The Tome of Ethereal Knowledge

When we buy a new gadget, we were given a User Manual. Nobody really reads it. And when you can’t do some of its function, you refer to it. That’s provided you haven’t lost that book yet. Most of the time you have lost it before you even read it.

When Evangeline was born, we were given a health booklet from KK Hospital. It contains many useful information like schedule of immunisation (many many many abbreviations there BCG HepB DTaP IPV PCV MMR ASL PLS LOL ROFL WTFBBQ). It also contains the charts where we can foresee the growth of our baby in term of weight and height. And to compare the baby among its peers based on local statistics and get rough estimate at which percentile the baby is. Competition since early days, being Asian at its finest.

So every now and then we will refer to this sacred Tome of Ethereal Knowledge. Either for the immunisation schedule, or to check whether the weight and height of our daughter is considered “normal”. Her height is usually in 50th percentile and weight is generally in 95th percentile. She’s not fat. She’s chubby. She’s not shortie, she’s normal but she grows horizontally faster than she is vertically. Takes after her father.

But the one thing that I always find in the Tome is the developmental checklist. So they have this several checklists containing few statements in each list. Every list came with the age of the baby in the title. So let’s say for example in the checklist for 6 months old, they will have a statement like “Your child is able to roll over from stomach to back or
back to stomach”. If your baby can do it, you tick the box next to it. If your baby can’t do it, pfffftttt my baby can. I win you lose.

The book is given for free by Health Promotion Board to the parents of the kids born in Singapore. So everyone here has it. But for the benefit of readers who does not reside here, this is the link to the softcopy.

https://www.healthhub.sg/sites/assets/Assets/Programs/screening/pdf/health-booklet-2014.pdf

I would say the Singapore government does a fine job in providing this to the clueless first time parent. The questions that always linger like “Is this normal?” can be easily answered by reading it. On top of the checklist for you to keep track of your baby’s development, the Tome gave you an indication on how many months 90% of the babies can tick off that statement. Using the same example above, the Tome said 90% of the babies can tick off the rolling stomach-back-stomach at the age of 5 months old.

 

So in case your baby malfunctions, please refer to the manual. Or bring to the nearest pediatrician or clinics or hospital if you think it’s serious and urgent. They might be able to repair your baby. Strictly no return policy. No one to one replacement, too.

Daddy’s Log August 2016

Memiliki banyak kerabat menjadi tantangan tersendiri bagi seseorang. Terutama jika semua kerabat di tradisi cina memiliki panggilan yang berbeda. Tidak hanya uncle dan aunty seperti orang bule pada umumnya.

Evangeline memiliki seorang paman (adik daripada Nyonya) dan seorang bibi (kakak daripada Suhu). Panggilan untuk adik laki-laki ibu dalam dialek kami adalah “Auk”. Panggilan untuk kakak perempuan ayah dalam bahasa mandarin adalah “Kuku”.

Kadang kami membiasakan Evangeline untuk memanggil mereka lewat video call.

“Ini Auk Ming. Ayo panggil Auk.”

“Ini Kuku Yin. Ayo panggil Kuku.”

Semula Evangeline tidak banyak bereaksi. Tetapi perlahan sekarang Evangeline sudah bisa mengenali beberapa orang yang sering kita video call. Misalnya, Emak dan Engkong (papa mama Nyonya), Yeye dan Nainai (papa mama Suhu).

Kita juga mencoba berbagai kosakata.

“This is Owl. Owl.” *menunjukkan flashcard Burung Hantu

“Auk.”

“This is Dog. Dog barks. Woof woof. Guk guk.” *menunjukkan flashcard Anjing

“Ini siapa? Ayo bilang halo ke Kuku.”

“GUGUK!”

Secara umum Evangeline sudah bisa mulai beberapa kata. Bahasa planet sudah mulai menyerupai bahasa manusia. Beberapa notable words yang masih susah dibedakan oleh papa mama nya adalah.

