The Heir of Kwan

Ada hal yang sampai sekarang Suhu masih belum paham. Entah karena Suhu tidak tahu atau tidak mau tahu. Apakah karena tidak penting atau merasa hal ini tidak penting. Apakah hal ini termasuk tata krama, adat istiadat, atau hanya kebiasaan keluarga kami? Suhu tidak pernah tahu. Tidak pernah mencari tahu. Mungkin karena memang tidak ingin tahu.

Untuk mengerti perasaan cuek Suhu terhadap hal ini, kita harus napak tilas ke  waktu silam saat Suhu masih kecil. Dikaruniai kedua orangtua yang menghargai kebebasan anak, Suhu relatif sering bepergian ke luar kota tanpa didampingi orangtua. Seringkali bukan untuk jangka waktu lama, bisa saja ke luar kota hanya untuk lomba yang dikirim sekolah ataupun berangkat perorangan.

Sebelum berangkat, Suhu dibekali sederet nomer telepon. Telepon saudara di tempat tujuan. Tidak peduli berangkat ke mana pun untuk durasi berapa pun. Diberi titah untuk menelepon saudara di tempat tujuan. Lomba fisika di Surabaya, lomba komputer di Bandung, lomba makan kerupuk di Kelurahan, semua ada nomer telepon. Suhu juga tidak tahu mana yang lebih menakjubkan, Suhu yang pergi ke luar kota sendirian waktu masih kecil, Papa Suhu yang punya nomer telepon semua saudara, atau saudara Papa Suhu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Kadang Suhu merasa malas. Bukan kadang. Selalu.

Ini apaan sih? Disuruh telepon orang-orang tua, aku gak kenal pula.

Kalau sudah begini, Papa Suhu tinggal pakai hak veto. Pokoknya. Pokoknya telepon. Harga mati. Tidak bisa ditawar. Padahal telepon juga tidak ada gunanya. Misalnya pergi ke Surabaya untuk semifinal lomba. Kita ke sana pagi-pagi dari Malang naik mobil. Sampai sana lomba. Menang ya pulang. Kalah ya pulang. Telepon tujuannya apa juga masih remang-remang. Mau ngajak ketemuan? Ya elah, ini ke Surabaya sehari pulang pergi masih mesti ketemuan? Minta dukungan? Iya kalau kalah mah dikasih penghiburan, kalau menang minta traktir? Yee...

Adat disuruh telepon ini akhirnya merantak sampai Suhu pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Suhu tidak pernah mempertanyakan asal usul nya, meskipun sering ngomel kalau disuruh telepon saudara-saudara yang sudah sesepuh. Waktu pergi merantau ke Singapore, misalnya.

“Nanti kalau sudah sampai, telepon bibi Lin ya.”
“Loh … ini kan nomer Hongkong, Pa?”
“Iya, papa gak punya saudara di Singapore. Ini paling deket.”

Saat Suhu pergi berlibur ke Taiwan, ke Thailand, ke Vietnam. Bertubi-tubi nomer telepon dijadikan bekal. Suhu kadang nurut dan telepon, kadang hanya mencoba menelepon, tapi kalau bicara atau tidak diangkat, tidak berusaha untuk mencoba lagi. Intinya Suhu tidak suka melakukan ritual ini tapi kalau tidak dilakukan takut kualat dan jadi monumen batu di pantai Pattaya.

Beberapa tahun kemudian, Suhu baru tahu. Ternyata Papa Suhu sudah mengkorting besar-besaran. Ini bukan kisah tentang penyesalan datang terlambat. Tapi cukup menakjubkan waktu orang tua Suhu datang ke Singapore untuk wisuda Suhu. Iya, jelek-jelek gini Suhu sarjana.

“Jadi papa mama abis ini mau ke mana? Sentosa? Merlion?”
“Ke rumah anaknya cece nya papa, kakak sepupumu.”
“Wah aku nggak punya alamatnya.”
“Iya, papa tahu kamu nggak pernah ke sana. Jadi harus papa sendiri yang ke sana.”

