The Tome of Ethereal Knowledge

When we buy a new gadget, we were given a User Manual. Nobody really reads it. And when you can’t do some of its function, you refer to it. That’s provided you haven’t lost that book yet. Most of the time you have lost it before you even read it.

When Evangeline was born, we were given a health booklet from KK Hospital. It contains many useful information like schedule of immunisation (many many many abbreviations there BCG HepB DTaP IPV PCV MMR ASL PLS LOL ROFL WTFBBQ). It also contains the charts where we can foresee the growth of our baby in term of weight and height. And to compare the baby among its peers based on local statistics and get rough estimate at which percentile the baby is. Competition since early days, being Asian at its finest.

So every now and then we will refer to this sacred Tome of Ethereal Knowledge. Either for the immunisation schedule, or to check whether the weight and height of our daughter is considered “normal”. Her height is usually in 50th percentile and weight is generally in 95th percentile. She’s not fat. She’s chubby. She’s not shortie, she’s normal but she grows horizontally faster than she is vertically. Takes after her father.

But the one thing that I always find in the Tome is the developmental checklist. So they have this several checklists containing few statements in each list. Every list came with the age of the baby in the title. So let’s say for example in the checklist for 6 months old, they will have a statement like “Your child is able to roll over from stomach to back or
back to stomach”. If your baby can do it, you tick the box next to it. If your baby can’t do it, pfffftttt my baby can. I win you lose.

The book is given for free by Health Promotion Board to the parents of the kids born in Singapore. So everyone here has it. But for the benefit of readers who does not reside here, this is the link to the softcopy.

https://www.healthhub.sg/sites/assets/Assets/Programs/screening/pdf/health-booklet-2014.pdf

I would say the Singapore government does a fine job in providing this to the clueless first time parent. The questions that always linger like “Is this normal?” can be easily answered by reading it. On top of the checklist for you to keep track of your baby’s development, the Tome gave you an indication on how many months 90% of the babies can tick off that statement. Using the same example above, the Tome said 90% of the babies can tick off the rolling stomach-back-stomach at the age of 5 months old.

 

So in case your baby malfunctions, please refer to the manual. Or bring to the nearest pediatrician or clinics or hospital if you think it’s serious and urgent. They might be able to repair your baby. Strictly no return policy. No one to one replacement, too.

Advertisements

Posyandu

Waktu Suhu kecil, ada sebuah lagu yang sering diputar di televisi. Nampaknya semacam iklan layanan masyarakat dengan subliminal message percobaan cuci otak anak-anak senusantara. Begini lagunya.

Aku anak sehat tubuhku kuat
karena ibuku rajin dan cermat
semasa aku bayi selalu diberi ASI
makanan bergizi dan imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare ibu slalu waspada
pertolongan Oralit slalu siap sedia

Ini lagu sudah mulai beberapa dasawarsa silam, dan masih terngiang di telinga Suhu. Proses cuci otak berhasil.

Setelah keluar dari rumah sakit kami memang punya pengalaman buruk dengan poliklinik, saat pertama kali ke sini Enjel sudah divonis jaundice. Tempat yang mestinya sangat friendly karena doktrinasi sejak dini, telah menjadi momok. Sayangnya kita harus tetap ke sini untuk kontrol level bilirubin Enjel guna memastikan tidak terlalu tinggi dan merusak saraf. Kalau nilainya mencapai ambang batas, God forbid, Enjel harus masuk ke Emergency di rumah sakit lagi.

Posyandu di sini ya poliklinik-poliklinik yang tersebar di seluruh daerah dan pelosok. Mereka kompeten dan memang dari rumah sakit bersalin menganjurkan kita ke poliklinik untuk melakukan kontrol reguler berkala bayi kita. Poliklinik juga memberikan jasa imunisasi dan dokter jaga yang meskipun bukan dokter anak, tapi niscaya cukup pengetahuannya untuk kasus-kasus umum pada bayi. Jika memang dirasa bermasalah, tentunya akan dirujuk ke dokter spesialis anak atau rumah sakit anak yang tak lain tak bukan adalah rumah sakit bersalin tempat Enjel lahir. Rumah sakit bersalin dan rumah sakit anak nya satu alamat, beda tower.

