Posyandu

Waktu Suhu kecil, ada sebuah lagu yang sering diputar di televisi. Nampaknya semacam iklan layanan masyarakat dengan subliminal message percobaan cuci otak anak-anak senusantara. Begini lagunya.

Aku anak sehat tubuhku kuat
karena ibuku rajin dan cermat
semasa aku bayi selalu diberi ASI
makanan bergizi dan imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare ibu slalu waspada
pertolongan Oralit slalu siap sedia

Ini lagu sudah mulai beberapa dasawarsa silam, dan masih terngiang di telinga Suhu. Proses cuci otak berhasil.

Setelah keluar dari rumah sakit kami memang punya pengalaman buruk dengan poliklinik, saat pertama kali ke sini Enjel sudah divonis jaundice. Tempat yang mestinya sangat friendly karena doktrinasi sejak dini, telah menjadi momok. Sayangnya kita harus tetap ke sini untuk kontrol level bilirubin Enjel guna memastikan tidak terlalu tinggi dan merusak saraf. Kalau nilainya mencapai ambang batas, God forbid, Enjel harus masuk ke Emergency di rumah sakit lagi.

Posyandu di sini ya poliklinik-poliklinik yang tersebar di seluruh daerah dan pelosok. Mereka kompeten dan memang dari rumah sakit bersalin menganjurkan kita ke poliklinik untuk melakukan kontrol reguler berkala bayi kita. Poliklinik juga memberikan jasa imunisasi dan dokter jaga yang meskipun bukan dokter anak, tapi niscaya cukup pengetahuannya untuk kasus-kasus umum pada bayi. Jika memang dirasa bermasalah, tentunya akan dirujuk ke dokter spesialis anak atau rumah sakit anak yang tak lain tak bukan adalah rumah sakit bersalin tempat Enjel lahir. Rumah sakit bersalin dan rumah sakit anak nya satu alamat, beda tower.

Singkatnya, jadilah kita sepasang bapak ibu muda pagi-pagi pergi ke Posyandu untuk mengecek tingkat bilirubin Enjel. Dari Dina, teman Suhu yang sekarang sudah pelanggan poliklinik berpengalaman (karena anaknya sudah imunisasi teratur), kita tahu bahwa ternyata tiap poliklinik prosedurnya beda. Tapi secara garis besar proses di poliklinik adalah sebagai berikut.

1. Antri untuk ambil nomer antrian.

Iya. Tidak salah tulis. Di negara yang serba antri dan tidak bisa main serobot, kita bahkan harus antri untuk ambil nomer antrian. Ini sudah Suhu fast forward prosedur di posyandu. Kalau mau dihitung dari berangkat kita juga sudah ngantri bus, kereta, atau taxi. Pas mau bayar baru sadar keabisan duit, terus mesti antri ATM. Belum lagi  sebelum berangkat mau pup mesti antri toilet di rumah sendiri. Ekstrim. Untuk mempersingkat kita langsung ke kondisi sudah di posyandu.

Jadi setelah masuk poliklinik ada semacam mesin dengan layar sentuh untuk kita pencet kunjungan kita kali ini ngapain. Mau check up. Mau ketemu dokter karena sakit. Mau kenalan sama suster. Pilihannya banyak. Jadi kita ngantri bukan cuma dengan sesama bayi. Ada orang dewasa antri mau periksa dokter, karyawan antri mau check up buat memperpanjang asuransi kesehatan, engkong-engkong antri karena dikira ada bagi sembako gratis, segala macam orang ada di antrian ini.

Panjang pendeknya antrian sangat bervariatif tergantung jam kita datang. Kalau kita datang pagi, relatif ramai karena banyak orang usia separuh baya yang berusaha datang pagi biar tidak perlu cuti. Mungkin cuma checkup atau nebus obat. Siangan sedikit agak sepi. Kalau sore pas mau tutup sudah rame lagi, karena orang-orang yang bolos dan tidur seharian belum punya surat dokter dan buru-buru kemari cari rujukan buat izin sakit.