Jadi sebenarnya adatnya harus berkunjung, tapi Papa Suhu sudah mengkortingnya jadi cuma telepon. Sedikit terharu tapi juga bersyukur. Kalau adat ini gak dikorting, mungkin liburan dari Thailand harus belok ke Hongkong cuma buat berkunjung ke rumah saudara. Pulang lomba matematika, lombanya dua jam, berkunjungnya dua jam. Ini adat benar-benar nggak ada unsur praktikalnya sama sekali.

Budaya sambang-menyambangi dan besuk-membesuk ini mungkin seru bagi para tetua dan sesepuh keluarga, mungkin juga warisan leluhur. Tapi Suhu sendiri masih kurang paham esensi dari tradisi ini. Malah mungkin Suhu sudah durhaka dengan menolak handai taulan yang mau berkunjung ke Rumah Sakit.

Iya. Ekstrim. Bahkan saat orang tua Suhu minta alamat lengkap Rumah Sakit beserta nomer ward, Suhu tidak memberikan. Untuk mencegah serangan fajar. Dibesuk pagi-pagi waktu masih belum sikat gigi.

Untuk keputusan Suhu yang ini, sekali lagi Suhu mendapat kuliah panjang lebar. Apalagi dicap sebagai anak yang tidak sopan, Papa Mama gagal mendidik, setelah Suhu menolak mentah-mentah tawaran untuk dikunjungi di Rumah Sakit. Ribuan petuah mulai dari kamu-seharusnya-merasa-beruntung sampai kenapa-kamu-sombong, hanya karena menolak satu kunjungan. Kunjungan dari saudara yang sama-sama tinggal di Singapore tapi terakhir bertatap muka adalah sekitar sepuluh tahun silam di Surabaya, Itu pun karena orangtua kami saling mengunjungi.

Dari pihak Nyonya juga sama. Lebih heboh malah. Bertubi-tubi tawaran untuk datang menjenguk. Lain Suhu lain Nyonya. Suhu menolak, Nyonya mengabaikan. Whatsapp tidak dibalas, SMS tidak digubris, telepon tidak diangkat. Lha hidup mengurusi diri sendiri saja masih susah, masih ditambah organisme parasit yang nempel di dada tiap dua jam, Nyonya sudah melupakan masalah etika duniawi dan fokus ke survival mode.

Heir of Kwan

Syukurlah di atas segala kesibukan ini, Papa dan Mama Suhu terbang ke sini untuk membantu. Syukurlah mereka bisa melihat kacau balau jungkir balik kami di sini. Syukurlah mereka jadi lebih tahu perbedaan hidup di Indonesia dan hidup di rantau, meskipun mereka berdua pernah hidup di luar negeri, tetapi beranak di luar negeri adalah tantangan yang berbeda secara eksponensial tingkat kesulitannya. Syukurlah Enjel terlahir di keluarga ini. Keluarga yang mempunyai extended family yang bersedia membantu meskipun Papa Enjel durhaka nolak-nolak yang mau mbantu.

20150326 emak ngkong lely datang

Di kesempatan ini juga Suhu mau minta maaf ke semua tawaran dan bantuan baik dari saudara, teman, handai taulan, maupun rekan kerja untuk hadir dalam peristiwa berbahagia ini. Ketidakmampuan kami untuk menerima tamu dalam kondisi kurang tidur setiap saat membuat kalian tidak bisa menikmati atraksi lahirnya buah hati kami. Semoga di masa depan proses kelahiran anak kami yang berikutnya bisa dimuat di televisi atau streaming di YouTube. Terima kasih.

Birthday Present

Nyonya sudah bangun sebelum matahari terbit. Sementara Suhu masih terlelap susah siuman. Ming dengan aksi solidaritasnya mendengkur bersama Suhu. Emak Karanglo sudah selesai senam pagi, berbelanja ke pasar, membuat sarapan untuk orang serumah, menyiram tanaman, dan menyelamatkan dunia dari kejahatan Voldemort. Bagaimana Emak Karanglo bisa melakukan itu semua sebelum ayam jantan merokok berkokok, itu masih tanda tanya.