Singkatnya, jadilah kita sepasang bapak ibu muda pagi-pagi pergi ke Posyandu untuk mengecek tingkat bilirubin Enjel. Dari Dina, teman Suhu yang sekarang sudah pelanggan poliklinik berpengalaman (karena anaknya sudah imunisasi teratur), kita tahu bahwa ternyata tiap poliklinik prosedurnya beda. Tapi secara garis besar proses di poliklinik adalah sebagai berikut.

1. Antri untuk ambil nomer antrian.

Iya. Tidak salah tulis. Di negara yang serba antri dan tidak bisa main serobot, kita bahkan harus antri untuk ambil nomer antrian. Ini sudah Suhu fast forward prosedur di posyandu. Kalau mau dihitung dari berangkat kita juga sudah ngantri bus, kereta, atau taxi. Pas mau bayar baru sadar keabisan duit, terus mesti antri ATM. Belum lagi  sebelum berangkat mau pup mesti antri toilet di rumah sendiri. Ekstrim. Untuk mempersingkat kita langsung ke kondisi sudah di posyandu.

Jadi setelah masuk poliklinik ada semacam mesin dengan layar sentuh untuk kita pencet kunjungan kita kali ini ngapain. Mau check up. Mau ketemu dokter karena sakit. Mau kenalan sama suster. Pilihannya banyak. Jadi kita ngantri bukan cuma dengan sesama bayi. Ada orang dewasa antri mau periksa dokter, karyawan antri mau check up buat memperpanjang asuransi kesehatan, engkong-engkong antri karena dikira ada bagi sembako gratis, segala macam orang ada di antrian ini.

Panjang pendeknya antrian sangat bervariatif tergantung jam kita datang. Kalau kita datang pagi, relatif ramai karena banyak orang usia separuh baya yang berusaha datang pagi biar tidak perlu cuti. Mungkin cuma checkup atau nebus obat. Siangan sedikit agak sepi. Kalau sore pas mau tutup sudah rame lagi, karena orang-orang yang bolos dan tidur seharian belum punya surat dokter dan buru-buru kemari cari rujukan buat izin sakit.

2. Antri untuk dialokasikan.

Biasanya antrian untuk ambil nomer antri ini, Enjel nggak perlu ikut antri. Kadang Suhu yang antri, Nyonya bawa Enjel jalan-jalan. Atau sebaliknya. Yang berikutnya ini, setelah kita dapet slip nomer dari kertas licin-licin tinta agak buram-buram seperti print-print an faximili. Ada monitor-monitor LCD bertebaran yang menunjukkan nomer yang ada di slip nomer yang kita dapet dari antrian pertama tadi. Informasi di layar LCD sangat sederhana, nomer sekian counter sekian.

Tiap kali ada nomer muncul ada suara keras TUNG! untuk mencegah orang yang nunggu antrian tahu bahwa ada nomer berikutnya yang dipanggil. Sayangnya suara TUNG! tadi sangatlah TUNG! sering TUNG! karena memang proses pelayanan TUNG! di sini sangatlah TUNG! TUNG! efisien dan counternya ada cukup banyak untuk melayani publik.

Setelah nomer kami tampak di layar, Nyonya pergi ke loket menunjukkan slip nomer ke petugas counter. Jelaskan maksud dan tujuan kemari. Untuk tahap ini selalu Nyonya yang turun tangan karena Suhu beberapa hal. Petugas counter selalu memberi cerdas cermat. Minta nama bayi, tanggal lahir, nomer akte lahir, nomer kartu pelanggan, nama orang tua, nomer KTP orang tua, nomer kontak orang tua, orang yang bisa dihubungi saat orang tua tidak hadir, delapan mendatar hewan yang bisa hidup di air dan di darat. Eh ternyata petugas counternya lagi main Teka Teki Silang.