Koh = Engkong (minta skype sama engkong) atau Corn (minta makan jagung)

Guguk = Anjing (lihat anjing) atau Kuku (lihat bibinya)

Auk = Owl (burung hantu) atau Auk (lihat pamannya)

Nana = Nainai (minta skype sama nainai) atau Celana (minta pakai celana)

Seputar tumbuh kembang

Evangeline sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada mainan Tower of Hanoi. Mainan ini terdiri dari satu tusukan dan banyak donat berbagai ukuran berwarna-warni. Evangeline masih kesulitan untuk mengurutkan donat-donat ini berdasarkan diameternya. Tapi Evangeline sudah bisa memahami kalau urutan yang dimasukkannya itu salah. Tapi masih belum bisa membetulkan. Kalau yang besar di atas yang kecil, dia akan berusaha mengeluarkan donat-donat yang sudah masuk. Mengulangi dari awal. Salah lagi. Ulangi lagi. Sampai bosan. Atau lapar.

IMG-20160716-WA0013

main donat Tower of Hanoi sampai lapar

Evangeline sudah mulai tidur teratur. Berusaha bangun pagi untuk persiapan bulan depan masuk sekolah. Kebiasaan tidur bersama mama perlahan-lahan mulai digeser, papa mencoba mengambil alih jam tidur sementara mama sembunyi di luar kamar. Beberapa malam peralihan banyak kegagalan dan lolongan yang menggemparkan se-RT. Setelah meyakinkan warga bahwa kami tidak mencuri dan menyimpan sirene ambulans di dalam rumah kami, biasanya Evangeline tidur karena kecapekan. Bayangkan. Menangis sampai capek, terus ketiduran. Betapa malangnya nasibmu, nak.

Bulan ini Evangeline belajar untuk bersabar. Mama mengajarkan untuk “wait” dan “be patient”. Papa mengajarkan untuk “lay down” dan “siu sik” (istirahat). Ketergantungan Evangeline terhadap support system (papa dan mama) nampak makin kuat. Saat kita bertiga di kamar, kalau mama beranjak pergi, Evangeline akan menyerukan dengan crescendo “Mama mama mama mama” padahal mama nya cuma pergi pipis sebentar. Kalau papa bergerak “Papa papa papa papa” padahal papanya cuma geser karena posisi berbaring kurang pas. Kalau beneran ditinggal keluar kamar misalnya, teriakan nya akan intensify.

“Mama. Mama! MAMA! mamhaaahaaaaahahahaaaa mhambhaaa ….”

terjemahan bebas: “mama kenapa mama pergi. apa salah ananda, mama? mama aku berjanji tak mengulanginya lagi mama! apa karena aku minum susu terlalu banyak? bukan salahku mama ini genetik dari papa. mamaaa.”

Meraung-raung. Mengais daun pintu yang tertutup. Mencoba semua permutasi dan kombinasi nada yang bisa dicapai dari suku kata Ma-ma dalam berbagai nada. Sampai mama kembali ke kamar.

“Mama! MAMAH! Mama!”

terjemahan bebas: “mama telah kembali! juruslamat telah tiba! gelar permadani! sambut mama! papa! ngapain baringan di sana! pergi! sambut mama!”

Ohmygod. You should have seen her face. Dengan hanya suku kata ma-ma, Evangeline bisa mengekspresikan apa yang hendak dia ungkapkan.

Bulan Agustus bukan bulan yang ramah untuk kehidupan Suhu di kantor. Banyak masalah mulai dari klien yang tidak masuk akal, pasar yang sepi dan lesu, sampai arah karir secara umum. Tapi meskipun banyak gejolak di keruhnya pusaran aliran hidup yang fana ini, semua menjadi jernih saat Suhu membuka pintu depan *cekrek* mendorong daun pintu itu *kriyeeet* dan mendengar ada teriakan dari dalam dan sosok ini berlari kecil sambil berseru “Papa!”