Birthday PresentSuhu dengan setengah sadar dan tidak melangkahkan kaki keluar pintu kamar mandi. Usai mandi dan gosok gigi biasanya badan terasa fresh. Tetapi tidak kali ini, rupanya efek dari ngutang tidur selama berhari-hari tidak bisa dibayar dalam satu malam. Tapi show must go on. Hari ini Suhu dan Nyonya harus ke Rumah Sakit untuk mengambil paket berharga. Daging tiga kilo yang gerak-gerak kalau ditowel. Bayi kami.

Di balik remang-remang penglihatan yang masih tanpa kacamata, Suhu melihat Nyonya dan Emak Karanglo sudah duduk manis di sofa. Secara faktor genetik, paras Nyonya dan Emak Karanglo bukanlah tipe ibu dan anak yang mirip bagai pinang dibelah dua. Mungkin karena Nyonya mengambil gen dari ayahnya (Engkong Karanglo) lebih banyak. Tapi setelah hidup di bawah satu atap selama sekian jam saja, Suhu berhasil mengkonfirmasi ini pasti ibu dan anak.

Paniknya.

Stressnya.

Bingungannya.

“Nik, ini makan lagi ya? Yang tadi kayak e kurang ya? Kamu habis lahiran mesti makan banyakan.”

“Bayi kita di Rumah Sakit dikasi minum pake botol atau cup feeding ya? Perlu ditelpon nggak ya? Kita cek yuk hari ini udah pipis eek berapa kali?”

Ditambah dengan kehebohan akbar untuk memperbincangkan hal-hal yang sama sekali nggak penting. Suhu berani menjamin kemiripan ini tidak hanya disebabkan oleh lingkungan fenotip, tapi juga disebabkan oleh keturunan genotip. Terutama saat mereka berdua tersenyum di sofa penuh arti dengan tatapan mata ini-orang-koq-bisa-tidur-terus-bayinya-di-rumah-sakit-nungguin-dijemput.

Kecanggungan ini diselamatkan saat Ming, adik Nyonya, keluar dari pintu kamar sebelah. Dengan penampilan yang jauh lebih ruwet dari Suhu. Baju kaos kusut, rambut mengarah ke tiga penjuru mata angin, dan suara bantal. Jelas-jelas Ming baru bangun.

“Yuk, kalau Ming sudah siap kita berangkat.”

Ujar Suhu memecah keheningan dan melempar tanggung jawab seberat lima ratus ton ke pundak Ming. Perlu cukup waktu sangat singkat untuk Ming bersiap-siap berangkat, mempertimbangkan bahwa Ming baru landing kemarin malam, setengah jetlag dan tidak familiar di rumah ini, masih perlu mencari handuk, bongkar koper, dan tersesat mencari kamar mandi.

Berbondong-bondong kami berempat pergi ke Rumah Sakit untuk menjemput bayi kami. Di dalam taksi kami telah melakukan pembagian tugas. Suhu akan mengurus surat akte kelahiran bayi. Nyonya dan Emak Karanglo akan menjemput bayi, karena Nyonya perlu mengurus administrasi, Emak bisa membantu menggendong bayi. Ming akan menenangkan Nyonya dan Emak Karanglo jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan untuk menghindari huru-hara episode Mertua Melanda Kota.

Setelah mengambil nomer urut di mesin, Suhu mengantri di ruang tunggu Admission KK Hospital yang terletak persis di tengah-tengah Children Tower dan Woman Tower, Suhu mengenang beberapa minggu silam. Suhu dan Nyonya mendaftarkan pre-registration untuk menginformasikan pada KK Hospital bahwa kami hendak lahiran di sini.