2. Antri untuk dialokasikan.

Biasanya antrian untuk ambil nomer antri ini, Enjel nggak perlu ikut antri. Kadang Suhu yang antri, Nyonya bawa Enjel jalan-jalan. Atau sebaliknya. Yang berikutnya ini, setelah kita dapet slip nomer dari kertas licin-licin tinta agak buram-buram seperti print-print an faximili. Ada monitor-monitor LCD bertebaran yang menunjukkan nomer yang ada di slip nomer yang kita dapet dari antrian pertama tadi. Informasi di layar LCD sangat sederhana, nomer sekian counter sekian.

Tiap kali ada nomer muncul ada suara keras TUNG! untuk mencegah orang yang nunggu antrian tahu bahwa ada nomer berikutnya yang dipanggil. Sayangnya suara TUNG! tadi sangatlah TUNG! sering TUNG! karena memang proses pelayanan TUNG! di sini sangatlah TUNG! TUNG! efisien dan counternya ada cukup banyak untuk melayani publik.

Setelah nomer kami tampak di layar, Nyonya pergi ke loket menunjukkan slip nomer ke petugas counter. Jelaskan maksud dan tujuan kemari. Untuk tahap ini selalu Nyonya yang turun tangan karena Suhu beberapa hal. Petugas counter selalu memberi cerdas cermat. Minta nama bayi, tanggal lahir, nomer akte lahir, nomer kartu pelanggan, nama orang tua, nomer KTP orang tua, nomer kontak orang tua, orang yang bisa dihubungi saat orang tua tidak hadir, delapan mendatar hewan yang bisa hidup di air dan di darat. Eh ternyata petugas counternya lagi main Teka Teki Silang.

Yang nyebelin, kalau kita jawabnya telat sepersekian detik saja petugas counter nya ada aura sewot. Seolah mau ngomong “kerjaanku banyak, kenapa kamu gak hafalin nomer seri akte lahir anakmu?”. Sedangkan Suhu, punya keterbatasan otak untuk mengingat informasi semacam ini, apalagi saat perlu mengingat informasi ini dari bekgron ada gangguan suara-suara TUNG! TUNG! TUNG!

Dari tahap ini kita akan diberi sebuah rujukan untuk pergi ke ruangan yang perlu kita tuju. Untuk Enjel karena tujuannya cek baby jaundice, kita perlu ke Lab untuk ambil darah, lalu ke dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil Lab. Kita akan diberi dua nomer. Satu untuk tahu Lab yang mana. Satu lagi untuk tahu dokter yang mana.

3. Antri Lab.

Sedikit berbeda dengan proses serba komputerisasi di counter bawah tadi, lab darah di lantai 2 terlihat lebih tradisional. Paling tradisional dibanding lab-lab sebelahnya seperti lab radiologi, Xray, dan nama-nama yang Suhu kurang familiar. Lab darah juga punya layar monitor LCD. Isinya nomer kita yang tampil berurutan, dan lajur sebelahnya bilik mana untuk ambil darah. Tapi tidak ada bunyi TUNG! yang mengganggu.

“Pee Zero One Nine! PEE ZERO ONE NINE!”

Lebih parah. Susternya yang di counter bakal teriak nomer yang mesti masuk bilik tapi pasiennya belum datang. Suhu mengamati dan menyimpulkan, suster yang di counter ini job scope nya sangat unik. Dia bakal lihat empat bilik lab darah setiap saat. Kalau dia melihat ada yang kosong, misalnya bilik B tidak ada pasien, dia akan lihat layar monitor, dan cek nomer berapa yang mestinya masuk bilik B. Lalu dia teriak.

“PEE ZERO ONE NINE!”

Maka orang yang memegang tiket P019 akan lari tunggang langgang masuk ke bilik B. Orang lain yang tidak punya nomer serupa juga pasti akan dobel cek dan berharap nomernya tidak tiba-tiba berubah menjadi P019.

Sesekali Suhu melihat ada orang yang memegang slip nomer ke suster itu. Suster itu dengan suara lantang akan bilang “Kalau antri itu jangan jauh-jauh, saya tadi sudah panggil nomermu berkali-kali, nomermu sudah lewat.” entah karena volum suara dia sudah tidak bisa dikontrol atau memang dia exercise public shaming.