Yang nyebelin, kalau kita jawabnya telat sepersekian detik saja petugas counter nya ada aura sewot. Seolah mau ngomong “kerjaanku banyak, kenapa kamu gak hafalin nomer seri akte lahir anakmu?”. Sedangkan Suhu, punya keterbatasan otak untuk mengingat informasi semacam ini, apalagi saat perlu mengingat informasi ini dari bekgron ada gangguan suara-suara TUNG! TUNG! TUNG!

Dari tahap ini kita akan diberi sebuah rujukan untuk pergi ke ruangan yang perlu kita tuju. Untuk Enjel karena tujuannya cek baby jaundice, kita perlu ke Lab untuk ambil darah, lalu ke dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil Lab. Kita akan diberi dua nomer. Satu untuk tahu Lab yang mana. Satu lagi untuk tahu dokter yang mana.

3. Antri Lab.

Sedikit berbeda dengan proses serba komputerisasi di counter bawah tadi, lab darah di lantai 2 terlihat lebih tradisional. Paling tradisional dibanding lab-lab sebelahnya seperti lab radiologi, Xray, dan nama-nama yang Suhu kurang familiar. Lab darah juga punya layar monitor LCD. Isinya nomer kita yang tampil berurutan, dan lajur sebelahnya bilik mana untuk ambil darah. Tapi tidak ada bunyi TUNG! yang mengganggu.

“Pee Zero One Nine! PEE ZERO ONE NINE!”

Lebih parah. Susternya yang di counter bakal teriak nomer yang mesti masuk bilik tapi pasiennya belum datang. Suhu mengamati dan menyimpulkan, suster yang di counter ini job scope nya sangat unik. Dia bakal lihat empat bilik lab darah setiap saat. Kalau dia melihat ada yang kosong, misalnya bilik B tidak ada pasien, dia akan lihat layar monitor, dan cek nomer berapa yang mestinya masuk bilik B. Lalu dia teriak.

“PEE ZERO ONE NINE!”

Maka orang yang memegang tiket P019 akan lari tunggang langgang masuk ke bilik B. Orang lain yang tidak punya nomer serupa juga pasti akan dobel cek dan berharap nomernya tidak tiba-tiba berubah menjadi P019.

Sesekali Suhu melihat ada orang yang memegang slip nomer ke suster itu. Suster itu dengan suara lantang akan bilang “Kalau antri itu jangan jauh-jauh, saya tadi sudah panggil nomermu berkali-kali, nomermu sudah lewat.” entah karena volum suara dia sudah tidak bisa dikontrol atau memang dia exercise public shaming.

Kalau sudah sampai antrian ini, Suhu dan Nyonya mau pergi pipis saja takut. Takut kelewatan nomernya dan dimarahi. Waktu Enjel pup juga kita buru-buru mau ganti popoknya Enjel langsung meronta heboh seolah bilang “Sudah Pa sudah Ma nanti saja, kita nanti dimarahi suster galak kalau nomer kita kelewatan. Biarlah aku jijik-jijik dikit gak pa pa”

2015-03-21 10.04.27

Enjel ke posyandu, di bekgron ada guide urutan antrian

Setelah nomer kita dipanggil dan masuk bilik, Enjel bakal dicocok jarum di tumit telapak kakinya. Katanya karena bagian ini paling tidak sensitif, tidak sakit, dan tidak terasa. Kata suster yang mencocok kaki Enjel, bukan kata Enjel. Saat dicoblos, Enjel meraung HUWAAA!!! yang kira-kira artinya “Gak sensitif mbahmu!!!!” Darah menetes dari telapak kaki Enjel, ditampung tabung kecil. Air mata mengalir dari pipi Nyonya ditampung tisu.

Lalu kita semua digiring keluar, karena suster galak sudah mulai manggil-manggil nomer berikutnya untuk masuk bilik kita. Hasil lab akan keluar secara singkat kalau tidak real time, tergantung jenis test nya. Untuk cek bilirubin kali ini sekitar 15 menit. Setelah 15 menit berlalu, akan ada suster kecil dengan suara melengking keluar dari dalam lab dan meneriakkan nama pasien. Suster kecil dengan suara melengking ini punya keahlian khusus. Dia bisa membuat semua nama terdengar seperti nama cina. Dari aksennya, cara dia memisah suku kata, penekanan intonasi, orang India garang besar dia panggil Siao Mi Mi juga berdiri ngambil hasil lab.