Waktu itu Nyonya sudah hamil third trimester. Perutnya sudah besar. Waktu itu resepsionis admission menjelaskan tentang jenis-jenis ward untuk proses persalinan. Delivery Ward nya standar. Ward yang untuk pasca kelahiran yang berbeda-beda. Ada yang satu kamar sendirian, berempat, dan berenam. Bedanya hanya ada di biaya dan privasi.

Dalam perjalanan menjemput bayi, Nyonya melalui ruangan yang isinya ibu-ibu hamil sekamar berenam. Kondisinya ternyata tidak separah yang kami bayangkan. Suhu dan Nyonya memang memilih kamar yang sendirian. Bukan. Bukan karena kami kaya raya dan berfoya-foya. Terakhir kali Suhu pergi ke rumah sakit untuk operasi usus buntu adalah di Malang. Dan merasakan rasa sakit yang mendalam di ward yang share dengan orang banyak bukanlah pengalaman yang magical. Traumatis iya. Kalau share dengan orang sakit lain, misalnya sekamar berenam, kedengarannya masih OK. Tapi nyatanya, enam orang ini semua punya visitor yang jadwalnya berbeda.

Tapi di sini jam besuk nya sangat ketat, dan masuknya pun melalui pintu satu arah yang dijaga resepsionis. Jadi kondisi ward yang diisi berenam itu sebenarnya tidak seperti yang ada di pikiran Suhu. Ya iya lah … rumah sakit nya aja udah beda kelas. Tapi menurut Suhu pribadi, kalau finansial bukan masalah berarti, cobalah untuk naik kelas ke ward yang lebih sedikit orangnya, kalau bisa sendirian. Istri selain perlu waktu istirahat juga bayi nya perlu attention yang khusus. Di ward kelas A1 yang kami pakai, apa-apa semuanya di kamar suster bisa fokus mengurus bayi kami. Tapi memang mahal sih, jadi sebaiknya mulai menabung dan mecah celengan waktu bayinya lahir.

Tingtong.

Nomer Suhu dipanggil di layar LED. Suhu menuju ke counter tempat pendaftaran. DIberi form kosong untuk mengisi nama bayi. Data-data nya bisa disalin dari Notification of Live Birth, kecuali nama bayi. Notification of Live Birth ini dokumen yang diberikan persis setelah bayi lahir di sini, yang mengeluarkan berkas ini rumah sakit setempat. Isinya data-data fisik bayi dan waktu kelahiran. Setelah menuliskan nama bayi itu dan mengeceknya berulang kali, Suhu menyerahkan form yang sudah diisi ke officer yang ada di loket tadi. Tidak perlu antri ulang.

Dalam hitungan detik. Tidak sampai semenit. Officer ini menyerahkan kertas A4 berisi data-data yang Suhu tulis di form tadi. Benar-benar efisien. Mungkin syarat melamar kerja di sini harus touch typist minimum 40 wpm. Dari draft akte lahir itu, Suhu memeriksa, berulang-ulang, memastikan tidak ada kesalahan. Setelah OK, officer menge-print sekali lagi, kali ini di atas kertas dengan tinta biru dan hitam. Kertas ini lah yang nanti nya akan jadi akte lahir. Hanya ada satu yang mengherankan.

Officer itu menyodorkan kertas itu untuk Suhu tanda tangan. Sebagai warga negara Indonesia yang akte lahir nya ditandatangan oleh pegawai negeri, ini sangat membingungkan. Jadi di akte lahir anak Suhu, yang tandatangan … bapaknya.

Sejenak kemudian, Suhu membayar dan kertas yang tadi sudah ditandatangan dilaminating gratis. Dan menjumpai Nyonya, Emak Karanglo, dan Ming. Suhu menyerahkan akte lahir dengan tanggal lahir 13 Maret 2015, tanggal pendaftaran 18 Maret 2015.

Ulang tahun Nyonya.

Tapi Nyonya tidak begitu impressed. Di tangannya Nyonya sudah mendapat hadiah ulang tahun yang tidak ternilai, bayi kami.