Kalau sudah sampai antrian ini, Suhu dan Nyonya mau pergi pipis saja takut. Takut kelewatan nomernya dan dimarahi. Waktu Enjel pup juga kita buru-buru mau ganti popoknya Enjel langsung meronta heboh seolah bilang “Sudah Pa sudah Ma nanti saja, kita nanti dimarahi suster galak kalau nomer kita kelewatan. Biarlah aku jijik-jijik dikit gak pa pa”

2015-03-21 10.04.27

Enjel ke posyandu, di bekgron ada guide urutan antrian

Setelah nomer kita dipanggil dan masuk bilik, Enjel bakal dicocok jarum di tumit telapak kakinya. Katanya karena bagian ini paling tidak sensitif, tidak sakit, dan tidak terasa. Kata suster yang mencocok kaki Enjel, bukan kata Enjel. Saat dicoblos, Enjel meraung HUWAAA!!! yang kira-kira artinya “Gak sensitif mbahmu!!!!” Darah menetes dari telapak kaki Enjel, ditampung tabung kecil. Air mata mengalir dari pipi Nyonya ditampung tisu.

Lalu kita semua digiring keluar, karena suster galak sudah mulai manggil-manggil nomer berikutnya untuk masuk bilik kita. Hasil lab akan keluar secara singkat kalau tidak real time, tergantung jenis test nya. Untuk cek bilirubin kali ini sekitar 15 menit. Setelah 15 menit berlalu, akan ada suster kecil dengan suara melengking keluar dari dalam lab dan meneriakkan nama pasien. Suster kecil dengan suara melengking ini punya keahlian khusus. Dia bisa membuat semua nama terdengar seperti nama cina. Dari aksennya, cara dia memisah suku kata, penekanan intonasi, orang India garang besar dia panggil Siao Mi Mi juga berdiri ngambil hasil lab.

4. Antri Dokter.

Karena punya keyakinan kita agak jiong sama dokter Milton di pengalaman pertama ke Posyandu, kita coba dokter lain. Bisa rikues dokter di antrian step 2, meskipun belum tentu rikues kita terpenuhi. Akhirnya kita dapet antrian dokter Wong. Waktu itu kita milihnya juga random, Suhu sih mikirnya kalau marga Wong kan pasti keturunan tabib terkenal. Wong Fei Hung. Pinginnya sih dokternya konsisten biar bisa mengikuti kronologi pertumbuhan Enjel sampai kanak-kanak nanti.

Antriannya persis seperti antrian dokter swasta di Indonesia. Kursi-kursi keras. Orang sakit jajar-jajar. Ada tivi di pojok ruangan, tapi yang ini gak nayangin sinetron, cuma putar-putar iklan layanan masyarakat, acara kesehatan, sama iklan obat-obatan. Lalu di depan pintu ada layar LCD yang cuma menunjukkan satu nomer. Nomer antrian kita.

Dari semua antrian ini yang Suhu paling nggak demen. Ya mungkin bisa dibilang overprotective parents, tapi kalau ada orang batuk-batuk ke arah bayiku dan mulutnya gak ditutupi, kadang Suhu pingin nendang, terus nginjek mukanya, goser goser di lantai kayak matiin puntung rokok di asbak pingin marah sendiri. Ruang antrinya relatif luas tapi memang share dua dokter satu ruang tunggu. Di poliklinik Tampines tempat kami pergi ini dokter jaga nya ada sekitar sebelas dua belas tapi yang praktek gantian mungkin sekitar delapan dokter yang selalu aktif.

Dokter Wong ternyata perempuan. Entah kenapa Suhu lebih senang dokter anak itu perempuan. Meskipun Suhu tahu Dokter Wong cuma dokter biasa, tapi untuk checkup kontrol Enjel Suhu anggap dokter nya dokter anak lah. Jauh dalam sanubari Suhu juga melakukan stereotyping bahwa dokter anak itu perempuan, dokter bedah itu laki-laki, dokter spesialis kulit dan kelamin itu waktu SMA sembunyi-sembunyi baca buku porno, dan dokter bius itu psikopat. Entah pendidikan macam apa yang dikenyam Suhu sampai membuat generalisasi peyorasi macam ini.