Collage 2016-08-29 09_33_22

 

Daddy’s Log June 2015

Memasuki usia tiga bulan, Evangeline semakin kuat dan sehat. Suhu dan Nyonya bersyukur setelah periode jaundice, kita tidak pernah dihadapkan ke masalah yang berarti. Berat badannya 4.4kg terletak di 25th percentile dari populasi bayi di Singapura.

Playdate

Evangeline baru dikunjungi Gio. Gio ini putra pertama dari Septian. Septian ini dulu teman Suhu di Ninja Turtles University. Sebagai orang tua yang baik, tentu Suhu ingin memberikan exposure yang baik untuk anaknya. Dengan harapan nanti pinternya menular.

Septian ini salah satu cendekia muda yang terdampar di sini juga. Kalau nama lengkapnya di-Google, yang keluar publikasi-publikasi ilmiah yang mencerminkan kecerdasan intelektualnya. Dan artikel-artikel koran yang menceritakan bagaimana dia menjadi korban sampingan modus penipuan di Bangkok.

Melihat bagaimana Septian dan istrinya memanuver Gio, memberi makan selama kondangan Bejo dan Olip (selamat menempuh hidup baru, mate!), Suhu melihat bahwa ke depannya hidup tidak akan sesusah sekarang. Gio sudah berusia sekitar setahun.

Melihat Gio sudah bisa nurut omongan orangtuanya, dibilangin nggak boleh nggak membantah, Suhu berangan-angan. Setahun lagi. Melihat Septian dan istrinya mengganti popok Gio dalam posisi berdiri. Sementara Evangeline sambil tidur popok dibuka masih lunglai tidak paham apa yang terjadi. This too shall pass.

Tidak ada gunanya membanding-bandingkan. Setiap orangtua pasti punya pandangan dan kesulitan yang berbeda dalam menangani anaknya. Tapi melihat Septian dan Gio, Suhu menjadi tersadar, bahwa tidak selamanya kita harus menebak-nebak apa mau bayi. Suatu hari bayi kita akan tumbuh besar dan masalah yang akan kita hadapi akan berubah pula.

Gio melakukan gerakan kombinasi merangkak dan melata di lantai. Evangeline di gendongan Nyonya mencoba untuk mencakar matanya sendiri. Tanpa berkedip. This too shall pass.

Babywearing

Kami mulai mencoba konsep babywearing. Carrier yang kami beli di Expo jauh-jauh hari, akhirnya mulai menggeser penggunaan stroller. Masih dicoba dalam rumah saja. Evangeline sepertinya mulai paham konsepnya digendong papa dan mama. Tapi kami tidak berani coba lama-lama. Evangeline masih belum bisa duduk. Takut tulang punggungnya belum kuat. Padahal pasangan teladan Dina dan Koka sudah melakukan atraksi akrobat babywearing dengan Kirana sejak usia dini. Tapi bedanya dulu kedua orang tua Kirana mau masuk SMA ada test push-up. Kedua orang tua Evangeline lulus SMA push-up aja masih sulit.

Komunikasi

Evangeline sudah mulai mencoba berkomunikasi. Karena pekerjaan Suhu yang fleksibel, Suhu banyak waktu menjaga bayi di rumah. Evangeline mengamati Suhu dan Nyonya bercakap-cakap dan agaknya paham bahwa dalam berbicara, satu pihak bersuara dan pihak lain diam. Evangeline akan menunggu kita selesai bicara, baru dia akan menjawab. Dengan bahasanya sendiri.

Sejauh ini bunyi-bunyian yang sudah dikeluarkan masih terbatas.

“Enjel mau susu?”

“Hwele”

“Enjel mandi ya”

“Hee. Hieh.”

Seputar tumbuh kembang bayi

Sekarang Evangeline suka cakar-cakar muka waktu tidur. Pagi-pagi sudah berdarah. Papa mama nya yang bingung. Kuku sudah dipotong, sudah dikikir, tetap saja bangun tidur jadi Kenshin Himura. Di sisi lain, entah ini kemampuan bayi atau memang Evangeline mempunyai faktor regenerasi genetik Wolverine, lukanya cepat sembuh, tertutup, dan kulitnya mulus lagi.

