menurunkan antibodi dari mama ke anaknya.”

“Heee….”

“Sus … sus … sus …. eh …”
“Eehh … nak … bapakmu koq kamu pipisi ….”
“Lagi asik cebok koq pipis kamu nak? Dingin ya dicebokin tisu basah?”

20150315 mipisi papa

“Saya ambil alih saja ya Pak, pipisnya dah merambah ke sprei.”
“Waktu dan tempat saya persilakan.”
“Jadi begini pak hapusnya dari atas ke bawah, biar kotorannya nggak masuk saluran kencing.”

“Itu putih-putih kenapa, sus?”
“Kalau bayinya perempuan memang begitu, pak. Ini normal koq. Nggak usah dibersihin.”
“Oooo jadi itu dibiarin aja.”
“Biarin aja, kalau kotor kuning baru dihapus. Bapak mau lanjut make’in popok nya? Ini sudah bersih”
“Boleh sus.”

Croooottt…..

“Heee….”

20150315 neleki papa