Birthday Present

Nyonya sudah bangun sebelum matahari terbit. Sementara Suhu masih terlelap susah siuman. Ming dengan aksi solidaritasnya mendengkur bersama Suhu. Emak Karanglo sudah selesai senam pagi, berbelanja ke pasar, membuat sarapan untuk orang serumah, menyiram tanaman, dan menyelamatkan dunia dari kejahatan Voldemort. Bagaimana Emak Karanglo bisa melakukan itu semua sebelum ayam jantan merokok berkokok, itu masih tanda tanya.

Birthday PresentSuhu dengan setengah sadar dan tidak melangkahkan kaki keluar pintu kamar mandi. Usai mandi dan gosok gigi biasanya badan terasa fresh. Tetapi tidak kali ini, rupanya efek dari ngutang tidur selama berhari-hari tidak bisa dibayar dalam satu malam. Tapi show must go on. Hari ini Suhu dan Nyonya harus ke Rumah Sakit untuk mengambil paket berharga. Daging tiga kilo yang gerak-gerak kalau ditowel. Bayi kami.

Di balik remang-remang penglihatan yang masih tanpa kacamata, Suhu melihat Nyonya dan Emak Karanglo sudah duduk manis di sofa. Secara faktor genetik, paras Nyonya dan Emak Karanglo bukanlah tipe ibu dan anak yang mirip bagai pinang dibelah dua. Mungkin karena Nyonya mengambil gen dari ayahnya (Engkong Karanglo) lebih banyak. Tapi setelah hidup di bawah satu atap selama sekian jam saja, Suhu berhasil mengkonfirmasi ini pasti ibu dan anak.

Paniknya.

Stressnya.

Bingungannya.

“Nik, ini makan lagi ya? Yang tadi kayak e kurang ya? Kamu habis lahiran mesti makan banyakan.”

“Bayi kita di Rumah Sakit dikasi minum pake botol atau cup feeding ya? Perlu ditelpon nggak ya? Kita cek yuk hari ini udah pipis eek berapa kali?”

Ditambah dengan kehebohan akbar untuk memperbincangkan hal-hal yang sama sekali nggak penting. Suhu berani menjamin kemiripan ini tidak hanya disebabkan oleh lingkungan fenotip, tapi juga disebabkan oleh keturunan genotip. Terutama saat mereka berdua tersenyum di sofa penuh arti dengan tatapan mata ini-orang-koq-bisa-tidur-terus-bayinya-di-rumah-sakit-nungguin-dijemput.

Kecanggungan ini diselamatkan saat Ming, adik Nyonya, keluar dari pintu kamar sebelah. Dengan penampilan yang jauh lebih ruwet dari Suhu. Baju kaos kusut, rambut mengarah ke tiga penjuru mata angin, dan suara bantal. Jelas-jelas Ming baru bangun.

“Yuk, kalau Ming sudah siap kita berangkat.”

Ujar Suhu memecah keheningan dan melempar tanggung jawab seberat lima ratus ton ke pundak Ming. Perlu cukup waktu sangat singkat untuk Ming bersiap-siap berangkat, mempertimbangkan bahwa Ming baru landing kemarin malam, setengah jetlag dan tidak familiar di rumah ini, masih perlu mencari handuk, bongkar koper, dan tersesat mencari kamar mandi.

Berbondong-bondong kami berempat pergi ke Rumah Sakit untuk menjemput bayi kami. Di dalam taksi kami telah melakukan pembagian tugas. Suhu akan mengurus surat akte kelahiran bayi. Nyonya dan Emak Karanglo akan menjemput bayi, karena Nyonya perlu mengurus administrasi, Emak bisa membantu menggendong bayi. Ming akan menenangkan Nyonya dan Emak Karanglo jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan untuk menghindari huru-hara episode Mertua Melanda Kota.