Setiap Evangeline mengangkat tangan, karena pose default tangannya masih setengah mengepal, sering kita balas dengan tinju-tinju kecil. Ini adalah sesi pertama kita melatih fist bump. Setelah beberapa kali melakukan ini, sekarang kalau kita sodori kepalan tangan, Evangeline bisa membalas fist bump. Bayi kita sudah bisa berinteraksi. This is fun.

Evangeline sudah mulai menunjukkan beberapa ekspresi. Ekspresi yang paling sering dimunculkan adalah puas atau kenyang atau kekenyangan atau senang. Biasanya muncul setelah [kebanyakan] minum susu. Lalu ekspresi kecewa atau marah atau sedih atau ohgodwhy. Muncul secara random dan kami masih sering bertanya-tanya. Terkadang alasannya sangat tidak masuk akal. Misal: skenario Papa mau mandi, celana Papa diduduki Evangeline. Papa angkat Evangeline, ambil celana, letakkan Evangeline. Evangeline marah. Teriak. Papa angkat Evangeline, kembalikan celana pada tempatnya. Kembalikan Evangeline di atas celana. Evangeline diam. Alasan bayi ini marah hanya nujum ilahi yang tahu.

Nyonya sudah mengenal ekspresi baru. Kita sebut ekspresi guilty atau jijik atau ohtidak. Muncul saat Evangeline pipis atau pup. Intensitas ekspresi ini berbanding lurus dengan bentuk dan konsistensi hasil akhir proses entropi tersebut. Nyonya bisa tahu apakah produk yang dihasilkan lunak atau keras hanya dengan melihat ekspresi Evangeline. Skill yang luar biasa … tidak berguna.

Evangeline sudah upgrade bathtub. Bak mandi pertamanya sebenarnya bukanlah bak mandi bayi. Melainkan bak yang biasanya kita buat rendam kaki abis olahraga lebih kecil. Bukan karena kita tidak punya bak mandi bayi, tapi saat baru lahir, Evangeline terlihat begitu kecil dibandingkan bak mandi nya. Mengisi airnya pun lama, jadi kita pakai bak yang lebih kecil. Tapi sekarang Evangeline sudah tiga bulan dan sudah saatnya pakai bak mandi bayi. Struktur tubuh sudah relatif padat dan begitu dicelup ke air diam menjadi patung. Mungkin takut tenggelam. Kalau dilepas di air tangan langsung pegangan pinggiran bak. Padahal airnya cuman semata kaki.

 

 

 

Daddy’s Log May 2015

Oke. Mungkin belum lama waktu berselang sejak Log April 2015. Tapi kali ini ada yang layak dirayakan.

Yang pertama. Facial feature. Enjel mulai sering mengernyitkan dahi. Ada beberapa kemungkinan. Mungkin Enjel ada keturunan suka mengernyitkan dahi seperti Papa. Atau mungkin Enjel sering berpikir keras, bagaimana cara memberitahu dua noob parents ini bahwa dia kebelet pipis. Atau mungkin diam-diam dia mendengarkan Suhu dan Nyonya yang tengah bercengkerama tentang bagaimana kelanjutan cicilan rumah. Atau memang semua bayi suka mengernyitkan dahi. Entahlah. Kami cuma punya satu. Dan yang satu ini suka mengernyitkan dahi. Seperti papanya.

2015-05-04 Daddys Log May

Semoga tidak tidur mikirin cicilan rumah seperti Papa ya nak. Ekspresi wajah tersebut di atas sering kita sebut muka empet. Kalau muka empet ini disambung dengan tersenyum. Kita harus waspada, curiga, siaga, dan cekatan. Ten out of ten, kita pasti perlu ganti popok. Kalau normal ya popok basah, kalau jackpot ya basah plus confetti.