Dan secara legislatif, mulai hari ini kami tidak lagi memanggil lagi dia dengan si kecil, D/O Nyonya, si embek, kambing kecil, yangyang, siaoyang, karena bayi kami sudah punya akte lahir atas nama Evangeline. Mulai hari ini, resmi kita panggil dia Evangeline Enjel.

Happy Birthday Mama Enjel.

The Reinforcement Has Arrived

Hari ini adalah hari ketiga Suhu jadi papa. Jadi papa bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak yang harus dipelajari dalam waktu singkat. Hari ini kami sudah harus keluar dari rumah sakit. Berarti tidak ada lagi bantuan dari suster-suster neonatal.

Sejak hari pertama Suhu tahu bahwa kenyataan pahit ini akan datang. Suhu dan Nyonya yang sekarang dirawat di Rumah Sakit, akan tiba saatnya posisi ini terbalik, menjadi perawat si kecil di rumah sendiri. Oleh karena itu, sebanyak mungkin ilmu kami serap dari suster-suster di Rumah Sakit.

Tentang feeding, Nyonya belajar cara breastfeeding. Mulai cara memegang bayi, memastikan mulut bayi bisa mendapatkan susu tanpa hidungnya tersumbat dada ibunya sendiri. Suhu belajar cara cup feeding, memberi minum susu dengan gelas pada bayi baru lahir.

Tujuannya mudah dan jelas. Bayi minum susu. Tantangannya yang banyak. Antara lain. Bayi tidak tersedak. Bayi masih bernafas. Bayi minum lewat mulut, dan tidak ada yang masuk hidung. Air susu tidak muncrat ke mana-mana. Kepala bayi dan badan bayi masih tersambung leher bayi.

Serius.

Menjadi papa yang menggendong bayi pada jam pertama kelahiran, satu hal yang disadari Suhu adalah. Leher bayi ini useless. Tangan kiri pegang kepala tangan kanan pegang badan bayi, atau sebaliknya. Dua benda ini, kepala dan badan, seolah disambung oleh leher, padahal TIDAK! Kepala dan badannya bisa bergerak independen. Leher cuma kayak selang. Semua tulangnya masih lunak. Lebih lunak dari ayam tulang lunak malioboro. Mungkin selunak duri bandeng presto.

Daging mentah tiga kilo ini pun lahir tanpa stiker Fragile Handle with care This side up. Tumpukan kurang dari 8 karton. Tidak jarang karena kecanggungan Suhu menggendong, kepala bayi terputar ke arah yang tidak sewajarnya. Untungnya suster-suster semua terlatih menghadapi papa baru yang tidak berpengalaman. Mereka sabar mengajari. Mendampingi. Mengayomi. Ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso.

Suhu dan Nyonya jadi tahu bahwa feeding bayi itu tiap dua jam sekali. Dua jam itu dihitung dari start to start. Jadi kalau bayi mulai disusui jam 1. Nyusu selama satu jam, sampai jam 2. Sesi nyusu berikutnya bukan jam 4, melainkan jam 3. Start to start. Nggak boleh lebih dari tiga jam biar bayi tidak dehidrasi. Bayi baru lahir nggak boleh minum air putih. Papa Mama harus kejar setoran, bayi sehari harus pipis enam kali pup tiga kali.

Benar-benar menguras tenaga dan pikiran, melatih kesabaran, dan memperluas wawasan.

Suhu dan Nyonya sudah mempersiapkan pertahanan akan kemelud ini. Bantuan telah didatangkan dari negeri seberang. Mertua Suhu akan mendarat di tanah ini hari ini. Segera setelah Suhu selesai menunaikan tugasnya bersih-bersih bekas pipis dan eek bayi hari ini, beres-beres koper untuk pulang nanti, Suhu menuju ke airport untuk menjemput mertua.