Setelah mengambil nomer urut di mesin, Suhu mengantri di ruang tunggu Admission KK Hospital yang terletak persis di tengah-tengah Children Tower dan Woman Tower, Suhu mengenang beberapa minggu silam. Suhu dan Nyonya mendaftarkan pre-registration untuk menginformasikan pada KK Hospital bahwa kami hendak lahiran di sini.

Waktu itu Nyonya sudah hamil third trimester. Perutnya sudah besar. Waktu itu resepsionis admission menjelaskan tentang jenis-jenis ward untuk proses persalinan. Delivery Ward nya standar. Ward yang untuk pasca kelahiran yang berbeda-beda. Ada yang satu kamar sendirian, berempat, dan berenam. Bedanya hanya ada di biaya dan privasi.

Dalam perjalanan menjemput bayi, Nyonya melalui ruangan yang isinya ibu-ibu hamil sekamar berenam. Kondisinya ternyata tidak separah yang kami bayangkan. Suhu dan Nyonya memang memilih kamar yang sendirian. Bukan. Bukan karena kami kaya raya dan berfoya-foya. Terakhir kali Suhu pergi ke rumah sakit untuk operasi usus buntu adalah di Malang. Dan merasakan rasa sakit yang mendalam di ward yang share dengan orang banyak bukanlah pengalaman yang magical. Traumatis iya. Kalau share dengan orang sakit lain, misalnya sekamar berenam, kedengarannya masih OK. Tapi nyatanya, enam orang ini semua punya visitor yang jadwalnya berbeda.

Tapi di sini jam besuk nya sangat ketat, dan masuknya pun melalui pintu satu arah yang dijaga resepsionis. Jadi kondisi ward yang diisi berenam itu sebenarnya tidak seperti yang ada di pikiran Suhu. Ya iya lah … rumah sakit nya aja udah beda kelas. Tapi menurut Suhu pribadi, kalau finansial bukan masalah berarti, cobalah untuk naik kelas ke ward yang lebih sedikit orangnya, kalau bisa sendirian. Istri selain perlu waktu istirahat juga bayi nya perlu attention yang khusus. Di ward kelas A1 yang kami pakai, apa-apa semuanya di kamar suster bisa fokus mengurus bayi kami. Tapi memang mahal sih, jadi sebaiknya mulai menabung dan mecah celengan waktu bayinya lahir.

Tingtong.

Nomer Suhu dipanggil di layar LED. Suhu menuju ke counter tempat pendaftaran. DIberi form kosong untuk mengisi nama bayi. Data-data nya bisa disalin dari Notification of Live Birth, kecuali nama bayi. Notification of Live Birth ini dokumen yang diberikan persis setelah bayi lahir di sini, yang mengeluarkan berkas ini rumah sakit setempat. Isinya data-data fisik bayi dan waktu kelahiran. Setelah menuliskan nama bayi itu dan mengeceknya berulang kali, Suhu menyerahkan form yang sudah diisi ke officer yang ada di loket tadi. Tidak perlu antri ulang.

Dalam hitungan detik. Tidak sampai semenit. Officer ini menyerahkan kertas A4 berisi data-data yang Suhu tulis di form tadi. Benar-benar efisien. Mungkin syarat melamar kerja di sini harus touch typist minimum 40 wpm. Dari draft akte lahir itu, Suhu memeriksa, berulang-ulang, memastikan tidak ada kesalahan. Setelah OK, officer menge-print sekali lagi, kali ini di atas kertas dengan tinta biru dan hitam. Kertas ini lah yang nanti nya akan jadi akte lahir. Hanya ada satu yang mengherankan.

Officer itu menyodorkan kertas itu untuk Suhu tanda tangan. Sebagai warga negara Indonesia yang akte lahir nya ditandatangan oleh pegawai negeri, ini sangat membingungkan. Jadi di akte lahir anak Suhu, yang tandatangan … bapaknya.

Sejenak kemudian, Suhu membayar dan kertas yang tadi sudah ditandatangan dilaminating gratis. Dan menjumpai Nyonya, Emak Karanglo, dan Ming. Suhu menyerahkan akte lahir dengan tanggal lahir 13 Maret 2015, tanggal pendaftaran 18 Maret 2015.