Lucunya, meski dari depan tampak seperti Papa. Side profile Enjel sangatlah mirip dengan Mama. Dilihat dari samping Enjel persis sekali dengan foto Mamanya waktu kecil.

Tapi bukan masalah muka empet yang pantas dirayakan. Jadi beberapa hari ini, sekitar dua hari lalu sebenarnya, saat Mama melewati Enjel yang sedang tidur, bola mata Enjel berusaha mengikuti alur hilir mudik Mama. Sampai hitamnya terhenti sudut mata, Enjel berusaha menoleh. Enjel akhirnya bisa menoleh meskipun sangat perlahan. Tapi hari ini, ada sesuatu yang sangat menakjubkan. Saat tummy time. Tiba-tiba.

Eng ing eng.

20150504_082646.jpg

ENJEL MENGANGKAT KEPALANYA SENDIRI!!!

Enjel mengangkat kepalanya sendiri. Meskipun masih sering terjatuh. Untungnya dada Papa cukup empuk. Papa sendiri sering tertawa-tawa melihat kepala Enjel tiba-tiba nyembul dari bawah dagu papa. Sementara Enjel, masih expressionless dan dalam waktu kurang dari setengah menit, kepalanya bakal jatuh kehabisan tenaga. Mewek sebentar. Lalu kepalanya naik lagi. Ulangi. Begitu terus sampai ketiduran.

Daddy’s Log April 2015

Lima hari yang lalu Enjel genap berusia satu bulan. Pertumbuhan Enjel terlihat sangat perlahan. Entah apakah ini normal. Hanya satu yang berubah. Pipinya terlihat makin besar. Sesuai tradisi, kita mencukur rambut Enjel. Suhu jadi sadar, betapa berpengaruhnya rambut pada kesan pertama wajah. Apalagi setelah Enjel digunduli.

2015-05-23 18.37.53

Untuk perkembangan motorik, kepala masih tergolek lemas. Teriakan pernah terdengar lantang sewaktu baru lahir. Tapi dalam kurun waktu sebulan ini lebih sering terdengar seperti sesenggukan kucing kelaparan.

Nyonya menerapkan beberapa kegiatan selain tidur dan menyusui. Yaitu Tummy Time. Untuk melakukan atraksi ini, Suhu harus menggendong Enjel, kebanyakan waktu setelah minum susu dan mencoba untuk burping (memaksa bayi bersendawa). Lalu Suhu akan merebahkan diri di sofa atau ranjang, membuat Enjel tiarap di dada Suhu. Mungkin ini sebabnya Nyonya menyebut atraksi ini Tummy Time. Waktu tummy Enjel ketemu tummy Papa. Durasi kegiatan ini satu jam sehari.

20150418_175421.jpg

Baik tidur tiarap di perut papa, maupun tidur terlentang di ranjang, Enjel tergolek tidak berdaya. Bisa dibilang makhluk ini sekarang tidak bisa apa-apa. Sama sekali. Minum susu masih luber ke mana-mana. Tidur tiarap mengangkat leher saja tidak bisa. Disuruh pergi ke pasar eh malah tidur. Bernafas aja masih tersedak.

Perkembangan yang paling signifikan adalah Enjel sudah dinyatakan lewat masa-masa jaundice nya. Jadi itu adalah sesuatu kabar yang hore bagi kita. Tidak perlu bolak-balik ke posyandu lagi.

Ukuran tubuh tidak jauh berbeda. Kepala Enjel masih lebih kecil dari telapak tangan Papa. Iya, sekarang Suhu sudah naik pangkat, jadi Papa panggilannya.

Tingkat kecerdasan sepertinya belum bisa diukur. Waktu tangan Suhu didekatkan ke mata Enjel secara mendadak, Enjel merespon dengan berkedip … setelah sekian ratus milidetik. Disinyalir bayi ini sudah mengenali bahaya, tapi sistem syarafnya masih belum sempurna. Mungkin masih belum Ethernet. Ping nya masih nge-lag.