Perlu diingat bahwa Mertua Suhu tak lain tak bukan adalah ibu kandung dari Nyonya, tak heran jika setelah dikabari putrinya telah melahirkan cucu baginya, Mertua Suhu langsung melejit ke airport dengan overweight luggagenya. Segala macam dibawa, mulai dari baju bayi warisan turun-temurun, ramuan mujarab resep rahasia keluarga, dedaunan kering [daun katuk untuk lancar ASI, bukan daun ganja], sampai upaya menyelundupkan obat-obatan tidak terlarang dan satwa langka burung dara tiga warna. Perjalanan berjam-jam ditempuhnya dari Karanglo ke Lanudal Juanda, meskipun hari itu weekend. Bisa dibayangkan arus jalan darat yang menuju ke Surabaya.

Nyonya memantau pergerakan Suhu dan Mertua Suhu. Saat pesawat mendarat, posisi Suhu sudah di airport setelah melesat dari Rumah Sakit KK dengan awan kintoun. Membawa koper barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi. Baju kotor, baju bayi kebesaran, remah-remah perjuangan proses persalinan. Di sela-sela para penumpang yang menunggu kopernya keluar di ban berjalan, Suhu berhasil mengenali Mertua dari kejauhan.

The Reinforcement Has Arrived

Dengan terengah-engah membawa koper dan cabin bag yang kasat mata overweight, Mertua keluar dan menghampiri Suhu.

“Gong Xi ya jadi papa!”
“Iya … gong xi jadi emak …”
“Ayo kita berangkat sekarang ke Rumah Sakit.”

Hal ini sudah dinubuatkan oleh Nyonya.

“Sabar, mah. Kita pulang dulu. Taruh barang-barang. Baru pergi ke rumkit.”
“Loh ndak usah. Mamah bisa koq.”

Nyonya sudah mempersiapkan Suhu atas jawabannya skenario ini.

“Suhu juga mesti naruh barang ini di rumah sebelum berangkat ke rumah sakit.”
“Oh ya nggak apa-apa. Mamah tunggu di taxi.”
“Suhu mau mandi dulu di rumah baru berangkat lagi.”
“O ya sudah kamu taktinggal, Mamah ke rumah sakit sendirian aja.”

Setelah perhelatan termasyhur abad ini, Suhu berhasil menggiring Mama Nyonya [sekarang sudah dinobatkan menjadi Emak Karanglo] pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Suhu mengosongkan isi koper, dan bergegas mandi bebek. Asal basah dan tidak ngantuk. Dalam kurun waktu sekian detik Suhu mandi itu, Emak Karanglo sudah bongkar barang bawaan dari Karanglo, menata baju bayi yang mau dibawa ke rumkit, menata kulkas untuk menyimpan makanan beku, membersihkan dapur, mengecat rumah dan membetulkan pagar. Pada saat itu Suhu mulai curiga apakah mertuanya pernah kuliah di Hogwarts.

Dengan koper kosong dan mertua lincah, Suhu mencapai rumkit dan menemui Nyonya dan si kecil. Tak terungkapkan dengan kata-kata raut muka Nyonya melihat mama nya. Raut muka Emak Karanglo melihat cucu nya. Dalam keheningan itu, Suhu membatin.

The reinforcement has arrived.

Tapi keheningan itu tak berlangsung lama. Bisa dibayangkan kalau bayi kecil ini dari lahir suka ribut, suka ngomong itu faktor genetik. Istri Suhu, Nyonya, ndak usah dibilang. Nah ini, mama nya Nyonya. Kalau tiga orang ini dikumpulkan teleconference, pulsa habis batre abis ikan hiu punah omongannya belum habis setengah.

Information Overload

> Pama HP
pigi k rumkit, Ny sakit perut.

< Pama HP
BAIKLAH…HATI-HATI DI JALAN…

> Ming HP
Ming, urusan tiket e mama wes beres?

< Ming HP
Lho sido e berangkat kapan?

> Ming HP
Sek ndak tau, ini mau ke rumah sakit perutku sakit. Ntik lek wes pasti takkabari lagi.