4. Antri Dokter.

Karena punya keyakinan kita agak jiong sama dokter Milton di pengalaman pertama ke Posyandu, kita coba dokter lain. Bisa rikues dokter di antrian step 2, meskipun belum tentu rikues kita terpenuhi. Akhirnya kita dapet antrian dokter Wong. Waktu itu kita milihnya juga random, Suhu sih mikirnya kalau marga Wong kan pasti keturunan tabib terkenal. Wong Fei Hung. Pinginnya sih dokternya konsisten biar bisa mengikuti kronologi pertumbuhan Enjel sampai kanak-kanak nanti.

Antriannya persis seperti antrian dokter swasta di Indonesia. Kursi-kursi keras. Orang sakit jajar-jajar. Ada tivi di pojok ruangan, tapi yang ini gak nayangin sinetron, cuma putar-putar iklan layanan masyarakat, acara kesehatan, sama iklan obat-obatan. Lalu di depan pintu ada layar LCD yang cuma menunjukkan satu nomer. Nomer antrian kita.

Dari semua antrian ini yang Suhu paling nggak demen. Ya mungkin bisa dibilang overprotective parents, tapi kalau ada orang batuk-batuk ke arah bayiku dan mulutnya gak ditutupi, kadang Suhu pingin nendang, terus nginjek mukanya, goser goser di lantai kayak matiin puntung rokok di asbak pingin marah sendiri. Ruang antrinya relatif luas tapi memang share dua dokter satu ruang tunggu. Di poliklinik Tampines tempat kami pergi ini dokter jaga nya ada sekitar sebelas dua belas tapi yang praktek gantian mungkin sekitar delapan dokter yang selalu aktif.

Dokter Wong ternyata perempuan. Entah kenapa Suhu lebih senang dokter anak itu perempuan. Meskipun Suhu tahu Dokter Wong cuma dokter biasa, tapi untuk checkup kontrol Enjel Suhu anggap dokter nya dokter anak lah. Jauh dalam sanubari Suhu juga melakukan stereotyping bahwa dokter anak itu perempuan, dokter bedah itu laki-laki, dokter spesialis kulit dan kelamin itu waktu SMA sembunyi-sembunyi baca buku porno, dan dokter bius itu psikopat. Entah pendidikan macam apa yang dikenyam Suhu sampai membuat generalisasi peyorasi macam ini.

Dokter Wong akan melihat-lihat kondisi Enjel. Kulit. Mata. Stetoskop. Lalu membaca hasil Lab. Hasil lab nya hanya berupa angka. Sekitar ratusan. Lalu dokter Wong akan mengetik angka itu ke komputernya, membuka tabel rujukan. Lalu berkata pada kami. “Nilainya sudah menurun secara konsisten, tapi masih lebih tinggi dari ambang yang harus dipenuhi. Keep doing what you’re doing, kalian sudah melakukannya dengan benar, tapi tetap harus cek kemari dua hari lagi.”

Suhu sangat enggan membawa Enjel ke posyandu. Tentunya karena exposure berkepanjangan di tempat orang-orang sakit berobat. Tubuhnya masih sangat kecil dan ringkih. Antibodinya juga belum sempurna. Tapi harus pergi ke medan laga seperti ini. Apa boleh buat. Semakin turun nilai bilirubin , Enjel boleh semakin jarang kontrol. Dua hari itu karena nilainya masih tinggi. Kalau nilai nya hanya sedikit melebihi batas, bisa kontrol minggu depan. Kalau di bawah batas, sudah tidak perlu kontrol lagi.

5. Antri bayar.

Dengan berat hati kami pun melangkah kembali ke lantai 1. Dentuman TUNG! TUNG! sudah tidak seberapa terdengar tertutup kegelisahan kami. Kenapa Enjel masih jaundice. Yang menambah kepedihan kami adalah sekarang kami harus pergi kasir untuk bayar. Dan itu pun harus antri.