Yang menarik. Sebenarnya bukan perkembangan bayinya. Tapi perkembangan lingkungan sekitar. Suhu mengamati perubahan yang mendasar pada kehidupan secara umum. Hidup menjadi bayisentris. Jam kerja, mandi, dan tidur sekarang disesuaikan dengan jadwal bayi. Suhu dan Nyonya jadi tahu bahwa manusia bisa hidup tanpa perlu tidur dengan kondisi ideal.

Suhu yang susah tidur dengan lampu nyala dan Nyonya yang tidak bisa tidur dengan lampu mati. Keduanya menemukan pencerahan. Bahwa saat kita benar-benar perlu tidur kita bisa tidur di bawah naungan lampu disko sekali pun.

Suhu kini upgrade menjadi Papa. Bakat terpendam Suhu pun mulai tergali. Misal. Mengganti popok sambil tidur. Menidurkan bayi sambil tidur. Membuat susu formula sambil tidur. Hampir semua hal-hal rutin bisa Suhu lakukan tanpa ingatan apa pun di keesokan harinya.

Nyonya telah upgrade menjadi Mama dan memperoleh Skill-skill baru. Menyusui, itu pasti. Tapi yang paling memukau adalah Communication Skills.

“HWAAAAA….waa…”
“Ini kenapa ya? Udah minum susu. Udah ganti popok. Lagi tiduran gini tiba-tiba nangis.”
“Oh itu dia kepanasan pipinya yang kiri, minta noleh kanan.”

Setengah skeptik setengah pesimis, Suhu menurut saja. Toh sudah kehabisan akal. Kepala Enjel dipegang perlahan, lalu dibantu menoleh. Bayi Enjel tersenyum. Lalu tidur. What kind of sorcery is this?

“Memang gitu, kalau tidur terus satu sisi kan yang nempel ranjang panas. Dia belum bisa noleh.”

Ya. Suhu juga mengerti. Tapi derivasi sekompleks itu hanya dari Huwaawa memerlukan campur tangan Tuhan. Nyonya sudah bisa membedakan tangisan lapar, pipis, ngantuk, dan kepanasan.

Dalam waktu kepepet, kurang tidur, lapar, mudah marah. Suhu selalu mengingat bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Waktunya bukan sekarang.

 

Daddy’s Log March 2015

Sekarang Enjel sudah berusia sepuluh hari. Beberapa pengamatan Suhu pada spesimen baru ini buah hati kami, Enjel, adalah sebagai berikut.

Primal Instinct
Saat sampai di rumah kami, hal pertama yang Enjel lakukan adalah. Eek. Ini jelas-jelas cara hewan di hutan menandai teritorial kekuasaan. Tidak sampai lima menit masuk rumah, kami taruh Enjel di ranjang. Brruuttt. Wajah Enjel tetap rata tak berdosa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi semua makhluk hidup di sekitarnya tahu bahwa sampai radius bau ini tercium, sudah menjadi daerah kekuasaan Enjel. Yang bisa mencium bau ini adalah bawahannya, wajib memberi Enjel makan, memandikan, dan ini kenapa kalian ganti popoknya? Hweeeaaa!!!! Enjel masih belum mengerti banyak hal di dunia ini. Antara lain konsep bahwa popok harus diganti yang bersih. Enjel masih merasa bahwa sensasi hangat di daerah pantat itu nikmat.

Daddys Log March 2015

In progress
Sebagai bayi, Enjel masih belum develop sistem saraf manusia secara mendetil. Sistem sarafnya masih in progress, terlihat dari gerakan-gerakan tangan dan kaki yang masih kacau, tidak sinkron, dan tidak terkontrol. Seringkali Enjel menggerakkan tangan dengan swing motion yang terlalu kencang, dan memukul kepalanya sendiri. Satu lagi yang masih di luar kendali Enjel adalah rasa sakit. Jelas-jelas nggebug kepala sendiri sampai bunyi Plaakk!!! Wajah Enjel tetap rata tak berdosa.