< Ming HP
Oke.

——————–

> Ming HP
Aku wes admitted. Ternyata wes bukaan 3. Pantesan sakit e ndak karu2an.

< Ming HP
Oh sip. Aku tak ngurus tiket e mama lek gitu.

> Ming HP
Iya. Aku tak telpon ngabari mama. Sepi nde sini dewekan.

< Ming HP
Lho koq sepi, Suhu ndek mana? Ndak ikut?

> Ming HP
Suhu pulang. Dipikir e tadi mek checkup biasa, gak mbawak barang apa2.

< Ming HP
Oalah. Ini Suhu pulang ngambil barang terus balik lagi gitu?

> Ming HP
Iya. Bolak balik ke RS kapan hari dikira lahiran, pas beneran lahiran ndak mbawak barang. Hahaha…

——————–

> Pama HP
kayak e sungguan.

< Pama HP
BAIKLAH… SAMPAIKAN DUKUNGAN KAMI…

> Pama HP
ntik taksampekno. skrg dlm prjlnn plg k rmh. balik ambil brg2 tadi dtinggal krn ndak ngira lahiran hari ini.

< Pama HP
BAIKLAH… HATI-HATI DI JALAN…

—————-

> Nyonya HP
eh ini cumak nyamber koper tok to ya? ada perlu apa lagi?

< Nyonya HP
Ambilno MP3 player ku lagi dicharge ndek sebelah komputer. Kamu bawa o biskuit buat cemilan lek mau.

> Nyonya HP
d dapur sek ada nasi mbek tadi aku masak telor dadar. kmu mau?

< Nyonya HP
Ndak wes kamu cepetan balek sini ae. Aku takut dewean. Mau epidural kata e dokter jaga e.

> Nyonya HP
ok. ini aku ambil koper, biskuit, n registrasi e rumkit tok ya.

< Nyonya HP
MP3!

> Nyonya HP
n mp3.

——————–

> Pama HP
wes mbalek rumkit. marigini mulai bius epidural. bakal mati rasa perut ke bawah.

> Ming HP
Ming, ini wes mau mulai jadi bilango mama lek mau nyari aku message ke HP e Suhu ya.

——————–

> Ming2 HP Indo
wes mari epidural. cecemu saiki wes isa ngguyu2. tadi kayake kesakitan. mari bius jleb lgsg isa ketawa.

< Ming2 HP Indo
Bilangno ceceku tiket e wes beli buat mama. Itinerary e wes tak-email.

> Ming2 HP Indo
yo ntik taksampekno. cecemu sek berusaha tidur.

< Ming2 HP Indo
Lho sek isa tidur? Bukan e mau lahiran?

> Ming2 HP Indo
sek suwe proses e berjam-jam. ini terakhir cek sek bukaan 4. paling2 lahir e ya besok.

< Ming HP Indo
O gitu. Ya wes takdoano lancar. Kamu ya nginep rumah sakit Hu?

> Ming2 HP Indo
nginep e iya. tidur e si ndak. ini tiap sakjam sekali ada suster e masuk2 kamar. bawa es batu ditempel2no kaki cecemu. ditanya2i krasa dingin apa ndak.

< Ming2 HP Indo
Heh? Buat apa?

> Ming2 HP Indo
rasa e buat ngecek bius e berfungsi apa ndak. tiap jam keluar masuk kamar aku kebribenan ndak iso tidur. kmu tidur o sek wes, wes malem to ini ndek sana.

< Ming2 HP Indo
Yo ini wes mau e tidur. Good nite

> Ming2 HP Indo
gnite.

——————–

< Pama HP
SORI BARU BALES… KARENA PAPA MAMA SUDAH TIDUR KEMARIN… BAGAIMANA PERKEMBANGANNYA?

> Pama HP
lancar. wes dibius. skrg wes isa ngguyu2 gak kesakitan kyk kmrn. kmrn mari nganter Ny k rumkit aku balik diluk ambil brg2 terus mberesi admin e rs. wes byr jg gesek credit card. Ny skrg lg tidur. trakhir cek wes bukaan 4 bbrp jam lalu.

