The Guardian Angels

Greetings, mortal!

The name is Evangeline. Let me introduce you to two of my guardians. Among those who are sworn to be my protectors, these two are the ones bestowed upon with the task of fulfilling my every needs. They go by the name of Papa and Mama.

Papa takes the form of an adult man. During the night he takes form of motionless meat. He has a wide-chested build. This obedient warden has the unprecedented strength to suspend my chariot mid air for a prolonged time, with me inside the chariot, whenever our journey is hindered by the obstruction of staircase. He is undeterred by the distraction panicking Mama makes and always makes me land on my feet on my every leap of faith. Every failure leaps. Every morning this tireless laborer disappear out of the dwelling before I rise and shine. Only to leave me to defend this house with Mama.

And Mama. She is the lady with the obsidian eyes. This Goddess always brings prosperity and warmth. She is the deity with untapped depth of skills. Maintaining the cauldron, spotless dwelling, fresh garments, and you name it, basically everything around the household aided with my constant supersonic scream to cheer her up. She also defeats me numerous of times, seizing the advantage of greater size while forcing me to go through the ordeal of changing diapers, sometime with her swiftness, some other time with her sheer endurance.

Her wardrobe is unusual with a lot of different cloaks with weird places for openings, a passage for me to sneak into. Furrowing between the clothes incision, I find my source of  life. The fountain with the eternal flow of the magic potion. The opalescent, watery substance, that is murky white in colour. It smells like me, but tastes like sugar. Upon shoving this elixir to me, my vision often blurs into abyss. At times when my willpower to struggle outlive her supply of this fluid, she will read the incantation to send me to the nether world. Bottomless abyss. Total darkness. Twinkle twinkle little hoahm …

 

I do have other custodians whom I met every so often. They had the opportunity to meet me in person, but most of my interactions with them are in the form of astral projection from The Mesmerizer. They called The Mesmerizer a handphone. Hand phone. What a weird name. This does not look like a hand nor a phone.

They always screamed “Evangeline! Don’t play with the handphone!”. Do you think I want to be enthralled in the hypnotizing rays it emits? I tried very hard to look away. I just can’t. And when I manage to glance away and let go of the grip, Papa is always angry “Why do you throw the handphone? I will not let you play with the handphone anymore.”

Good! Keep it! Do you think I want this?

Often I prove my prowess as a scientist, inventing some pattern in the mystery of life. Like, for example, yesterday I noticed that the water in my bath tub, will change its shape when I put it inside another vessel. The water will take the form of the container. Like the bath tub, the pail, the bottle, my hand, my mouth. And before I could tell Mama about this, he already screamed “Evangeline! That’s not for drinking!”

How would you know that this is not for drinking, Mama? How would you. It does taste a bit horrible. And whenever I speak now a little bubble come out from my nose. But it does not mean it is not for drinking.

Everytime Papa and Mama tell me what not to do, I always try to tell them.

“Let it be. The fabric of fate weaves an endless interconnected pattern, in which we all are just threads. Let it be.”

But the words coming out from my mouth is only “pap-pap-pap-pa … ik-ik .. belek.blek. hihihihi.” They just won’t understand. I’m a prodigy whose mind trapped inside the body of languageless toddler.

I laid the matters before these two. Showed them that water can change shape. That The Mesmerizer can travel as a parabolic function if used as a projectile. That with enough willpower papers can be split into two.

But they won’t listen.

Two of Everything

Cece Suhu sekarang berdomisili di Taiwan. Cece dalam konteks ini adalah kakak perempuan dalam keluarga Cina, bukan bocah Sunda.

Tidak lama setelah Papa dan Mama Suhu datang ke Singapore untuk menemui cucu pertama, Cece datang dari Taiwan. Tujuannya mulia, reuni keluarga. Menemui Papa dan Mama Suhu, sekaligus menemui ponakan. Ponakan perdana. Dibela-belain datang, meskipun cuti tahunan sudah habis dipakai keliling dunia.

Karena Cece sudah sangat berpengalaman hidup di luar negeri, maka Suhu tidak menjemput di airport. Alasan lainnya tentu karena Suhu malas di rumah sangat sibuk. Berbekal alamat yang sudah diberikan, Cece menemukan rumah Suhu.