Dokter Wong akan melihat-lihat kondisi Enjel. Kulit. Mata. Stetoskop. Lalu membaca hasil Lab. Hasil lab nya hanya berupa angka. Sekitar ratusan. Lalu dokter Wong akan mengetik angka itu ke komputernya, membuka tabel rujukan. Lalu berkata pada kami. “Nilainya sudah menurun secara konsisten, tapi masih lebih tinggi dari ambang yang harus dipenuhi. Keep doing what you’re doing, kalian sudah melakukannya dengan benar, tapi tetap harus cek kemari dua hari lagi.”

Suhu sangat enggan membawa Enjel ke posyandu. Tentunya karena exposure berkepanjangan di tempat orang-orang sakit berobat. Tubuhnya masih sangat kecil dan ringkih. Antibodinya juga belum sempurna. Tapi harus pergi ke medan laga seperti ini. Apa boleh buat. Semakin turun nilai bilirubin , Enjel boleh semakin jarang kontrol. Dua hari itu karena nilainya masih tinggi. Kalau nilai nya hanya sedikit melebihi batas, bisa kontrol minggu depan. Kalau di bawah batas, sudah tidak perlu kontrol lagi.

5. Antri bayar.

Dengan berat hati kami pun melangkah kembali ke lantai 1. Dentuman TUNG! TUNG! sudah tidak seberapa terdengar tertutup kegelisahan kami. Kenapa Enjel masih jaundice. Yang menambah kepedihan kami adalah sekarang kami harus pergi kasir untuk bayar. Dan itu pun harus antri.

Untuk warga negara setempat dan permanent residence, kita bisa menggunakan Medisave kami untuk membayar beberapa jenis tagihan. Ada kategori-kategori di mana Medisave orang tua kandung bisa dipakai untuk membayar tagihan bayi.  Biasanya yang seperti imunisasi wajib. Informasi detail nya bisa dicek di posyandu terkait karena prosedurnya tiap cabang berbeda. Untuk poliklinik Tampines cukup perlu pertama kali register menyatakan ini bayi kami dan dicek Akte Lahir dan dokumen bersangkutan, lain kali hanya cukup sebut nama orang tua dan tagihan yang eligible langsung dipotong ke Medisave kami.

Jadi, seperti yang sudah Suhu post di entry ini. Penting untuk para suami untuk survey poliklinik terdekat. Terutama lokasi dan cara efektif untuk ke sana. Apakah dengan bus, jalan kaki, atau taxi? Berapa jaraknya perlu waktu berapa untuk ditempuh. Semua informasi sangat signifikan dan sebaiknya disiapkan sejak dini.

Advertisements
Video

Yellow

Petikan lagu Coldplay di atas terngiang di telinga Suhu sepanjang perjalanan taxi dari Posyandu ke Rumah Sakit. Baru empat hari yang lalu Suhu dan Nyonya berdua pergi ke Rumah Sakit untuk proses persalinan. Sekarang proses ini kembali terulang. Bedanya sekarang kami bertiga. Dengan si kecil.

Setelah discharged dari Rumah Sakit kemarin, Suhu dan Nyonya diberi surat pengantar oleh pihak Neonatal KK. Isinya untuk melanjutkan jaundice test yang sudah dilaksanakan sesaat setelah bayi lahir. Lokasi test nya terserah, bisa di Rumah Sakit KK sini, atau kalau mau gampang ya di polyclinic/ posyandu terdekat.

Suhu memilih posyandu dengan alasan geografis dekat. Hanya sepelemparan batu dari hunian. Ketimbang jauh-jauh pergi ke Rumah Sakit. Toh prosedurnya sama, ambil darah bayi dengan dicocok di tumit, lalu diperiksa di lab. Tumit dipilih karena bagian ini yang paling kebal syarafnya dibanding tempat lain. Itu pun Nyonya masih pedih melihat bayinya dicoblos mbak-mbak posyandu.

Ini bukan kali pertama si kecil diambil darahnya. Si kecil sudah pernah diambil darahnya untuk jaundice test sebelum kita discharged. Tentunya nilainya memuaskan, sehingga kita boleh pulang. Betapa bangganya ketika Suhu, Nyonya, dan Emak Karanglo membawa si kecil pulang waktu itu, melalui etalase berisi bayi-bayi di bawah naungan sinar ungu. Bayi-bayi jaundice. Fototerapi.