< [unknown number]
Halo

< Pama HP
KENAPA PAKAI CREDIT CARD?? UANGNYA TIDAK CUKUP?? JANGAN SERING PAKAI CREDIT CARD TIDAK BAIK… LAHIRANNYA SEMUA LANCAR??

> Pama HP
lancar. ntik aku kbr i lg. aku sek usaha tidur. semalem gak tidur.

< Pama HP
BAIKLAH… TIDUR YANG CUKUP… HARI MASIH PANJANG… KABARI PAPA MAMA KALAU ADA PERKEMBANGAN

——————–

< [unknown number]
Halo

——————–

< [unknwon number]
Halo ini Suhu ya?

> [unknown number]
iya ini sapa ya?

< Mama HP
Nik Mama ngontak Suhu koq kayak e salah orang ya? Apa Suhu ndak tau nomer e Mama ya?

< [unknown number]
Katane Ming disuruh message ke nomer ini lek nomer satu e gak dibales soal e wes ndak pegang hape.

[unknown number] saved as Mertua HP

> Mertua HP
oh halo ma. ini baru dblgi lek mama bakal nyari d nomer ini.

< Mama HP
Sudah nik. Suhu sudah mbales Mama.

< Mertua HP
O ndak ada apa2. Cuma mau mbilangi, kalo bisa jangan pakai epidural. Karena epidural itu banyak efek negatifnya. Dulu mama lahirno anak dua juga ndak pake epidural.

> Mertua HP
iya … tapi dah terlanjur diepidural. kayak e enakan abis dibius. ini baru dicek suda bukaan 7. mama siap2 packing berangkat sinijuga ya.

< Mertua HP
Iya ini sudah siap berangkat.

——————–

> Pama HP
ini dokter e baru dateng. bentar lagi.

> Mertua HP
ini dokter e baru dateng. bentar lagi.

< Pama HP
HAH?? DARI KEMARIN TIDAK ADA DOKTERNYA?? KENAPA TERLAMBAT??

> Pama HP
bukan, bukan gak ada dr. kmrn kan kita masuk e tengah malem, cuma ada dokter jaga shift malem. ada lengkap koq, mulai dari anestesis, suster, dokter dll. yg bru dtg itu dr han, gineklog langganan e kita. ben lbih enak, kan dr han yg cek Ny dari awal.

< Mertua HP
Sudah bukaan berapa?

> Mertua HP
ndak tau belum dicek. tapi grafik e mesin yg nyatet kontraksi dah reguler dan semenit2 rutin.

< Pama HP
BAIKLAH… JAGA BAIK-BAIK ISTRIMU… SEMOGA SUKSES…

——————–

< Mertua HP
Sudah lahir?

< Pama HP
BAGAIMANA?? LAHIR??

——————–

< Mertua HP
Halo?

< [unknown number]
Halo?

——————–

20150313 Born

> Mertua HP
lahir.

> Pama HP
lahir.

< Pama HP
SELAMAT… IBU ANAK SEHAT SEMUA??

> Pama HP
sehat. perempuan.

< Mertua HP
beratnya berapa? panjangnya berapa? kirim foto

——————–

You have 9 Missed Calls from Mertua HP
You have 1 Missed Call from [unknown number]

——————–

< [unknown number]
Pesanku kok nggak dibalas.

> [unknown number]
ini sapa?

> Mertua HP
ndak tau lupa tadi timbang ukur aku ndak ikut.

< Mertua HP
Mamanya sehat?

——————–

You have 5 Missed Calls from Mertua HP

——————–

> Mertua HP
sori baru bales. ketiduran. sehat. semua sehat.

——————–

Pama HP saved as Ngkongmak HP
Mertua HP saved as Emak HP
[unknown number] saved as Ngkong HP
Ming2 HP Indo saved as Auk Ming HP