Menekan tombol naik di lift lobby rumah susun ini, Cece menanti lift turun dari lantai atas. Bangunan di sini mirip dengan di Taipei. Rumah susun kotak-kotak kasta jelata. Sambil tidak sabar menunggu ketemu ponakan, Cece memencet-mencet tombol panah naik di sebelah pintu lift. Dan juga kebelet pipis.

Di depannya ada seorang bapak berpakaian polo shirt dan celana tiga perempat. Tersenyum sopan. Cece membalas tersenyum. Basa-basi dan etika menunggu lift di kota besar. Senyum. Secukupnya. Sewajarnya. Kalau perlu bercakap-cakap, sesedikit mungkin. Kalau bisa cuma “Halo”. Kalau perlu ngobrol, bahas hal-hal netral seperti cuaca, “Eh mendung ya.” Gitu.

Pintu lift terbuka.

“Mari-mari silahkan!”
“Oh iya. Mari-mari. Terima kasih.”

Masih wajar.

Bapak itu menekan lantai yang dituju. Tombol angka lantai itu menyala merona merah menunjukkan lift akan berhenti di lantai itu. Salah satu etika di lift adalah orang yang paling dekat dengan panel lift akan memencetkan tombol lantai untuk orang lain.

“Lantai berapa?”

Cece tidak menjawab. Cece melihat ke panel. Indikator lantai yang dituju sudah menyala merah dipencet bapak itu tadi. Bapak ini menuju lantai yang sama. Memang dalam satu lantai ada beberapa unit rumah. Bisa jadi bapak ini tetangga Suhu, pikir Cece. Atau mungkin mau berkunjung lihat Enjel, bisa jadi ini teman Suhu. Atau jangan-jangan pria ini menguntit aku, ah tidak mungkin, dia dulu yang pencet tombolnya. Bisa juga dia pencet acak, lalu dia akan mengikuti aku dari belakang saat aku turun. Hening terkesiap.

“Halo? Lantai berapa?”
“Halo. Sama.”

Cece menjawab jujur secara refleks. Makin panik jangan-jangan ini adalah orang jahat. Hidup di Indonesia selama belasan tahun telah merusak kompas moral kita. Semua orang tidak dikenal kita cap berbahaya. Bisa jadi bapak ini maling yang sedang survei lapangan sebelum menggarong nanti malam. Di sisi lain, bapak di dalam lift ini memandang Cece dari atas sampai bawah. Ini bapak ada apa lihat-lihat. Sambil merapal mantra, Cece mengingat-ingat jurus beladiri yang pernah dipelajarinya di internet. Kalau dia maju, pukul jakunnya, dengkul ulu hatinya, ambil dompetnya.

“Ke rumah unit nomer berapa?”

Tanya pria itu sederhana. Pikiran Cece mulai berkecamuk. Ah ini pasti tetangga Suhu. Dia tanya karena wajahku tidak familiar di sini. Dia hanya tetangga yang baik. Cece berusaha menenangkan diri dengan pikiran positif.

“Pojok, Pak.”

Jawab cece sekenanya.

“Lho, pojok kan rumah saya?”

Mampus. Sekarang pria itu curiga Cece yang maling. Cece tidak hilang akal.

“Pojok satunya berarti, Pak.”
“Ooohh … mengunjungi Mister Kwan?”

Hembus nafas lega nyaris terdengar dari Cece. Orang itu menyebut marga kami. Berarti dia kenal. Berarti bukan orang jahat. Syukurlah. Puji Tuhan. Ya Tuhan. Ini lift kapan sampainya?

“Kamu … apanya Mister Kwan?”
“Putrinya.”
“Hah?!?”

Mata pria itu terbelalak, melangkah mundur sedikit tersentak kaget. Kayaknya baru dengar dari tetangga sebelah, Mister Kwan baru punya anak perempuan minggu lalu. Sekarang sudah sebesar ini? Memang kemajuan zaman adalah misteri ilahi.

Sesampainya di rumah baru Cece sadar, bahwa di sini Mister Kwan adalah Suhu. Bukan Papa Suhu.

Two of Everything

Hari ini setelah Cece datang, Enjel pertama kali bertemu dengan Kuku Yin. Kuku adalah sebutan untuk kakak perempuan dari ayah. Yin adalah nama Cece untuk membedakan dari Kuku-Kuku yang lain.

Di foto tersebut di atas, we have two of everything. Dua Mr Kwan, Dua Mrs Kwan, and Dua Ms Kwan.

The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.