Ulang tahun Nyonya.

Tapi Nyonya tidak begitu impressed. Di tangannya Nyonya sudah mendapat hadiah ulang tahun yang tidak ternilai, bayi kami.

Dan secara legislatif, mulai hari ini kami tidak lagi memanggil lagi dia dengan si kecil, D/O Nyonya, si embek, kambing kecil, yangyang, siaoyang, karena bayi kami sudah punya akte lahir atas nama Evangeline. Mulai hari ini, resmi kita panggil dia Evangeline Enjel.

Happy Birthday Mama Enjel.

Advertisements

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah arti sebuah nama, dengan panggilan apa pun mawar disebut, harumnya tetap semerbak.

Begitu kira-kira terjemahan cuplikan pujangga William Shakespeare dalam karyanya yang terkenal, Romeo dan Juliet. Suhu tidak terlalu setuju. Meskipun mawar itu tetap harum, kalau kita namakan Bunga Ketiak Kuda. Tetep bikin ilfil sebelum menghirup ranumnya. Percaya atau tidak, nama masih menjadi bagian sangat penting dari kehidupan kita. Karena dari nama, first impression itu bermula.

Tidak. Hari ini kita tidak akan membicarakan tentang branding. Karena Suhu bukan branding consultant. Dan yang terpenting, sekarang fokus Suhu adalah nama bayi yang akan lahir beberapa minggu lagi. Dalam perhelatan mencari nama antara Suhu dan Nyonya, ada beberapa aturan main yang kita setujui. Berikut di bawah ini adalah pertimbangan kami saat mencari nama buah hati.

Tanpa huruf R. Dari abjad yang ada, huruf yang paling susah dilafalkan oleh lidah manusia adalah R. Buktinya ada istilah untuk orang yang tidak bisa melafalkan huruf tersebut. Pelat alias cadel, juga disebut cedal. Bayangkan, saking populer nya orang yang tidak bisa lancar melafalkan huruf ini, mereka punya istilah sendiri.

Suhu selalu berpendapat bahwa rasa percaya diri seseorang, itu terkait dengan perkembangan mental nya sejak dini. Kalau dari kecil terlatih tegas dan mampu melakukan hal-hal yang diharapkan, rasa percaya diri nya akan terpupuk dan berlanjut. Mulai dari berkenalan misalnya.

Contoh 1.
Siapa namamu?
JOKO!
Duh pinternya anak ini.
Joko tumbuh menjadi tukang kayu, gubernur, lalu presiden anak yang tangkas dan pemberani.

Contoh 2.
Siapa namamu?
Tejo.
Oh Tejo, bagus ya namamu.
Tejo tumbuh dari anak yang ngampung dekil lugu tapi Surti suka, menjadi Tejo yang gaul yang funky yang doyan ngucapin ember.

Contoh 3.
Siapa namamu?
Maw … Mal … Mawgowo … Malowo … huwaaa… aku benci papa mama … aku benci namaku! Aku pingin namaku Gogon aja!
Margono tumbuh menjadi jejaka tampan tetapi semua teman-temannya memanggilnya Gogon. Demikian pula temannya Sudarmadji yang akrab disapa Doyok.

Untuk menghindari hal tersebut di atas, Suhu dan Nyonya setuju agar nama anak kami tidak mengandung huruf R keras. Huruf R keras itu seperti Renata, Sari, Kartika. Sementara huruf R lunak masih masuk pertimbangan kami [seperti Jennifer, Sherly].