Tak disangka tak dinyana, kini Suhu dan Nyonya harus memulangkan si kecil ke Rumah Sakit. Untuk diletakkan di etalase yang sama. Disinari sinar ungu. Fototerapi.

Saat kami antri di posyandu sebenarnya semua masih baik-baik saja. Sampai hasil jaundice test dari lab keluar, kami membawa slip hasilnya ke ruang dokter untuk menerima penjelasan. Dokter di posyandu disediakan ke pasien secara acak. Bukan masalah, toh kami juga tidak punya dokter langganan di sini. Dokter Milton membuka slip result kami, sembari menulis sambil bergumam kurang jelas, dia basa-basi bertanya tentang kondisi bayi. Setelah semua selesai, Dokter Milton berkata.

“Sekarang berangkat ke Rumah Sakit ya. Jangan ditunda.”

Jeder! Betapa terperangahnya Suhu dan Nyonya mendengar hal itu. Tanpa penjelasan yang cukup, dan tanpa informasi yang memadai. Suhu hanya melihat ke Nyonya berharap pendengarannya yang salah. Tapi kertas yang disodorkan pada kami ternyata surat pengantar dari posyandu agar kami masuk Rumah Sakit hari itu juga.

Tingkat bilirubin nya terlalu tinggi.

Nyonya terlihat gugup. Suhu pun panik. Tidak membekali diri dengan stroller, yang kami bawa hanya popok disposable, susu formula, dan beberapa kain. Tas yang dibawa Nyonya cukup berat, Suhu tak sempat mensortirnya sebelum ke Posyandu. Toh dekat, toh cepat, pikir Suhu. Stroller pun tak dibawa. Siapa yang menyangka Suhu harus menggendong si kecil non-stop mulai dari antri nomer panggil, antri lab, tunggu hasil lab, antri dokter, antri kasir, dan sekarang langsung berangkat ke Rumah Sakit.

Itu semua bukanlah mimpi yang terburuk. Kondisi Suhu dan Nyonya masih belum seratus persen pulih dari uji raga marathon kurang tidur. Dentuman Whatsapp dari orang-orang yang ngasih selamat. Orang-orang ini nih yang kata papa mama kalau gak dijawab gak sopan. Makin dijawab makin kepo tanyanya. mau digampar koq masih bau sodara.

Yang paling epic adalah respon dokter posyandu yang poker face. Setelah melalui semua cobaan ini, Suhu menyadari, yang terburuk dari semua ini adalah kurangnya informasi. Suhu kurang baca. Jadi betapa paniknya waktu dokter memerintahkan kami pergi saat itu juga, dalam bayangan kami, Rumah Sakit itu suatu tempat yang serius, mengerikan, mencekam. Yang masuk Rumah Sakit itu pasti sakit parah, kronis, akut.

Baru setelah si kecil masuk Rumah Sakit, tangan Suhu leluasa untuk merambah Google, Suhu jadi tahu. Jaundice itu ternyata normal. Secara statistik bayi-bayi ras Cina, beresiko terkena jaundice. Ini adalah sebuah proses yang cukup umum. Saking umumnya sampai dokter merasa semua orang tahu, padahal FTP [First Time Parent] kayak kita kan masih bego bin panikan.

Informasinya bisa didapat di berbagai website, tapi intinya dalam proses pasca kelahiran, bayi masih membentuk organ-organ dalamnya. Dalam kasus ini, liver belum terbentuk sempurna. Di sisi lain, hemoglobin bayi yang dipakai bayi sebagai sarana asupan, sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi. Bayinya sudah mendapat asupan melalui susu, sistem pencernaan. Hemoglobin bayi ini dibuang dari metabolisme melalui proses yang menghasilkan bilirubin. Bilirubin ini harus diproses oleh liver dan kemudian dibuang lewat pipis dan pup. Kalau tidak sempat, dalam artian liver memprosesnya terlalu lambat, kalah cepat, maka bilirubin ekstra ini akan diakumulasi di sirkulasi darah, ikut keliling dunia dan membuat kulit penderita menjadi kuning.

So then I took my turn
Oh what a thing to have done
And it was all yellow

Your skin
Oh yeah your skin and bones
Turn into something beautiful
You know you know I love you so
You know I love you so

Yellow

You were all yellow.