Pancaindra
Dari sekian indra Enjel untuk memantau dunia, nampaknya yang paling kuat adalah indra penciuman. Terutama mencium bau susu. Dengan mata tertutup, Enjel bisa merespon dengan gerakan gembira tak terkontrol jika Nyonya mendekat. Jelas ini adalah keahlian atau bakat terpendam. Sementara indra lainnya lumayan telat. Pendengaran sudah ada indikasi, misalnya saat pintu tak sengaja terbanting karena angin, dua kaki dan dua tangannya mengejang tak terkontrol tanda terkejut. Indra penglihatan aadalah indra yang Suhu paling mudah melihat perkembangannya. Enjel masih sering tatapan mata kosong melihat ke langit-langit ruangan. Di usia sepuluh hari, hitam bola mata sudah bisa mulai mengikuti gerakan jari Suhu ke kiri dan ke kanan. Saat Suhu mencoba memajumundurkan jari untuk melihat seberapa jauh dekat Enjel bisa melihat, hitam bola mata Enjel terlihat bereaksi perlahan membesar mengecil seperti kamera berusaha fokus.

Kontrol
Enjel masih banyak belum bisa mengendalikan otot-otot seluruh tubuhnya. Misalnya saat diberi jari Suhu di telapak tangannya, Enjel belum bisa menggenggam. Dengan bantuan Suhu membuka jari-jemari kecilnya, Suhu meletakkan jari Suhu dalam genggaman tangan Enjel. Setelah menggenggam, Enjel kesulitan untuk membuka genggamannya sendiri. Genggaman tangannya masih lemah dan relatif mudah untuk dibuka jari-jemarinya tanpa perlawanan berarti.

Refleks
Suhu membaca tentang Moro Reflex sebelum Enjel lahir. Seperti kejang tapi sangat sebentar. Yang paling parah kalau refleks ini keluar saat Enjel sedang tidur. Kadang Enjel terbangun dan jadi susah tidur lagi. Refleks lain yang Suhu amati adalah, saat tangan Suhu mendekati wajah Enjel dengan kecepatan yang cukup dahsyat, Enjel TIDAK BERKEDIP! Di usia sepuluh hari, Suhu mencoba lagi mendekatkan telapak tangan seolah menampar, tapi direm di saat-saat terakhir. Akhirnya Enjel bisa berkedip, tapi dengan delay sekitar satu detik.

Support
Yang berkembang bukan hanya Enjel. Tapi juga support system di sekitarnya. Yaitu orang tua nya. Suhu dan Nyonya selaku papa mama Enjel, mulai perlahan mengerti beberapa indikasi tangisan Enjel. Pada hari-hari awal, kegelisahan sering memuncak dalam setiap insan dalam keluarga ini. Suhu sendiri selalu gelisah kalau Enjel nangis tanpa sebab yang jelas. Dan Enjel jelas-jelas gelisah kenapa-orang-ini-bego-nggak-ngerti-mauku-apa.

“Iya njel kamu kenapa nangis terus? Kamu pipis? Ngompol? Gak bisa kentut? Lapar? Sumuk? Kadhemen? Gatel gatel? Sini papa garuk. Mana gatel? Pantat gatel? Sini papa …”
*Bruuuttt*

“Nyaaa…. Enjel eek.”

Lain Suhu lain Nyonya. Dengan mendengarkan tangisan Enjel, Nyonya bisa mengetahui apa mau Enjel. Nyonya merasa video youtube tentang arti tangisan bayi ini lumayan akurat. Nyonya sudah bisa membedakan antara tangis sederhana seperti tangis lapar atau tangis ngantuk. Sampai kombinasi lapar sambil eek. Juga yang level advanced seperti tangis berkepanjangan. Nangis karena pipis, pas popok dibuka nangis karena kedinginan, setelah ganti popok nangis kelaparan.

Jadi pada hakekatnya, yang berevolusi bukan hanya Enjel yang belajar menjadi manusia. Tapi juga Suhu dan Nyonya yang belajar menjadi Papa dan Mama.