Untuk warga negara setempat dan permanent residence, kita bisa menggunakan Medisave kami untuk membayar beberapa jenis tagihan. Ada kategori-kategori di mana Medisave orang tua kandung bisa dipakai untuk membayar tagihan bayi.  Biasanya yang seperti imunisasi wajib. Informasi detail nya bisa dicek di posyandu terkait karena prosedurnya tiap cabang berbeda. Untuk poliklinik Tampines cukup perlu pertama kali register menyatakan ini bayi kami dan dicek Akte Lahir dan dokumen bersangkutan, lain kali hanya cukup sebut nama orang tua dan tagihan yang eligible langsung dipotong ke Medisave kami.

Jadi, seperti yang sudah Suhu post di entry ini. Penting untuk para suami untuk survey poliklinik terdekat. Terutama lokasi dan cara efektif untuk ke sana. Apakah dengan bus, jalan kaki, atau taxi? Berapa jaraknya perlu waktu berapa untuk ditempuh. Semua informasi sangat signifikan dan sebaiknya disiapkan sejak dini.

Can’t Take My Eyes Off You

Suhu dan Nyonya sudah mendiskusikan ini berulang kali.

Setelah bayi lahir, salah satu dari antara kami harus senantiasa bersama bayi selama ada di Rumah Sakit. Dikarenakan Nyonya harus rebah di ranjang pasca persalinan, tugas ini diemban oleh Suhu.

Tidak boleh lepas dari pandangan mata. Satu detik pun.

Alasannya simpel. Jangan sampai tertukar.

Jangan ketawa dulu. Mulai dari orang yang membicarakan kemustahilan kasus tertukar. Suhu tahu bahwa healthcare negara ini sangat luar biasa, law by law, disiplin, dan sistematis. Suhu tahu bahwa untuk fakta bayi tertukar, harus ada bayi lain yang siap tertukar. Suhu tahu bahwa meskipun Suhu tidak paranoid bayinya bisa tertukar, masih harus disertai keteledoran orang tua lain agar bayi bisa tertukar.

Tapi Suhu juga tahu bahwa KK Hospital adalah Rumah Sakit Bersalin terbesar di sini. Suhu juga tahu bahwa terkadang manusia bisa alpa akan tugasnya. Suhu memahami orang tua lain bisa lelah dan lengah. Dan yang terpenting, Suhu tahu bahwa ini pernah terjadi.

Maka dari itu, sejak proses kelahiran Friday the 13th, Suhu tidak pernah lepas dari putrinya. Bayi itu lahir penuh lendir dan darah digendong oleh dokter Han. Ditunjukkan kepada Nyonya.

“Boy or Girl?”

Nyonya masih dalam pengaruh obat bius, tidak bisa menjawab pertanyaan dokter Han. Nyonya hanya tersenyum putrinya telah lahir dengan selamat. Nyonya berteriak sekuat tenaga saat last push yang mengantarkan bayi ini menyambut dunia baru. Tapi sekuat-kuatnya Nyonya berteriak kesakitan, teriaknya tertutup lantang jerit si bayi.

“OWEKK!!!!”

Penuh dengan staff kedokteran di ruang persalinan, Suhu tidak bisa menuju ke meja timbang bayi. Suhu hanya melihat dari kejauhan dan memastikan bayi itu tidak lepas dari line-of-sight.

Untungnya KK Hospital sangat mendukung rooming in. Seperti quote mereka:

“Rooming-in” helps parents to bond with their newborn babies and learn baby’s habits, likes and dislikes. More importantly, it provides a good opportunity for parents to learn how to care for the baby, so that they can tap on the vast experience of the hospital’s nurses while still in their care at the hospital.

pada website maternity KK Hospital berikut.

Jadi bayi tidak pernah terpisah dari kami. Setelah lahir, dibersihkan, ditimbang, suster jaga memberikan bayi ini kepada Suhu. Agar dia lebih leluasa mengurus Nyonya yang kondisinya sangat kritis di ambang antara sadar dan tidak.

Dokter anak menjelaskan pada Suhu tentang APGAR score pada bayi. Sembari mendengarkan penjelasan, Suhu dengan hati-hati memutar-mutar bayi ini. Selain mencari posisi yang nyaman untuk kedua belah pihak, Suhu mencari sesuatu. User’s Guide dan Manual. Tanda lahir. Ciri-ciri.