Asli Indonesia. Di tempat kerja, kami sering spot dan sering di-spot orang Indonesia. “Eh maaf, Indo ya?”. Nama Suhu dan nama Nyonya itu NINGRAT! Biarpun kulit kuning perut bulat mata sipit, nama akte kami masih erat dengan adat jawa. Bahkan kalau ditambah angka romawi di belakang, Suhu bisa dikira Sultan. Karena di lingkungan kerja formal kami pakai nama akte, dan sebagian besar orang juga demikian, sangat mudah spot nama Indonesia. Misalnya, di penghujung email ada tertanda Best Regards Sherly Wijaya. Ini 99.99% pasti cewek, Indo, chinese, marga Huang. Lucunya, nggak semua orang bisa spot keunikan nama ini, apalagi orang yang bukan Indonesia.

Ini adalah anomali yang nampaknya wajar. Orang myanmar bisa tahu, berdasarkan nama orangnya, dengan setengah nujum dan pengetahuan tata nama myanmar. Bisa tahu rumpun suku, lahir sekitar bulan berapa, awal bulan atau akhir bulan. Ini sama saja kayak orang Indo bisa tahu orang Bali anak keberapa berdasarkan namanya. Mungkin di negara antah berantah lain orang bisa nebak tinggi badan dari nama keluarganya. Yang pasti Suhu ingin anaknya punya codename yang bisa ditelisik oleh sesama orang Indonesia.

Misalnya, Endang Soekamti. Nama yang elegan, asli Indonesia. Tapi Nyonya punya pertimbangan lain.

Nama global. Sebagai orang tua yang merantau, jauh dari tanah air dan istilah kerennya go inter, Suhu dan Nyonya sudah pernah merasakan sendiri kesulitan orang-orang di sekitar kita melafalkan nama Indonesia kita yang level keningratannya sangat tinggi. Perlu diingat, nama Suhu mengandung Edjaan Lama Jang Beloem Disempoernaken. Benul, nama Suhu di akte masih pakai OE, bukan U. Nama asli. Bukan Soehoe. Sedangkan nama Nyonya, wah, masih pakai DJ. Padahal gak suka clubbing tapi namanya ada DJ nya. Nama asli Nyonya ndak kalah kuno sama Njonja Meneer berdiri sejak 1919.

Suhu dan Nyonya sama-sama ingin nama yang dilafalkan oleh orang negara mana pun masih bagus. Contoh nama yang bisa dilafalkan oleh orang negara lain tanpa jadi lucu. Nama Indonesia sebenarnya sedikit banyak sulit dipahami orang setempat, terutama yang pakai edjaan lama. Nama Cipto misalnya. Masih ada saja orang sini yang nyebutnya Ciptu. Wajar saja, karena selama edukasi mereka, Cip masih dibaca cip (seperti Chip). Tapi To dibaca tu (seperti today, tomorrow).

Mungkin, Endank Sukamty? Okeh?

Sejujurnya, nama Indonesia kami bukan karena kami nasionalis. Tapi karena leluhur kami dipersulit saat mengurus surat-surat pada jaman Orde Baru dulu. Sudah bukan rahasia bahwa orang Cina di Indonesia dipaksa merubah namanya menjadi nama Indonesia. Tapi entah kompakan atau secara insting, mereka menyelipkan marga Cina nya ke dalam nama Indonesia dan ini sudah menjadi nama keluarga turun temurun.

Untuk urusan nama Cina, kami serahkan pada orang tua Suhu selaku tetua keluarga. Kami diberi tiga nama laki-laki, dan tiga nama perempuan. Dari tiga pilihan itu, kami memilih berdasarkan artinya, kedekatan makna dengan nama latin, tingkat kesulitan karakter cina karena papanya perlu isi formulir, dan kemudahan pelafalan nama cina. Meski baik Suhu maupun Nyonya adalah OCBC [Orang Cina Bukan Cina] produk generasi Orba, kami tetap ingin anak kami tahu budaya leluhur.

Apalah Arti Sebuah Nama

Bahkan sejak dalam kandungan kami ajak nonton adu barongsai. Selamat tahun baru cina semuanya! Gong Xi Fa Cai! Dengan melalui momen ini, bayi kami dipastikan shio kambing. Si kambing kecil bersemangat denger dung jeng dung jeng dan mulai barongsai di dalam perut mama.