Sangat sulit untuk berkonsentrasi. Bayangkan saja. Penjelasan dokter dengan bahasa yang tidak sepenuhnya Suhu kuasai, jerit tangis bayi yang baru lahir, keluh kesah Nyonya karena masih kesakitan, suara degup-degup dari monitoring yang ditempelkan ke badan Nyonya, berbagai bunyi beep dari mesin bagaikan sensor audio untuk acara televisi bernuansa Bimbingan Orang Tua.

Setelah kondisi Nyonya lebih stabil, Suster jaga memberikan penjelasan sebuah kotak sakti. Dalam kotak ini ada tiga gadget. Satu berupa gelang besar. Satu berupa gelang kecil. Satu berupa kotak. Suster memperagakan cara memakai gadget ini sambil mengambil bayi dari tangan Suhu. Gelang kecil disematkan di kaki bayi, sambil menginstruksikan Nyonya untuk memakai gelang besar di tangannya.

Suster jaga memberikan bayi ke raih pelukan Nyonya. Bagaikan keajaiban, langit terbelah dan merpati beterbangan lalu terdengar suara Suhu “engkaulah anakku yang kukasihi” ….  Bagaikan keajaiban, terdengar lagu. Jadi antara gelang kecil dan gelang besar itu kalau bertemu dalam radius tertentu, akan terdengar sebuah lagu anak-anak.

Bukan sulap bukan sihir, suster menempelkan gadget terakhir disebuah kotak seperti aquarium beroda. Lalu Suster mengambil bayi dari Nyonya dan diletakkan di dalam aquarium beroda beralaskan matras. Lagu itu terdengar lagi. Di aquarium itu sudah tertulis identitas Nyonya. Suster menjelaskan bahwa ini adalah cara untuk mengetahui bayi mana pasangan mamanya yang mana.

Lalu suster menjelaskan tentang berbagai test yang akan dijalani bayi pada masa-masa pertama kelahirannya. APGAR score sudah diperoleh langsung saat lahiran, berikutnya bayi kita akan menjalani hearing test. Lalu kami diberi sebuah tabel jadwal vaksinasi, di antara vaksinasi beruntun sampai bayi berusia dua tahun, ada dua vaksinasi wajib yang harus dilakukan semasa bayi ini belum keluar dari Rumah Sakit yakni imunisasi BCG dan Hepatitis B tahap 1. Selain itu bayi akan dicek jaundice test, kalau semua OK, bayi boleh keluar rumah sakit dengan gembira.

20150313 BCG

20150313 HepBD1

Sejak masuk ke delivery ward kamis malam, hingga hari Sabtu pagi, Suhu hanya tidur beberapa jam. Dan karena tidur beberapa jam itu pun terbangun-bangun, istirahat efektif hanya beberapa menit. Pada saat-saat ini, Suhu merasakan bahwa segala sesuatu yang dulu telah ditempuh Suhu, mempersiapkan dirinya for this moment. Begadang beruntun untuk menyelesaikan efwaipi alias skripsi di tahun terakhir studi Ninja Turtles University, kuliah malam paruh waktu sembari ngecor di lapangan. Rasa kantuk sudah bukan musuh, ialah sahabat di kala ku sendiri.

Lack of SleepDengan downtime sangat rendah, Nyonya terkapar pasca lahiran, bayi yang teriaknya lantang berkumandang, tidur menjadi hal yang mustahil untuk Suhu. Tapi di balik semua lelah yang merayap di sudut mata ini, Suhu mengambil hikmahnya dan bersyukur. Dengan tidak tidur, Suhu jadi tahu bagaimana seorang manusia datang di dunia. Suhu jadi tahu tentang test-test yang akan dijalani bayi. Suhu jadi tahu penderitaan seorang ibu yang melahirkan anaknya, bukan hanya sembilan mengandung, tapi juga lelah dan perih pasca lahiran.

Suhu witnesses everything because, after all, Suhu can’t take his eyes off you.